Hari ini adalah hari paling membahagiakan bagi keluarga Erick. Keluarganya kini telah utuh lagi.
Erick dan keluarganya, kecuali Mina tengah pergi untuk membeli beberapa keperluan tambahan, sebab bertambahnya orang yang tinggal di apartemen. Mina menawarkan diri untuk menjaga apartemen, meski Erick sudah menyakinkan soal keamanan. Tapi, gadis itu kekeh. Mina pun melewatkan acara belanja sekaligus merayakan kesembuhan ayahnya.
Sementara itu ....
Ariel selaku tetangga, kebetulan berniat berkunjung. Laptopnya rusak, dia ingin Erick untuk memeriksa atau bahkan memperbaiki. Menurutnya Erick paham urusan seperti itu.
Ariel menekan bel pintu satu kali. Tapi, tak kunjung terdengar derap langkah kaki yang mendekat dari balik pintu. Dia jadi menekan ulang hingga beberapa kali, tapi tetap tak ada tanda-tanda ada seseorang yang menyahut.
"Apa dia sedang pergi?" Ariel berniat undur diri karena tak kunjung ada respon dari dalam.
Tapi, suara pintu yang dibuka menghentikannya.
"Ah, akhirnya. Apa yang kau lakukan? Kenapa tak kunjung mem——siapa kau?" kaget Ariel melihat perempuan asing yang tiba-tiba membukakan pintu.
"Harusnya aku yang berkata begitu. Siapa kau?" balas Mina ketus. Dia memelototi Ariel, bersikap tak ramah padanya.
"Siapa wanita ini? Teman kak Erick? Dia juga penghuni apartemen ini? Dia sering berkunjung ke sini?" Otak Mina dipenuhi berbagai pertanyaan mengenai Ariel.
Erick telah menyuruh keluarganya untuk memanggil dirinya Erick Brown, identitas Fandi Delana dihapus.
"Atau jangan-jangan .... cih, tak akan kubiarkan! Aku tak setuju kak Erick dengan wanita seperti ini. Aku tak bakal merestuinya!"
Brakkk ...
Mina membanting kuat pintu hingga membuat Ariel terperanjat kaget. Ariel memiringkan kepalanya. "Eh? Kenapa dia?"
Ariel tak menyerah sebelum bisa bertemu dengan Erick.
"Umm ... tolong buka! Apa Erick ada di dalam? Aku punya urusan——"
"Pergi! Tak ada yang namanya Erick!" teriak Mina.
Ariel akhirnya kembali dengan tangan hampa. Timbul kekecewaan dan kekesalan yang amat dalam pada dirinya.
"Apa-apaan sih perempuan tadi? Bersikap seenaknya. Kenapa dia bisa ada di apartemennya Erick? Eh? A-apa pacarnya——tidak! Perempuan itu perawakannya masih ABG, siswi SMA. Apa Erick menyukai tipe perempuan yang lebih muda?"
Ariel malah sibuk memikirkan identitas dari Mina dan tipe wanita yang disukai oleh Erick. Dia menggerutu sepanjang jalan menuju apartemennya.
Namun, siapa sangka. Dia bakal bertemu Erick.
"Ariel?" panggil Erick yang mendekat, di belakangnya ada Lilis, Anto, dan Mona.
Ariel yang sudah memegang gagang pintu dan hendak masuk ke apartemennya mendadak batal. Dia menemani Erick dalam berbasa-basi.
"Erick? Dari mana kau ...." Suara Ariel kian mengecil. Dia kebingungan melihat tiga sosok manusia di belakang Erick.
"Siapa mereka? Orang tuanya Erick——eh? Lho? M-m-mana mungkin!?" batin Ariel terkejut setengah mati ketika melihat Mona, dikira orang yang baru ditemuinya belum lama ini di apartemen milik Erick.
Mina dan Mona adalah kembar identik, rupa otomatis sama persis. Wajar jika Ariel yang tak mengetahui bahwa mereka itu kembar, akan sangat kaget melihat Mona ataupun Mina dalam keadaan si kembar tak bersama-sama.
"Dari reaksinya ... huh, dia pasti sudah bertemu dengan Mina." batin Erick dengan mudah membaca mimik wajah dari Ariel.
"Erick, kamu punya kejutan lain? Kamu sudah menyiapkan calon istri?" celetuk Lilis asal, dia terkekeh setelahnya. Dia tahu bahwa jawaban dari Erick adalah ....
"Tidak!" Itu bukan jawaban dari Erick, melainkan dari Mona yang maju ke depan, terus memeluk lengan Erick. "Kami tak bakal merestuinya!" ucap Mona tegas.
Ikatan saudari kembar yang kuat, Mona sudah berpikir saudari kembarnya pasti punya pendapat yang sama.
Ariiel terbungkam, melongo. Dia menatap lamat-lamat Mona yang mengirimkan tatapan permusuhan. Dia akhirnya mengerti maksud kata "Kami".
"Mereka adalah dua orang. Perempuan yang ada di apartemennya Erick itu adalah kembarannya. Mereka berdua ... adiknya Erick?" batin Ariel menerka-nerka.
"Jika sikap kalian begitu ... ibu dan bapak tak akan segera menimang cucu! Kakak kalian juga selamanya akan menjomblo, lho!" nasehat Lilis yang mengelus rambut putrinya. Mona sendiri malah menggeleng kuat dan semakin kuat mencengkram lengan Erick. Selanjutnya dia berbisik. "Jangan begitu! Kakak kalian itu bakal tetap sayang kok, sama Mona-Mina." goda Lilis.
Muka Mona berubah merah padam, dia segera menengadah untuk melihat wajah kakaknya itu. Erick tersenyum dan mengacak-acak rambut Mona.
"Ya. Mina dan Mona itu adalah wanita paling berharga di hidupku!" ucap Erick tersenyum, Mona seketika tertegun, bahkan Ariel pun ikut terpana.
"A-ku harus memamerkan ini pada Mina. Kak Erick lebih sayang padaku!" ucap Mona dalam hati, membuat senyuman licik.
Senyuman itu mudah dimengerti oleh Erick. "Adik-adikku memang aneh!"
"Di mana orang tuamu? Saya ingin bertemu. Tanggal pernikahan kalian harus segera ditentukan." kata Anto yang memecah fokus semua orang. Hening sesaat.
Baik Erick maupun Ariel tak ada yang menyangkal perkataan dari Lilis. Mereka diam, dan sikap diam selalu ditafsirkan sebagai jawaban "Ya".
"Ini serius. Saya ingin berte——"
"Minggir, kalian menghalangi jalan!" ucap seorang wanita yang kira-kira berusia 20-an, sebaya dengan Erick dan Ariel. Dia bersama dengan seorang pria. Mereka sepasang kekasih.
Bughh ...
Mereka berdua lewat dan asal main menyenggol Anto sampai hampir terjerembab jatuh, beruntung ditahan Lilis. Anto bertahun-tahun tak berjalan, dia masih butuh penyesuaian agar kakinya kuat menapak.
Tak terima terhadap perlakuan kasar terhadap ayahnya, Erick bersuara.
"Bisakah kau sopan pada orang yang lebih tua? Tak bisa bicara lembut?" ucap Erick menatap si wanita dengan marah.
"Hoh?" wanita itu seketika menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut. "Dengar, sayang! Ternyata pria berumur itu orang tuanya. Kukira seorang pembantu!" Dia tertawa cekikikan, terdengar begitu merendahkan.
Erick yang mendengar itu semakin marah. Tentu saja dia tak terima orang tuanya direndahkan. Namun, Lilis, Mona, bahkan Ariel berusaha menahan Erick main tangan. Lagipula, perbuatannya itu bisa berakhir buruk. Sudah jelas wanita itu cuma memancing kemarahan Erick, pacarnya bahkan sudah siap dengan kamera handphone.
"Tenanglah, Nak. Bapak yang salah karena sudah menghalangi jalan." Anto berusaha menenangkan Erick.
"Ingat, Erick. Jangan main tangan sama perempuan!" Lilis juga ikut memenangkan Erick.
"Fian, jangan suka cari masalah! Kau sudah bersikap kasar!" ucap Ariel. Dia mengenalnya, wanita bernama Fian itu satu universitas dengan Ariel.
"Ariel ... Ariel ..." Fian geleng-geleng kepala. "Aku sarankan. Jangan suka bergaul dengan OKB(orang kaya baru) itu. Lihatlah, dia mengubah kodrat dengan operasi plastik. Tak menghargai ciptakan Tuhan!" Fian mengolok-olok.
"Benar sayang. Untung ada orang tuanya yang jelek——"
Buagh ...
Erick yang tak tahan orang tuanya diejek terus-menerus akhirnya hilang kesabaran. Dia menunju pipi pacarnya Fian hingga jatuh tersungkur. Darah langsung keluar dari sudut mulutnya.
"Beruntung System sedang melakukan peningkatan. Andai saja tidak ... tulang pipinya pasti sudah hancur!" batin Erick.
"Sayang, sayang. Kamu tak apa-apa?" ucap Fian cemas pada pacarnya.
"Tenang saja. Aku tadi agak lengah. K-ita pergi saja, di sini cuma membuang-buang waktu!"
Pasangan itu pergi. Erick sudah menandai mereka berdua, dan tengah bersiap melakukan pembalasan terhadap apa yang diperbuat pada orang tuanya.
Yang pasti, Erick tak akan menyakiti secara fisik, tapi mental atau kejiwaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Ambara Sugun
terlalu banyak monolog
2024-01-14
0
Eros Hariyadi
Lanjutkan Thor 😄💪👍👍 👍
2023-04-30
0
Eros Hariyadi
Like and Coment 😄💪👍👍 👍
2023-04-30
0