Rencana Licik

"Argh! kenapa itu si cupu harus menang lomba sih? dasar sok pinter, liat aja gue bakal gagalin dia untuk berangkat ke kota jadi kandidat inti, hahaha,"  ucap Dian, yang sedang berada di dalam toilet siswi bersama Sri.

"Gue juga heran sama tu cewe cupu, kenapa coba selalu tebar pesona? sok pinter lah, sok cantik lah, kalau cupu ya cupu aja gak usah di centil-centilin"

Bukannya menenangkan Dian yang sedang emosi, Sri malah tambah mengompor-ngomori Dian.

"Yang lu bilang bener banget Sri, kita harus kasih si cewek cupu itu perhitungan biar dia tau rasa"

"Tapi lu mau buat perhitungan kayak apa sama tu cewe cupu?"

"Tenang aja gue punya rencana yang bagus"

Dian membisikan sesuatu pada Sri setelah Dian selesai memberi tahu Sri, lalu keduanya tertawa dengan nada sinis.

"Kena lu cupu sekarang "  batin Dian.

.

.

Di ruang osis kini keadaan sedang riuh untuk mempersiapkan keberangkatan para kandidat lomba yang akan berangkat dalam satu minggu lagi ke kota.

"Re, gimana udah beres semua belum?" Ari bertanya pada Reza yang sedang sibuk di depan laptopnya.

Menjadi ketua osis di SMA Tunas Bangsa tidaklah mudah untuk Reza, apalagi saat ini dia sudah kelas 12. Sudah waktunya untuk mencari pengganti, tapi karena masih banyak kesibukan yang belum diurus jadi mereka belum sempat memikirkan hal tersebut.

Reza mengalihkan pandangannya dari laptop menjadi menghadap Ari. "udah beres semua Ar kita tinggal pilih beberapa anggota osis untuk ikut mengawasi kandidat"

"Oke kalau gitu, Iya ngomong-ngomong si Tara pinter juga ya bisa ngalahin 99 peserta," ucap Ari sambil dia mengingat bagaimana acara di aula tadi berlangsung.

"Maksud lu Tara? si cewe cupu itu?" Ari hanya mengangguk saja untuk merespon pertanyaan Reza barusa.

"Kalau gitu gue tinggal dulu, tar gue aja yang atur siapa dari anggota osis yang bakal ikut tapi pasti lu udah tentu ikut," saat Reza akan kembali angkat bicara ternyata Ari sudah keluar terlebih dahulu dari ruang osis.

"Hii, tu anak ya, gue pengen cepet-cepet semua kelar biar gue bisa fokus sama sekolah gue, abis lomba selesai gue mau langsung cari ketua osis dan anggota osis baru," ucap Reza pada diri sendiri, sambil menyenderkan kepalanya di kuris, saat ini di dalam ruang osis hanya ada dirinya sendiri.

🌾

🌾

Semua murid SMA Tunas Bangsa sedang bergegas untuk pulang kerumah mereka masing-masing, karena bel tanda pulang sudah terdengar di penjuru sekolah.

Tara sedang memasukan semua buku-bukunya ke dalam tas gendong miliknya.

"Tara,"  panggil Dian dengan ramah, ini untuk pertama kalinya Dian memanggil nama Tara biasanya dia hanya akan memanggil Tara dengan panggilan si cupu.

"Iya Dian, kenapa?"

"Akting Dian cukup bagus juga ternyata" batin Sri.

"Gue mau ngucapin selamat buat lu atas pencapaian yang udah lu capai," ucapa Dian dengan sangat tulus, padahal di dalam lubuk hatinya ogah baget dia mau muji-muji Tara. Kalau bukan ingin menjebak Tara mana mungkin Dian mau melakukan hal ini.

"Eee, iya Di-an" Tara berkata dengan gugup tidak biasanya Dian mau baik seperti ini dengannya.

"Gak usah gugup gitu gue beneran tulus kok" ucap Dian meyakinkan.

"Iya bener apa yang dibilang sama Dian, Tar gue juga mau ngucapin selamat sama lu," Sri menambahkan.

"Atau gak gini aja untuk ngerayain ini semua gimana kalau entar sore abis pulang sekolah kita nongkrong di cafe dekat taman?" ajak Dian.

"Iya bener yuk Tar, pills mau ya"

"Ta-pi" Tara belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah dipotong terlebih dahulu oleh Dian.

"Gak ada penolakan," Dian tersenyum palsu pada Tara begitu juga dengan Sri.

