Cuaca hari ini sepertinya sedang bersahabat dengan para pribumi. Pantulan cahaya sinar matahari berkolaborasi dengan awan yang yang membawa air hujan. Cuaca yang pas disiang hari. Tidak panas juga tidak dingin. Namun sewaktu-waktu hujan dapat turun.
Zya berencana untuk pergi ke toko buku hari ini dan membaca beberapa buku disana. Zya pergi tanpa membawa motornya. Zya berjalan sambil menikmati cuaca hari ini. Belum banyak kendaraan yang berlalu lalang, karena ini masih belum jam pulang kerja. Tak lupa juga ia memakai jaket karena hawanya sudah mulai dingin.
Zya mulai memasuki salah satu gang disana, karena inilah jalan pintas agar cepat sampai ketoko itu. Gang ini cukup panjang untuk dilaluinya. Setelah sampai diujung gang, Zya merasa ada yang memerhatikannya. Namun Zya tetap berjalan agar cepat sampai. Zya sudah memasang kewaspadaannya. Dan benar saja dari belakang ada tangan yang menggapainya. Zya langsung menampis tangan itu dan memberikan satu pukulan diperut laki-laki itu.
"Siapa kalian?" Tanya Zya datar. Zya melihat mereka memakai topeng. Tanpa menjawab pertanyaan Zya mereka menyerang kembali, namun mampu ditepis oleh Zya.
Zya mulai melihat sekitar, memastikan bahwa hanya mereka berlima tidak ada lagi yang bersembunyi. Zya berusaha untuk menghentikan serangan ini, namun tak ada yang mau berhenti. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang membantunya. Entah datang darimana, yang penting Zya bisa menghentikan perkelahian ini.
Akhirnya orang-orang itu menerima kekalahannya dan pergi. Zya melihat ke wajah laki-laki yang membantunya tadi. Ada sedikit luka di dekat bibirnya, meskipun laki-laki itu tidak membuka topi jaketnya tapi Zya bisa melihatnya. Zya segera mendekatkan dirinya kepada laki-laki itu.
"Lo gak papa?" Zya sontak menanyakan hal itu padanya.
"Gak papa." Katanya sambil mengusap darah yang keluar dari lukanya.
"Itu luka lo." Zya meringis seperti merasakan sakitnya juga.
"Gak papa, nanti juga sembuh kok." Ucapnya sembari tersenyum.
"Makasih ya." Kata Zya.
"Sama-sama." Hening. Tidak ada yang bersuara sesaat.
"Lo." "Lo." Ucap keduanya bersama, membuat Zya menahan malu.
"Lo duluan gak papa." Ucap Zya langsung merasa tidak enak.
"Gak papa lo duluan. Lady first." Zya mengangguk mendengarkan kata-katanya.
"Lo mau kemana?" Tanya Zya.
"Gue tadinya mau pulang, rumah gue disana." Dia menunjuk kearah jalan. "Lo sendiri mau kemana?"
"Ke toko buku itu." Zya pun menunjuk toko buku yang sudah tak jauh darinya.
"Oh, boleh gue temenin gak?" Zya kaget ketika laki-laki itu menawarkan dirinya.
"Boleh." Zya bingung harus menjawab apa, akhirnya Zya hanya mengiyakan saja.
Zya dan laki-laki itu jalan bersama menuju toko buku. Zya yang pertama masuk lalu diikuti oleh lelaki itu.
Tingggg!
"Eh neng bawa siapa tuh?" Tanya penjaga toko itu ketika melihat ada seseorang yang mengikuti Zya di belakangnya.
"Temen kang." Jawab Zya.
"Ah yang bener neng. Ini kan anak kompleks sini ya?" Laki-laki itu mengangguk dan tersenyum pada penjaga toko.
Zya mulai menyusuri rak-rak buku disana. Mencari sebuah buku yang akan ia baca nanti. Zya juga melihat laki-laki itupun ikut mencari buku untuk dibacanya. Zya tidak akan mengira bahwa laki-laki ini juga satu sekolah dengannya, tepatnya kelas sebelah.
"Eh gue belum tau nama lo. Gue Jungkook, lo?" Laki-laki itu menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Zya.
"Gue Zya." Jungkook mengangguk.
"Lo sekolah kan?" Tanya Jungkook yang penasaran.
"Iya." Jawab Zya sembari melihat-lihat buku.
"Dimana?" Tanya Jungkook lagi.
"Di SMA Tunas Muda." Kata Zya.
"Lah sekolah gue dong. Gue juga sekolah disana." Zya terkejut saat laki-laki ini bilang kalau sekolahnya sama dengannya. "Kok gue gak pernah lihat lo?"
"Gue juga gak pernah lihat lo. Lo kelas berapa?" Tanya Zya yang mulai bergidik, apakah laki-laki ini tidak melihat insiden kemaren disekolah hingga ia tidak melihat Zya.
"XI bahasa. Kalau lo?" Jawabnya.
"Gue XI biolog." Jungkook mengangguk dan merentangkan tangannya ke atas mengambil buku yang akan Zya ambil, Jungkook melihat Zya tidak bisa menggapainya. "Makasih ya. Mau baca disana?"
"Ayo." Jungkook menyetujuinya.
Ini kali pertama Zya bersama laki-laki lain dan duduk bersebelahan. Selain Jin, tidak ada laki-laki yang dekat dengan Zya. Zya sedikit gugup hingga ia sedikit berkeringat.
"Lo berkeringat? Jaketnya bisa dibuka kok kalau lo pakek baju." Zya kaget mendengar ucapan langsung dari Jungkook. Zya melirik kepadanya, namun Jungkook terlihat biasa saja setelah mengatakan hal itu. Malah ia sedang membaca buku dengan khusuk.
Zya diam tak menjawabnya. Suara gemuruh terdengar dari luar. Ini sudah pasti menandakan bahwa hujan akan turun. Belum lama setelah suara gemuruh itu, hujan pun turun dengan derasnya. Zya melihat kearah Jungkook yang masih dengan tatapan fokus kebukunya.
"Diluar hujan, pulangnya nanti aja tunggu hujan reda." Jungkook bersuara. Ia tau kalau Zya melihat kearahnya.
"Lo gak papa kalau disini?" Tanya Zya.
"Gak papa. Sampe malam pun gak papa. Yang gak boleh itu lo. Masa mau pulang malem hujan-hujan sendirian lagi." Zya terdiam mendengar perkataan Jungkook. Ia teringat akan abangnya, apa abangnya juga khawatir sekarang.
Zya mengecek hp nya. Ternyata hpnya mati, tadi tidak sengaja terjatuh saat ia diserang oleh orang yang tidak ia kenal. Zya berpikir ulang, benar kata Jin, Zya harus berhati-hati mulai saat ini. Jungkook yang melihat Zya memegang hpnya yang mati langsung peka dengan keadaan.
"Lo mau kabarin keluarga lo? Nih pakek hp gue aja." Jungkook menyodorkan hpnya.
"Makasih ya." Zya mengambil hp itu dan mencoba untuk menghubungi telepon rumah.
Kriiingggg
"Halo."
"Halo bang. Ini gue Zya." Zya merasa kenal dengan suara ditelpon, tidak lain adalah Jin.
"Ada dimana lo? Hujan deras nih, udah malam juga?"
"Zya ada di toko buku bang."
"Toko yang mana?"
"Yang biasanya. Zya disini dulu ya, nunggu hujan reda."
"Lo gak bawa motor ya? Nekat banget si lo, Ini udah malam dek. Lo itu cewek, ntar pulang naik apa lo? Disana kan jauh ke jalan utamanya."
Jungkook tersentak ketika mendengar suara yang ada ditelpon itu. Suara yang nyaring, mungkin jika ada disini, sumber suara itu terdengar berteriak. Ada yang aneh dipikiran Jungkook, suara itu seperti pernah ia dengar.
"Lo sama siapa disitu?"
"Sama temen bang."
"Beneran lo ya, jangan malem-malem lo pulangnya."
"Iya-iya."
"Awas lo, gue tungguin lo dirumah. Jangan lama-lama."
Zya mematikan telfonnya. Jika tidak, percakapan ini tidak akan ada habisnya. Zya mengembalikan hpnya pada Jungkook.
"Itu tadi abang lo?"
"Iya." Jungkook tertawa kecil. "Kenapa?"
"Gak papa. Suaranya nyaring banget."
"Lo gak tau aja, abang gue ini kalau udah teriak nyeremin. Bikin sakit telinga." Zya meluapkan isi hatinya. Jungkook hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik kakak ini. Sayangnya Jungkook hanya memiliki kakak laki-laki dan tidak memiliki adik perempuan. Kakak laki-laki vs adik laki-laki, yaaa you know lah keadaannya.
Setelah hujan dirasa reda, Zya ingin pamit kepada Jungkook. Jungkook menawarkan dirinya untuk mengantar Zya, namun Zya menolaknya. Jungkook tidak putus asa, terus memaksanya agar ia bisa mengantarkan Zya sampai depan rumahnya dengan selamat. Akhirnya mereka sepakat. Jungkook akan mengantarkan Zya sampai ke jalan utama saja, melewati gang tadi yang Zya lewati.
Setelah sampai di jalan utama. Zya menghentikan langkahnya.
"Sampe sini aja ya. Disini kan udah rame nih. Gue kesana." Zya menunjukkan arah rumahnya.
"Ya udah." Jawab Jungkook dengan senyumannya.
Zya baru berjalan sebentar, lalu Jungkook memanggilnya.
"Zya tunggu!" Jungkook berusaha menghampirinya. "Boleh minta no. lo?" Jungkook menyodorkan hpnya. Zya mengambil hp itu dan menulis no.nya serta namanya.
"Gue duluan ya." Kata Zya sembari mengembalikan hpnya. Jungkook pun mengangguk.
----*----
Zya sampai dirumahnya. Bang Jin sudah ada dipos satpam dan Zya tidak menyadarinya. Satpam membukakan pintu untuk Zya. Zya memberikan senyuman dan anggukan seraya berterimakasih.
Zya terus berjalan tanpa mengetahui kalau ada Jin dibelakangnya yang siap memberikan kejutan terkejutnya.
"Doorrr!" Zya kaget luar biasa, sampai memegang dadanya.
"Abangg ihhh!! Zya kaget tau! Kalau tiba-tiba Zya pingsan gimana?" Zya menggerutu kesal.
"Ya tinggal gue gotong, gue buang ke comberan." Ucap Jin ngasal.
"Jahat banget ih." Zya mencubit lengan Jin dengan kuat.
"Aduh duh. Sakit dek!" Jin memegang lengannya yang terasa sakit.
"Biarin." Ucap Zya tidak peduli.
"Yeee ngambek nih. Lo udah makan?" Tanya Jin yang sebenarnya dia sendiri sudah tau jawabannya.
"Belum lah, gue kan diem di toko buku tadi. Mana ada makanan disana?" Ucap Zya sewot.
"Biasa aja kalik ngomongnya. Mau ke cafe gak?" Zya berpikir sejenak. Melihat penampilannya yang setengah basah karena masih sedikit gerimis, sepertinya Zya harus membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Abang aja deh. Zya mau masuk dulu, mau mandi." Kata Zya mantap.
"Ya udah deh, lo nitip apaan?" Tanya Jin yang sudah berjalan ke mobilnya.
"Mie ayam." Ucap Zya yang sudah akan memasuki pintu masuk rumahnya.
"Mie ayam mana ada di cafe Zya!!" Teriak Jin yang merasa frustasi dengan jawaban adiknya.
Zya tidak menghiraukan teriakan protes Jin. Ia memang sengaja tidak menjawabnya. Zya puas setelah mendengar teriakan Jin yang terdengar kesal. Zya masuk kekamarnya setelah menyapa Momy dan Dady nya yang sedang mengobrol. Zya segera membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan yang bersih dan harum. Selanjutnya Zya mempersiapkan alat sekolahnya untuk esok. Setelah selesai semua, Zya tinggal menunggu abangnya datang membawa pesanan makan malam nya. Zya baru ingat bahwa hp nya tadi mati. Ia coba mengecek hp itu. Zya tidak tau apa yang membuat hp itu tidak bisa hidup, akhirnya Zya coba mengeces hp itu. Untungnya hp itu segera mengisi. 'Syukurlah, semoga hpnya gak papa.' Ucap Zya dalam hatinya.
Zya membuka laptopnya dan menghidupkan musik kesukaannya. Kemudian beralih kesosmednya. Ada 1pesan, Zya segera membukanya. Pesan itu tertulis dari akun sosmed bernama 'Jeon Jungkook'. Zya berpikir, mungkin ini akun orang tadi yang bersamanya ditoko buku. Zya segera membalas pesannya dan kembali kepo dengan akun Jungkook. Zya membuka beranda akun itu, melihat-lihat mungkin ada yang menarik untuk Zya lihat. Sampai disatu foto, Zya melihat fotonya dengan teman-temannya. Tapi, ada satu yang membuat Zya terbelalak melihat foto itu. Ada abangnya yang juga ikut berfoto disana. Siapa sebenarnya Jungkook ini? Mengapa ia bisa berteman dengan abangnya dan kelihatannya juga dekat. Zya mulai berpikir untuk mengingat-ingat. Zya pernah melihat sekumpulan teman abangnya, sepertinya Zya tidak pernah melihat Jungkook ini.
"Dek, ini mie lo. Gue masuk ya?" Tiba-tiba Zya kaget dengan suara diluar yang sedang mengetuk pintunya.
"Iya masuk aja, gak dikunci kok." Jawab Zya. Zya memperbolehkan Jin masuk pastinya dengan tujuan tertentu pula. Zya mulai memperbaiki laman sosmednya dan mencari foto Jungkook yang jelas.
"Nih mie lo. Kurang baik apa gue coba sama lo? Udah gue beliin mie, gue salinin kemangkok, gue bawain kesini beserta antek-anteknya (minuman), nih makan." Zya mengambil mie yang masih panas itu dari tangan Jin. Jin baru saja akan keluar dari kamar Zya, namun Zya cepat menghentikannya.
"Eh tunggu bang."
"Apaan lagi?"
"Sini deh. Gue mau nanyak." Jin menghampiri Zya dan duduk dikasurnya. Zya memperlihatkan foto dilaptopnya. Jin kaget dan menatap Zya lama sebelum Zya berbicara, karena Zya sedang memakan mienya dimulutnya.
"Lo kenal dia bang?" Tanya Zya kemudian setelah selesai meyeruput mienya tadi.
"Iya, kenal. Lo tau dari mana dia?" Tanya Jin balik.
"Yee dia kan satu sekolah sama gue, masa gue gak tau." Zya mencoba mencari alasan logisnya.
"Terus?" Tanya Jin lagi.
"Itu temen lu bang? Kok gue gak pernah liat dia kalau pas papasan sama lo." Ucap Zya yang sedari tadi ingin ia tanyakan.
"Dia emang temen gue, dia juga sering ngumpul kok. Lo nya aja kalik yang gk pernah papasan." Zya mengangguk mendengarkan perkataan Jin. "Dia kan adek kelas jadi ya wajar lah kalau dia kadang gak ngumpul sama gue, dia pasti punya temen juga dikelasnya."
"Kok lo bisa berteman sama adek kelas gitu, setau gue cuma dia kan yang adek kelas." Zya sedikit ingat wajah-wajah yang selalu bersama Jin disekolahnya.
"Dia kan adeknya V , jadi gue tau lah kedia." Zya terpaku pada nama V yang Jin ucapkan. Sepertinya Zya pernah mendengar nama itu. Zya memutar otaknya untuk berpikir dan mengingat kembali kejadian-kejadian yang lalu.
V , namanya tidak asing lagi ditelinga Zya. Ya, dialah yang Zya tolong saat sedang menjadi tahanan para preman yang tidak Zya ketahui asal usulnya. Zya masih makan dengan otaknya yang terus berputar.
"Ya udah ya, gue keluar dulu." Jin akhirnya meminta keluar setelah Zya tidak mengatakan apa-apa lagi.
Setelah selesai memakan mie nya, Zya menaruh mangkok itu diatas mejanya. Ia enggan untuk turun, karena perutnya sedang kenyang Zya ingin berdiam dulu. Zya menutup matanya memikirkan hal-hal yang telah terjadi padanya akhir-akhir ini. Sampai akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments