"Tara tunggu"
Langkah kaki gadis yang dipanggil Tara itu berhenti begitu saja, saat namanya disebut oleh orang yang selama ini selalu menghantui pikirannya. Dia benci malam ini kenapa sepertinya takdir sedang mempermainkan dirinya, malam ini kenapa dia bisa bertemu laki-laki brengsek yang dulu pernah membuatnya malu, tapi entah mengapa hati kecilnya itu membisikan sesuatu pada dirinya bahwa dia mencintai laki-laki yang sekarang tengah memegang tangannya dengan erat, laki-laki yang selalu ingin dia hindari, sepertinya benar takdir sedang mempermainkannya.
Tara tidak berbicara sepatah katapun dia menunggu Reza untuk meneruskan ucapannya, Tara juga berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Reza yang begitu erat, Tara engan untuk menoleh ke belakang dimana Reza berdiri tepat di belakangnya itu.
"Tara" ucap Reza lagi terpotong, suaranya hanya sampai di tenggorokan rasanya dia tidak sanggup untuk mengucapkan kata-kata lagi, entahlah dia tidak tahu Tara akan memaafkan perbuatannya atau tidak, yang pasti dia akan menepati janjinya tempo hari, tidak akan menyerah begitu saja sebelum Tara benar-benar memaafkannya. Reza juga berusaha membendung rasa suka pada Tara yang semakin hari semakin mengalir deras dalam dirinya. Entah kenapa rasa itu datang begitu saja, jika dia berusaha membendungnya makan rasa itu akan tambah besar pula.
"Saya mau ke kamar!" Tara berkata dengan nada dinginnya dia juga sekuat tengana sedang menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya dia tidak tau itu apa..
Mendengar suara Tara, Reza buru-buru mengumpulkan kekuatan untuk kembali meminta maaf pada Tara. "Tara gue tau gue salah, gue cuman mau minta maaf sama lu, emang gue laki-laki brengsek ini gak pantas mendapat maaf dari lu. Tapi gue mohon maafin gue Tara gue emang udah salah besar," air mata Reza mengalir begitu saja dari pelupuk matanya, ini untuk kedua kalinya laki-laki itu menangis di depan seorang perempuan kecuali mamanya. Perempuan yang sama yaitu Tara.
"Gue janji Tar, abis lu maafin gue, gue gak akan ganggu kehidupan lu lagi, abis ini gue gak akan menampakan diri lagi dihadapan lu Tara gue janji, asalkan lu mau maafin gue" Reza kembali bersuara, karena Tara tidak kunjung merespon ucapannya.
Deg...
Entah mengapa rasanya mendengar ucapan Reza yang kedua kalinya, hati Tara semakin sakit seperti ditusuk ribuan pisau yang sangat tajam, bukannya menjawab Tara malah berlari meninggalkan Reza begitu saja saat dia berhasil melepaskan tangannya dari genggaman erat Reza. Reza terus memanggil Tara yang berlari meninggalkannya begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
"Dia kenapa? apa gue udah bener-bener gak bisa dapet maaf dari dia lagi?" Laki-laki jangkung itu bertanya pada diri sendiri sambil menatap kepergian Tara yang sedikit demi sedikit ditelan oleh ruang yang ada di villa istimewa itu..
"Oke, besok kali terakhirnya gue meminta maaf padanya, semoga besok dia mau memaafkan gue, dan gue janji tidak akan menampakan wajah lagi di hadapannya setelah dia benar-benar maafin gue" Reza sudah bertekad pada diri sendiri untuk berusaha terus mendapatkan maaf dari Tara.
Sedangkan gadis tadi yang berlari semakin menjauh sudah berada di dalam kamar villanya dan sahabatnya, sampai di dalam Tara segera mengunci pintu kamar mereka, Tara merasa dirinya sudah tidak sanggup melangkah dia duduk bersimpuh sambil bersandar di pintu kamar, air matanya terus saja mengalir dengan sangat deras. Sampai-sampai dia sendiri tidak dapat membendungnya.
"Kenapa? rasanya Tara mau memaafkannya tapi hati kecil Tara tidak memperbolehkannya dan kenapa saat dia bilang tidak akan pernah menemui Tara lagi setelah Tara memaafkannya kenapa hati Tara tambah sakit dan perih?, dan ini kenapa dada Tara sangat sesak, kenapa? kenapa hidup Tara harus bertemu dengan cowok bernama Reza itu kenapa?"
Tara membatin sendiri sambil mengeluarkan isakan kecil, yang ada di dalam hatinya hanya kenapa? dan kenapa?, saat ini rasanya ingin sekali Tara berteriak sekencang mungkin untuk mengurangi sesak yang ada di dadanya tapi apa lah daya saat ini di tengah malam, jika dia benar-benar melakukan hal tersebut maka orang-orang yang sedang berada divilla ini akan menyerbunya begitu saja.
Nia yang sedang tertidur lelap samar-samar mendengar isak tangis seorang, dengan segera dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk melihat siapa yang tengah menangis ditengah malam begini.
"Tara!!" kaget Nia saat kesadarannya sudah seratus persen, dia melihat Tara yang sedang bersandar di balik pintu, dengan keadaan yang sudah tidak karuan lagi. Nia juga mendengar tangsi Tara yang semakin lama hanya meninggalkan segukan saja, dengan segera dia beranjak dari kasur untuk menghampiri sahabatnya yang sudah tidak bisa dikatakan lagi bagaimana bentuknya saat ini.
Nia memeluk Tara begitu saja saat sudah berada di dekat Tara dia bisa merasakan sayatan perih yang Tara alami saat ini, walaupun dia juga tidak tahu jelas kenapa Tara menangis ditengah malam seperti ini yang Nia tebak sepertinya Tara habis dari luar kamar karena posisinya saat ini yang bersandar pada pintu. "Tara lu kenapa?" Nia bertanya dengan sangat khawatir, Tara yang merasakan pelukan Nia dia segera memeluk Nia lebih erat lagi.
"Ayok Tar bangun janggan disini dingin" ucap Nia lagi, karena sahabatnya itu tidak merespon pertanyaannya, Nia paham jika Tara membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Dengan susah payah Nia menuntun Tara ke kasur sekitar delapan menit lebih Nia akhirnya berhasil membawa Tara ke kasur, walaupun dia juga merasa sangat lelah, karena badannya dengan Tara tidak jauh beda. Walaupun badan Tara lebih kecil tetap saja berat.
"Akhirnya sampai juga," Nia merasa lega, padahal jarak pintu dengan kasur tidak terlalu jauh.
"Tidur Tara, besok kalau lu udah lebih baik maka ceritalah" ucap Nia, sambil menyelimuti Tara yang masih setia dengan tangsinya yang tak kunjung reda. Entah jam berapa Tara tertidur dia juga tidak tau. Karena terlalu lelah menangis akhirnya tertidur tanpa merasa apa-apa, begitu juga dengan Nia sejak dia naik ke kasur dan memejamkan matanya dia sudah kembali pergi ke alam mimpi lagi.
🍁
🍁
Pagi hari Tara bangun terlebih dahulu sebelum Nia. Saat ini keadaannya lebih baik daripada semalam. Dia sudah merasa kembali segar setelah mandi, walaupun apa yang terjadi tadi malam masih terbayang jelas di otaknya. Mau semalam apapun Tara tertidur dia akan tetap bangun pagi bahkan lebih pagi, ketika dia mendengar adzan subuh dirinya langsung terjaga begitu saja..
"Nia bangun" Tara menggoyang-goyangkan tubuh Nia agar dia segera bangun pasalnya sekarang sudah jam 7:00 tapi Nia tak kunjung bangun juga. "Nia ayo bangun katanya kita mau liat-liat tempat disini" ucap Tara lagi, sambil terus berusaha membangunkan Nia.
Sepertinya Tara tidak merasa terjadi apa-apa semalam. Tapi sebenarnya dia berusaha menyembunyikan hal itu. Tara tau pasti Nia akan mengintrogasinya, karena hal semalam. Tara juga tidak habis pikir bagaimana bisa dia dan Reza mendatangi tempat berlibur yang sama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Mar Marmaryanti
ado yg baca kok
2022-10-12
0
Bhebz
mampir lagi nih
2022-04-29
0
Fb: Ponn Ponn
semangat terus kak💖😍
2022-03-30
2