Semua orang mengangkat tangannya tinggi ke atas, begitu senjata api itu diacungkan ke semua orang. Namun, ada satu orang yang bandel. Seorang pembeli mengabaikan seruan si perampok, dia lantas berniat keluar dari minimarket.
Jdarr ...
Semua orang terperanjat, menggigil ketakutan, setelah si perampok menembak pistolnya ke atas. Lubang pun tercipta di langit-langit. Semua orang menelan ludah, merasa ngeri.
Erick berusaha menenangkan Ariel. "Tetap diam dan jangan bicara! Tenang saja, tak akan ada yang terluka!" Erick mengucapkan beberapa kalimat penghiburan.
"Dibilang jangan ada yang bergerak! Kalian ingin mati, hah?" bentak si perampok, menodong satu per satu. "Kepala kalian ingin bolong?" lanjutnya mengancam.
Si perampok mulai melancarkan aksinya. Dia mengincar kasir, meminta menyerahkan semua uang hasil penjualan. Setelah selesai, barulah mengincar para pembeli. Pakaian mereka digeledah, memburu barang berharga seperti handphone, perhiasan, uang, atau sesuatu yang berharga.
Waktu giliran Ariel. Si perampok memintanya meregangkan tangan, mulai menjamah tubuh. Dia bahkan kepikiran untuk melakukan hal yang tak senonoh pada Ariel, seenaknya meraba dada. Itu memancing Erick untuk secara reflek mencengkeram tangannya. Seketika si perampok terbanting ke lantai dengan sangat keras.
Perampok itu seketika pingsan.
"Huh, mudah sekali. Yah, tapi tadi itu cuma amatir, modal nekat! Merampok dengan memamerkan wajah, sedang tempat ini penuh dengan CCTV. Aku tak habis pikir." batin Erick yang cuma geleng-geleng kepala.
Erick menenangkan Ariel yang sedikit mengalami trauma, namun tak terlalu parah, dia cuma syok sebentar. Sedangkan si kasir sudah menelepon polisi, sisanya cuma menunggu. Keadaan di dalam minimarket yang sebelumnya carut marut itu pun kembali seperti semula.
"Terima kasih, Mas." ucap kasir menundukkan kepala lumayan dalam pada Erick.
"Tak perlu. Memang kewajiban menghentikan orang seperti ini!" balas Erick santai. Dia mendadak mengambil pistol dari perampok yang pingsan itu.
Menciptakan kepanikan dengan mengarahkannya ke kasir. Erick tanpa peringatan langsung menarik pelatuknya, seisi orang di sana seketika meringkuk dan menyumbat telinga.
Erick tersenyum puas. "Sudah kuduga. Pelurunya cuma satu, tadi itu cuma menggertak." Erick melupakan sesuatu.
"Oh, maaf. Saya tak bermaksud apa-apa." Erick menarik lagi pistolnya.
Si kasir seketika terduduk lemas, dia meraba dada kirinya. Pasti terasa ingin copot tadi, bagaimana tidak ... kau hendak ditembak. Hidup dan mati.
"Erick, kau membuatku takut. Tapi, kenapa pelurunya tak keluar?" Ariel jadi penasaran.
"Oh, itu karena pelurunya cuma satu."
"Eh? Kenapa bisa? Jika ada seseorang yang tau. Seperti dirimu tadi. Bukannya sangat berisiko." Ariel masih ingin tahu. Tapi, Erick tak ingin menjawabnya.
"Entahlah."
[Misi berhasil diselesaikan]
[Selamat, Master mendapatkan 2500 poin dan keterampilan khusus memasak]
Tak berselang lama, polisi pun datang. Beberapa orang di sana termasuk Erick dijadikan saksi, mereka pun perlu ikut. Erick lantas meminta Ariel untuk membawa belanjaannya ke pulang apartemen miliknya.
Ariel mengangguk mantap, "Kau bisa mengandalkanku."
Sesampainya di kantor polisi ...
Erick untuk ke sekian kalinya berada di kantor polisi, namun bedanya, sekarang statusnya bukan sebagai tersangka. Melainkan saksi yang bakal menjelaskan kronologi kejadiannya.
Lalu, terbongkarlah fakta yang mengejutkan.
"Pria itu linglung, tak mengerti apa-apa, dia terhipnotis." lapor seorang yang bertugas mengintrogasi perampok kepada atasannya.
Erick yang kebetulan berada di ruangan yang sama tak sengaja mendengarnya.
"Bahkan identitas dari tersangka adalah seorang dosen yang tinggal di komplek the Gold Apartement.
"Uhuk ... uhuk ...." Erick tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dia lantas dipandang oleh para polisi.
"Saudara Erick, apa Anda mengenal tersangka? Kalian berada di komplek apartemen yang sama."
Erick menggeleng, "Saya tak mengenalnya. Saya baru pindah ke sana kemarin."
"Oh, begitu."
"Apa-apaan ini? Untuk apa seorang dosen, seseorang yang hidupnya sudah mapan. Merampok sebuah minimarket. Hobi ekstrem yang menguji adrenalin?" batin Erick tak habis pikir. Benarkah? Dihipnotis.
"Pistol yang digunakannya pun adalah pistol asli yang diproduksi sebuah perusahaan senjata. Bukan pistol rakitan." laporan sekali lagi diberikan.
Atasan polisi itu memijat keningnya karena kebingungan. Dia tampak berpikir sebentar.
"Huh, sepertinya sedikit menemukan titik terang. Beberapa bulan yang lalu saat kasus pemerkosaan aktris Anya Falana dengan tersangka Fandi Delana juga begitu——"
"Maksud Anda?" potong Erick. Dia tak bisa menahan diri saat kasusnya mendadak disinggung. Untung polisi itu tak marah dan tak berusaha menutup-nutupinya.
"Kasus pemerkosaan itu sebetulnya ada 5 tersangka menurut penuturan korban, Anya Falana. Tapi, yang tertangkap cuma Fandi Delana. Ke empat lainnya masih buron." atasan polisi itu mengoper pandang ke bawahannya. Meminta mengambil alih penjelasan.
"Pencarian terus dilakukan beberapa hari. Sampai kami dapat menangkap mereka." polisi itu cepat tanggap.
"Serius?" tanya Erick mendesak.
"Tapi, kenapa tak ada berita yang menyebutkan 4 orang itu juga tertangkap? Tak dipublikasikan?" batin Erick.
"Ya. Mereka ditemukan di sebuah jurang tak jauh dari TKP, tiga di antaranya sudah meninggal di tempat. Satu orang lainnya masih selamat, tapi ketika dia diintrogasi ... yah, keadaannya seperti perampok minimarket itu. Tak mengerti apa-apa, dihipnotis."
"Itu jadi semakin serius. Orang yang selamat itu pun tak berselang lama juga tewas."
"Kenapa?" Erick jadi sangat penasaran.
"Bunuh diri."
"Hah?"
"Intinya begini, saudara Erick. Ada seseorang atau kelompok yang memperkerjakan orang dengan cara menghipnotis. Suruh mencuri, merampok, pembunuh bayaran ... kemungkinan itu dilakukan untuk menutupi seluruh campur tangannya. Dia atau mereka adalah tangan yang bertanggungjawab."
"Kelompok mafia?" terka Erick.
"Mungkin saja."
Seorang polisi lagi datang dengan tergesa-gesa, wajahnya nampak sedikit panik.
"Pak, pak ... tersangka tewas. Dia bunuh diri dengan menggigit lidahnya sendiri."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Antara Putra
🍮🍮
2023-06-29
0
Eros Hariyadi
Lanjutkan Thor, tetap semangat 😄💪👍👍👍
2023-04-23
0
Mas Dion
Sidik jarinya nggak nyangkut di pistol? Meski ada saksi
2022-08-23
1