Rumah yang terlihat megah, dengan barang-barang yang mewah terpajang disetiap sudut ruangan. Ruangan yang terbagi menjadi beberapa bagian yang cukup luas disetiap ruangannya. Bahkan untuk tempat tidur tamu dan pembantu pun masih terlihat sangat mewah dan luas.
Disinilah Zya tinggal sejak ibunya tiada, ia masih terlalu kecil saat itu untuk mengerti situasi yang terjadi. Zya memejamkan matanya dan mulai membayangkan wajah ibunya saat masih hidup namun Zya tidak dapat mengingat dengan jelas.
Zya keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga menuju dapurnya.
"Non mau kemana?" Tanya Bi Iyem yang merupakan satu-satunya pembantu dirumah.
"Oh mau masak telur bi." Jawab Zya dengan enteng.
"Biar bibi aja non." Ucap sang bibi karena ia belum pernah melihat non Zya memasak sendiri sebelumnya.
"Gak usah bi, Zya bisa kok." Jawab Zya pasti.
"Beneran non?" Tanya bi Iyem seakan tidak sepenuhnya percaya.
"Iya." Zya menjawabnya dengan mantap agar bi Iyem bisa membiarkan dia sendiri yang melakukannya.
"Udah sini non, bibi aja." Bi Iyem masih dengan kekhawatirannya.
"Zya beneran bisa kok bi." Zya mencoba membuat bi Iyem percaya padanya.
"Beneran nih non?" Tanya bi Iyem sekali lagi.
"Iya, mending bibi kerjain yang lain aja." Zya memutar bola matanya mencari-cari alasan agar bi Iyem bisa pergi sekarang.
"Beneran nih? Bibi tinggal ya?" Akhirnya bi Iyem pergi meninggalkan Zya sendirian didapur.
"Iya bi." Jawab Zya kemudian yang terus tersenyum.
Zya mulai berbicara dengan dirinya sendiri sambil melakukan apa yang ia bicarakan. 'Okey berarti sekarang kita ambil telur dulu dikulkas terus siapin wajan. Eh wajan apa teflon ya? Teflon aja deh. Oke udah, minyak teruss ...'
"Dek lo ngapain?" Jin tiba-tiba datang dan melihat adiknya sedang sibuk membuat sesuatu.
"Bikin telor." Ucap Zya polos dengan minyak yang sudah ia tuangkan di teflon.
"Ppfffhhh lo mau bikin telor pakek minyak segitu?" Jin melihat takaran minyak yang Zya tuangkan ke teflonnya.
"Iya, emang kenapa bang?" Tanya Zya bingung.
"Wkwkwwkkkwk." Jin melepas tawanya tanpa dosa.
"Apa sih bang? Malah ketawa." Zya makin bingung dengan abangnya yang tertawa lepas tanpa ada yang dirasa lucu.
"Jangan boros-boros minyak lu. Minyak sekarang mahal. Udah mahal langka pulak." Omelan Jin keluar.
"Bawel amat kayak emak-emak komplek." Zya mencoba kembali menuangkan minyaknya ketempatnya.
"Goreng telur gak perlu minyak sebanyak ini, kenapa gak sekalian aja sebotol lu tuangin." Jin mulai julid ke adeknya.
"Terus gimana nih?" Zya makin bingung dengan abangnya yang hanya berceloteh.
"Nih liat gue."Jin memberikan contoh seberapa takaran minyak yang harus Zya pakai untuk menggoreng telur. "Lo mau telur apaan?"
"Hmmm." Zya berpikir sejenak. "Telur gulung deh. Bisa?"
"Apa sih yang gak bisa kalau abang lo yang bikin." dengan PD nya Jin menjawab pertanyaan adiknya yang terlihat meremehkannya.
"Ish PD amat. Awas ntar gak enak ya." Zya tidak mau kalah lagi kali ini.
"Gak perlu ngancem gue gitu. Masakan gue emang enak. Emangnya elo nuang minyak aja sampe meluber gitu, ketahuan Momy diomelin lo." Celoteh Jin lagi.
"Ya mana gue tahu." Zya berusaha sabar menerima celotehan abangnya yang gak ada obat ini.
"Nih. Telor lo mana?" Jin sudah selesai dengan segala persiapannya serta taburan daun bawangnya yang akan ia tambahkan pada telurnya nanti.
"Zya mah gak punya telor, kan abang yang punya telor." Celetuk Zya tersenyum ingin melihat reaksi abangnya.
"Jangan ngadi-ngadi lo. Gue geplak pala lo." Jin mencoba mengerti perkataan Zya yang terdengar aneh ditelinganya.
"Iya-iya nih bang." Zya memberikan telur yang ada ditangannya. "Bang Zya ngapain nih?"
"Nih lo kocok tu telur." Zya mengambil telur yang sudah dipecahkan oleh Jin dan mulai mengocoknya pelan karena takut telurnya tumpah-tumpah.
"Gak usah pakek perasaan juga kalik ngocoknya. Lo mah lama-lama pengen gue geplak juga ya." Ucap Jin yang melihat kearah Zya mulai tidak tahan dengan kelakuannya.
"Iya iya nih udah." Zya tertawa kecil dan mempercepat gerakannya.
Jin mengambil telur yang sudah disiapkan oleh Zya dan mulai membuat telur gulung sesuai request Zya.
"Dek ditambah sosis enak nih kayaknya." Ucap Jin mencoba memberi saran kepada Zya.
"Oh iya ya. Bentar Zya ambil dulu." Zya mengambil sosis yang ada dikulkas dan mulai membuka bungkusnya satu persatu.
"Sosisnya mau lo goreng?" Tanya Jin kepada Zya yang terlihat sangat antusias.
"Iya. Adek aja yang goreng." Ucap Zya dengan memohon agar ia bisa menggorengnya sendiri.
"Oke. Nih gue siapin penggorengannya." Jin mulai mempersiapkan alat-alat penggorengannya untuk Zya.
Disini Jin memang sangat mahir dalam urusan masak-memasak. Dulu ketika kedua orang tuanya sedang tidak ada dirumah atau keluar kota, Jin akan belajar memasak makanannya sendiri. Sehingga sekarang Jin sudah paham dan bisa masak sendiri tanpa bantuan siapapun. Lain dengan Zya, ia selalu terima beres masakan apapun yang akan ia makan. Sejak kecil pun disini ia tak banyak membantu urusan didapur. Hanya sesekali membersihkan piring kotor saja. Jin lah yang selalu memasak untuknya saat orang tua mereka sedang bekerja sebelum ada bi Iyem.
Setelah selesai memasak telur gulung kesukaan Zya dan sosisnya. Jin dan Zya membersihkan sisa-sisa kotoran yang mereka buat. Setelah itu mereka pergi ke atas loteng untuk menyantap masakan yang mereka buat tadi sembari melihat bintang yang indah dimalam hari ini.
"Mm skill masak lo boleh juga bang. Enak bnget telurnya." Zya mulai menyantap telur gulung buatan abangnya.
"Iya lah, siapa dulu yang bikin." Ucap Jin dengan PDnya sehingga membuat Zya tersenyum.
"Abangnya Zya." Ucapnya manja. "Tiap hari aja bang, bikin telur gulung buat Zya."
"Enak aja lo. Telor mahal." Celoteh Jin lagi.
"Mahal aja semuanya, sampe makan batu nih kapan-kapan." Ucap Zya sambil tetap memakan makanan kesukaannya.
"Hehe ya nggak lah." Jin terkekeh dengan ucapan Zya.
"Bang lo punya pacar?" Tanya Zya tiba-tiba yang membuat Jin sedikit kaget.
"Nggak." Jawab Jin singkat.
"Kenapa?" Tanya Zya lagi.
"Gak pengen aja." Jin berusaha agar tidak memperpanjang pertanyaan itu.
"Kalau ada yang suka ke elo?" Zya tetap ingin membicarakan soal ini.
"Perasaan yang suka ke gue banyak deh." Jin memberikan jawaban yang mungkin tidak bisa diteruskan lagi oleh Zya.
"Hhff susah ngomong sama orang terganteng sedunia." Ucap Zya pasrah dengan kekalahanya.
"Kenapa emang?" Tanya Jin yang sedikit penasaran.
"Temen gue ada yang suka ke lo." Kata Zya enteng.
"Terus?" Tanya Jin asal.
"Ya gak terus-terus aja ntar nabrak." Ucap Zya yang membuat Jin gemas.
"Lo ya. Udah pinter sekarang." Kata Jin sambil mengusap kepala Zya sehingga mengacak sedikit rambutnya.
"Iya lah. Zya gitu." Kata Zya membanggakan dirinya sendiri.
"Setidaknya kepintaran gue nurun ya ke adek gue ya." Jin mulai lagi dengan ke PDan nya.
"Iya dehhh." Zya menyerah setelah ia tau, ia tidak akan bisa menang jika berbicara dengan abangnya.
"Dek lihat ada bintang jatuh. Ayo buat permohonan." Jin yang melihat fenomena itu langsung menyuruh cepat-cepat memberitau Zya.
"Abang percaya sama kayak gitu-gituan?" Zya melihat Jin yang sudah akan membuat permohonannya.
"Percaya dong, ayo cepat." Jin tetap menyuruh Zya membuat permohonannya.
"Adek gak percaya." Kata Zya.
Zya melihat abangnya yang terus melakukan permohonan. Kemudian Zya mengikutinya. 'P**ertemukan aku dengan keluarga kandungku' Zya selesai dengan permohonannya.
----*----
Zya berjalan lesu menyusuri koridor sekolah yang agak sepi. Ini masih dijam pelajaran, Zya meminta izin untuk ketoilet tadi. Zya tidak sengaja bertemu dengan guru yang akan mengajar di kelas XII , dan Zya dimintai tolong untuk menaruh buku-buku disana. Zya tidak tau harus berkata apa selain mengiyakan. Andaikan Zya bisa menolaknya, ia pasti akan melakukan itu. Karena Zya harus kesana seorang diri. Lebih sialnya lagi, kelas yang akan ia tuju adalah kelas abangnya Jin. Disana juga pasti ada kakak kelas yang waktu itu nglabrak Zya pas dikantin pagi hari.
Perasaan Zya sudah tidak enak, semakin mendekati kelas itu. Perutnya terasa sakit seperti ada yang menekannya. Dari dekat terdengar suara riuh siswa-siswi nya yang ramai didalam kelas. Zya berusaha bernafas dengan baik. Detak jantungnya semakin cepat. Mau tidak mau, ia harus masuk dan menaruh buku-buku itu.
"Lo ndok kok masih disini?" Tiba-tiba ada suara gurunya dari belakang yang sedikit mengagetkan Zya.
"Oh eh iya bu." Ucap Zya malu-malu sambil sedikit tersenyum.
"Ya udah yuk masuk, gak usah malu-malu." Zya bernafas lega setelah ibu guru ini datang dan mendampinginya untuk masuk.
"I iya bu." Zya masuk mengikuti ibu guru tadi yang masuk duluan. Suara riuh tadi sudah tenang sekarang.
"Bukunya taruh situ aja ya." Zya maju dua langkah dengan wajah yang menunduk. Setelah selesai menaruh buku, Zya pamit pada ibu guru tadi untuk pergi kekelasnya. Setelah Zya keluar dari kelas yang menurutnya menyeramkan tadi, barulah ia bisa bernafas lega sepenuhnya. Zya buru-buru kembali kekelas, takut ada guru lagi yang meminta pertolongannya atau sekedar bertanya dari mana Zya di jam pelajaran ini.
Bell istirahat berbunyi nyaring. Namun, tak semua kelas istirahat hari ini karena ada pembagian secara mendadak. Alhasil kantin sekolah pun tak ramai seperti biasanya. Lebih banyak ruang sekarang. Zya dan kedua sahabatnya sudah memilih tempat duduk dikantin. Violet memesankan makanan untuk mereka. Tak lama kemudian Violet pun datang bersama makanan-makanan pesanan kedua sahabatnya itu. Zya tidak sengaja melihat kakak kelasnya datang memasuki area kantin. Mereka tidak lain adalah Jin dan teman-temannya. Mereka duduk disudut paling belakang agak jauh sedikit dari tempat Zya duduk. Dan kebetulan Zya duduk di tempat yang bisa melihat kearah mereka dengan jelas.
"Zya itu bukannya kakak kelas yang waktu itu nolongin lo ya." Violet membuka pembicaraan setelah melihat kakak kelas itu duduk. Kebetulan Violet duduk disamping Zya, yang berarti ia juga bisa melihat mereka dengan jelas. "Waahh gak salah gue duduk disini."
"Iya. Udah yuk makan aja gak usah bahas itu." Kata Zya malas dengan topik yang Violet buat.
"Eh btw si Angel mana? Kok gue gak kelihatan." Violet mulai berceloteh lagi tanpa melihat sekitarnya.
"Lo ati-ati kalau ngomong, dia ada dibelakang lo lagi beli makanannya." Stella melirik kebelakang Violet.
"Upsstt sorry." Violet mulai memelankan nada bicaranya.
