Suasana ramai dikota ini memang sudah berlangsung sejak lama dari tahun ke tahun. Apalagi sekaranglah waktunya semua karyawan dari perusahaan, kantoran, pabrik, maupun pertokoan sudah banyak yang pulang. Dijalanan ramai sekali kendaraan berlalu lalang menyebabkan asap kendaraan yang sedikit terlihat diudara. Tidak sedikit mereka yang memakai mobil dan sepeda motor, ada pula yang bersepeda dan pejalan kaki. Awan yang semula cerah sedikit demi sedikit berganti awan jingga dan terus berganti malam yang gelap.
Jin keluar dari kamarnya dengan wajah yang segar serta handuk dipundaknya. Tangannya memegang handuk itu sembari mengacak-ngacak rambutnya agar kering. Ia turun kebawah menuju dapurnya, ingin mengambil minum. Sementara dipikirannya sedang mengingat-ingat apa yang sedari tadi mengganggu pikirannya itu. Ia terus jalan kedapur dan membuka kulkas nya. Mengambil sebotol air dingin untuk ia minum. Sembari minum, ia melihat adiknya sedang duduk disofa depan televisi. Televisi itu menayangkan sebuah drakor kesukaan adiknya. Tiba-tiba Jin teringat akan teman-temannya yang akan kemari. Jin segera menutup botol minumannya dan menaruhnya kembali ke dalam kulkas.
Jin menghampiri adiknya, duduk disebelahnya.
"Lo gak mau keluar?" Kata Jin memulai percakapan.
"Nggak tuh." Ucap Zya sambil memakan camilan yang ia rangkul dipangkuannya.
"Nggak ke alun-alun? Beli apa kek?" Jin coba mencari saran agar adiknya itu keluar rumah nantinya.
"Oh iya. Gue baru inget. Nanti jam 7 gue mau ke alun-alun bareng temen gue." Zya yang terperanjat akibat ucapan abangnya lalu mengingat sesuatu. "Kenapa bang? Tumben tanya-tanya." Ucap Zya merasa ada yang janggal.
"Iya, nanti temen gue mau kesini. Makanya gue tanya lo." Kata Jin menjelaskan.
"Tenang aja, nanti gue keluar kok. Berapa orang emang." Jin terlihat menghitung dengan jarinya.
"3 orang." Kata Jin sambil memperlihatkan angka tiga di jarinya.
"Jam berapa? Pulangnya jam berapa?" Zya panik, takut ketahuan nantinya. Jadi Zya bertanya lebih dulu.
"Mungkin jam 7 sampe jam 9." Ucap Jin mengira-ngira saja.
"Jadi gue pulang jam 10 dong. Gak kemaleman emang?"
"Hmm gini aja. Nanti lo kalau mau pulang, kabari gue dulu. Biar gue yang urus temen-temen gue nanti. Gimana?"
"Terserah deh." Kata Zya pasrah. "Emang ada apaan sih kok temen lo mau kesini." Tanya Zya yang akhirnya penasaran juga.
"Gak ada. Cuma ngerjain PR bareng aja." Kata Jin singkat.
"Dih tumben banget lo. Biasanya juga bodo amat, cuma ngandelin google."
"Tau dari mana lo. Jangan sok tau deh."
"Nyinyinyi. Lo pikir gue gak tau. Lo ngomong keras banget Ok Google bantu gue ngerjain PR gue." Zya pernah mendengarkan abangnya yang berbicara dengan google yang isinya pertanyaan PR nya.
"Hiisss jangan bilang-bilang ke Dady lo. Awas lo." Jin mengancam Zya agar ia takut sedikit.
"Lo pikir gue tukang ngadu. Wek." Zya menjulurkan lidahnya mengejek dan bangkit dari tempat duduknya menuju kamar mandi. Ia mandi segera dan bersiap-siap nantinya.
"Awas lo ya kalau sampai ngadu ke Mom atau Dad. Gue bakal kasih tau satu sekolah kalau lo adek gue." Teriak Jin yang kemudian menggema di rumahnya. Untung dirumahnya saat ini tidak ada siapa-siapa. Dad nya masih belum pulang dari kerjanya dan Mom nya sedang ada kumpulan arisan yang juga belum pulang sejak tadi, mungkin sebentar lagi mereka berdua akan datang.
Zya membiarkan abangnya berteriak dan tidak membalasnya. Zya tahu betul bahwa abangnya tidak benar-benar kesal hanya memperingatinya saja. Lagipun Zya tidak ada niat untuk memberitahu Mom dan Dad nya untuk masalah itu. Toh dia juga sering pakai bantuan google.
Zya masuk kedalam kamar nya. Warna putih bercampur dengan ungu yang membuat kamar ini menjadi lebih indah. Sprei kamar yang Zya pakai hari ini berwarna ungu keputih-putihan dan ada gambar bunga lili di setiap sudutnya. Selimut yang berwarna ungu dan bantal-bantal ungu bercorak bunga mawar yang tersusun rapi disana. Kelambu yang berwarna ungu muda juga ada disana terpajang. Menambah sensasi mewahnya kamar Zya. Meja rias dan meja belajar tersusun rapi disana. Lampu meja riasnya berwarna ungu cerah. Ada pula lampu yang ditempelkan di dinding-dinding nya berwarna ungu putih selang seling yang membuat kamar ini menjadi sangat menarik untuk dilihat. Cat temboknya mendominasi warnanya.
Zya menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuknya. Berpikir sejenak OOTD apa yang akan ia pakai nanti. Ia melihat jam dinding yang terpajang, didalamnya ada gambar doraemon ungu didominasi dengan warna putih serta lingkaran jam yang berwarna putih. Zya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk pergi nanti bersama teman-temannya.
----*----
"Zya ayo naik." Ucap Violet sembari membuka kaca mobil disampingnya agar Zya dapat melihatnya dengan jelas.
Zya membuka pintu mobil bagian belakang dengan terburu-buru. Zya langsung memerintahkan sahabatnya itu untuk langsung jalan.
"Kenapa sih Zya?" Tanya Violet heran.
"Oh gak papa." Ucap Zya sembari senyum.
Zya melihat jam diponselnya. Sudah mau jam 7 , untung saja Zya menyuruh sahabatnya ini untuk jalan lebih awal. Jadi Zya punya waktu untuk keluar rumah tanpa bertemu dengan teman-teman abangnya. Buy the way kedua sahabatnya Zya pun belum tau kalau Jin kakak kelasnya adalah kakaknya Zya. Selama ini mereka hanya tau kalau Zya punya kakak laki-laki dan tidak tau itu siapa.
Jalanan tampak ramai malam ini. Disisi lain ini adalah hari spesial bagi yang memiliki pasangan karena ini adalah malam minggu. Malam yang selalu dinanti-nanti oleh banyak pasangan untuk jalan-jalan atau sekedar bertemu disuatu tempat. Tapi ini tidak berlaku bagi Zya dan sahabat-sahabatnya, yaaa you know lah. Malam ini hanya seperti malam biasa-biasa saja bagi mereka. Violet melajukan mobilnya dengan kecepatan standart sehingga sahabatnya yang lain dapat melihat pemandangan indah dipinggir kota.
"Gue gak pernah keluar pas malem minggu sih. Rame banget ya." Kata Stella yang masih memandang jalanan dari balik kaca mobil.
"Makanya La lo sekali-sekali keluar dong. Refresing bareng kita. Biar lo gak suntuk terus." Kata Violet masih sambil menyetir. Didepan ada jalan bundaran yang indah. Ditengahnya ada bangunan pancuran air yang menjulang tinggi lalu jatuh kebawahnya. Disamping itu tersusun rapi tanaman rerumputan yang mengelilinya serta pagar putih yang indah melindunginya. Tak lupa pula lampu bulat berukuran sedang juga mengelilinginya, menambah keindahan tempat itu. Dan diseberangnya ada banyak orang yang sedang menikmati jalanan yang ramai ini, ada pula yang sedang berjualan disana.
"La lihat itu." Stella pun menoleh kearah Zya.
"Wah bagus ya." Kata Stella sembari memandang keluar kaca mobil.
"Lo kapan si terakhir kali keluar malem?" Tanya Zya penasaran.
"Hmm udah lama sih, sekitar 3tahunan mungkin." Stella mengira-ngira saja.
"Emang lo ngapain selama itu dirumah lo. Gak bosen apa?" Tanya Violet.
"Bosen sih tapi mau gimana lagi. Gue harus belajar biar bisa nerusin butik mama gue." Jelas Stella.
"Katanya lo mau jadi perias La?" Tanya Zya yang ingat ucapan Stella waktu itu.
"Ia gue curi-curi waktu aja buat belajar jadi perias."
"Lo itu udah enak. Mama lo punya butik, lo tinggal jadi penerusnya aja. Gak perlu susah-susah dari awal. Kenapa lo gak fokus aja ke butik mama lo." Violet memberikan saran untuk Stella yang sepertinya dilanda kebingungan.
"Udahlah Vi biarin aja. Stella emang pengen jadi perias kok. Mungkin nanti dia bisa sukses tanpa bantuan mamanya." Ucap Zya menengahi karena Stella tak kunjung menjawab pertanyaan Violet.
"Makasih Zya." Stella merasa senang Zya mendukungnya untuk apa yang selama ini Stella inginkan.
"Sama-sama." Ucap Zya tersenyum.
"Apapun yang lo cita-cita kan gue doain deh semoga nanti kedepannya terkabul dan lo bisa jadi orang sukses seperti yang dikatakan Zya." Violet berkata sambil menyimpulkan senyumannya. Ia tahu, mungkin pertanyaannya tadi tidak mengenakkan untuk Stella.
"Gaess udah nyampek." Violet memberi info kepada kedua sahabatnya itu. Ia langsung mencari tempat parkir untuk mobilnya.
"Rame banget. Vi lo nemu parkiran gak?" Tanya Zya khawatir tidak dapat tempat parkir kali ini.
"Ada kok didepan." Violet yang melihat lahan kosong langsung melajukan mobilnya kesana. Takut keburu diambil orang.
"Ini gak papa mobil lo diparkir disini." Tanya Stella meyakinkan.
"Iya gak papa. Yuk!!" Violet membuka sabuk pengamannya diikuti oleh Stella dan membuka pintu mobilnya. Mereka bertiga keluar dari mobil Violet dan berjalan menuju pintu masuk alun-alun. Mereka bergandengan tangan sehingga terlihat adik kakak yang akan bersenang-senang disini.
Stella mengenakan celana panjang kulot, baju kaos putih bertuliskan girl didepannya dan ditutupi oleh jaket biru jeans.
Violet mengenakan celana jeans berwarna hitam dan baju hitam polos serta jaket jeans biru.
Zya memakai celana baggy pant motif kotak-kotak berwarna hitam dan baju putih serta jaket biru jeansnya.
Kehadiran mereka berhasil membuat sebagian para pengunjung memerhatikannya. Kecantikan tiga gadis ini memang tidak perlu diragukan lagi, apalagi Violet yang suka dengan rambutnya yang terurai panjang menambah rona kecantikan diwajahnya dan Zya yang memilih untuk mengikat rambutnya dan menyisakan sedikit anak rambut disamping dekat kedua telinganya sehingga membuat wajahnya lebih bulat dan pipinya yang tembam itu terlihat sempurna. Sementara Stella lebih suka jika ia memakai topi berwarna hitam dikepalanya dan rambutnya yang tetap terurai, itu adalah ciri khas nya yang membuat dia terlihat menarik.
Mereka terus berjalan menjelajahi setiap toko atau jajanan-jajanan yang ada disana. Banyak yang datang bersama pasangannya kesini dan ada pula yang datang bersama teman, kerabat, saudara. Violet berjalan sambil melihat-lihat kekanan kekiri, seolah-olah ada yang dia cari disini.
"Zya, La. Kesana yuk." Violet menunjuk sebuah toko baju disana. Ia ingin membeli dress santai untuknya. Dsini banyak barang yang dijual termasuk import-import dari luar negeri dengan harga yang terjangkau, seperti baju, tas, jaket, topi, kacamata, accesoris, dan masih banyak lagi dan tak lupa pula jajanan-jajanan nya juga khas daerah sini.
Stella dan Zya mengikuti Violet yang menggandeng tangan mereka. Mereka masuk kepertokoan yang dimaksud Violet tadi. Violet memilih-milih dress yang akan ia beli nanti sambil meminta saran yang bagus dari kedua sahabatnya.
"Gaes ini bagus gak ya." Tanya Violet memegang satu buah dress.
"Hmm bagus kok." Ucap Zya. Sementara Stella juga ikut mencari.
"Vi ini cocok deh dengan lo." Terdengar Stella yang memanggil.
"Mana coba lihat. Gue coba dulu ya." Kata Violet senang. Ia sudah memegang tiga baju ditangannya.
"Lo gak mau nyari-nyari buat lo juga La?" Tanya Zya kepada Stella.
"Mau. Gue kebagian celana dulu ya." Ucap Stella kemudian pergi. Tempatnya agak jauh dari tempat Zya berdiri tapi tetap didalam satu pertokoan. Tak lama kemudian Violet terlihat muncul didepan Zya.
"Gimana Vi? Bagus?" Tanya Zya yang menyadari temannya itu datang.
"Bagus banget. Gue suka!!" Ucap Violet senang dan memutuskan untuk membeli dress-dress itu. "Eh Stella mana?" Tanya Violet sembari memegang baju yang digantung dengan asal.
"Oh dia nyari celana katanya." Zya memberitahu Violet.
"Oh. Lo udah mau yang itu?" Tanya Violet yang melihat Zya memegang dua baju ditangannya.
"Iya, gue coba dulu ya." Zya pergi dengan baju yang ia pegang ditangannya.
Setelah lama mereka mencari-cari dan sudah menemukan barang-barang yang mereka inginkan. Ini saatnya mereka untuk mengisi perut yang sudah berdemo sejak tadi. Violet berjalan didepan memimpin arah mereka, kemana mereka harus singgah untuk makan. Violet memiliki indra penciuman yang baik dan perasa yang bagus, tidak ada makanan yang tidak enak kalau Violet yang memilih.
"Vi kita mau kemana?" Tanya Zya yang sudah tidak sabar untuk makan.
"Udah kita ikutin aja. Chef Violet lagi nyari tempat yang makanannya enak nih. Dia gak bakal salah pilih." Ucap Stella menyabari Zya.
Dari banyaknya makanan yang dijajakan disini, membuat banyak pengunjung bingung akan memilih yang mana.
"Gaess disana aja. Ayo!!" Violet menarik tangan Zya yang kemudian Zya menarik tangan Stella. Setelah sampai ditempatnya, Violet langsung memilih tempat duduk disudut belakang dekat jendela. Tempat yang nyaman bagi ketiganya dan agak jauh dari keramaian. Mereka duduk setelah memesan makanan dan minuman. Zya memandang keluar jendela dengan lama.
"Huuhhh capek banget ya." Ucap Violet sambil mengipasi dirinya dengan tangannya.
"Iya." Kata Stella meng-iyakan. "Zya lo kenapa?" Stella memegang tangan Zya yang sejak tadi memperhatikan keluar. Zya terperanjat dengan lamunannya.
"A ah gak papa." Ucap Zya kaget. Stella melihat ke jendela luar. "Ooohh lo liat cowok itu?" Tanya Stella menebak.
"E eh nggak kok." Ucap Zya membantah.
"Lo tau dia siapa?" Tanya Stella lagi.
"Iya."
"Hah??" Kedua sahabatnya kaget dan lngsung meneriakinya.
"Eh maksud gue. Gue pernah ketemu dia di toko buku trus dia juga kan yang hampir nabrak gue waktu disekolah." Zya menjelaskan maksudnya, agar sahabatnya itu mengerti.
"Bagus deh kalau lo ingat." Kata Stella.
"Yang gue lihat bukan dia, tapi temennya." Kata Zya lanjut.
"Kenapa?" Tanya Violet penasaran.
"Kayaknya gue pernah lihat deh." Kata Zya sedikit ragu.
"Iya lo pernah lihat disekolah kalik. Kan dia satu sekolah juga sama kita." Ucap Violet sambil meminum minumannya yang sudah datang.
"Nggak. Gue ngerasa kenal deket gitu." Zya mencoba menjelaskan.
"Zya lo gak panas kan?" Stella menaruh tangannya ke jidat Zya.
"Apaan sih La. Nggak gue sehat." Zya mendengus kesal.
"Terus kenapa lo bilang kalau lo kenal deket sama dia?" Tanya Stella mulai penasaran.
"Gak tau deh. Mungkin cuma persaan aja."
"Jangan-jangan lo suka sama dia? Jatuh cinta pandangan pertama?" Violet menunjuk-nunjuk Zya dan memberikan senyuman jail padanya.
"Kenal juga nggak, malah jatuh cinta." Zya mengalihkan pandangannya ketika ia merasa cowok itu akan melihatnya dari luar. Mereka menyantap makanan yang sudah mereka pesan tadi.
"Eh udah jam berapa nih?" Zya ingat bahwa seharusnya ia pulang agak terlambat sedikit.
"Udah jam setengah 10. Mau pulang?" Tanya Violet yang sudah menghabiskan makanannya sejak tadi dan sudah puas juga bermain hp nya.
"Ya udah yuk." Ucap Stella cepat. Ia berjanji kepada mamanya bahwa akan pulang dibawah jam 10.
Mereka pun pergi dari tempat itu dan tak lupa juga untuk membayar makanan yang mereka pesan tadi. Suasana disini masih ramai tapi tak seramai tadi. Mereka jadi lebih leluasa untuk jalan berderet.
"La lo mau langsung pulang?" Tanya Violet kepada Stella.
"Iya Vi. Atarin gue dulu ya, soalnya gue udah bilang tadi ke mama kalau bakalan pulang dibawah jam 10." Ucap Stella sedikit khawatir. "Lo gak papa kan Zya?" Tanya Stella yang kurang enak mengambil jalan muter untuk kerumahnya dulu.
"Oh gak papa kok. Santai aja." Zya tersenyum agar sahabatnya ini lega.
"Ya udah kita muter ya berarti." Kata Violet memastikan.
"Iya." Ucap Zya dan Stella.
Karena rumah Stella tidak satu arah dengan rumah Zya, jadi mereka harus putar arah dulu. Zya sangat tidak keberatan karena ia sendiri ingin pulang terlambat. Ia ingin mencoba menghubungi abangnya, tetapi niat itu urung dilakukan. Stelah Violet mengantar Stella pulang, ia lanjut mengantar Zya pulang.
"Udah sampe Zya." Kata Violet tersenyum.
"Oh makasih ya. Lo gak papa sendirian malam-malam gini?" Tanya Zya melihat jalanan disini sudah lumayan sepi.
"Iya, gak papa. Gue udah terbiasa kok." Violet lagi-lagi tersenyum memberika tanda bahwa ia benar-benar tidak masalah."
"Oh ya udah, kalau gitu gue masuk dulu ya. Lo hati-hati dijalan."
"Oke."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments