Rintik-rintik hujan membasahi kota ini. Udara yang tadinya panas menyengat berganti dengan udara sejuk dan dingin. Jalanan tampak sepi seiring dengan waktu datangnya malam. Pelan tapi pasti hujan sudah reda menyisakan genangan-genangan dipinggir jalan. Tidak banyak kendaraan yang lalu lalang tapi semangat para pejuang receh tetap harus bekerja dimalam yang dingin ini.
Zya berfikir akan naik motor atau mobil setelah ini. Karena Zya ada janji dengan kedua sahabatnya itu untuk mengunjungi cafe malam ini. Sekarang Zya sudah tau bahwa Violet tadi pagi mendatangi sekolahnya. Sahabatnya itu benar-benar tidak tau tentang penanggalan merah ini. Kalau diingat-ingat Zya akan tertawa kecil, merasa geli dengan sahabatnya itu. Oleh karena itu Violet merajuk dan meminta Zya dan juga Stella untuk janjian di cafe malam ini. Hujan sudah reda sejak tadi menyisakan hawa dinginnya. Zya bersiap-siap dan turun ke bawah.
"Nak kamu mau kemana?" Momy nya yang melihatnya dengan pakaian rapi serta tas dipinggangnya, langsung menanyakan to the point.
"Ke cafe mom, ketemu sama temen-temen." Ucap Zya sembari berjalan ke arah Momy.
"Kamu mau naik apa?" Zya diam, masih bingung. "Naik mobil aja ya." Ucapnya lagi.
"Ya udah mom, mobil siapa?" Tanya Zya yang masih dalam kebingungan.
"Mobil abangmu dong, tuh mobilnya belum dicuci." Kata momy sembari tertawa kecil.
"Iya-iya. Tuh kuncinya diatas meja." Jin memberitahu tempat kuncinya dan Zya pun langsung mengambilnya.
"Kamu gak makan malam bareng kita?" Tanya momy lagi memastikan.
"Nggak mom, Zya sekalian makan malam disana aja." Jawab Zya pasti.
"Oh ya udah, hati-hati ya." Zya mengangguk.
"Iya mom." Zya segera keluar rumahnya.
"Diluar dingin, jangan lupa bawa jaket." Momy nya sedikit berteriak dari dalam rumah.
"Siap mom." Meskipun Zya sudah diluar pintu rumah, tapi ia bisa mendengar teriakan Momy nya dan cepat membalasnya.
Zya tersenyum dengan geli melihat mobil abangnya yang sedikit berdebu. Zya menyetir dengan hati-hati. Sudah lama ia tidak menyetir mobil sendirian, biasanya ada Jin yang menemaninya. Disisi lain juga banyak kubangan air dijalanan, jika Zya menyetir dengan kecepatan tinggi maka itu akan membahayakan orang lain. Zya sampai di cafe itu, mengambil ponsel dan mengabari sahabatnya. Untuk memastikan bahwa sahabatnya itu sudah sampai disana atau belum.
Setelah mendapat jawaban bahwa sahabatnya sudah ada didalam, Zya masuk kecafe itu. Stella melambaikan tangannya setelah melihat Zya diikuti oleh Violet. Zya tersenyum menghampirinya.
"Kalian udah lama?" Tanya Zya sembari duduk disamping Violet.
"Hmm lumayan. Lo pesen minum sama makan dulu deh." Violet menyodorkan menu makanan kepada Zya. Zya pun melihat-lihat lalu memberikannya kepada pelayan yang ada disitu.
"Lo naik apaan kesini? Kok tumben sampe setengah jam." Tanya Stella pada Zya.
"Hee iya, gue naik mobil soalnya." Zya tersenyum lalu memamerkan kunci mobil yang ada ditangannya.
"Hah, serius?" Tanya Violet tidak percaya.
"Iya, kenapa?" Tanya Zya balik.
"Gue belum pernah liat lo naik mobil Zya. Lo itu selalu naik motor." Ucap Violet menjelaskan.
"Ya habis mau gimana lagi, cuaca habis hujan. Takutnya gue gak diizinin sama orang tua gue, makanya gue nurut ajalah." Kata Zya.
"Hmm iya juga sih." Stella mengangguk paham.
"Eh Vi, lo beneran masuk sekolah tadi?" Tanya Zya yang masih mengingat-ngingat kejadian yang dialami sahabatnya ini.
"Huaa kalian ini jahat banget sih, gue bener-bener kayak orang linglung tau gak. Pantesan aja adek gue pagi-pagi tadi masih molor dan emak gue gak ada ngomong apa-apa." Violet menjelaskan apa yang dia rasakan dan diiringi oleh canda tawa ketiganya.
"Lagian lo kenapa gak buka pesan grup." Kata Stella mengingatkan.
"Hp gue mati La. Tadi pagi gue bangun itu dalam keadaan hp gue udah mati dan gue udah gak sempet buat ngcas." Ucap Violet menjelaskan lagi masih dengan tawaan sahabatnya.
"Trus lo balik pulang kerumah lo gitu?" Tanya Zya memastikan, yang wajahnya sudah memerah akibat tawanya yang semakin geli.
"Ya iyalah. Pokoknya gue malu banget." Violet menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Permisi, makanannya sudah siap." Ucap pelayan yang bertubuh tegap, kulitnya yang putih menambah citra manis diwajahnya.
"Loh." Stella mengingat-ingat pelayan ini. Pelayan ini tersenyum dan menata makanannya dimeja pelanggan. "Lo yang nabrak Zya waktu itu kan?" Lanjut Stella setelah mengingatnya.
"Iya sorry ya, gue kan udah minta maaf." Ucap pelayan itu ramah.
"Lo kerja disini?" Tanya Violet yang penasaran.
"Iya." Ucapnya singkat.
"Kenapa?" Zya tiba-tiba mengeluarkan suaranya pelan, namun berhasil didengar oleh laki-laki itu.
"Gak papa. Kalau gitu silahkan dinikmati hidangannya." Jimin tersenyum ramah lalu pergi meninggalkan meja yang ditempati Zya dan sahabat-sahabatnya.
"Zya, mirip kan?" Violet memegang pergelangan tangan Zya membuat Zya sedikit kaget saat ia masih melihat Jimin.
"I iya sih." Zya menjawabnya gugup.
"Ya udah lah biarin aja, mungkin kebetulan kali." Ucap Stella mencairkan suasana.
"Iya, mungkin." Zya berkata pelan.
Jauh didalam hatinya, Zya mulai ragu antara yakin dan tidak bahwa mungkin Jimin adalah kakak kandungnya. Tapi Zya masih harus menemukan bukti lainnya. Zya masih merasa apa yang dikatakan Stella benar, mungkin ini hanya suatu kebetulan saja. Toh yang Zya tau, ada tujuh manusia yang punya kemiripan didunia ini.
Zya tidak mau berpikir terlalu panjang saat ini. Karena ia sedang bersama sahabat-sahabtnya. Seharusnya malam ini ia habiskan dengan bersenang-senang bukan memikirkan hal lain. Zya kembali menyantap makanannya sembari bercerita, bercanda ria dengan sahabatnya itu.
Tiba-tiba Zya merasakan getaran didalam tasnya. Zya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfonnya. Ternyata itu telfon dari abangnya. Zya pamit keluar untuk mengangkat telfonnya.
"Halo."
"Iya bang, ada apa?"
"Lo dimana?"
"Dicafe cemara. Kenapa emang?"
"Ada temen gue ya disana." Zya melihat ke sekelilingnya.
"Hmm kayaknya gak ada deh."
"Yang bener lo."
"Eh iya tadi, gue lihat dia kerja disini." Zya ingat pelayan tadi.
"Pantesan, tadi temen gue nanyak kenapa mobil gue bisa ada disitu."
"Yah, trus lo jawab apa bang?" Tanya Zya sedikit panik.
"Ya gue bilang aja, salah liat kali."
"Gimana dong."
"Lo masih lama?"
"Ah nggak, bentar lagi juga pulang."
"Jangan malem-malem pulangnya."
"Iya. Terus gimana nih kalau temen lu tadi liat gue masuk ke mobil lo."
"Udah tenang aja. Dia udah pulang kok."
"Kok udah pulang? Kan cafe nya belum nutup."
"Udah lo gak usah banyak tanyak. Yang penting lo jangan pulang malem-malem."
"Iya-iya." Jin menutup telfonnya.
Setelah selesai, Zya kembali kemeja nya lagi.
"Siapa Zya?" Tanya Stella setelah Zya duduk dikursinya.
"Orang tua lo?" Timpal Violet.
"Bukan." Kata Zya singkat sembari membenarkan duduknya.
"Terus?" Tanya Violet dan Stella serentak.
"Abang gue." Ucap Zya malas.
"Aaa enaknya punya abang. Pasti dijagain terus ya." Kata Stella sembari membayangkan keinginannya.
"Lebay lo." Ucap Violet menyadarkan Stella.
"Dia bilang apa Zya? Pasti enak deh kalau punya kakak laki-laki." Stella tidak mengubris ucapan lebay yang diberikan Violet untuknya.
"Cuma jangan pulang malem-malem doang." Kata Zya sembari tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini.
"Tuh kan." Stella merasa senang ada yang sepeduli ini dengan sahabatnya itu
"Biasa aja kalik La." Ucap Violet kembali.
"Malah gue tuh heran ya. Abang gue disekolahnya jadi idol, di bilang paling cakep lah. Padahal kalau dirumah bobroknya minta ampun." Zya ingat langsung menutup mulutnya pelan. Zya keceplosan menceritakan abangnya yang merupakan kakak kelas mereka bertiga.
"Abang lo sekolah?" Tanya Violet heran.
"Sekolah dimana Zya?" Stella makin penasaran.
"Iya, dimana? Eh tunggu-tunggu, lo bilang banyak yang bilang dia cakep? Secakep apa sih? Kayak kakak kelas disekolah kita gak?" Violet menyadari ada kata-kata yang menarik menurutnya. Namun Zya terdiam seribu bahasa.
"Zya jawab zya." Stella memaksa Zya untuk menjawabnya.
"Oh eh jam segini nih mending kita pulang yuk. Gak bagus kan kalau kita pulang kemaleman." Zya berusaha mengalihkan pembicaraan yang mulai menyudutkannya.
"Jawab dulu Zya." Kata Violet sembari menggoyang-goyangkan lengan Zya.
Iya Zya, jawab dulu. Habis itu kita ---" Nada dering hp Stella berbunyi. Stella langsung mengangkat telfonnya. Ternyata itu telfon dari mamanya yang sudah menyuruhnya untuk pulang. "Ya udah yuk guys kita pulang aja, udah malem juga."
"Yee yang bilang siang juga siapa." Ucap Violet bercanda.
"Ya udah yuk." Ketiganya mulai beranjak menuju mobil masing-masing masih dengan canda tawanya.
Malam yang dingin menjadi teman para pedagang-pedagang kecil yang berjualan dipinggir jalan. Tidak ada rasa keputus asaan meskipun bisa saja hujan kembali datang. Awan-awan yang terlihat mendung dan suara gemuruh pelan masih terdengar disekitar kota. Zya menyetir dengan kecepatan standart sambil melihat-lihat apa yang bisa ia bawa pulang malam ini. Ada satu pemandangan yang tak lepas dari matanya. Zya melihat dua anak kecil sedang berjalan, bercanda riang. Kemungkinan mereka adik kakak. Zya merindukan kakak laki-laki nya walaupun ia tak pernah melihatnya lagi, tapi Zya yakin pasti mereka dulu sama seperti dua anak yang sedang berjalan itu. Zya mengusap air matanya yang jatuh tanpa ia sadari. Zya kembali fokus menyetir mobilnya.
----*----
Jimin menerima telfon bahwa di cafe milik ayahnya ada salah satu karyawannya yang tiba-tiba sakit. Jimin segera pergi ke cafe itu. Ayahnya sedang istirahat, ia tidak mau mengganggunya. Untungnya Jimin pergi ke ruang kerja ayahnya dan mendapati telfon itu.
Malam sangat dingin baginya. Kalau saja bukan karena hal ini, Jimin tidak akan mau keluar rumah. Cafe sedang rame, dan mungkin ia akan dibutuhkan disana untuk sekedar membantu menggantikan karyawan tadi. Jimin bersiap-siap dengan bajunya sweaternya, tidak lupa juga ia membawa jaket. Jimin pamit kepada ayahnya meskipun ayahnya sedang tidur. Setidaknya hanya Jimin lah teman hidup ayahnya. Ibu dan adik Jimin entah pergi kemana. Sejak kejadian 14tahun yang lalu, keluarga mereka terpisah.
Jimin sampai dicafenya dan disambut oleh karyawan-karyawan yang ada disana. Ada satu karyawan yang mengenal Jimin dengan baik, namanya Alan.
"Tumben lo kesini? Sendirian?" Tanya Alan yang keluar menemui Jimin.
"Iya, gue dapet kabar kalau ada karyawan yang sakit ya?" Tanya balik Jimin memastikan.
"Oh iya, dia udah diurus kok." Jawab Alan sembari tersenyum.
"Bagus deh." Jimin menganggung paham. " Eh ada yang bisa gue bantu gak? Gantiin karyawan itu kek?" Jimin mencoba menawarkan dirinya. Karena memang untuk itulah ia datang kemari.
"Serius lo?" Tanya alan sedikit kaget.
"Iya. Cepetan sebelum gue berubah pikiran nih." Kata Jimin.
"Ada ada. Tapi ----" Alan ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Apaan?" Tanya Jimin penasaran.
"Pelayan. Lo mau?" Alan berbicara pelan.
"Boleh deh. Gue kan gak bisa masak, gak mungkin dong gue jadi koki mendadak." Tawa keduanya pecah ketika Jimin membayangkan masakan yang akan ia buat. Jimin tidak terlalu paham dengan masakan-masakan, tapi ia tau enak tidaknya masakan itu. Hanya Alan yang berani meminta Jimin untuk melakukan sesuatu disini. Jimin dan Alan bertemu ketika Alan mencari pekerjaan dulu. Jimin melihatnya seperti ada rasa keputus asaan diwajahnya dan Jimin tidak menyukai expresi wajah itu. Akhirnya Jimin mengajak Alan untuk bekerja di Cafe nya. Cafenya cukup besar dan merupakan tempat favorit kebanyakan orang untuk nongkrong disini. Makanya tidak heran kalau cafe ini selalu terlihat ramai. Jimin dan teman-temannya pun terkadang nongkrong disini dan mereka bisa makan sepuasnya.
Jimin mulai fokus dengan pekerjaannya. Banyak karyawan wanita disini yang kagum padanya. Karena Jimin adalah anak dari pemilik cafe ini dan Jimin tidak malu untuk menjadi pelayan disini. Jimin sudah tidak aneh dengan tatapan-tatapan karyawan wanitanya itu bahkan ada yang sempat ingin dekat dengan Jimin, namun Jimin mampu mengatasinya.
Jimin jalan dengan tegap ke meja yang akan ia antarkan pesanannya seperti pelayan lainnya. Jimin melihat seorang perempuan yang ia kenal betul. Awalnya Jimin sedikit ragu, takut ia salah melihatnya. Ternyata benar, Jimin mengambil pesanan di meja perempuan itu dan mengantarkannya. Jimin bersikap ramah layaknya seorang pelayan. Tidak tau kenapa, Jimin merasa senang ketika melihat perempuan itu. Ia rasa ada kedekataan dirinya dengan perempuan itu. Tapi perasaan ini bukan perasaan suka, Jimin sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Tak lama kemudian, cafe sudah berjalan dengan lancar. Yang tadinya sempat kewalahan karena banyaknya pesanan dan satu karyawan yang tiba-tiba sakit ditambah lagi satu orang koki tidak masuk karena suatu halangan, sekarang sudah normal kembali. Jimin melihatnya sudah beres. Ini waktunya ia kembali kerumah. Jimin pamit kepada Alan dan mengganti bajunya dengan baju yang tadi ia pakai dari rumahnya. Karena selama menjadi pelayan, Jimin harus memakai baju pelayan ala cafe ini.
Jimin keluar dari cafe, sebelumnya ia sempat melihat perempuan itu belum juga pulang. Jimin tidak sengaja melihat mobil temannya. Jin? Jimin coba melihat-lihat kembali kedalam, ia tidak menemukan Jin disana. Akhirnya Jimin masuk kemobilnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Jin.
"Halo?"
"Paan?" suara Jin terdengar lemah seperti bangun tidur.
"Lo ada dimana?"
"Dirumah lah, gue udah tidur nih barusan."
"Wih capek amat bang, baru pulang nguli ya?" Jimin mencoba merayu Jin dengan candaannya.
"Canda ae lo. Ada apa sih?" Nada suaranya terdengar sedikit kesal.
"Gak ada apa-apa sih."
"Terus ngapain lo nelfon gue? Kangen lo sama gue?"
"Idih najis bangg."
"Jujur ae dah lo."
"Gue lihat mobil lo di cafe gue nih."
"Lo salah liat kalik." Kali ini suara Jin terdengar sedikit bersemangat.
"Ah iya kalik."
"Lo ada dicafe?"
"Iya. Nih baru mau pulang."
"Kok gak ngajak gue?"
"Gue kerja disini bukan nongki."
"Oohh. Gue kira lo lagi bareng sama anak-anak."
"Nggak. Ya udah ya gue tutup dulu. Lagi nyetir nih."
"Oke sob." Jin mematikan telfonnya.
Jimin menyetir mobilnya dengan laju. Jimin pun sudah merasa capek hari ini dan ingin segera beristirahat. Besok juga ia harus bersekolah, tidak bagus kalau Jimin pulang larut malam. Diperjalanan Jimin sudah mengatur waktu diingatannya. Nanti setelah Jimin sampai dirumahnya ia masih harus mengatur alarm untuknya. Hal ini tidak boleh lupa, ini adalah kegitan rutinnya. Bukan karena tidak ada yang membangunkannya, melainkan ayahnya selalu membangunkannya setiap pagi, namun Jimin tetap pada posisi nyamannya. Karena Jimin merasa ayahnya membangunkannya terlalu pagi, jadi Jimin tidak akan bangun sebelum alarm itu berbunyi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 66 Episodes
Comments