Setelah kejadian yang menimpa Tara satu minggu lalu, sepertinya berita itu belum juga usai sampai saat ini Tara masih mendapatkan olokan-olokan dari para murid, beruntung Tara bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menggubris orang-orang itu dan juga Nia selalu ada bersamanya.
Ari dan Reza sedang duduk bersama di kantin yang sangat ramai orang. "Re ikut gue, gue mau ngomong sama lu," Ari berkata dengan wajah serius...
"Lu mau ngomong, ngomong aja kali, kagak usah serius baget gitu," jawab Reza santai.
"Iya emang, gue mau ngomong serius sama lu Reza," Ari menarik tangan Reza agar Reza mau ikut dengannya.
Sesampainya di atap sekolah Ari barus melepaskan tangan Reza yang sedari tadi dia pegang.
"Lu mau ngomong apa sih Ar? sampai harus ke atap sekolah, janggan-janggan lu mau lompat?" tuding Reza.
"Ini bukan masalah gue Re! tapi masalah lu," Ari menunjuk Reza dengan jari telunjuk miliknya.
"Lu kenapa sih? kagak biasanya begini" bingung Reza.
"Re dengerin gue, gue mau ngomong serius soal Tara," ucap Ari dengan nada sedikit tegas.
"Ada apa lagi sama cewe cupu itu?"
"Re lu kenapa sih? sekarang jadi kayak gini? kemana Reza yang dulu gue kenal? kemana Reza yang selalu nolongin orang yang lemah? Kemana Re? Kemana!!. kenapa sekarang hanya ada sosok Reza yang kejam dan tega menindas orang yang lemah. Lu kagak tau kan Re, ulah lo yang memaki Tara saat di halte sampai sekarang dia masih mendapat bullyan dari teman-temannya, bukan gue mau bela si cewek cupu itu. Tapi gue hanya mau temen gue Reza sang penolong orang yang lemah itu kembali!! bukan Reza yang seperti ini yang gue mau Re!! pahamkan lu Re?"
Ari bicara dengan panjang lebar rasanya sudah dari kemarin dia ingin mengeluarkan semua unek-uneknya pada Reza, tapi barus hari ini bisa Ari tumpahkan semuanya.
"Masalah cewek cupu itu gue kagak tau, dan bukan gue yang mau nyebarin berita tentang dia gue kagak tau menau," ucap Reza.
"Dan gue juga nggak tau Ar, kenapa setiap ketemu cewek cupu itu kemarahan gue bisa meledak-ledak, gue sendiri gak bisa membendung ini semua"
Saat ini mata kedua orang itu sudah berubah memerah.
"Maafin gue, Re"
"Maafin gue, Ar"
Keduanya berkata kompak setelah itu tiba-tiba saja suara pukulan keras terdengar di kuping mereka masing-masing.
Brak..
Duuk..
Brak...
Suara itu adalah suara dari Reza dan Ari yang sedang berkelahi, entah setan apa yang merasuki kedua teman dekat itu yang saat ini sedang memukul perut maupun wajah satu sama lain.
"Udah Re, gue udah capek"
Akhirnya mereka berdua menyudahi perkelahian yang keduanya ciptakan sendiri.
"Gue harap lu bisa kembali seperti Reza yang dulu saat kita berdua bertemu, di mana saat itu lu penolong gadis yang waktu itu hampir gue dan kedua temen gue bully"
Ari orang yang tau bagaimana kehidupan Reza yang sebenarnya.
"Gue harap suatu saat lu sadar atas apa yang sudah pernah lu lakuin dan sekali lagi gue tekanin hal ini bukan karena gue membela cewek cupu itu tapi gue hanya ingin temen gue kembali"
Setelah selesai bicara Ari pergi meninggalkan Reza begitu saja, yang sudah babak belur begitu juga dengan dirinya. Reza tengan mengingat-ingat masa kecilnya dulu dimana pertama kalinya dia dan Ari bertemu.
"Dimana anak perempuan itu sekarang?" gumun Reza.
.
.
.
Sepulang sekolah Tara tidak langsung menuju rumahnya, melainkan dia pergi ke suatu tempat yang menurutnya bisa untuk menenangkan pikiran dan hatinya , di mana lagi kalau bukan di sungai yang berada di desa kecil itu.
"Ya Allah, maaf Tara harus mengeluh, Tara udah gak kuat," ucapnya dalam hati.
