Chapter 17 : Kandidat pemfitnah

Mulai sekarang Fandi pakai identitas baru. Di narasi nyebutnya Erick aja, jika masih nyebut Fandi ... kadang bikin puyeng.

Jika menemukan kesalahan, jangan sungkan untuk berkomentar. Nanti segera diperbaiki.

.

.

.

Semuanya serba kebetulan. Orang-orang yang pernah ditemui Erick berada di tempat yang sama, kuliah di universitas yang sama. Mungkin cuma beda fakultas dan kejuruan.

Reka, laki-laki yang dikiranya masih duduk di bangku SMA oleh Erick, nyatanya adalah salah satu mahasiswa. Malahan sudah semester 4. Dia masih memiliki dendam kesumat pada Erick yang sudah menimpuk burung kecilnya dengan krikil. Tapi, sekarang Reka tak mengenali Erick sebab terlalu jor-joran perubahan yang terjadi.

Para rombongan sirkus—para bodyguard bergegas mendorong Erick juga yang lainnya dari laluan, termasuk Fian dan pacarnya. Agar Reka bisa berjalan dengan leluasa.

"Selamat pagi, Reka." sapa Fian. Mereka nampak saling mengenal. Reka cuma membalas angkuh, diam dengan anggukan kecil.

"Sepertinya orang tua mereka saling kenal. Humm ... mungkin orang tua Fian masih kalah status sama orang tuanya Reka?! Terlihat dari sikap Fian yang kaku, persis seperti seorang bawahan pada atasannya." pikir Erick. Dia lebih memilih memerhatikan perempuan yang mengekori Reka.

"Karamel ... huh, mimik wajahnya sangat tertekan." batin Erick iba pada Karamel yang senantiasa menunduk dalam.

Erick dan Karamel tak sengaja bertemu. Perempuan itu jadi kelabakan, pandangannya seketika ditarik. Eh? Tapi, Erick sudah mengganti identitasnya. Apakah masih sanggup dikenali?

"Jaga matamu rendahan! Atau kau ingin menderita?" sembur Reka yang sadar akan Erick dan Karamel yang tengah main mata. Dia memelototi tajam, mencoba mengintimidasi.

Namun, Erick tak bergeming, dia malah tersenyum, dengan tatapannya yang terus mengarah pada Karamel. Erick sengaja memancing Reka.

Mina dan Mona yang berada tepat di samping kiri-kanannya sontak lebih merapat, serta memeluk lengan kakaknya itu. "Apa yang kak Erick coba lakukan?" ucap Mina dengan cemas, ngeri menatap beberapa bodyguard dengan tubuh tegap semampai tinggi.

Sementara itu, Ariel mengambil sikap waspada dengan berdiri di belakang Erick.

"Kau menantang, ya? Baiklah ... kau akan menginap di rumah sakit hari ini!" Reka kehilangan kesabaran, dia menyuruh seorang bodyguard-nya mendekat.

"Beri pelajaran untuk orang tak tau diri itu!"

Erick langsung menyuruh Mina dan Mona untuk pergi dari sisinya. Selanjutnya tangan besar si bodyguard meraih kerah kemeja, menarik kuat, serta siap memberi bogem mentah.

Namun, Erick masih bersikap tenang, tak terpengaruh sedikitpun agar merasa takut.

"Berhenti, Reka. Kau bisa mendapat masalah jika melakukannya di dalam kampus!" ucap Fian, seketika menghentikan bodyguard milik Reka yang telah mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan Erick. "Kau sudah janji untuk tak menggunakan para bodyguard itu untuk mengintimidasi para mahasiswa."

Reka mendengkus, dia menatap Erick penuh kekesalan. "Kau sudah cari masalah pada orang yang salah!" Ancaman itu sebagai perpisahan antara Erick dengan Reka.

Kemudian, Fian dan pacarnya juga turut pergi.

"Kau benar-benar akan habis! Siapkan biaya rumah sakit!" Fian mengolok-olok dari dalam mobil, tertawa keras. Dia bahkan sempat memplaksoni. Fian sungguh-sungguh sudah merendahkan.

"Tipe orang yang seperti itu sangat kubenci. Merasa dirinya di atas orang lain, padahal posisinya yang berada di atas itu adalah berkat orang tuanya. Sedang dirinya sendiri ... heh, belum memiliki prestasi apapun." batin Erick melihat mobil mewah milik Fian yang melaju guna mencari lahan parkir yang kosong.

"Kak, kita pindah kampus saja." ucap Mona.

"Sepertinya kita tak diterima di sini. Ini bukan kampus untuk golongan kita!" timpal Mina mendukung ucapan Mona.

"Eh? Apa yang kalian inginkan, 'kan? Kalian ingin masuk ke sini jika mampu. Dan kakak sekarang sudah mampu. Tak ada alasan untuk menyerah pada sekumpulan orang yang masih menyusu pada orang tuanya——belum mandiri. Kalian——kita akan tetap kuliah di sini. Kakak bakal menjaga kalian!" ucap tegas Erick. Menumbuhkan semangat pada diri adik-adiknya.

"Ya, benar kata kakakmu. Jangan takut, kita bisa melaporkan mereka ke polisi jika berbuat macam-macam pada kita!" Ariel ikut menyemangati.

Erick mengangguk atas ucapan Ariel. Tapi, dalam hatinya dia tak setuju sedikitpun.

"Kurasa polisi atau pihak-pihak lainnya tak akan sanggup melakukan apa-apa pada mereka. Uang dan kekuasaan begitu mengerikan!" batin Erick.

.

.

.

Mereka selanjutnya menyelesaikan urusan pendaftaran kuliah. Erick pada awalnya merasa was-was, sulit diterima, tapi faktanya mulus-mulus saja. Kendala satu-satunya cuma di parkiran dan konfrontasi dengan Reka dan Fian.

"System, aku masih bisa memberikan perintah pada asisten pribadi, 'kan?" tanya Erick dalam hati.

[Ya]

Muncul sebuah panel kecil memuat kata "Ya". System dalam kondisi bersifat pasif, jadi tak akan bisa menjawab perkataan Erick seperti biasanya.

"Bagus, aku memerintahkannya untuk mencari Si calon tersangka (pemfitnah). Kampus itu luas. Saat di dalam aku tak bisa menemukannya walau sudah berkeliling."

[Baik]

Erick dan adiknya kini tengah makan siang. Membeli seblak di pedagang kaki lima di sekitaran universitas. Ariel ada jadwal kuliah, jadi dia tak bisa ikut.

Mereka bertiga menikmati seblak di pinggiran trotoar, melihat kendaraan lewat.

"Lebih enak buatan kakak." celetuk Mona yang sudah mencicip seblak miliknya.

"Jangan keras-keras, Mona. Kau membuat Kang Seblak-nya tersinggung." tegur Mina. Dia tak banyak protes, dia dengan lahap menghabiskan punyanya.

Erick mengabaikan adiknya yang berseteru. Dia sibuk mencoba mengakses fungsi System yang kiranya masih bisa digunakan.

"Bang, tolong seblak satu porsi."

Mata Erick melebar, seorang pria datang untuk membeli seblak. Pria berkepala pelontos yang murah senyum.

"Ada apa, Mas? Ada yang salah?" tanya pria berkepala pelontos itu, sebab Erick memandangnya dengan cara yang aneh.

"Maaf. Saya kira kenalan——teman saya." balas Erick tersenyum canggung.

"Oh, sama-sama botak, 'kah?" Pria itu ikut tersenyum.

"Yah ... dia mendatangiku dengan sendirinya. Boby ... kuharap bukan kau yang sudah memfitnahku. Sejujurnya, aku pernah menganggapnya sebagai kakak. Yah, tapi bisa saja sikap baik dulu cuma kamuflase?!"

Terpopuler

Comments

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Next Update Please 😄💪👍👍🙏

2023-04-30

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Like and Coment 😄💪👍👍👍🙏

2023-04-30

0

🌛Ade_Renny🌜

🌛Ade_Renny🌜

tentukan satu kata aja , kenalan atau teman sama aja...

2022-09-07

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Fitnah
2 Chapter 2 : System
3 Chapter 3 : Menghajar Kepala Sipir
4 Chapter 4 : Karamel
5 Chapter 5 : Menginap di warnet
6 Chapter 6 : Curhat
7 Chapter 7 : Mengganti identitas
8 Chapter 8 : Tetangga
9 Chapter 9 : Pacar yang buruk
10 Chapter 10 : Rencana ke kampus Ariel
11 Chapter 11 : Belanja
12 Chapter 12 : Mafia berbahaya
13 Chapter 13 : Keluarga
14 Chapter 14 : Hadiah misi utama
15 Chapter 15 : Kemarahan
16 Chapter 16 : Pertemuan kembali
17 Chapter 17 : Kandidat pemfitnah
18 Chapter 18 : System 2.0
19 Chapter 19 : Upaya pembalasan (1)
20 Chapter 20 : Upaya pembalasan (2)
21 Chapter 21 : Upaya pembalasan (3)
22 Chapter 22 : Akuisisi selesai
23 Chapter 23 : Mulai kuliah
24 Chapter 24 : Rosi and the gang
25 Chapter 25 : Kemenangan mudah
26 Chapter 26 : Mina-Mona dalam bahaya
27 Chapter 27 : Pil siksaan
28 Chapter 28 : Perlindungan untuk Mina-Mona
29 Chapter 29 : Ariel
30 Chapter 30 : Tamu tak diundang
31 Chapter 31 : Kontrak
32 Chapter 32 : Mencari restu
33 Chapter 33 : Makan malam bersama
34 Chapter 34 : Perasaan iri
35 Chapter 35 : Malam mengerikan
36 Chapter 36 : Tetangga baru
37 Chapter 37 Kue kering
38 Chapter 38 kembali perawan
39 Chapter 39 : Kejadian tak terduga
40 Chapter 40 : Terbongkar
41 Chapter 41 : Memilih hadiah ulang tahun
42 Chapter 42 : Hipnotis?
43 Chapter 43 : Paranormal
44 Chapter 44 : Anak pungut? Bukan, cuma beda ibu!
45 Chapter 45 : Kebal
46 Chapter 46 : Heaven Mafia
47 Chapter 47 : Balas dendam sesungguhnya!
48 Chapter 48 : Menebar teror
49 Chapter 49 : Fian
50 Chapter 50 : Orang terdekat diincar
51 Chapter 51 : Misi selesai
52 Chapter 52 : Menantang Reka
53 Chapter 53 : Pengalihan target
54 Chapter 54 : Bersembunyi, mengelabui!
55 Chapter 55 : Menyewa
56 Chapter 56 : Pembagian tempat tidur
57 Chapter 57 : Erick, aku tak tahan!?
58 Chapter 58 : Surat
59 Chapter 59 : Ancaman
60 Chapter 60 : Bersiap melakukan penyerangan
61 Chapter 61 : Kakek misterius
62 Chapter 62 : Menyusup
63 Chapter 63 : Pembebasan, melarikan diri!
64 Chapter 64 : Bentrokan, pengendali pikiran
65 Chapter 65 : Penghuni asli pasar gelap
66 Chapter 66 : Desa pendekar
67 Chapter 67 : Kepala desa Ru
68 Chapter 68 : Mulai menyerang
69 Chapter 69 : Potensinya lebih besar
70 Chapter 70 : Bukan katana biasa
71 Chapter 71 : Kemenangan
72 Chapter 72 (end)
73 Lanjut
74 Chapter 73 Berangkat
75 Chapter 74 : Hibiki
76 Chapter 75 : Tempat tinggal
77 Chapter 76 : Berburu hantu
78 Chapter 77 : Ghost Slayer
79 Chapter 78 : Makhluk kuat
80 Chapter 79 : Penunggu
81 Chapter 80 : Melawan Yakuza
82 Chapter 81 : Misi baru
83 Chapter 82 : Usaha yang sia-sia
84 Chapter 83 : Asisten baru
85 Chapter 84 : Dianggap saingan
86 Chapter 85 : Selalu diganggu
87 Chapter 86 : Di Tokyo?
88 Chapter 87 : Aku membencimu!
89 Chapter 88 : Sosok misterius
90 Chapter 89 : Apakah mungkin?
91 Chapter 90 : Surat untukmu
92 Chapter 91: System itu sebenarnya apa?
93 Chapter 92 : Musuh terbesar!
94 Chapter 93 : Persiapan
95 Chapter 94 : Militer yang bar-bar
96 Chapter 95 : Monster
97 Chapter 96 : Bagian akhir
98 Chapter 97 : Akhir dan awal
99 Chapter 98 : Times skip (end)
100 Promo novel baru
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Chapter 1 : Fitnah
2
Chapter 2 : System
3
Chapter 3 : Menghajar Kepala Sipir
4
Chapter 4 : Karamel
5
Chapter 5 : Menginap di warnet
6
Chapter 6 : Curhat
7
Chapter 7 : Mengganti identitas
8
Chapter 8 : Tetangga
9
Chapter 9 : Pacar yang buruk
10
Chapter 10 : Rencana ke kampus Ariel
11
Chapter 11 : Belanja
12
Chapter 12 : Mafia berbahaya
13
Chapter 13 : Keluarga
14
Chapter 14 : Hadiah misi utama
15
Chapter 15 : Kemarahan
16
Chapter 16 : Pertemuan kembali
17
Chapter 17 : Kandidat pemfitnah
18
Chapter 18 : System 2.0
19
Chapter 19 : Upaya pembalasan (1)
20
Chapter 20 : Upaya pembalasan (2)
21
Chapter 21 : Upaya pembalasan (3)
22
Chapter 22 : Akuisisi selesai
23
Chapter 23 : Mulai kuliah
24
Chapter 24 : Rosi and the gang
25
Chapter 25 : Kemenangan mudah
26
Chapter 26 : Mina-Mona dalam bahaya
27
Chapter 27 : Pil siksaan
28
Chapter 28 : Perlindungan untuk Mina-Mona
29
Chapter 29 : Ariel
30
Chapter 30 : Tamu tak diundang
31
Chapter 31 : Kontrak
32
Chapter 32 : Mencari restu
33
Chapter 33 : Makan malam bersama
34
Chapter 34 : Perasaan iri
35
Chapter 35 : Malam mengerikan
36
Chapter 36 : Tetangga baru
37
Chapter 37 Kue kering
38
Chapter 38 kembali perawan
39
Chapter 39 : Kejadian tak terduga
40
Chapter 40 : Terbongkar
41
Chapter 41 : Memilih hadiah ulang tahun
42
Chapter 42 : Hipnotis?
43
Chapter 43 : Paranormal
44
Chapter 44 : Anak pungut? Bukan, cuma beda ibu!
45
Chapter 45 : Kebal
46
Chapter 46 : Heaven Mafia
47
Chapter 47 : Balas dendam sesungguhnya!
48
Chapter 48 : Menebar teror
49
Chapter 49 : Fian
50
Chapter 50 : Orang terdekat diincar
51
Chapter 51 : Misi selesai
52
Chapter 52 : Menantang Reka
53
Chapter 53 : Pengalihan target
54
Chapter 54 : Bersembunyi, mengelabui!
55
Chapter 55 : Menyewa
56
Chapter 56 : Pembagian tempat tidur
57
Chapter 57 : Erick, aku tak tahan!?
58
Chapter 58 : Surat
59
Chapter 59 : Ancaman
60
Chapter 60 : Bersiap melakukan penyerangan
61
Chapter 61 : Kakek misterius
62
Chapter 62 : Menyusup
63
Chapter 63 : Pembebasan, melarikan diri!
64
Chapter 64 : Bentrokan, pengendali pikiran
65
Chapter 65 : Penghuni asli pasar gelap
66
Chapter 66 : Desa pendekar
67
Chapter 67 : Kepala desa Ru
68
Chapter 68 : Mulai menyerang
69
Chapter 69 : Potensinya lebih besar
70
Chapter 70 : Bukan katana biasa
71
Chapter 71 : Kemenangan
72
Chapter 72 (end)
73
Lanjut
74
Chapter 73 Berangkat
75
Chapter 74 : Hibiki
76
Chapter 75 : Tempat tinggal
77
Chapter 76 : Berburu hantu
78
Chapter 77 : Ghost Slayer
79
Chapter 78 : Makhluk kuat
80
Chapter 79 : Penunggu
81
Chapter 80 : Melawan Yakuza
82
Chapter 81 : Misi baru
83
Chapter 82 : Usaha yang sia-sia
84
Chapter 83 : Asisten baru
85
Chapter 84 : Dianggap saingan
86
Chapter 85 : Selalu diganggu
87
Chapter 86 : Di Tokyo?
88
Chapter 87 : Aku membencimu!
89
Chapter 88 : Sosok misterius
90
Chapter 89 : Apakah mungkin?
91
Chapter 90 : Surat untukmu
92
Chapter 91: System itu sebenarnya apa?
93
Chapter 92 : Musuh terbesar!
94
Chapter 93 : Persiapan
95
Chapter 94 : Militer yang bar-bar
96
Chapter 95 : Monster
97
Chapter 96 : Bagian akhir
98
Chapter 97 : Akhir dan awal
99
Chapter 98 : Times skip (end)
100
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!