Setelah keluar dari ruang kepala sekolah. Di dalam kepala Tara hanya memikirkan sebuah cara bagaimana agar ibunya tidak mengetahui pembullyan yang pernah ia rasakan.
"Nia aku ada urusan sebentar kamu duluan aja ya," ucap Tara saat mereka sudah setengah perjalanan menuju kelas masing-masing.
"Lu mau kemana emang?"
"Aku ada perlu sama kepala sekolah, tadi pas kita disana aku lupa ngomongnya"
"Ya udah kalau gitu gue duluan ya" ucap Nia tanpa banyak tanya lagi pada Tara.
Setelah kepergian Nia dengan segera Tara kembali menuju ruang kepala sekolah.
Tok...
Tok...
Mendengar ada suara ketukan dari pintu ruangannya pak Galih langsung menyuruh orang yang mengetuk pintu tersebut untuk masuk.
"Permisi Pak," sapa Tara, setelah diperbolehkan untuk masuk.
"Tara kamu ada perlu apa balik lagi kesini?" tanya pak Galih penasaran.
"Maaf pak saya cuman mau bilang, tolong besok kalau Ibu saya datang jangan kasih tau dia apa yang pernah saya alami di sekolah ini saya mohon Pak," pinta Tara dengan sangat.
Saat ini dia tidak peduli dengan apa yang pernah dia rasakan, Tara hanya ingin agar ibunya tidak mengetahui apa yang telah menimpanya selama ini, Tara sangat tau bagaimana sifat ibunya terhadap dirinya.
Jika ibunya tau selama ini Tara sekolah tidak pernah bahagia maka ibunya itu akan menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak bisa menjaga putri satu-satunya yang iya miliki.
"In Sya Allah Tara, bapak tidak bisa menjamin karena besok videonya akan saya putar untuk pembuktian"
"Pak saya mohon, saya udah memaafkan Dian dan juga Sri, jadi video itu tidak perlu diputar" ucap Tara dia masih bersikeras untuk ini semua.
Tara tidak peduli pak Galih akan menilainya seperti apa, karena benar-benar yang iya pikirkan saat ini hanyalah ibunya.
"Kita lihat saja besok saya akan berusaha," ucap pak Galih sebenarnya dia tidak tega melihat murid berprestasinya jadi begitu.
"Baik pak, saya permisi terima kasih banyak"
Saat Tara keluar dari ruang kepala sekolah ada sepasang mata yang menatapnya dari kejauhan dengan penuh penyesalan.
"Apa dulu gue kasar dan keterlaluan banget ya sama dia?" bicara pada diri sendiri, tapi dia tidak melihat sudah ada orang yang berdiri sempurna di sebelahnya.
"Lu sadar bro?"
"Ari! sejak kapan lu berdiri disini?"
"Sejak lu ngomong sendiri, salah sedari tadi gue jadi pendengar setia lu" ralat Ari..
"Lu nguping?" tuduh Reza.
"Beda ya, kalau nguping itu lu secara diam-diam mendengarkan perbincangan dua orang atau lebih dengan sengaja. Contohnya kayak lu barusan yang nguping pembicaraan Tara dengan kepala sekolah. Sedangkan gue.... secara tidak sengaja berdiri di sebelah lu yang sedang ngoceh sendiri. Jadi dengan baik hati gue mau menjadi pendengar setia lu," jelas Ari panjang lebar.
"Serah lu dah"
Reza meninggalkan Ari begitu saja dari tepat tersebut, Ari hanya ingin mengubah pikiran sahabatnya itu yang entah kenapa semenjak menginjak kelas 12 menjadi sangat dangkal. Mungkin karena sudah banyak beban yang iya pikul.
"Gue cuman mau ngingetin lu, lu harus minta maaf sama Tara," mendengar ucapan Ari barusan, Reza tidak lagi bergerak dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat sulit.
"Ya, gue akui memang gue udah salah besar sama Tara. Tapi gue gak tau cara minta maaf sama dia, sedangkan dia aja gak mau liat gue bahkan ngomong sama gue aja dia gak mau" Reza sedang merenungkan apa yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya itu.
"Sepertinya kita harus mencari osis baru" ucap Ari lagi yang ternyata masih berdiri ditempat yang sama.
"Lu tengan aja gue bakal urus semuanya," Ari sangat mengerti jika Reza sedang tidak baik-baik saja.
🌾
🌾
Keesokan harinya Reza benar-benar mengantarkan surat untuk orang tua Tara, Nia, Dian juga Sri atas perintah dari pak Galih sendiri. Sebenarnya dia ingin menolak tapi tidak enak pada pak Galih. Tapi Reza juga bersyukur karena dia bisa singgah di rumah Tara.
"Assalamualaikum, Ibu" sapa Reza ramah pada ibu Siti. Di rumah Tara surat yang terakhir akan iya berikan.
"Waalaikumsalam, ee ada nak Reza ada keperluan apa kesini?" Ibu Siti bertanya penasaran, selama ini tidak ada satu pun teman Tara cowok pernah bertamu ke rumahnya.
"Iya ibu saya ada perlu sama Ibu"
"Ya udah kalau gitu ayok kita masuk dulu," ajak ibu Siti, sambil mempersihlakan Reza masuk ke dalam rumahnya.
"Sebentar ya ibu ambilkan minum dulu, maaf kalau rumahnya kurang nyaman," ucap Ibu Siti tidak enak, dia yakin pasti Reza anak orang kaya dari penampilannya saja sudah bisa terlihat.
Saat Ibu Siti sedang membuat minum di dapur. Karena merasa bosan Reza melihat-lihat sisi rumah yang ditempati Tara dan ibunya.
"Walaupun rumah ini kecil tapi kenapa gue ngerasa nyaman banget ya? sejuk aja gitu suasana rumahnya enak adem tentram" gumun Reza..
Barus saja Reza akan kembali melangkan untuk melihat sebuah foto anak kecil yang tergantung sempurna di dinding rumah itu, tapi iya urungkan karena suara seseorang.
"Assalamualaikum, Ibu Tara pulang" ucap Tara, sambil masuk ke dalam rumahnya. Dia barus saja pulang dari surau untuk mengajar ngaji anak-anak.
"MALING!!" teriak Tara, saat melihat Reza berdiri sempurna di depannya.
"Ngapain kesini mau maling ya?" tuduh Tara, sedangkan Reza tidak merespon ucapan Tara, karena terpaku saat melihat kecantikan Tara yang menggunakan hijab, jauh lebih cantik dua kali lipat dari biasanya.
"Cantik" gumunnya.
"Tara kamu udah puang?" sapa ibu Siti setelah kembali dari dapur.
"Nak Reza ini minumnya"
"Ibu ngapain kasih maling minum?" ucap Tara.
Dia tidak peduli apa dia salah atau benar sudah menuduh Reza sebagai maling.
"Tara kamu apa-apaan sih"
"Iya bener kan dia kesini mau maling?" ucap Tara tanpa mau mendengar apa-apa.
"Udah sama masuk orang ada tamu malah dikira maling " saat Ibunya menyuruh Tara masuk ke dalam kamar, Tara tidak membantah karena merasa lelah.
Sedangkan Reza yang melihat Tara begitu menggemaskan entah mengapa seperti menyaksikan sebuah pertunjukan yang sangat indah menurutnya.
"Huhh, kak Reza ngapain sih kesini mau cari muka pasti dia gak penting banget coba orang aneh gue kesel sama kakak reza" Tara mengoceh sendiri di dalam kamarnya.
"Ibu tadi Tara habis dari mana? kok pake hijab?" Reza tidak bisa membendung rasa penasarannya..
"Itu tadi abis ngajar Ngaji di surau depan" jelas Ibu Siti.
"Sebegitu istimewanya orang yang pernah gue sakitin, orang yang pernah direndahkan oleh banyak orang. Tapi dia tidak pernah mengeluh tetap ceria dan bahagia di depan ibunya bahkan di depan semua orang" batin Reza.
"Iya, nak Reza ada keperluan apa sebenarnya datang kesini?"
"Astagfirullah, maaf bu Reza sampai lupa" ucapnya sopan. Reza memberikan surat panggilan orang tua pada ibu Siti yang diperintahkan oleh pak Galih.
"Kenapa habis ngeliat Tara gue jadi lupa tujuan awal gue kesini apa sih sial," hanya bisa bicara di dalam hatinya saja tidak bisa iya ucapkan..
"Ya udah kalau gitu saya pamit ibu, assalamualaikum"
Reza berpamitan setelah menyelesaikan urusannya dengan ibu Siti, saat ini Reza berharap Tara keluar dari kamarnya tapi itu semua hanya harapan Reza yang tidak akan terpenuhi.
"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan ya nak Reza"
"Iya bu makasih banyak untuk hari ini"
Setelah kepergian Reza, karena merasa lapar Tara segera keluar dari kamarnya menuju dapur untuk makan.
"Tara kenapa ibu dapat surat panggilan?" tanya ibu Siti pada putrinya dengan sangat penasaran.
"Maaf Ibu, Tara gak bisa jelasin sekarang besok juga ibu tau"
Tara berbicara dengan tidak jelas mulutnya masih dipenuhi makanan yang barus saja dia makan. Tapi ibu Siti masih bisa mendengar jelas apa yang putrinya katakan.
"Kamu buat masalah di sekolah Tar?"
"Gak ibu, Tara bisa jamin"
Selama bertahun-tahun Tara sekolah ibunya tidak pernah mendapatkan surat panggilan orang tua. Tapi hari ini membuat ibu Siti penasaran kenapa sampai kepala sekolah memberinya surat panggilan atas nama Tara putrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Bhebz
semangat kak
2022-04-18
1
Lina Jayanti
mampir nih thor, seru ceritanyaaa🐣🐣🐣
2022-04-08
1
selviyaenjelista
lanjut semangat nulisnya
2022-03-21
2