"Perhatikan barang-barang kalian semua jangan sampai ada yang tertinggal, kita akan beristirahat dulu di penginapan yang sudah disediakan oleh pihak penyelenggara," ucap pak Galih tegas.
"Baik pak," mereka semua menjawab dengan serentak.
Sekarang mereka sudah memasuki arena penginapan yang dekat dengan tempat perlombaan, bisa dilihat di tempat itu banyak sekali orang-orang yang seusia Tara dan yang lainnya sepertinya mereka juga kandidat lomba dari sekolah yang berbeda-beda.
"Semuanya baris disini dulu," ucap Reza, sekarang dia yang akan memandu semua peserta dari sekolahnya, sedangkan para guru yang ikut sudah pergi beristirahat.
Mendengar ucapan Reza mereka semua segera berbaris rapi. "Ada apa kak?" tanya Nia.
"Emang kalian semua tau dimana tempat istirahat kalian?" tanya Reza pada mereka semua, karena mereka memang tidak tau hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda mereka memang tidak tahu.
"Jadi disini gue mau bagi kamar untuk kita semua"
"Baik kak"
"Kita semua ada 18 orang dan hanya ada 4 kamar jadi setiap kamar isinya ada yang 5 orang ada yang 4 orang paham?"
"Paham kak"
"Kak saya mau tanya?" ucap Mila, dia salah satu peserta lomba yang direkrut secara langsung untuk cadangan.
"Ya silahkan," ucap Reza mempersilahkan.
"Kita beneran 1 kamar 5 orang atau 5 orang emang tempatnya muat? terus juga disini kan 18 orang yang 10 cowok dan yang 8"
"Tempatnya lumayan besar kok, udah ayok istirahat ikut gue, di mana kamar kita masing-masing, kita kamarnya sebelah-sebelah" ucap Reza, sambil terus melangkah agar segera sampai di tempat istirahat.
Sebelumnya Reza sudah membagi siapa-siapanya yang akan satu kamar. Kamar yang Reza tempati kebetulan sekali berhadap-hadapan dengan kamar yang Tara tempati.
"Argg! akhirnya gue ketemu kasur juga capek banget dah di bus, kalau gitu tadi gue minta anter aja," ucap Nia yang kebetulan dia satu kamar dengan Tara. Sedangkan Tara hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
"Tara, Nia," panggil Dea. kebetulan juga mereka satu kamar, tapi dia barus menyusul setelah dipanggil oleh kepala sekolah.
"Iya kak, ada apa?" jawab Tara.
"Kalian berdua dipanggil pak Galih," ucap Dea, sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
"Yahh barus aja mau istirahat udah dipanggil aja" lemes Nia, di kepalan Nia muncul sebuah ide agar dia tidak harus pergi menemui pak Galih.
"Tara," Nia memanggil nama Tara dengan sangat lembut, Tara yakin pasti Nia kalau sudah seperti itu dia ada maunya.
"Iya," ucap Tara yang sudah paham maksud dari isyarat Nia barusan.
"Kalau gitu aku pergi dulu ya," pamit Tara pada semua orang yang ada di dalam kamar tersebut.
"Loh, kok kamu gak ikut?"
"Heheh, maaf kak Dea abisnya capek, tenang aja Tara pasti izinin gue" ucap Nia tanpa dosa.
Sedangkan saat Tara keluar dari pintu kamar mereka, kebetulan sekali Tara dan Reza keluar kamar secara bersamaan, karena posisi kamar yang saling berhadapan dengan tidak di sengaja, Tara dan Reza bertukar pandangan sebentar saat menyadari kalau orang yang di depannya Reza segera Tara pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Gue kenapa sih kok deg, degan gini? tapi Tara emang beda baget sekarang" gumun Reza.
"Lu mikir apa sih Re?" ucapnya pada diri sendiri.
Tara sudah sampai di depan kepala sekolah disitu juga sudah ada Aji, Abi dan mibar atau dia sering dipanggil Rif oleh kawan-kawannya.
"Misi Pak, Bapak memanggil saya?" sapa Tara sopan pada kepala sekolahnya itu.
"Iya bener tapi dimana Nia?" tanya pak Galih pada Tara.
"Aun, Anu pak dia sakit perut" ucap Tara gugup, ulah Nia Tara terpaksa berbohong pada pak Galih.
"Awas ya Nia kamu berdosa saya, maafin saya pak Galih terpaksa boong," batin Tara.
"Ya udah gak papa, saya mau ngomongin masalah lomba sama kalian tapi masih nunggu satu orang lagi kalian tidak keberatan kan?"
"Tidak pak" jawab mereka kompak.
Reza yang baru saja tiba segera duduk di sebelah Tara, karena hanya kuris di sebelah Tara saja yang kosong.
"Kak Reza?" Batin Tara.
Pak Galih memulai pembicaraannya kepada enam orang yang sudah duduk di depannya. Mereka semua mendengarkan dengan saksama apa yang disampaikan oleh pak Galih perihal lomba. Sedangkan Reza dia yang akan memandu mereka semua nantinya.
"Berarti lomba sudah dimulai besok pak?" Tara bertanya.
"Iya bener, kalian semua paham kan apa yang saya jelasin barusan"
"Paham pak"
"Oke kalau gitu semangat, dan buat kamu Tara harus fokus pada apa yang saya sampaikan tadi"
"Baik pak" jawab Tara.
Setelah selesai mereka semua diperintahkan pak Galih untuk kembali ke kamar masing-masing agar bisa beristirahat untuk besok.
🍂
🍂
🍂
Pagi hari telah tiba suasana di tempat itu sudah mulai riuh, kursi-kuris sudah tersusun rapi untuk para peserta dan juga penonton. Bagian penonton di kursi paling belakang untuk peserta di kursi tengah sedangkan untuk para panitia di kuris depan yang berhadap-hadapan dengan kursi penonton dan peserta.
"Baik apa kalian semua para peserta sudah siap?" ucap seorang laki-laki paruh baya yang seumuran dengan pak Galih, ketika acara sudah akan dimulai.
"Siap pak" jawab semua peserta. Ada sekitar tiga puluh empat sekolah yang ikut berpartisipasi di lomba tersebut salah satunya SMA Tunas Bangsa.
Lomba berlangsung dengan sangat menegangkan dari 34 sekolah saat ini sekolah SMA Tunas Bangsa dan SMA Pelita yang memimpin nilai tertinggi. Ada lima pertanyaan lagi yang akan menentukan sekolah mana yang akan menjadi juara kota.
"Itu cewe siapa? udah cantik pinter baget lagi"
"Iya bener, itu kayaknya anak sekolah sebelah deh"
"Gilaa cantik sama pinternya gak tertolong"
Bisik-bisik para penonton yang ada di kursi belakang peserta.
"Sahabat gue emang jagonya pokoknya lah," batin Nia.
Akhirnya lomba selesai dengan pemenang sekolah SMA Tunas Bangsa juara pertama SMA Pelita juara dua dan juara tiga SMA Bakti.
"Tolong beri apresiasi untuk semua peserta lomba khususnya untuk para juara kita" ucap seorang yang sedari tadi memandu acara semua orang memberikan tepuk tangan dengan meriah.
"Untuk yang juara bersyukurlah, dan untuk yang belum juara jangan berkecil hati kalian tetaplah sang juara dari sekolah kalian masing-masing, kalian sudah berada diantara peserta lainnya sudah termasuk juara, dan ingat satu hal menang dan kalah itu soal biasa. Bukan soal menang dan juga kalah tapi soal sampai mana kita kuat untuk tetap berusaha," Laki-laki paruh baya itu memberikan motivasi untuk mereka semua.
"Kata-katanya memotivasi banget Nia" bisik Tara pada Nia.
"Iya bener"
Selesai memberikan penghargaan pada para juara mereka semua saling berjabat tangan dan memberikan pujian masing-masing. Banyak sekali dari orang-orang yang disana memuji kecantikan dan kepintaran Tara tapi Tara hanya merespon dengan ucapan terimakasih. Tara tidak menanggapi pujian-pujian yang mereka berikan padanya terlalu berlebihan atau membanggakan diri sendiri. Begitu juga dengan Nia serta yang lainnya mendapatkan pujian yang sama.
"Kenapa gue gak terima kalau Tara dipuji banyak para cowok-cowok itu, ada apa sama gue sebenernya?" batin Reza, yang juga ada di dalam gerombolan orang-orang itu.
Kemenagan ini merupakan sejarah baru untuk sekolah SMA Tunas Bagsa, setelah sekian lama hanya menjadi juara 2, 3 bahkan pernah menjadi juara empat dalam lomba kota. Karena lomba ini diselenggarakan setiap tahun sekali di kota mereka.
🍁🍁🍁
Jangan bosen-bosen baca karya author oke boleh minta Like, komen vote favorit sama giftnya juga gak? gak maksa kok Like sama komen juga gak papa heheh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Bhebz
Gadis Pemimpi mampir nih kak othor
2022-04-08
1
Anak orang
lu mulai suka sama Tata
2022-04-04
0
Mayya_zha
semangat.. singgah balik ya
2022-03-19
3