"Kalau gitu saya pamit pulang ya bu" ucap Reza pada ibu Siti setelah kepergian Tara.
"Iya nak Reza, terimakasih banyak udah nganterin Tara, maaf kalau ngerepotin" ucap ibu Siti tidak enak hati.
"Gak kok bu saya seneng malah bisa membantu sesama, kalau gitu saya pamit bu, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah keluar dari rumah Tara Reza segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah Tara dengan sempurna.
"Kayaknya Irfan suka deh sama Tara" ucap Reza pada diri sendiri saat sudah mulai mengemudikan mobilnya dengan pelan.
Saat mobil Reza melewati sebuah surau yang terletak ditengah-tengah desa itu dia memberhentikan laju mobilnya.
"Apa Tara ngajar ngaji disitu ya?"
Saat Reza sedang menimang-nimang untuk turun atau tidak tiba-tiba seseorang mengetuk kaca mobilnya.
Tok..
"Kenapa?" tanya Reza saat dia sudah membuka jendela mobilnya.
"Lu ngapain disini?" tanya Ari orang yang tadi mengetuk jendela mobilnya.
"Lu Ar, nggak ngapa-ngapain kebetulan lewat sini aja" bohongnya.
"Lah, terus lu ngapain berhenti di tengah-tengah jalan gini?" tanya Ari lagi.
"Lu kenapa sih Ar, kok jadi kayak perempuan kepo?" kesel Reza.
"Lu yang kenapa liat noh belakang mobil lu" ucap Ari, sambil menunjuk arah belakang. Saat Reza menengok ke arah belakang mobilnya disitu sudah ada sekitar lima motor yang antri.
"Astagfirullah" ucap Reza lalu dia segera menepikan mobilnya, saat Reza sudah selesai menepikan mobil dia segera keluar dari dalam mobilnya untuk meminta maaf, karena telah menghambat jalan.
"Bapak-bapak maaf saya gak sengaja" ucapnya tidak enak hati.
"Iya, tapi lain kali jangan kayak gitu lagi" ucap seorang pengendara motor, lalu dia meneruskan perjalanannya yang tertunda yang disebabkan oleh mobil yang Reza kendarai.
Sedangkan di dekat mobil Ari sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ngapain lu ketawa? sampe kayak gitu?" tanya Reza saat dia sudah mendekat kearah Ari.
"Lagian lu di dalam mobil ngelamunin apa sih sampek-sampek menghambat jalan?" tanya Ari sambil dia mengurangi tawanya.
"Bener juga, tadi gue di dalam mobil mikirin Tara sampe lupa tempat," ucapnya tapi tidak sampai di bibirnya, jika Reza katakan pada Ari yang sebenarnya pasti Ari akan lebih menertawakannya lagi.
"Ooh iya Ar, terus lu ngapain disini?"
"Lah, gue kalau mau kemana-mana biasanya emang lewat sini"
"Kok gue gak tau kalau rumah lu juga bisa lewat sini?"
"Iya, kan lu lewat jalan depan terus kalau main ke rumah gue, ini jalan pintasnya" jelas Ari.
Saat Ari sedang berbincang-bincang dengan Reza dari pintu surau seorang gadis yang mengenakan hijab dengan anggun keluar setelah selesai mengajar anak-anak. Dan kebetulan sekali Ari berdiri menghadap ke arah situ sedangkan Reza membelakanginya jadi Ari bisa melihat penampilan Tara.
"Siapa tu, cantik bener pake hijab?" ucapnya setelah melihat Tara dia tidak bisa mengenali Tara, karena Tara sedikit berbeda saat mengenakan hijab.
"Kak Tara," panggil Aldo, anak laki-laki yang sering mengerjai Tara waktu dulu penampilan Tara masih cupu. Mendengar nama Tara disebut Reza segera membalikan badannya jadi saat ini posisinya dengan Ari sama..
"Adem banget liatnya" batin Reza.
"Tara!" ucap Ari tidak percaya.
"Wih, ternyata disini ada bidadari secantik itu" puji Ari.
Sedangkan di depan surau Tara sedang berbincang-bincang dengan Aldo sekali-kali keduanya tertawa bersama.
"Kak Tara," panggil teman Aldo.
"Iya kenapa?" Tara menjawab, sambil menampilkan senyumnya pada anak-anak itu hal itu tidak luput dari mata kedua laki-laki yang sedari tadi melihat Tara dengan para anak-anak itu dari kejauhan.
"Kak, besok malam kita main ke rumah kakak ya" pinta Aldo dan beberapa anak lainnya.
"Oke All"
"Sejak kapan si Tara ngajar ngaji anak-anak?" tanya Ari entah pada siapa.
"Sejak dulu kayaknya" jawab Reza.
Mendengar jawaban Reza, Ari langsung menoleh ke arah Reza yang tadi menjawab pertanyaannya dia menatap Reza dengan penuh selidik.
"Apa?" tanya Reza merasakan tatapan aneh dari Ari.
"Kok lu tau?"
"Ya kan gue nebak aja"
"Berarti selama ini adek gue dibimbing Tara dong ngajinya?, tapi bukannya mang Damar ya yang ngajar ngaji di desa ini?"
"Ya mana gue tau"
Saat Tara hendak pergi dari depan surau, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah lumayan dewasa keluar dari pintu sebelah kanan surau.
"Neng Tara belum pulang?" tanya mang Damar ramah.
"Belum mang ini barus mau" jawab Tara tak kalah ramah.
"Siapa dia? kenapa kelihatannya deket baget sama Tara" batin Reza tidak terima, entah mengapa Reza selalu tidak suka jika melihat Tara ngobrol dengan laki-laki lain, bahkan melihat Tara ngobrol dengan Irfan sepupunya saja Reza tidak suka.
Sedangkan Ari yang berada di sebelah Reza melihat perubahan mukanya yang tadinya senyum-senyum sendiri saat melihat Tara, tapi saat mang Damar keluar mukanya berubah jadi memerah seperti ingin marah.
"Itu mang Damar dia udah punya istri tenang aja" sindir Ari, mengerti apa yang sedang terjadi pada Reza. Mendengar apa yang dilontarkan Ari barusan dari mulutnya Reza bernafas lega..
"Nah kan, dia bener-bener suka sama Tara, padahal dulu waktu Tara masih cupu ni anak mempermalukannya di depan banyak orang, tapi bukannya Reza dari dulu suka sama anak gadis yang pernah dia tolong dulu ya? waktu gue sama temen gue mau bully anak gadis itu, bahkan Reza sering cerita sama gue kalau sering mimpiin gadis itu lagi.
Tapi entahlah hati manusia tidak ada yang tau apa lagi sekarang dia gak tau dimana keberadaan gadis itu" batin Ari sambil geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah sahabatnya ini.
"Re" ucap Ari sambil memegang bahu Reza.
"Apa?"
"Lu udah minta maaf sama Tara? atas kelakuan lu dulu, jangan harap dia mau membalas cinta lu kalo lu aja gak pernah minta maaf sama dia"
Mendengar ucapan Ari barusan muka Reza berubah jadi sedih. "Gue udah berusaha minta maaf sama dia Ar, tapi dia belum maafin gue mungkin kesalahan gue sama dia udah fatal banget. Gue suka sama dia, walaupun dia nggak suka sama gue juga gak papa, udah di maafin aja sama dia gue seneng banget Ar" jawab Reza sedih.
"Yang sabar Re, pasti dia bakal maafin lu," ucap Ari memberi semangat pada sahabatnya itu. Karena terlalu asik curhat mereka berdua sampai tidak sadar jika Tara, mang Damar dan anak-anak lainnya sudah tidak ada lagi di depan surau.
🍁
🍁
Di sebuah balkon rumah mewah seorang laki-laki sedang menikmati keindahan kota dari balkon kamarnya dia menikmati suasana sore sambil minum jus yang sudah tersedia di atas meja.
"Kenapa gue gak bisa lupain wajahnya setiap kali gue nutup mata gue yang ada cuman wajah cantik Tara, dan kenapa namanya selalu muncul di dalam kepala gue" ucap Irfan.
Dia tersenyum sambil memainkan gelas jus yang sudah iya pegang dan menikmati suasana sore di kota dari balkon kamarnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kucing Hitam
Reza, Reza
2022-04-12
0