Part 10

Zya turun dengan tergesa-gesa mencari seseorang dibawah. Abangnya masih terlihat dimeja makan, masih memakan sarapannya yang belu habis.

"Bang lo liat buku gue gak?" Tanya Zya langsung.

"Buku apaan?" Jin merasa bingung dengan pertanyaan Zya.

"Buku ---" Zya bingung ingin mengatakan apa. Tidak mungkin Zya bilang kalau buku itu adalah buku diary ibunya. Zya memilih pergi meninggalkan Jin yang sedang bingung melihat kelakuan Zya.

Zya mencari Momy nya kebelakang rumah. Dibelakang rumah ada garden yang penuh dengan tanaman-tanaman hias milik Momy nya. Pagi-pagi begini biasanya Momy menyiram tanaman disini, atau menanam tanaman baru jika ada.

Zya menemukan Momy nya digarden itu. Ia langsung menghampirinya dengan raut wajah yang sudah hampir menangis.

"Mom." Panggilan Zya mengagetkan Momy nya dan langsung menoleh kepada Zya.

"Kenapa sayang? Kok wajah kamu pucat gitu?" Momy kaget melihat raut wajah Zya yang tidak seperti biasanya.

"Mom buku Zya hilang." Zya berkata pelan.

"Buku? Buku apa?" Zya diam tidak tau ingin menjawab apa. Karena disana masih ada bi Iyem, Zya tidak leluasa bicara dengan Momynya.

Momy yang mengerti keadaan pun lalu menyuruh bi Iyem untuk pergi dulu. Setelah bi Iyem pergi, Momy mengajak Zya untuk duduk dikursi taman itu.

"Ada apa nak?" Momy bertanya dengan nada lembut.

"Mom, buku diary ibu hilang." Zya berbicara sambil menundukkan kepalanya. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga buku pemberian Momy nya.

"Kamu sudah cari dikamar kamu?" Momy masih berusaha memberikan pikiran positif.

"Sudah mom." Jawab Zya lemas.

"Coba kamu ingat-ingat, mungkin kamu lupa naruhnya." Zya diam mencoba mengingat kembali. "Semalam kamu pergi ke cafe? Kamu gak bawa buku itu?"

"Aku gak yakin sih Mom. Tapi aku udah coba cari di mobil abang juga gak ada." Zya sudah kehabisan cara untuk mencarinya dimana lagi.

"Ya udah sekarang kamu tenang dulu. Kamu berangkat kesekolah. Nanti biar Momy bantu cari ya." Ucap momy dengan tenang agar Zya juga ikut tenang.

"Kalau gak ketemu gimana mom?" Zya masih dengan nada sedihnya.

"Pasti ketemu kok, tenang aja." Ucap momy menenangkan Zya.

"Beneran ya mom?" Zya masih tidak tenang dengan keadaannya.

"Iya, ya udah kamu berangkat dulu geh. Takut telat ntar." Zya mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. "Sarapannya udah dihabisin kan?"

"Udah." Jawab Zya. "Zya berangkat ya mom." Pamit Zya lagi.

"Iya sayang, hati-hati dijalan ya." Zya terlihat sudah jauh dimata Momy nya.

----*----

Zya sampai disekolah. Berjalan dengan tatapan kosong. Zya masih berusaha mengingat-ngingat dimana ia taruh buku itu. Buku itu penting bagi Zya, hanya dengan petunjuk buku itu ia bisa mencari keluarga, mungkin. Pikiran Zya kacau hingga tidak memerhatikan sekitar. Sesekali Zya menunduk dan tidak sengaja menabrak seseorang. Tanpa ia tahu kalau orang itu adalah kakak kelasnya, Angel. Angel meneriakinya tapi Zya tidak menghiraukannya dan terus berjalan. Angel geram dan mencoba menarik tangannya.

"Heh lo denger gue gak?" Zya berbalik dan melepaskan tangannya kasar.

"Lo punya mata gak? Kayaknya lo sengaja ya suka nabrak-nabrak gitu. Apa jangan-jangan semua cowok disekolah ini udah pernah lo tabrak semua? Apa gunanya mata lo!!?" Angel meneriaki Zya dengan bermaksud mempermalukannya.

"Sudah ngomongnya?" Tanya Zya dengan raut wajahnya yang datar. Mulai banyak yang memperhatikan mereka, namun tidak ada yang melerainya.

"Lo itu perempuan murahan! ----" Belum sempat Angel meneruskan ucapannya, tamparan dipipinya mendarat dari tangan Zya. Semuanya kaget, Zya bisa melakukan hal seperti itu. Selama ini Zya selalu sabar menerima kata-kata yang tidak ia sukai dari orang lain, namun sekarang Zya terlihat berbeda.

"Lo mau tau perempuan murahan seperti apa? Seperti lo yang berduaan di perpustakaan sama lawan jenis, seperti lo yang diem di gang sempit pakek pakaian sexy dan menunggu orang yang gak jelas, seperti lo yang suka merayu laki-laki secara terang-terangan. Lo punya bukti apa kalau gue perempuan murahan hah?!" Zya memajukan dirinya hingga dekat dengan Angel. Angel perlahan mundur.

"Apa? Lo mau bilang gue nabrak Jimin berarti gue perempuan murahan gitu? Hee aneh lo." Zya berdecak dan melipat tangannya didekat dadanya.

Angel tidak percaya bahwa ini adalah Zya. Angel terus berpikir bagaimana caranya membalas Zya. Namun, Angel sudah terpojok sekarang. Sudah banyak yang tau keburukan Angel. Sementara Angel tidak tau apa-apa tentang Zya, melainkan Zya yang menabrak Jimin dan menabraknya. Zya memang jarang berulah disekolah ini, bahkan hampir tak terlihat disekolah ini. Tapi Angel adalah kakak kelas yang selalu menjadi bahan perbincangan. Dari Angel yang memiliki pesona yang cantik, body yang bagus, disukai oleh kebanyakan siswa, bahkan dulu Angel pernah merebut pacar adik kelasnya, dan sering melabrak orang yang mengganggunya.

Kali ini Angel dikalahkan oleh Zya, yang tidak punya kepopuleran di sekolah ini. Stella juga ada disana, menyaksikan aksi Zya yang berhasil membungkam Angel. Stella pun tidak percaya bahwa Zya yang ia kenal adalah Zya yang sedang berhadapan dengan Angel saat ini.

Tiba-tiba suara tepuk tangan berbunyi dari arah belakang Angel. Zya melihat itu adalah Jin, abangnya. Zya memutarkan bola matanya malas. Hanya Jin lan yang belum bisa Zya kalahkan.

"Lo ngapain bang?" Tanya Jhope yang ada disamping Jin.

"Tepuk tangan." Jawab Jin dengan polosnya.

"Keadaan lagi tegang gini lo tepuk tangan?" V menambah pertanyaan lagi

"Yaa biar makin seru aja." Kata Jin terlihat polos. Kedua teman Jin menggelengkan kepalanya pelan. Zya pun ingin sekali tertawa melihat abangnya yang sepolos itu.

Zya pergi dari sana tanpa sepatah kata dan tidak ada yang menghentikannya lagi. Zya mencoba untuk menetralkan kembali mood nya. Stella mengikutinya dan mensejajarkan posisinya dengan Zya.

"Zya lo hebat banget." Kata Stella sembari tersenyum senang dan memberikan kedua jempolnya pada Zya.

"Apa sih." Kata Zya malu sembari tertawa kecil.

Jin ingin mengejar adiknya tapi ini bukan waktu yang tepat. Untung Jin ingat situasi seperti ini, Jin juga kembali kekelasnya bersama kedua temannya tadi.

"Jin, lo kenal sama cewek tadi?" Pertanyaan V sukses membuat Jin kaget sekaligus bingung.

"Ng nggak kenapa emang?" Jawab Jin sedikit gugup.

"Gak papa." Kata V menunduk sembari tersenyum. "Tadi gue lihat dia senyum ke lo."

"Ah masa?" Jawab Jin pura-pura tidak tau.

"Lo beneran gak kenal?" Tanya V lagi masib mendesak Jin.

"Iya, kapan gue boongnya. Kalau gak sama lu." Kata Jin asal sembari tertawa kecil.

"Berarti lo boong dong." V menyadari perkataan Jin yang nyeleneh.

"Haha nggak nggak." Jin berusaha agar V percaya padanya.

Setelah kejadian tadi nama Zya jadi lebih banyak dikenal, walaupun masih tidak sepopuler Angel. Zya tidak mau melanjutkan pertikaian tadi karena ia tidak mau ada lebih banyak lagi yang melihatnya. Zya sadar kalau tadi ia lepas kendali atas dirinya. Orang disekitarnya pasti mengira bahwa ini bukan dirinya. Zya tidak mau menjadi terkenal di sekolah ini, oleh sebab itu ia tidak pernah berbuat konyol. Satu rahasia yang akan terbongkar saja, bisa membuat Zya menjadi terkenal disekolah ini bahkan bisa saja menjadi perbincangan hangat disetiap kelasnya.

----*----

Sepulang sekolah, Zya sudah ada diparkiran motornya bersiap untuk pulang. Hari ini Zya akan langsung pulang dan beristirahat. Mood nya sedang tidak stabil sekarang. Zya tidak mau diganggu hari ini, sedikit gangguan saja bisa membuat Zya marah.

Nada dering hp Zya berbunyi. Ia membuka pesan dari sahabatnya Violet. Hari ini Violet tidak masuk kelas karena ada acara keluarga. Violet meminta Zya untuk datang ke cafe semalam. Tanpa pikir panjang Zya langsung menuju kesana.

Sesampainya disana, Zya melihat mobil Violet yang sudah terparkir disana. Zya langsung masuk dan segera menemukan Violet yang duduk menghadap pintu masuk. Zya menghampirinya dan duduk dihadapan Violet.

"Ada apa Vi?" Ucap Zya tanpa basa-basi. Violet membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.

"Ini buku lo bukan?" Violet menyodorkan bukunya ke Zya sambil tersenyum.

"Iya Vi, makasih banget Vi. Gue nyari ini tadi pagi. Lo nemu dimana?" Zya mengambil buku itu dengan perasaan girang dan menanyakan soal dimana Violet menemukannya.

"Buku ini tertinggal di cafe ini, semalem. Semalem gue balik lagi karena lupa mau bungkusin buat adek gue." Kata Violet menjelaskan.

"Makasih banget ya Vi." pandangan Zya tidak berpaling dari buku itu.

"Buku itu penting banget ya buat lo?" Pertanyaan Violet membuat Zya sedikit bingung.

"Maksud lo?" Tanya Zya.

"Ah nggak gak apa apa. Gimana disekolah? Gak ada gue, kangen gak?" Violet mencoba mengalihkan pembicaraannya.

"Aaa kangen banget." Mereka berpelukan walaupun terhalang meja ditengahnya. "Lo kok gak ngabarin gue, kalau mau ambil cuti sekolah?"

"Iya soalnya dadakan banget. Kakek gue meninggal Zya." Ucap Violet

"Ya ampun. Gue turut berduka ya." Zya berkata kalem.

"Lo mau kemana habis ini?" Tanya Violet.

"Mau langsung pulang aja." Jawab Zya yang sudah memasukkan bukunya kedalam tasnya dan bersiap untuk pergi.

"Mm ya udah deh. Yuk." Violet pun berdiri dan menggandeng tangan Zya.

Mereka berpisah di parkiran cafe itu. Karena rumah Zya dan Violet memang tidak searah.

Zya sampai dirumahnya dengan wajah yang kembali ceria. Zya segera membersihkan diri dan membereskan pakaiannya juga peralatan sekolahnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, Zya berbaring dan menutup matanya hingga ia tertidur.

----*----

Hari yang cerah telah berganti malam. Awan-awan jingga mengantarkan sang surya ke tempat istirahatnya. Hingga muncul sang bulan purnama yang menerangi setiap jalannya. Bintang pertama muncul dengan cahayanya yang paling terang dari bintang lainnya.

Zya sedang memainkan ponselnya dikamarnya. Ia sedang melihat beberapa video menarik di sosial medianya. Ini hanya untuk mengisi kekosongan waktunya saja. Semua tugas sekolah telah ia siapkan untuk esok. Saatnya menunggu waktu makan malam. Zya memasang telinganya tajam-tajam takut ada seseorang yang sedang memanggilnya, namun Zya tidak mendengarnya. Mengingat abangnya pernah mengomelinya habis-habisan, sampai Momy pun tidak dapat berkata-kata.

Tiba waktunya makan malam, bi Iyem memanggil Zya dan langsung dibalas oleh Zya yang segera turun. Kali ini raut wajahnya tidak seburuk tadi pagi. Zya turun dengan mengenakan dress favoritnya yang berwarna ungu, ada gambar micky mouse didepannya.

"Wah anak momy cantik banget." Ucap momy merayunya.

"Momy juga cantik." Kata Zya membalasnya.

"Wah Dady cakep banget malam ini." Jin menirukan gaya momynya bicara dengan cara ingin meledeknya. Momy dan Zya yang melihat hal itu langsung tertawa kecil.

"Anak Dady juga cakep." Jawab Dadynya kepada Jin. Dady tau maksud Jin yang ingin meledek. Semuanya tertawa dan bersenang-senang.

"Sayang, bukunya sudah ketemu?" Tanya Momy yang melihat Zya tidak semurung tadi pagi.

"Sudah mom." Jawab Zya.

"Bagus deh." Kata Momy lega.

"Buku apaan sih dek." Tanya Jin yang penasaran akibat tadi pagi Zya tidak menjawab pertanyaannya.

"Privasi." Jawab Zya singkat.

"Iya deh." Zya kaget dengan jawaban Jin yang biasanya akan memancing percakapan panjang bagai kereta api kini menjadi singkat. "Apa liat-liat?"

"Nggak." Zya memalingkan wajahnya yang sedari tadi melihat kearah Jin karena jawabannya yang sesingkat tadi.

"Gue tau kalau abang lo ini cakepnya gak ketulungan, jadi gak usah liat gue sampe begitu." Kata Jin yang masih fokus kepiringnya.

"Hhff mulai lagi deh." Baru saja Zya terkejut dengan singkatnya pembicaraan tadi, sekarang sepertinya kereta apinya akan berangkat.

Selesai makan malam, mereka berkumpul diruang keluarga untuk menonton tv bersama. Momy dan Dady duduk diatas kursi, sementara Jin dan Zya duduk dibawah sembari selonjoran. Terkadang, Jin akan tiduran ketika ia merasa capek duduk. Jin masih ingat, bahwa ia akan membicarakan soal tadi pagi disekolahnya. Tapi Jin menunggu waktu yang tepat. Ditengah-tengah mereka mengobrol. Dady tiba-tiba mengingat sesuatu.

"Oh iya. Dady lupa, dady harus keruang kerja sekarang. Ada yang harus dady kerjaan sedikit." Semuanya menoleh pada Dady.

"Gak mau dikerjakan besok aja?" Tanya Momy dengan tatapan tidak mau ditinggal.

"Nggak, cuma sedikit kok. Nanggung kalau gak selesai sekarang." Kata Dady lembut.

"Mm ya udah deh, jangan malam-malam ya tidurnya." Ucap Momy yang mengontrol kesehatan Dady agar tidak down.

"Iya." Dady mengecup kening Momy dengan mesra.

"Dady yang semangat ya kerjanya, biar bisa bawa Momy ke cappadocia." Zya terlihat bersemangat dan dibalas senyuman lebar oleh Dady.

"Siap." Kata Dady.

Mereka melanjutkan menonton tv sambil bercengkrama. Momy sudah beberapa kali menguap menandakan ia sudah mengantuk. Momy melihat Dady sudah selesai dan memberi kode pada Momy kalau akan langsung kekamar.

"Anak-anak, Momy kekamar dulu ya. Momy udah ngantuk nih." Kata momy sambil menutup mulutnya yang menguap dengan tangannya.

"Oh iya mom. Duluan aja. Jin sama Zya nanti nyusul." Jin menjawabnya.

"Ya udah kalian jangan malam-malam juga ya tidurnya." Ucap momy mengingatkan.

"Oke mom." Jawab Zya.

Momy beranjak dari tempat duduknya menuju kamarnya. Setelah dirasa sudah aman, Jin membuka pembicaraan.

"Dek ikut gue yuk." Zya menatap Jin dengan bingung.

"Kemana bang?" Zya berfikir Jin akan mengerjainya.

"Keloteng." Jawab Jin singkat.

"Ngapain?" Tanya Zya yang semakin bingung.

"Ada yang mau gue omongin. Kalau disini, takut momy dan dady denger." Kata Jin memberi isyarat.

"Ngomongin apaan sih?" Zya mulai berpikir.

"Masalah tadi disekolah." Jin memberikan kode pada Zya dan langsung di pahami oleh Zya.

"Oo. Ya udah ayok." Zya mematikan tv nya dan berjalan ke loteng. Jin mematikan lampu sekitar, karena setelah ini ia pun akan tidur.

Setelah sampai Jin dan Zya menghidupkan lampu disana dan duduk menghadap ke atas. Pemandangan bintang dan bulan jelas terlihat disini. Disinilah tempat keduanya untuk membicarakan hal-hal khusus yang tidak akan didengar oleh siapapun.

"Kenapa bang?" Tanya Zya penasaran.

"Sebenarnya lo sama Angel ada apa sih kok gue gak tau kalau lo sama dia musuhan gitu." Tanya Jin berterus terang, yang mengganggu pikirannya sejak tadi.

"Gue gak musuhan bang, dianya aja yang selalu mancing-mancing gue." Jawab Zya apa adanya.

"Terus lo tau dari mana keburukan-keburukan Angel itu." Tanya Jin lagi.

"Gue pernah lihat soalnya." Jawab Zya santai.

"Lo lihat sendiri dek?" Tanya Jin lagi.

"Iya."

"Kenapa gak pernah cerita ke gue?" Jin penasaran seberapa banyak tentang Angel yang Zya tau.

"Emang kenapa? Jangan sampe ya lo deket-deket sama dia. Adek gak sudi." Zya langsung memperingati abangnya. Karena Zya tau, banyak siswa yang suka dengan body yang dimiliki Angel.

"Yee siapa juga yang mau sama cewek macam dia." Jin meyakini adiknya.

"Yakin??" Tanya Zya tidak yakin dengan perkataan abangnya.

"Ya body nya sih emang bagus." Jin mulai menggoda adiknya.

"Tuh kan, mata itu dijaga bang. Dosa kan lu." Zya sudah menduga bahwa abangnya pun pasti tertarik dengan Angel. Jin tertawa melihat gelagat adiknya.

"Tadi pagi lo bagus akting nya." Ucap Jin mengingat kejadian tadi.

"Gue kelepasan tadi." Kata Zya.

"Gak papa, bagus dong." Jin memberikan dukungan pada Zya.

Zya tersenyum dan kembali melihat bintang. Membayangkan wajah ibunya yang sudah lama tidak ia lihat.

"Tapi dek, lo hati-hati ya." Ucapan Jin membuat Zya sedikit kaget.

"Kenapa?" Zya bertanya penasaran.

"Angel suka nyewa preman buat nghajar orang yang ganggu dia." Kata Jin serius.

"Lo tau dari mana bang?" Tanya Zya lagi.

"Temen gue pernah gak sengaja nguping percakapan Angel sama orang." Kata Jin.

Zya terdiam dan berfikir. Berarti dia harus berhati-hati mulai sekarang. Angel adalah musuh tak terlihat bagi Zya. Sebenarnya Zya juga tidak tau tentang Angel. Zya hanya kebetulan saja mengetahui beberapa keburukannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!