Mulai sekarang Fandi pakai identitas baru. Di narasi nyebutnya Erick aja, jika masih nyebut Fandi ... kadang bikin puyeng.
Jika menemukan kesalahan, jangan sungkan untuk berkomentar. Nanti segera diperbaiki.
.
.
.
Semuanya serba kebetulan. Orang-orang yang pernah ditemui Erick berada di tempat yang sama, kuliah di universitas yang sama. Mungkin cuma beda fakultas dan kejuruan.
Reka, laki-laki yang dikiranya masih duduk di bangku SMA oleh Erick, nyatanya adalah salah satu mahasiswa. Malahan sudah semester 4. Dia masih memiliki dendam kesumat pada Erick yang sudah menimpuk burung kecilnya dengan krikil. Tapi, sekarang Reka tak mengenali Erick sebab terlalu jor-joran perubahan yang terjadi.
Para rombongan sirkus—para bodyguard bergegas mendorong Erick juga yang lainnya dari laluan, termasuk Fian dan pacarnya. Agar Reka bisa berjalan dengan leluasa.
"Selamat pagi, Reka." sapa Fian. Mereka nampak saling mengenal. Reka cuma membalas angkuh, diam dengan anggukan kecil.
"Sepertinya orang tua mereka saling kenal. Humm ... mungkin orang tua Fian masih kalah status sama orang tuanya Reka?! Terlihat dari sikap Fian yang kaku, persis seperti seorang bawahan pada atasannya." pikir Erick. Dia lebih memilih memerhatikan perempuan yang mengekori Reka.
"Karamel ... huh, mimik wajahnya sangat tertekan." batin Erick iba pada Karamel yang senantiasa menunduk dalam.
Erick dan Karamel tak sengaja bertemu. Perempuan itu jadi kelabakan, pandangannya seketika ditarik. Eh? Tapi, Erick sudah mengganti identitasnya. Apakah masih sanggup dikenali?
"Jaga matamu rendahan! Atau kau ingin menderita?" sembur Reka yang sadar akan Erick dan Karamel yang tengah main mata. Dia memelototi tajam, mencoba mengintimidasi.
Namun, Erick tak bergeming, dia malah tersenyum, dengan tatapannya yang terus mengarah pada Karamel. Erick sengaja memancing Reka.
Mina dan Mona yang berada tepat di samping kiri-kanannya sontak lebih merapat, serta memeluk lengan kakaknya itu. "Apa yang kak Erick coba lakukan?" ucap Mina dengan cemas, ngeri menatap beberapa bodyguard dengan tubuh tegap semampai tinggi.
Sementara itu, Ariel mengambil sikap waspada dengan berdiri di belakang Erick.
"Kau menantang, ya? Baiklah ... kau akan menginap di rumah sakit hari ini!" Reka kehilangan kesabaran, dia menyuruh seorang bodyguard-nya mendekat.
"Beri pelajaran untuk orang tak tau diri itu!"
Erick langsung menyuruh Mina dan Mona untuk pergi dari sisinya. Selanjutnya tangan besar si bodyguard meraih kerah kemeja, menarik kuat, serta siap memberi bogem mentah.
Namun, Erick masih bersikap tenang, tak terpengaruh sedikitpun agar merasa takut.
"Berhenti, Reka. Kau bisa mendapat masalah jika melakukannya di dalam kampus!" ucap Fian, seketika menghentikan bodyguard milik Reka yang telah mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Erick. "Kau sudah janji untuk tak menggunakan para bodyguard itu untuk mengintimidasi para mahasiswa."
Reka mendengkus, dia menatap Erick penuh kekesalan. "Kau sudah cari masalah pada orang yang salah!" Ancaman itu sebagai perpisahan antara Erick dengan Reka.
Kemudian, Fian dan pacarnya juga turut pergi.
"Kau benar-benar akan habis! Siapkan biaya rumah sakit!" Fian mengolok-olok dari dalam mobil, tertawa keras. Dia bahkan sempat memplaksoni. Fian sungguh-sungguh sudah merendahkan.
"Tipe orang yang seperti itu sangat kubenci. Merasa dirinya di atas orang lain, padahal posisinya yang berada di atas itu adalah berkat orang tuanya. Sedang dirinya sendiri ... heh, belum memiliki prestasi apapun." batin Erick melihat mobil mewah milik Fian yang melaju guna mencari lahan parkir yang kosong.
"Kak, kita pindah kampus saja." ucap Mona.
"Sepertinya kita tak diterima di sini. Ini bukan kampus untuk golongan kita!" timpal Mina mendukung ucapan Mona.
"Eh? Apa yang kalian inginkan, 'kan? Kalian ingin masuk ke sini jika mampu. Dan kakak sekarang sudah mampu. Tak ada alasan untuk menyerah pada sekumpulan orang yang masih menyusu pada orang tuanya——belum mandiri. Kalian——kita akan tetap kuliah di sini. Kakak bakal menjaga kalian!" ucap tegas Erick. Menumbuhkan semangat pada diri adik-adiknya.
"Ya, benar kata kakakmu. Jangan takut, kita bisa melaporkan mereka ke polisi jika berbuat macam-macam pada kita!" Ariel ikut menyemangati.
Erick mengangguk atas ucapan Ariel. Tapi, dalam hatinya dia tak setuju sedikitpun.
"Kurasa polisi atau pihak-pihak lainnya tak akan sanggup melakukan apa-apa pada mereka. Uang dan kekuasaan begitu mengerikan!" batin Erick.
.
.
.
Mereka selanjutnya menyelesaikan urusan pendaftaran kuliah. Erick pada awalnya merasa was-was, sulit diterima, tapi faktanya mulus-mulus saja. Kendala satu-satunya cuma di parkiran dan konfrontasi dengan Reka dan Fian.
"System, aku masih bisa memberikan perintah pada asisten pribadi, 'kan?" tanya Erick dalam hati.
[Ya]
Muncul sebuah panel kecil memuat kata "Ya". System dalam kondisi bersifat pasif, jadi tak akan bisa menjawab perkataan Erick seperti biasanya.
"Bagus, aku memerintahkannya untuk mencari Si calon tersangka (pemfitnah). Kampus itu luas. Saat di dalam aku tak bisa menemukannya walau sudah berkeliling."
[Baik]
Erick dan adiknya kini tengah makan siang. Membeli seblak di pedagang kaki lima di sekitaran universitas. Ariel ada jadwal kuliah, jadi dia tak bisa ikut.
Mereka bertiga menikmati seblak di pinggiran trotoar, melihat kendaraan lewat.
"Lebih enak buatan kakak." celetuk Mona yang sudah mencicip seblak miliknya.
"Jangan keras-keras, Mona. Kau membuat Kang Seblak-nya tersinggung." tegur Mina. Dia tak banyak protes, dia dengan lahap menghabiskan punyanya.
Erick mengabaikan adiknya yang berseteru. Dia sibuk mencoba mengakses fungsi System yang kiranya masih bisa digunakan.
"Bang, tolong seblak satu porsi."
Mata Erick melebar, seorang pria datang untuk membeli seblak. Pria berkepala pelontos yang murah senyum.
"Ada apa, Mas? Ada yang salah?" tanya pria berkepala pelontos itu, sebab Erick memandangnya dengan cara yang aneh.
"Maaf. Saya kira kenalan——teman saya." balas Erick tersenyum canggung.
"Oh, sama-sama botak, 'kah?" Pria itu ikut tersenyum.
"Yah ... dia mendatangiku dengan sendirinya. Boby ... kuharap bukan kau yang sudah memfitnahku. Sejujurnya, aku pernah menganggapnya sebagai kakak. Yah, tapi bisa saja sikap baik dulu cuma kamuflase?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Eros Hariyadi
Next Update Please 😄💪👍👍🙏
2023-04-30
0
Eros Hariyadi
Like and Coment 😄💪👍👍👍🙏
2023-04-30
0
🌛Ade_Renny🌜
tentukan satu kata aja , kenalan atau teman sama aja...
2022-09-07
1