Setelah Tara menyetujui ajakan Dian. Dian dan Sri pergi terlebih dahulu dari dalam kelas. Kali ini kedua orang tersebut sangat yakin jika Tara akan masuk ke dalam perangkap yang sudah mereka buat.

"Akting lu bagus banget Dian" puji Sri.

Sri dan Dian sedang berjalan menuju gerbang sekolah, sambil membicarakan rencana mereka yang akan menjebak Tara, tapi ada hal yang tidak mereka sadari sedari tadi Nia mendengar semua rencana mereka, yang sudah tersusun matang.

"Iya lah Dian gitu, tadi lu bilangkan kalau cuman kita bertiga yang pergi kecafe deket taman?"

"Beres tengan aja, lagian juga ya masa cewe cupu kayak Tara mewakili sekolah kita, apa coba kata orang-orang nanti kalau liat cewek di sekolah SMA Tunas Bangsa cupu kayak gitu," Sri bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri, padahal tidak ada yang salah dari seorang cewek cupu.

"Hahaha, lu bener banget Sri" Dian membenarkan ucapan Sri.

"Kalian berdua awas ya, gue gak bakal biarin sahabat gue terjebak dalam kelicikan yang sudah kalian buat,"  batin Nia yang sedari tadi mendengar semua percakapan Dian dengan Sri.

"Gue harus nemuin Tara"

Sore hari...

Tara sudah sampai  di depan cafe tempatnya berjanji pada Dian saat di sekolah tadi, tapi anehnya saat sudah sampai disana, Tara sama sekali tidak melihat keberadaan Dian atau pun Sri, yang ada hanyalah beberapa cowok  semuanya berpenampilan seperti preman. Dengan seribu keberanian Tara bertanya pada beberapa  orang yang ada disitu untuk menanyakan keberadaan Dian.

"Misi, mau tanya apa kalian lihat teman saya?" Tara bertanya dengan menahan takut.

"Wihh, ada juga cewek yang berani ke tempat ini sore-sore begini" ucap salah satu dari beberapa cowok yang ada disitu. Karena Cafe itu jika sore hanya ada mereka yang nongkrong di sana tidak ada orang lain yang berani datang jika para preman-preman itu sudah stay di tempat tersebut.

"Bener apa yang gue denger itu ternyata Dian dan curutnya itu cuman mau ngerjain Tara, mereka sama sekali gak tulus sama Tara, ya orang seperti mereka mana ada muka baik-baiknya, sudahlah untung gue kesini juga kalau gak gue kagak tau nasib Tara gimana" gumun Nia yang sedari tadi sudah berada ditempat itu.

Dengan segera Nia menarik tangan Tara. "Maaf temen gue salah cafe" ucap Nia lalu pergi secepat kilat dari tempat tersebut.

"Nia, kok kamu disini juga?" bingung Tara.

"Tadi kebetulan lewat terus kamu sendiri sampai ketempat itu?, emang lu gak tau ya kalau cafe itu sore-sore gini cuman ada preman-preman ganas kayak mereka"

"Aku kesini mau ketemu Dian sama Sri, katanya mereka ngajak ketemu disini" jawab Tara seadanya.

"Lain kali jangan percaya gitu aja sama mereka dengan mudah, ular tetaplah ular" tegas Nia.

Setelah mengatakan hal itu Nia dengan segera membawa Tara pergi dari tempat tersebut. Mereka berdua jalan bersama menikmati keindahan sore yang begitu luar biasa. Keduanya jalan dengan bergandeng tangan persahabatan.

"Nia, makasih ya udah mau berteman sama Tara kalau gak ada Nia Tara gak tau bakal punya temen atau enggak" ucap Tara.

"Aihh, lu ya Tar kayak sama siapa aja, tapi ya udah lah gue juga terimakasih sama lu, Tara lu inget kan janji lu sama gue?" Nia memastikan Tara siapa tau dia lupa dengan janji mereka yang akan pergi kesuatu tempat besok.

"Iya Nia"

.

.

Di dalam kamar yang begitu luas kedua gadis remaja sedang tertawa puas, karena sudah menjebak orang yang paling mereka benci.

"Pasti Tara besok gak bakal sekolah, dan akan ada kabar buruk tentang Tara besok di sekolah"

Mereka berdua masih saja tertawa bahagia, padahal rencana yang sudah mereka susun matang-matang untuk menjebak Tara menjadi santapan para preman-preman itu telah gagal.

Terpopuler

Comments

Mayya_zha

Mayya_zha

lanjut

2022-03-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!