"Tara pengen berhenti sekolah aja, tapi kalau berhenti pasti Ibu khawatir sama Tara, tapi Tara bersyukur Allah masih memberi Tara orang baik seperti ibu dan Nia" Tara sedari tadi bergumun sendiri.
Tara teringat dengan perkataan ayahnya sewaktu dia masih berumur 10 tahun.
"Tara anakku, jika kamu tidak bisa lagi membendung kesedihan yang kamu miliki maka pergilah ketempat yang sepi, tapi menyenangkan dan saat kamu sudah berada di tempat itu maka berteriaklah sekencang-kencangnya, siapa tau dengan itu beban kamu bisa sedikit berkurang nak"
Begitulah yang ayah Tara ucapkan pada Tara anaknya sewaktu dia masih kecil. Masih teringat jelas di dalam pikiran Tara sampai saat ini.
"AARRGGHH!!" Tara berteriak sekencang-kencangnya setelah mengingat kata-kata ayahnya yang dulu pernah ayahnya katakan.
"Kenapa? dada Tara sesek banget? saat mengingat semua yang menimpa Tara, hikss," Tara berkata sambil memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.
"Kenapa? kenapa hidup Tara seperti ini! bahkan kak Reza sama kak Ari berantem gara-gara Tara, bukan gara-gara Tara lebih tepatnya karena kemunculan Tara kenapa?" Tara masih berteriak sekencang yang dia bisa beruntung sungai itu masih belum ada orang yang berdatangan untuk beraktivitas sore.
Reza dan Ari tidak menyadari jika Tara mendengar semua apa yang mereka berdua bicarakan saat di atas atap sekolah tadi, bukan Tara ingin mengupin pembicaraan Reza dan Ari kebetulan saat di sekolah tadi Tara ingin menenangkan diri di atap sekolah, karena tempatnya yang luas dan tidak mudah dijangkau. Tapi saat sudah sampai disana Tara urungkan, karena mendengar suara yang begitu dia kenal sedang berbicara dengan nada kencang dan marah, saat Tara hendak pergi dari tempat itu entah kenapa kakinya seperti tidak ingin bergerak melangkah sampai perkelahian Ari dan Reza terjadi baruslah Tara bisa pergi dari tempat itu..
"Udah soren harus cepat pulang, kalau enggak pasti Ibu bisa khawatir" ucap Tara sambil menyeka air matanya.
Dia mencuci mukanya agar terlihat lebih segar dari sebelumnya. Tara sudah biasa mencuci mukanya setiap pulang sekolah karena sehabis menangis itu semua dia lakukan agar ibunya tidak tahu apa-apa sampai saat ini ibu Siti hanya tau jika putrinya baik-baik saja.
.
.
Bukan berarti Tara diam saja atas perlakuan semua orang terhadapnya, dia tidak bersedih atau tidak menangis. Sudah dipastikan semua hal tersebut akan Tara lakukan tapi tidak di depan orang lain, hal seperti itu akan Tara lakukan pada diri sendiri tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan Tara tidak pernah mengeluh di depan ibunya atau pun Nia sahabatnya semua Tara pendam sendiri.
Pernah dulu sewaktu smp Tara hendak mencelakai dirinya sendiri tapi beruntung akal sehatnya masih bekerja, karena mengingat perjuangan ibunya yang membesarkannya dengan susah payah, jadi Tara tidak mencelakai dirinya sendiri. Jika seseorang sudah pernah merasakan bullying sudah dipastikan mental dan jiwanya pasti akan terguncang tapi Tara masih beruntung karena ada dorongan untuk dirinya tetap kuat apalagi saat ini Nia selalu memotivasinya.
"Assalamualaikum, Ibu Tara pulang" ucapnya, sambil menunjukan wajah bahagia untuk menutupi semuanya.. ya begitulah Tara dia akan pura-pura bahagia padahal kebalikan dari kata bahagia yang iya dapat.
"Waalaikumsalam, putri ibu sudah pulang? gimana sekolahnya hari ini?" sambil menyodorkan tangannya pada Tara.
"Sangat seru Ibu," Tara menjawab sambil mencium punggung tangan ibunya.
🌼
🌼
jangan lupa like, komen vote juga gift kalau bisa gak maksa kok see you.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kucing Hitam
Teriak Tar biar lu lega
2022-04-12
0
Anak orang
Sabar Tara
2022-04-04
0
Anak orang
Si Reza sama Ari baku hantam
2022-04-04
2