"Zya lo beneran gak mau pesen es?" Tanya Stella yang melihat Zya tidak mau mengganti pesanan jus alpukatnya.
"Nggak ah, gue minum air biasa aja." Jawab Zya cepat.
"Oke deh." Ucap Stella.
Zya mulai memikirkan ucapan Violet dikala itu. Violet bilang kalau senyum Zya dan Jimin kakak kelas itu hampir mirip. Zya memperhatikan ke meja sudut, mencari wajah kakak kelas yang waktu itu menabraknya. Tidak perlu waktu lama, ia menemukannya. Mata tajam yang Zya punya sangat berguna disaat-saat seperti ini. Namun ada satu yang membuat Zya kaget setengah mati. Wajah salah satu dari mereka ada bekas pukulan yang masih baru. 'Apakah dia?' Zya mulai menggeleng cepat.
"Lo kenapa Zya?" Tanya Stella tiba-tiba yang sedikit mengagetkan Zya.
"Ah eng enggak gak papa." Jawab Zya sedikit gugup.
"Gue perhatiin lo liat kesana terus, lo nyari siapa?" Tanya Stella lagi.
"Nggak gue gak nyari siapa-siapa." Jawab Zya berusaha tenang dan mengalihkan pandangan.
"Jangan nglamun lo Zya, entar kesambet loh." Celetuk Violet.
"Apaan sih." Jawab Zya lalu diiringi tawa ketiganya.
"Zya ntar pulang sekolah lo mau kemana? Tanya Violet sambil mengunyah pentol dimulutnya.
"Kayaknya gak kemana-kemana deh. Besok kan PR." Jawab Zya sembari mengingat-ingat apa yang akan ia lakukan nanti.
"Oh iya, gue lupa." Violet tampak kaget histeris. "Gak mau ngerjain bareng-bareng nih?"
"Kalau gue kayaknya gak bisa deh, gue palingan ngerjainnya malem-malem nanti. Soalnya mau kebutik bantuin mama dulu." Ucap Stella santai.
"Lo Zya?" Tanya Violet pada Zya yang tidak memberikan jawaban apapun.
"Gue juga gak bisa, gue ada acara." Ucap Zya sambil mencari-cari alasan.
"Yah ngerjain sendirian deh gue." Kata Violet pasrah.
"Come on Vi, lo pasti bisa ngerjain PR nya sendirian. Semangat!" Stella mencoba memberi semangat pada Violet. Violet memang terbiasa kerja kelompok, karena hanya dengan kerja kelompok ia bisa berfikir jernih dan lebih paham menurutnya dari pada mengerjakan sendiri.
Zya sudah selesai dengan makanannya. Rasanya ia ingin pergi keperpustakaan untuk meminjam buku hari ini. Dan kebetulan hari ini juga Zya harus mengembalikan buku yang ia pinjam seminggu yang lalu diperpustakaan.
"Guys gue duluan ya, mau ke perpus soalnya." Zya izin pamit kepada kedua sahabatnya itu sembari berdiri.
"Lo gak mau bareng kita aja Zya?" Tanya Stella yang masih menghabiskan semangkuk mie nya.
"Hmm nggak usah deh, bentar lagi kan bel masuk. Kalian santai-santai aja dulu makannya." Ucap Zya sembari tersenyum.
"Beneran nih? Tanya Violet.
"Iya, masak cuma keperpus aja gue takut sih?" Jawab Zya meyakinkan kedua sahabatnya ini.
"Hmm ya udah deh, sampai ketemu dikelas ya." Ucap Violet ramah.
"Oke." Zya mengambil buku disamping mejanya tadi.
"Eh Zya, hati-hati lo entar kepapasan sama si Angel lagi." Stella menahan tangan Zya dan berkata lirih seperti berbisik.
"Nggak bakal, lo liat dia masih makan." Zya melirik ke meja yang lainnya. "Ya udah deh duluan ya. Daah."
"Daah." Jawab kedua sahabatnya dengan tenang.
Kegemaran Zya adalah membaca buku. Bisa disebut dia adalah kutu buku. Karena hal inilah Zya lebih terlihat pendiam di kelasnya, karena jika ada waktu kosong Zya pasti menyempatkan diri untuk membaca buku bukan bermain, berteriak-teriak ataupun saling menggoda satu sama lain seperti yang lainnya. Zya lebih suka suasana yang tenang, damai, tidak ada keributan disekitarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments