Part 12

Zya. Begitulah kebanyakan orang memanggilnya. Ia terlahir dari rahim seorang bangsawan, namun sayangnya gadis itu mendapatkan perlakuan tidak adil dikeluarganya. Gadis itu diusir oleh Ayahnya karena ingin menikahi seorang rakyat biasa. Akhirnya sang gadis tetap memilih untuk menikahi laki-laki pilihannya dan memulai kehidupan baru. Sampai pada suatu ketika gadis itu sedang mengandung Jimin, sang ayah mendengar kabar itu dan menginginkan anak laki-laki yang dikandungnya itu. Ia pun berusaha mencari cara agar ayahnya tidak mengambil anak pertamanya. Mulai sejak itu banyak utusan-utusan ayahnya yang sering mengintai keluarganya. Seiring berjalannya waktu, Jimin yang sedang mengalami masa pertumbuhannya sementara Zya ada didalam kandungan. Sang ayah tau bahwa sebentar lagi Zya akan dilahirkan. Sudah beberapa cara dilakukan untuk membuat keluarga itu hancur. Sampai pada waktunya, Zya sudah ada dipangkuan gadis itu. Seorang ibu yang berusaha melindungi kedua putra putrinya sangat berat, apalagi disaat seperti ini. Gadis itu tidak mampu menyerang pertahanan ayahnya. Meskipun ia juga memiliki orang-orang yang ada dipihaknya, namun utusan-utusan ayahnya terlalu kuat. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah kesuatu kota. Kota yang dimana menurutnya aman dari incaran ayahnya. Namun, tanpa ada yang menyangka bahwa diam-diam sang ayah sudah tau keberadaan putrinya itu.

Pada malam hari, ketika semuanya tertidur. Kobaran api melahap rumahnya. Semuanya panik, gadis itu menggendong Zya sementara suaminya menggendong Jimin mencari jalan keluar untuk menghindari api yang ganas saat itu. Mereka berhasil keluar dengan susah payah, namun tidak sampai disitu saja. Mereka masih harus lari dan berlindung dari kejaran orang-orang yang sudah diperintahkan oleh ayahnya. Beberapa orang yang berpihak pada gadis itu berusaha untuk tetap melindungi mereka. Namun sayangnya, pertahanannya tidak cukup kuat. Mereka terus berlari sampai ke hutan.

"Sayang." Ucap sang gadis kepada suaminya.

"Ada apa? Kita harus terus berlari."

"Kita berpisah disini." Suaminya terdiam kaget mendengar ucapan istri tercintanya.

"Tidak. Kalau kamu ditangkap, aku juga harus ikut. Kalau kamu menderita, aku juga harus merasakannya."

"Bukan. Kita harus berpencar."

"Kenapa tidak sama-sama saja?"

"Tidak, mereka menginginkan anak-anak kita. Kamu harus bawa Jimin pergi jauh kearah sana. Aku kearah sana." Suaminya diam tak berbicara, pikirannya bingung. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan istri tercintanya. Istrinya mengerti perasaan suaminya yang bimbang. "Kamu tenang aja kita pasti bisa ketemu lagi. Kita ketemu di jalan utama, aku sudah menyuruh seseorang untuk menunggu disana." Katanya sambil membelai rambut suaminya mesra untuk menghilangkan rasa bimbang nya.

Tak lama kemudian, mereka melihat utusan-utusan ayahnya sudah datang dari belakang.

"Ayo sayang." Ucap sang gadis itu kembali meyakinkan suaminya. Tak butuh waktu lama suaminya mengangguk dan mereka pun berpisah disana.

Gadis itu menggendong Zya dengan erat. Tubuh Zya yang masih kecil, terasa ringan. Zya yang sedang tertidur, membuat gadis itu semakin semangat untuk berlari menjauh.

"Kita pasti selamat nak. Kamu harus tetap bersama ibu." Ucap gadis itu di tengah larinya. Gadis itu merasa lelah, tangannya yang terus menggendong Zya kecil pun sudah merah. Ia melihat ada jurang yang bisa jadi tempat persembunyiannya dibawah. Ia turun perlahan sampai tubuhnya tak terlihat lagi dari atas. Ia diam disitu sembari memperhatikan Zya. Berjaga-jaga agar Zya tidak bangun atau menimbulkan suara.

Disisi lain, pria itu berlari dengan sekuat tenaganya membawa Jimin di rangkulannya. Jimin terbangun, namun masih tetap diam di pundak ayahnya. Pria itu telah sampai dijalan utama. Orang-orang yang mngejarnya tadi telah kehilangan jejaknya. Seseorang yang diutus oleh gadis itupun menghampirinya, menyuruhnya masuk kemobil. Namun pria itu tak langsung masuk kemobil itu, ia hanya menaruh Jimin disana. Memastikan agar Jimin selamat terlebih dahulu. Pria itu masih menunggu istrinya yang tak kunjung datang. Ia bertanya pada orang-orang yang diutus istrinya.

"Kalian belum melihat istriku datang?"

"Belum. Sejak tadi kita sudah disini."

"Apa kau mau, aku mencarinya?" Pria itu terdiam sejenak. Ia khawatir, bingung, dan takut terjadi apa-apa pada istrinya. Akhirnya pria itu mengangguk.

Beberapa orang masuk kembali kehutan itu. Pria itu menunggu di mobil bersama yang lainnya. Beberapa jam kemudian, ada yang datang.

"Gawat!! Mereka membakar hutan." Betapa kagetnya pria itu hingga membuatnya terjatuh. Beberapa orang membantunya berdiri. Rasanya ia sudah tidak dapat menahan tubuhnya sendiri. Istri yang dicintainya bersama putrinya masih ada didalam. Tak lama kemudian, mereka melihat dari dalam hutan beberapa orang utusan dari ayah si gadis datang. Mereka membawa paksa pria itu untuk masuk kemobil dan pergi dari tempat itu meninggalkan jalan utama.

----*----

Zya berjalan dikoridor sekolah menuju ruang guru. Ia membawa beberapa buku untuk ditaruh disana. 5menit lagi istirahat. Zya berencana akan ke kamar mandi setelah mengantarkan buku ini, sekiranya bell istirahat ia bisa langsung kekantin dan menunggu sahabatnya disana. Di pertengahan jalan, ada yang memanggilnya dari belakang.

"Zya!" Itu Jungkook. "Mau kemana?"

"Ruang guru." Jawab Zya.

"Oh bareng yuk." Ajak Jungkook. Kebetulan ia pun akan keruang guru untuk memberikan kertas tugas miliknya.

"Boleh." Jawab Zya sembari tersenyum. Zya merasa senang ada yang menemaninya keruang guru. Dan ini kali pertama, disekolah ia berjalan dengan murid laki-laki.

Dua orang yang sedang berjalan bersama, mereka tidak tau kalau ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh.

Setelah mereka keluar dari ruang guru, bell istirahat berbunyi. Zya akhirnya mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi. Karena memang, kekamar mandi adalah alasannya untuk menunggu bel istirahat disana.

"Lo mau langsung kekantin?" Zya menatap Jungkook yang ada disampingnya.

"Iya, lo juga kan?" Jungkook masih berjalan tanpa menatap Zya.

"Iya." Jawab Zya.

"Kalau gitu bareng aja." Jungkook membalas tatapan Zya. Zya langsung mengalihkan pandangannya.

Mereka kekantin bersama dan memesan makanan bersama. Zya memilih tempat duduk, Jungkook pun ikut duduk didepannya. Zya bingung kenapa laki-laki ini mengikutinya. Bagaimana nanti reaksi sahabatnya.

"Gue duduk sini dulu ya, nunggu temen gue. Gue gak enak soalnya kalau duduk sendirian." Ucap Jungkook yang merasakan keanehan diwajah Zya.

"Oh ok, gak papa kok." Zya tersenyum ramah.

"Makasih ya. Lo nunggu temen lo juga kan?" Tanya Jungkook sembari meminum minumannya.

"Iya." Zya pun merasa lega. Ia berusaha mengalihkan pandangannya kepintu masuk kantin. Zya tidak bisa berbohong pada dirinya. Jungkook dimatanya terlihat sangat manis dan tampan. Mana ada cewek yang bisa mengalihkan pandangannya. Apalagi saat ini Jungkook tepat didepannya. Zya membuka ponselnya untuk mengalihkan pandangannya.

"Hey! Sama siapa lo? Tumben sama cewek." Seseorang menepuk pundak Jungkook.

"Apa sih bang, cuma temen kok." Zya melihat keorang itu, ternyata abangnya. "Gue pindah dulu ya." Ucap Jungkook kepada Zya yang langsung dibalas dengan anggukan.

Zya sudah tidak heran lagi dengan suara abangnya itu yang mampu membuat orang kaget seketika. Contohnya tadi, waktu Jungkook melihat keluar jendela dan langsung ditepuk bahunya. Ia melihat Jungkook yang setengah kaget akibat ulah abangnya itu. Zya tersenyum kecil mengingat wajah Jungkook yang kaget tadi.

"Woy, senyam senyum aja lo." Ucap Stella membuat Zya mengangkat wajahnya.

"Mana senyumnya sama hp lagi La, lo punya pacar Zya?" Tanya Violet tiba-tiba.

"Nggak lah." Ucap Zya bingung.

Mereka melanjutkan makannya dan bercengkrama sesekali. Bercerita dan meluapkan rasa capeknya di jam-jam istirahat ini.

----*----

"Lo kenal sama dia?" Tanya V pada Jungkook yang sudah penasaran sejak tadi.

"Iya." Jawab Jungkook sembari memakan pop mie nya.

"Sejak kapan?" Tanya V lagi. V tidak pernah melihat Jungkook bersama cewek disekolah ini.

Jungkook memutar bola matanya. Merasa ada yang tidak beres dengan V. Kenapa V menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. Apa perempuan itu, V sedang ingin bermain-main. Jungkook tidak segera menjawab pertanyaan V, sehingga V juga ikut diam. Dia juga merasa ada yang aneh.

Jin memerhatikan kedua temannya ini. Seperti akan ada masalah yang terpendam. Jin melirik ke yang lainnya. Lainnya pun sama, memandang satu sama lain. Jin mengacak rambutnya dan mulai merubah suasananya. Beberapa pertanyaan pun muncul dibenak Jin. Antara bingung dan kesal.

"Lo kenapa gak jawab pertanyaan gue?" Tanya V lembut pada Jungkook.

"Gue kenal kemaren pas mau pulang. Gue lihat ada yang ganggu dia. Pas itu gue nolongin dia. Gue lihat si dia jago berantem juga, tapi ya namanya cewek masa mau gue biarin. Gue juga ikut dia ke toko buku pas hujan deres. Makanya kemaren gue pulang malem." Ucap Jungkook menjelaskan.

"Jadi luka lo itu?" Jungkook memegang luka dibibirnya. Sudah lumayan kering. Jungkook mengangguk. Karena semalam ia ditanyai oleh Papinya pasal luka itu. Papinya memarahinya karena mengira Jungkook bermain dengan anak-anak berandal dijalan. V pun tidak menanyai soal luka itu karena ia tau pada saat itu Jungkook masih tertekan atas sikap papinya yang langsung memarahinya.

Jin mendengar apa yang dikatakan Jungkook. Zya tidak bercerita apa-apa dengannya. Selama ini apa saja yang sudah Zya sembunyikan dari Jin. Jin mengira ialah satu-satunya orang yang mengenal Zya begitu dalam. Jin tau semua sifat Zya dan antek-anteknya. Namun, kali ini Jin merasa ragu. Jin berpikir, mungkin ada beberapa kepribadian Zya yang tidak ia ketahui. Dari dulu Zya selalu terbuka padanya. Hanya Jin lah tempat sandaran Zya jika sedang badmood.

"Kooki." Jin memanggil Jungkook dengan hati-hati.

"Iya?" Tanya Jungkook.

"Lo nolongin dia, diganggu sama berapa orang?" Jin mencoba mencari tau, apa yang sebenarnya terjadi.

"Hmm kayaknya lima orang deh." Jawab Jungkook sembari menghitung dalam ingatannya. Jin diam berpikir.

"Nah." Jhope menepuk tangannya, membuat teman-temannya menoleh padanya. "Gue yakin tuh suruhannya si Angel." Jin mengerutkan keningnya. Yang dikatakan Jhope ada benarnya juga.

"Tunggu dulu, lo kok bisa tau kalau itu ulah si Angel." Tanya Jimin yang kemudian menjadi penasaran.

"Gue tau dari si Suga." Jhope menunjuk pada Suga.

"Lah kok gue?" Suga yang tidak terima pun mulai angkat bicara.

"Kan elu yang pernah cerita ke gue sama Jin. Ya kan?" Jhope mengingatkan kembali perkataannya.

"Iya tapi kan lo gak bisa asal nuduh dong." Suga merasa terpojok sekarang.

"Emang apaan?" Tanya V yang ikut penasaran.

"Gini boy, deketan dikit kita bisik-bisik." Suga memutar bola matanya malas.

"Jangan deket-deket banget ah, kuping gue gatal nanti." Kata V yang mulai geli.

"Emang gue ulat bulu?" Ucap Suga yang mulai terpancing esmosi.

"Lo kan kucing, punya bulu." Kata Jimin sembari tertawa kecil.

"Serah deh. Mau tau gak nih?" Ucap Suga sedikit kesal.

"Mau mau mau." Mereka bertiga pun mendekatkan diri pada Suga. Suga mulai berbicara serius dengan suara yang amat pelan, sehingga hanya mereka saja yang mendengarnya. Setelah selesai, mereka kembali menggeser diri, ketempat semula.

"Emang ada masalah apa si sama kak Angel itu?" Jungkook langsung bertanya karena ia memang tidak tau apa yang sedang terjadi disekolahnya ini.

"Nah ini nih, sumbernya." Suga menunjuk Jimin.

"Gue?" Jimin menunjuk dirinya sendiri sambil tersenyum. "Gue gak ngapa-ngapain loh. Gue duduk aja disini."

"Emang repot jadi orang ganteng Min." Ucap Jhope kepada Jimin dan disetujui oleh Jin dan kawan-kawannya.

Namjoon datang membawa Pop Mie nya.

"Lama amat Joon." Ucap Jin kepada Namjoon yang baru datang.

"Gue masih antri air panas nih." Kata Namjoon polos, dan duduk bersiap menyantap mienya.

"Tiati makannya Joon." Ucap Suga.

Namjoon baru akan menyantap mie nya. Membaca doa lalu membuka garpu yang terlipat. Sayangnya ketika garpu itu ditegakkan, kekuatan Namjoon terlalu berlebihan hingga garpu itu putus. Namjoon yang melihat garpu itu menjadi dua, bengong seketika. Sementara teman-temannya yang lain sudah mengeluarkan tawanya.

"Kan udah gue bilang hati-hati Joon." Suga dengan wajahnya yang dapat mengontrol tawanya kembali mengingatkan kata-katanya. Namjoon tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Nih pakek punya gue." Jimin memberikan garpu yang sama kepada Namjoon, namun sudah ia tegakkan.

"Garpunya tipis bang, jadi pelan-pelan ya." Ucap Jungkook yang mengingatkan lagi.

Jhope dan Jin sudah tidak bisa menahan tawanya hingga ketika Namjoon makan pun, mereka masih melihat ke arah garpu yang Namjoon pakai. Takut kalau-kalau garpu itu akan putus kembali.

Namjoon memiliki otak yang cerdas namun sedikit ceroboh. Mereka memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Banyak yang bilang kalau mereka saling melengkapi satu sama lain. Mereka populer disekolah ini karena kelebihannya masing-masing. Tak luput juga banyak yang bilang kalau mereka semua memiliki ciri khas wajah tampannya.

Zya beruntung memiliki kakak seperti Jin, Zya bisa saja populer seperti mereka, bahkan mengalahkan Angel. Namun, bukan itu yang Zya inginkan. Zya tau kalau Jin bukan kakak kandungnya. Ia takut hal itu juga akan terbongkar dan menyebar disekolah ini. Meskipun Jin akan melindungi Zya, namun perasaannya tetap tidak akan tenang. Lagipun Zya memiliki pemikiran yang membuatnya tidak ingin populer. Tidak peduli seberapa populermu disekolah, yang penting Zya dapat lulus dengan nilai terbaiknya.

Zya bukan anak pintar disekolah ini. Tapi Zya mampu memainkan dua peran, dua wajah, dua sifat yang bertolak belakang. Bahkan orang lain pun tidak akan menyangka bahwa ini adalah dirinya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!