Malam itu ia habiskan waktunya bersama seorang perempuan yang baru ia kenal. Jungkook merasa nyaman dengannya. Zya mampu membuat dirinya terlihat berbeda dari kebanyakan perempuan yang Jungkook temui. Jungkook berbaring di kamarnya, masih dengan bayangan Zya dipikirannya. Sebelum pada akhirnya V datang dan menghancurkan lamunannya. V ikut merebahkan dirinya. Jungkook menoleh sebentar pada V.
"Kooki." V memanggil adiknya. Jungkook terbiasa dipanggil Kooki, akhirnya semua teman dan gurunya memanggilnya Kooki.
"Hm?" Jawab Jungkook.
"Lo dari mana aja?" Jungkook kaget mendengar ucapan V.
"Emang kenapa?" Tanya Jungkook heran.
"Tadi gue makan sendirian, gak ada lo." V berkata memperlihatkan raut wajahnya yang sedih.
"Sorry ya." Jawab Jungkook merasa bersalah. Jungkook tidak ingat kalau Mami Papi nya sedang tidak ada dirumah. Mereka sedang keluar kota.
"Trus lo kemana aja tadi?" Tanya V kembali.
"Gue nemenin temen gue tadi." Jawab Jungkook pelan.
"Terus lo lebih mentingin temen lo dari pada gue gitu." Ucap V meminta pertanggung jawaban.
"Ya nggak juga." Jungkook memeluk V mengajaknya tidur. Mereka bagaikan anak kembar yang selalu bersama.
V tidak terbiasa sendirian. Mami papi nya selalu memanjakan V, namun berbeda dengan Jungkook. Jungkook mampu berjalan sendiri tanpa Mami papinya. Bahkan Jungkook pernah menentang Papinya karena kesalah pahaman. Papinya lebih berpihak pada V sementara Maminya tidak bisa memilih antara Jungkook dan V. Maminya menyayangi mereka berdua.
"Bang, besok hari ulang tahun lo kan?" Ucap Jungkook memecah keheningan.
"Iya, sayang banget mami dan papi gak bisa pulang." Kata V pelan.
"Gak papa ada gue dan anak-anak yang lainnya juga. Besok jadi kan pesta BBQ nya?" Ucap Jungkook lagi bersemangat.
"Jadi dong." Kata V juga bersemangat. "Besok sepulang sekolah lo temenin gue ya? Kita belanja."
"Kayaknya besok gue ada eskul deh." Jungkook coba mencari alasan agar ia bisa bertemu dulu dengan Zya mengambil kado yang sudah ia siapkan.
"Yah terus gue bareng siapa dong?" Tanya V dengan wajah cemberutnya.
"Bareng bang Jin aja atau Suga? Mereka kan pinter masak tuh." Untungnya Jungkook ingat temannya yang pintar memasak.
"Boleh juga. Oke deh." V kembali ceria.
Di malam itu mereka tidur bersama. Karena orang tua mereka tidak ada, V terlalu takut terjadi apa-apa dengannya dan Jungkook. Oleh karena itu mereka lebih baik tidur bersama disaat seperti ini.
----*----
Suasana yang tenang, jauh dari keramaian. Bahkan jarang ada yang pergi kesini kalau bukan karena ada sesuatu yang ia butuhkan. Yap perpustakaan. Zya memilih pergi kesana dijam istirahatnya. Ia sudah memesan makanan pada Stella dan Violet, tinggal menunggu mereka datang saja. Zya mengembalikan buku paket yang ia pinjam tadi pagi lalu melihat-lihat sembari menunggu sahabatnya datang.
"Zya!" Zya kaget ketika ada yang memanggilnya dan suara itu sedikit berat.
"Lo? Ngapain disini?" Tanya Zya yang melihat Jungkook disampingnya sembari berpura-pura mencari buku.
"Gue nyariin lo dikelas lo tadi, tapi gue gak liat lo." Kata Jungkook.
"Oh iya. Gue langsung kesini soalnya ngembaliin buku." Kata Zya.
"Gimana?" Jungkook melihat sekelilingnya ada beberapa orang disana yang meliriknya. Ia mengajak Zya untuk keluar. "Diluar aja yuk." Jungkook baru akan menggandeng tangan Zya, tapi langsung ditepis oleh Zya.
"Gue bisa jalan sendiri kok, gak bakal ilang." Ucap Zya tersenyum agar Jungkook tidak salahpaham.
Jungkook mengiyakan dan jalan lebih dulu. Sesampainya diluar perpustakaan, Jungkook mulai menanyakan hal tadi yang sempat tertunda. Mereka duduk ditangga perpus.
"Gimana sama kadonya? Udah lo bungkus?" Tanya Jungkook kemudian.
"Udah kok tenang aja." Jawab Zya simple.
"Nanti gue ambil ya." Kata Jungkook.
"Tapi ada dirumah gue." Ucap Zya, ia tidak ingat untuk membawa kado itu.
"Gak papa nanti gue ikut lo kerumah lo."
'Astagah cobaan apa lagi ini' Zya menelan ludah.
"Boleh kan?" Tanya Jungkook sekali lagi, karena Zya tidak menjawabnya.
"I iya boleh." Jawab Zya.
"Lo gak kekantin?" Tanya Jungkook, mengingat dirinya juga akan kesana.
"Oh udah kok, temen gue yang kesana. Gue nitip doang." Ucap Zya.
"Ya udah kalau gitu, gue ke kantin dulu ya." Jungkook baru saja berdiri akan melangkah, namun terhenti ketika mendengar Zya yang berbicara pelan. Walaupun suara Zya tidak keras, namun Jungkook dapat mendengarnya dengan jelas.
"Nanti gue tunggu lo dimana?" Kata Zya pelan.
"Ditaman depan sekolah gak papa. Lo duduk-duduk aja dulu disana, cari tempat yang nyaman. Takutnya gue agak lama keluarnya." Jungkook segera menjawab pertanyaan Zya tadi.
"Ya udah." Zya mengangguk setuju.
"Gue kekantin dulu ya." Jungkook berpamit lagi dan memastikan tidak ada yang ingin Zya katakan lagi padanya.
Suaranya yang hangat, dan kepekaannya membuat Zya nyaman berteman dengannya. Hanya Jungkook satu-satunya teman laki-laki disekolahnya. Sebelumnya Zya tidak pernah seakrab ini dengan teman laki-laki nya. Zya melihat Stella dan Viola sudah datang. Zya melambaikan tangannya agar mereka tidak bingung.
"Zya, tadi itu siapa?" Tanya Stella setelah memberikan makanannya pada Zya.
"Temen." Jawab Zya singkat.
"Sejak kapan lo akrab sama cowok?" Tanya Stella lagi.
"Sejak, gue lupa." Zya memandang Stella menunjukkan wajah seriusnya.
"Wait, kayaknya gue pernah lihat itu cowok?" Violet tiba-tiba mengagetkan Zya.
"Siapa Vi?" Tanya Stella lagi.
"Anak kelas sebelah bukan?" Violet memastikan kepada Zya. Zya hanya mengangguk.
"Wiihh sejak kapan lo kenalan sama anak kelas sebelah? Di kelas sendiri lo cuek." Stella menggoda Zya yang sedang makan. Zya hampir saja tersedak, untuknya ia segera minum.
"Ganteng La." Violet berbisik pada Stella . Zya dapat mendengar bisikan itu.
"Gue gak sengaja aja kenalan." Ucap Zya kemudian.
"Kenalan dimana Zya? Pasti diluar sekolah nih." Stella menebak-nebak.
"Zya lo udah jalan sama dia?" Tanya Violet sontak membuat Zya melototkan matanya. "Hehe canda Zya." Kedua sahabatnya cekikikan.
Zya tidak tau akan menjawab apa, jadi lebih baik dia diam dan terus makan.
"Zya denger-denger nanti ada pergantian pelajaran." Ucap Stella ditengah heningnya Zya.
"Lo tau dari mana?" Akhirnya Zya terpancing oleh Stella.
"Tadi gue nguping dikit pas ke ruang guru." Kata Stella yakin.
"Bagus dong besok ada pelajaran fisika soalnya, semoga aja fisika nya diganti." Kata Violet yang senang mendengar hal itu.
"Lo mah mabuk kalau udah tuh pelajaran." Stella mengejek Violet yang selalu menguap jika jam pelajaran fisika.
"Bukan cuma gue aja, Zya juga." Violet tidak terima jika hanya ia saja yang di ejek.
"Tapi gue gak sering, gak separah lo." Zya berpihak pada Stella. Mereka saling mengejek tapi itu hanya candaan dan akan kembali akur seperti semula.
"Eh udah mau bell nih, kekelas yuk." Ucap Violet setelah selesai dengan makannya.
"Tumben lo seneng, biasanya juga ngeluh." Kata Stella heran.
"Kan ada pergantian jam La, pasti Violet gak sabar tuh lihat pelajaran besok." Zya menggoda Violet yang sudah merah wajahnya.
"Ya udah ayok. Mau ikut gak nih." Ucap Violet dengan wajah cemberutnya.
"Iya-iya, perawan jangan ngambek dong." Stella kembali menggoda Violet.
Mereka bergandengan pergi kekelas sembari tertawa kecil. Seseorang menghadangi jalan Zya. Zya coba menghindar tapi orang itu kembali menghadangnya. Zya mengangkat wajahnya melihat orang itu. Stella dan Violet kaget dengan kejadian itu. Baru saja Stella akan menarik Zya. Zya memberi isyarat pada Stella bahwa ia tidak apa-apa.
"Gue mau ngomong sama lo. Ada waktu gak?" Ucap orang itu.
"Gak ada." Zya menatapnya tidak suka.
"Sebentar aja." Orang itu memohon
"Apa?" Zya berusaha sabar. Zya tahu betul orang ini. Lukanya sudah sembuh. Zya sengaja tidak mau meladeninya karena Zya tidak ingin tau lebih dalam tentangnya.
"Lo masih ingat gue kan? Nama gue? Ee bukan, gue pernah ketemu lo pas joging." Katanya lagi.
"V." Zya memanggil namanya. Nama yang cukup bagus ditelinganya.
"Lo ingat? Gue belum tau nama lo." Zya tau maksud orang ini. Zya enggan memberitahu namanya. Tapi jika ia tidak memberitahunya, orang ini tidak akan pergi. Zya melihat sahabatnya masih menunggunya.
"Gue Zya." Orang itu senang dan tersenyum mendengarnya. "Kalau gitu gue kekelas dulu ya." Ini kali pertama V mendengar nada suara Zya yang lembut dan pelan. Dari hari kemaren ia mendapat penolakan dari Zya.
V sebenarnya tidak mau membiarkan Zya pergi dulu, tapi bell tanda berakhirnya istirahat membuat ia harus membiarkan Zya pergi. V tau kalau ia tidak membiarkan Zya pergi sekarang, mungkin V akan mendapat penolakan lagi dari Zya. Hari ini sudah cukup baginya untuk membuat Zya berbicara padanya.
----*----
Suasana kelas yang ramai. Jamkos, begitulah mereka menyebutnya. Walaupun sebenarnya sudah diberi tugas, tapi tidak adanya guru pembimbing membuat mereka merasa bebas untuk berkeliaran, mengobrol, bercanda, bahkan ada yang berlari-larian. Untungnya kelas ini cukup jauh dari jangkauan ruang guru.
Jin bersama teman-temannya pun tak ketinggalan ikut meramaikan kelasnya.
"Nov, bagi contekan dong nov." Jimin mencoba menggoda teman sekelasnya.
"Enak aja lo. Nggak-nggak." Jimin mendapat penolakan keras dari Nova, teman sebangkunya.
"Dikiiitt aja." Ucap Jimin memohon. Jin dan V menunggu usaha Jimin.
"Dikit aja tapi sampai selesai kan." Jin dan yang V tertawa melihat tingkah Jimin yang meminta contekan.
"Nov kok lo gitu sih. Lo kan cewek tercantik dikelas ini." Jimin masih berusaha.
"Gak ada gak ada. Minta sama Angel sana." Jimin tertekan ketika Nova menyebut nama Angel.
"Gue gak mau." Jimin berusaha melihat kebuku Nova namun ditutup oleh tangannya. "Pelit amat sih." Jimin menyerah.
"Udahlah Min, lo tunggu di belakang lo aja." Suga yang duduk di belakang Jimin menoleh ke arah Jin dan melotot. Jimin menoleh kebelakang.
"Eh abang gue yang cakep nih." Suga menipiskan bibirnya. "Bagi contekan bang."
"Otak lu dimana? Ketinggalan?" Jimin yang mendengar kata-kata Suga seketika depresot.
"Gue taruh bentar bang." Ucap Jimin. Jin dan V yang melihatnya tertawa cekikikan. Jimin berjalan kearah Jhope yang telihat serius dengan bukunya.
"Jyeeeehhooooppeeeeeee!!" Jimin berteriak, namun Jhope tidak mempedulikannya. Jimin memberi kode mata pada Jin lalu menepuk pundak Jhope. "Serius amat bang. Lagi ngapain?"
"Berisik lo." Jimin terkekeh dan menghampiri Jin dan V. Melihat V yang melamun membuat Jimin mengeluarkan kejailan lagi.
"Woy bambang!" V kaget langsung menatap Jin dan Jimin yang tertawa.
"Siang-siang gini ngelamun lo. Awas kerasukan setan kelas lo." Kata Jin sembari tertawa kecil.
"Jin nya kan elo." Balas V dengan polos. Jin langsung berhenti tertawa berganti dengan wajah julidnya.
"Eh eh menurut kalian hadiah yang paling disukai cewek apaan?" V tiba-tiba menanyakan hal yang tidak dipikirkan Jin dan Jimin.
"Hmm mungkin bunga?" Kata Jin sembari berpikir.
"Kuburan kalik." Jimin menyeringai dan tertawa kecil.
"Bukan itu bego. Bunga mawar." Jin menepuk pundak Jimin agak keras.
"Mawar merah apa mawar putih nih." Tanya V lagi.
"Repot amat lo. Beliin coklat aja sono dikantin." Saran Jimin.
"Yang serebuan itu ya?" Tanya V lagi.
"Gak modal amat sih lo." Jin tertawa melihat V yang terlihat polos.
"Emang mau lo kasih siapa?"
"Ada adek kelas, namanya Zya." Jin yang sedang minum dan mendengar nama itu langsung tersedak. Jimin menepuk pundak Jin meredakannya.
"Tiati bang. Lo minum kayak bayi aja." Jin batuk tak henti hingga air matanya keluar.
'Gilak. Adek gue pakek pelet apaan. Udah deket sama Jungkook, eh sekarang malah V.' batin Jin.
"Lo gak papa?" Tanya V kemudian.
"Nggak gak papa. Lo suka sama tuh cewek?" Tanya balik Jin.
"Yaa gak tau sih." V menjawab dengan ragu.
"Jangan mainin anak orang mulu lo. Dosa." Jimin menyeringai. Jimin tau betul sifat V, ia suka berpacaran tapi tidak lama. Mungkin karena bosan atau hanya dijadikan teman sesaat saja. Jin diam tak berkata-kata lagi.
"Eh, nanti temenin gue ya buat belanja." V berbicara dengan Jin tapi tidak ada jawaban. V melirik Jimin yang kemudian mengangkat pundaknya. "Jin!!"
"Ah iya?" Akhirnya Jin tersadar.
"Wah ada jin memasuki tubuh Jin nih." Jimin berkata pelan sambil menutup mulutnya yang tertawa kecil. Tentu saja Jin mendengar perkataan itu dan menyenggol tangan Jimin.
"Nanti ikut gue ke supermarket, buat beli bahan-bahan kita nanti?" Ucap V.
"Nanti?" Jin terlihat kaget.
"Iya, lo lupa kita bakal pesta BBQ?" V sedikit kecewa melihat Jin yang tak ingat. Jin melihat tanggal dibukunya. Kemudian ia tertawa.
"Haha gue gak lupa kok. Tenang aja. Everyting okey." Kata Jin sembari tersenyum. Jimin yang melihat Jin seketika kaget dengan tawanya.
"Sejak kapan lo pinter bahasa inggris?" Jimin mengoreksi bahasa Jin.
"Sejak gue masih didalam kandungan." Kata Jin merasa hebat.
"Nih nih kerjain cepat! Gosip aja lo pada." Namjoon datang memberikan bukunya untuk disalin.
"Wiihh abang gue tercakep nih." Jimin memuji Namjoon yang baik hati.
"Namjoon tanpa lo bilang cakep juga, emang udah cakep dari sononya." V menyeringai.
"Semua murid aja lo bilang cakep. Trus yang jelek mana?" Kata Jin.
"Yang gak ngasih gue contekan." Jimin berbicara sembari menulis dibukunya dengan cepat.
"Apa lo! Ngomongin gue lo?" Tiba-tiba Nova lewat disamping Jimin dan mendengar obrolan mereka. Sontak Nova menarik rambut Jimin yang tebal dan panjang.
"Eh nggak Nov. Lo sensi amat, lagi PMS ya?" Jimin memegang rambutnya yang ditarik tadi.
"Bukan urusan lo!" Nova pergi dengan tatapan sinisnya. Nova sering kebobolan dicontek Jimin. Mata Jimin yang jeli membuat Nova kualahan menutupi bukunya.
Namjoon berdiskusi dengan Suga membahas tugas tadi, takut ada yang salah atau tidak sama. Sementara Jin, V, dan Jimin menyalin buku Namjoon. Jhoope bergabung dengan Namjoon dan Suga. Ia juga bertanya beberapa soal. Jhoope suka mencoba mengerjakan sendiri, namun terkadang ia juga memilih menyalin ketika pelajaran yang ia rasa tidak mudah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments