Chapter 12 : Mafia berbahaya

Semua orang mengangkat tangannya tinggi ke atas, begitu senjata api itu diacungkan ke semua orang. Namun, ada satu orang yang bandel. Seorang pembeli mengabaikan seruan si perampok, dia lantas berniat keluar dari minimarket.

Jdarr ...

Semua orang terperanjat, menggigil ketakutan, setelah si perampok menembak pistolnya ke atas. Lubang pun tercipta di langit-langit. Semua orang menelan ludah, merasa ngeri.

Erick berusaha menenangkan Ariel. "Tetap diam dan jangan bicara! Tenang saja, tak akan ada yang terluka!" Erick mengucapkan beberapa kalimat penghiburan.

"Dibilang jangan ada yang bergerak! Kalian ingin mati, hah?" bentak si perampok, menodong satu per satu. "Kepala kalian ingin bolong?" lanjutnya mengancam.

Si perampok mulai melancarkan aksinya. Dia mengincar kasir, meminta menyerahkan semua uang hasil penjualan. Setelah selesai, barulah mengincar para pembeli. Pakaian mereka digeledah, memburu barang berharga seperti handphone, perhiasan, uang, atau sesuatu yang berharga.

Waktu giliran Ariel. Si perampok memintanya meregangkan tangan, mulai menjamah tubuh. Dia bahkan kepikiran untuk melakukan hal yang tak senonoh pada Ariel, seenaknya meraba dada. Itu memancing Erick untuk secara reflek mencengkeram tangannya. Seketika si perampok terbanting ke lantai dengan sangat keras.

Perampok itu seketika pingsan.

"Huh, mudah sekali. Yah, tapi tadi itu cuma amatir, modal nekat! Merampok dengan memamerkan wajah, sedang tempat ini penuh dengan CCTV. Aku tak habis pikir." batin Erick yang cuma geleng-geleng kepala.

Erick menenangkan Ariel yang sedikit mengalami trauma, namun tak terlalu parah, dia cuma syok sebentar. Sedangkan si kasir sudah menelepon polisi, sisanya cuma menunggu. Keadaan di dalam minimarket yang sebelumnya carut marut itu pun kembali seperti semula.

"Terima kasih, Mas." ucap kasir menundukkan kepala lumayan dalam pada Erick.

"Tak perlu. Memang kewajiban menghentikan orang seperti ini!" balas Erick santai. Dia mendadak mengambil pistol dari perampok yang pingsan itu.

Menciptakan kepanikan dengan mengarahkannya ke kasir. Erick tanpa peringatan langsung menarik pelatuknya, seisi orang di sana seketika meringkuk dan menyumbat telinga.

Erick tersenyum puas. "Sudah kuduga. Pelurunya cuma satu, tadi itu cuma menggertak." Erick melupakan sesuatu.

"Oh, maaf. Saya tak bermaksud apa-apa." Erick menarik lagi pistolnya.

Si kasir seketika terduduk lemas, dia meraba dada kirinya. Pasti terasa ingin copot tadi, bagaimana tidak ... kau hendak ditembak. Hidup dan mati.

"Erick, kau membuatku takut. Tapi, kenapa pelurunya tak keluar?" Ariel jadi penasaran.

"Oh, itu karena pelurunya cuma satu."

"Eh? Kenapa bisa? Jika ada seseorang yang tau. Seperti dirimu tadi. Bukannya sangat berisiko." Ariel masih ingin tahu. Tapi, Erick tak ingin menjawabnya.

"Entahlah."

[Misi berhasil diselesaikan]

[Selamat, Master mendapatkan 2500 poin dan keterampilan khusus memasak]

Tak berselang lama, polisi pun datang. Beberapa orang di sana termasuk Erick dijadikan saksi, mereka pun perlu ikut. Erick lantas meminta Ariel untuk membawa belanjaannya ke pulang apartemen miliknya.

Ariel mengangguk mantap, "Kau bisa mengandalkanku."

Sesampainya di kantor polisi ...

Erick untuk ke sekian kalinya berada di kantor polisi, namun bedanya, sekarang statusnya bukan sebagai tersangka. Melainkan saksi yang bakal menjelaskan kronologi kejadiannya.

Lalu, terbongkarlah fakta yang mengejutkan.

"Pria itu linglung, tak mengerti apa-apa, dia terhipnotis." lapor seorang yang bertugas mengintrogasi perampok kepada atasannya.

Erick yang kebetulan berada di ruangan yang sama tak sengaja mendengarnya.

"Bahkan identitas dari tersangka adalah seorang dosen yang tinggal di komplek the Gold Apartement.

"Uhuk ... uhuk ...." Erick tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia lantas dipandang oleh para polisi.

"Saudara Erick, apa Anda mengenal tersangka? Kalian berada di komplek apartemen yang sama."

Erick menggeleng, "Saya tak mengenalnya. Saya baru pindah ke sana kemarin."

"Oh, begitu."

"Apa-apaan ini? Untuk apa seorang dosen, seseorang yang hidupnya sudah mapan. Merampok sebuah minimarket. Hobi ekstrem yang menguji adrenalin?" batin Erick tak habis pikir. Benarkah? Dihipnotis.

"Pistol yang digunakannya pun adalah pistol asli yang diproduksi sebuah perusahaan senjata. Bukan pistol rakitan." laporan sekali lagi diberikan.

Atasan polisi itu memijat keningnya karena kebingungan. Dia tampak berpikir sebentar.

"Huh, sepertinya sedikit menemukan titik terang. Beberapa bulan yang lalu saat kasus pemerkosaan aktris Anya Falana dengan tersangka Fandi Delana juga begitu——"

"Maksud Anda?" potong Erick. Dia tak bisa menahan diri saat kasusnya mendadak disinggung. Untung polisi itu tak marah dan tak berusaha menutup-nutupinya.

"Kasus pemerkosaan itu sebetulnya ada 5 tersangka menurut penuturan korban, Anya Falana. Tapi, yang tertangkap cuma Fandi Delana. Ke empat lainnya masih buron." atasan polisi itu mengoper pandang ke bawahannya. Meminta mengambil alih penjelasan.

"Pencarian terus dilakukan beberapa hari. Sampai kami dapat menangkap mereka." polisi itu cepat tanggap.

"Serius?" tanya Erick mendesak.

"Tapi, kenapa tak ada berita yang menyebutkan 4 orang itu juga tertangkap? Tak dipublikasikan?" batin Erick.

"Ya. Mereka ditemukan di sebuah jurang tak jauh dari TKP, tiga di antaranya sudah meninggal di tempat. Satu orang lainnya masih selamat, tapi ketika dia diintrogasi ... yah, keadaannya seperti perampok minimarket itu. Tak mengerti apa-apa, dihipnotis."

"Itu jadi semakin serius. Orang yang selamat itu pun tak berselang lama juga tewas."

"Kenapa?" Erick jadi sangat penasaran.

"Bunuh diri."

"Hah?"

"Intinya begini, saudara Erick. Ada seseorang atau kelompok yang memperkerjakan orang dengan cara menghipnotis. Suruh mencuri, merampok, pembunuh bayaran ... kemungkinan itu dilakukan untuk menutupi seluruh campur tangannya. Dia atau mereka adalah tangan yang bertanggungjawab."

"Kelompok mafia?" terka Erick.

"Mungkin saja."

Seorang polisi lagi datang dengan tergesa-gesa, wajahnya nampak sedikit panik.

"Pak, pak ... tersangka tewas. Dia bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri."

Terpopuler

Comments

Antara Putra

Antara Putra

🍮🍮

2023-06-29

0

Eros Hariyadi

Eros Hariyadi

Lanjutkan Thor, tetap semangat 😄💪👍👍👍

2023-04-23

0

Mas Dion

Mas Dion

Sidik jarinya nggak nyangkut di pistol? Meski ada saksi

2022-08-23

1

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1 : Fitnah
2 Chapter 2 : System
3 Chapter 3 : Menghajar Kepala Sipir
4 Chapter 4 : Karamel
5 Chapter 5 : Menginap di warnet
6 Chapter 6 : Curhat
7 Chapter 7 : Mengganti identitas
8 Chapter 8 : Tetangga
9 Chapter 9 : Pacar yang buruk
10 Chapter 10 : Rencana ke kampus Ariel
11 Chapter 11 : Belanja
12 Chapter 12 : Mafia berbahaya
13 Chapter 13 : Keluarga
14 Chapter 14 : Hadiah misi utama
15 Chapter 15 : Kemarahan
16 Chapter 16 : Pertemuan kembali
17 Chapter 17 : Kandidat pemfitnah
18 Chapter 18 : System 2.0
19 Chapter 19 : Upaya pembalasan (1)
20 Chapter 20 : Upaya pembalasan (2)
21 Chapter 21 : Upaya pembalasan (3)
22 Chapter 22 : Akuisisi selesai
23 Chapter 23 : Mulai kuliah
24 Chapter 24 : Rosi and the gang
25 Chapter 25 : Kemenangan mudah
26 Chapter 26 : Mina-Mona dalam bahaya
27 Chapter 27 : Pil siksaan
28 Chapter 28 : Perlindungan untuk Mina-Mona
29 Chapter 29 : Ariel
30 Chapter 30 : Tamu tak diundang
31 Chapter 31 : Kontrak
32 Chapter 32 : Mencari restu
33 Chapter 33 : Makan malam bersama
34 Chapter 34 : Perasaan iri
35 Chapter 35 : Malam mengerikan
36 Chapter 36 : Tetangga baru
37 Chapter 37 Kue kering
38 Chapter 38 kembali perawan
39 Chapter 39 : Kejadian tak terduga
40 Chapter 40 : Terbongkar
41 Chapter 41 : Memilih hadiah ulang tahun
42 Chapter 42 : Hipnotis?
43 Chapter 43 : Paranormal
44 Chapter 44 : Anak pungut? Bukan, cuma beda ibu!
45 Chapter 45 : Kebal
46 Chapter 46 : Heaven Mafia
47 Chapter 47 : Balas dendam sesungguhnya!
48 Chapter 48 : Menebar teror
49 Chapter 49 : Fian
50 Chapter 50 : Orang terdekat diincar
51 Chapter 51 : Misi selesai
52 Chapter 52 : Menantang Reka
53 Chapter 53 : Pengalihan target
54 Chapter 54 : Bersembunyi, mengelabui!
55 Chapter 55 : Menyewa
56 Chapter 56 : Pembagian tempat tidur
57 Chapter 57 : Erick, aku tak tahan!?
58 Chapter 58 : Surat
59 Chapter 59 : Ancaman
60 Chapter 60 : Bersiap melakukan penyerangan
61 Chapter 61 : Kakek misterius
62 Chapter 62 : Menyusup
63 Chapter 63 : Pembebasan, melarikan diri!
64 Chapter 64 : Bentrokan, pengendali pikiran
65 Chapter 65 : Penghuni asli pasar gelap
66 Chapter 66 : Desa pendekar
67 Chapter 67 : Kepala desa Ru
68 Chapter 68 : Mulai menyerang
69 Chapter 69 : Potensinya lebih besar
70 Chapter 70 : Bukan katana biasa
71 Chapter 71 : Kemenangan
72 Chapter 72 (end)
73 Lanjut
74 Chapter 73 Berangkat
75 Chapter 74 : Hibiki
76 Chapter 75 : Tempat tinggal
77 Chapter 76 : Berburu hantu
78 Chapter 77 : Ghost Slayer
79 Chapter 78 : Makhluk kuat
80 Chapter 79 : Penunggu
81 Chapter 80 : Melawan Yakuza
82 Chapter 81 : Misi baru
83 Chapter 82 : Usaha yang sia-sia
84 Chapter 83 : Asisten baru
85 Chapter 84 : Dianggap saingan
86 Chapter 85 : Selalu diganggu
87 Chapter 86 : Di Tokyo?
88 Chapter 87 : Aku membencimu!
89 Chapter 88 : Sosok misterius
90 Chapter 89 : Apakah mungkin?
91 Chapter 90 : Surat untukmu
92 Chapter 91: System itu sebenarnya apa?
93 Chapter 92 : Musuh terbesar!
94 Chapter 93 : Persiapan
95 Chapter 94 : Militer yang bar-bar
96 Chapter 95 : Monster
97 Chapter 96 : Bagian akhir
98 Chapter 97 : Akhir dan awal
99 Chapter 98 : Times skip (end)
100 Promo novel baru
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Chapter 1 : Fitnah
2
Chapter 2 : System
3
Chapter 3 : Menghajar Kepala Sipir
4
Chapter 4 : Karamel
5
Chapter 5 : Menginap di warnet
6
Chapter 6 : Curhat
7
Chapter 7 : Mengganti identitas
8
Chapter 8 : Tetangga
9
Chapter 9 : Pacar yang buruk
10
Chapter 10 : Rencana ke kampus Ariel
11
Chapter 11 : Belanja
12
Chapter 12 : Mafia berbahaya
13
Chapter 13 : Keluarga
14
Chapter 14 : Hadiah misi utama
15
Chapter 15 : Kemarahan
16
Chapter 16 : Pertemuan kembali
17
Chapter 17 : Kandidat pemfitnah
18
Chapter 18 : System 2.0
19
Chapter 19 : Upaya pembalasan (1)
20
Chapter 20 : Upaya pembalasan (2)
21
Chapter 21 : Upaya pembalasan (3)
22
Chapter 22 : Akuisisi selesai
23
Chapter 23 : Mulai kuliah
24
Chapter 24 : Rosi and the gang
25
Chapter 25 : Kemenangan mudah
26
Chapter 26 : Mina-Mona dalam bahaya
27
Chapter 27 : Pil siksaan
28
Chapter 28 : Perlindungan untuk Mina-Mona
29
Chapter 29 : Ariel
30
Chapter 30 : Tamu tak diundang
31
Chapter 31 : Kontrak
32
Chapter 32 : Mencari restu
33
Chapter 33 : Makan malam bersama
34
Chapter 34 : Perasaan iri
35
Chapter 35 : Malam mengerikan
36
Chapter 36 : Tetangga baru
37
Chapter 37 Kue kering
38
Chapter 38 kembali perawan
39
Chapter 39 : Kejadian tak terduga
40
Chapter 40 : Terbongkar
41
Chapter 41 : Memilih hadiah ulang tahun
42
Chapter 42 : Hipnotis?
43
Chapter 43 : Paranormal
44
Chapter 44 : Anak pungut? Bukan, cuma beda ibu!
45
Chapter 45 : Kebal
46
Chapter 46 : Heaven Mafia
47
Chapter 47 : Balas dendam sesungguhnya!
48
Chapter 48 : Menebar teror
49
Chapter 49 : Fian
50
Chapter 50 : Orang terdekat diincar
51
Chapter 51 : Misi selesai
52
Chapter 52 : Menantang Reka
53
Chapter 53 : Pengalihan target
54
Chapter 54 : Bersembunyi, mengelabui!
55
Chapter 55 : Menyewa
56
Chapter 56 : Pembagian tempat tidur
57
Chapter 57 : Erick, aku tak tahan!?
58
Chapter 58 : Surat
59
Chapter 59 : Ancaman
60
Chapter 60 : Bersiap melakukan penyerangan
61
Chapter 61 : Kakek misterius
62
Chapter 62 : Menyusup
63
Chapter 63 : Pembebasan, melarikan diri!
64
Chapter 64 : Bentrokan, pengendali pikiran
65
Chapter 65 : Penghuni asli pasar gelap
66
Chapter 66 : Desa pendekar
67
Chapter 67 : Kepala desa Ru
68
Chapter 68 : Mulai menyerang
69
Chapter 69 : Potensinya lebih besar
70
Chapter 70 : Bukan katana biasa
71
Chapter 71 : Kemenangan
72
Chapter 72 (end)
73
Lanjut
74
Chapter 73 Berangkat
75
Chapter 74 : Hibiki
76
Chapter 75 : Tempat tinggal
77
Chapter 76 : Berburu hantu
78
Chapter 77 : Ghost Slayer
79
Chapter 78 : Makhluk kuat
80
Chapter 79 : Penunggu
81
Chapter 80 : Melawan Yakuza
82
Chapter 81 : Misi baru
83
Chapter 82 : Usaha yang sia-sia
84
Chapter 83 : Asisten baru
85
Chapter 84 : Dianggap saingan
86
Chapter 85 : Selalu diganggu
87
Chapter 86 : Di Tokyo?
88
Chapter 87 : Aku membencimu!
89
Chapter 88 : Sosok misterius
90
Chapter 89 : Apakah mungkin?
91
Chapter 90 : Surat untukmu
92
Chapter 91: System itu sebenarnya apa?
93
Chapter 92 : Musuh terbesar!
94
Chapter 93 : Persiapan
95
Chapter 94 : Militer yang bar-bar
96
Chapter 95 : Monster
97
Chapter 96 : Bagian akhir
98
Chapter 97 : Akhir dan awal
99
Chapter 98 : Times skip (end)
100
Promo novel baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!