Saat ini Tara dan Nia sedang berbincang-bincang, dengan beberapa peserta lomba di sekolah lain. Tiba-tiba seorang cowok datang menghampiri mereka dengan membawa satu batang coklat silverqueen.
"Haii," sapa cowok tersebut pada semua orang, yang berada disana tapi lebih tepatnya sapaan yang dia berikan lebih ditujukan untuk Tara.
"Hello" jawab semua orang terkecuali Tara dia hanya tersenyum.
"Lu, Tara ya?" sapa cowok itu lagi.
"Hmmm, ciee, ciee" sindir Nia.
"Iya saya Tara, ada apa ya?" Tara bertanya dengan ramah.
"Boleh kenalan gak?"
"Kan kamu udah tau nama saya jadi buat apa kenalan?"
"Buset malu banget sih kalau gue" sindir Nia lagi.
"Bukan maksudnya kenalin gue Irfan, gue cuman mau ngasih ini cokelat buat lu sebagai hadiah, karena lu udah bawa tim lu menjadi juara," jelas Irfa agar dia tidak jadi malu.
"Kok cuman satu buat Tara doang lagi buat kita-kita manee babang?"
"Niaa"
Potong Tara karena sudah terlalu berlebihan jika tidak diberhentikan entah sampai kapan Nia akan selesai ngoceh seperti itu, Tara juga bisa melihat wajah Irfan yang sudah kesal.
"Heheh iya, iya maaf," cengir Nia tanpa dosa.
"Oke makasih kak cokelatnya," ucap Tara ramah.
Lalu Tara mengajak Nia pergi dari tempat itu, setelah mengucapkan terimakasih pada Irfan atas coklat yang diberi. Tara memanggil Irfan dengan sebutan kakak, karena dia yakin Irfan umurnya lebih tua dari Tara mungkin seumuran dengan Reza.
"Siapa cowok yang sama Tara tadi? kok kayaknya mereka akrab banget" ucap Reza, yang kebetulan masih ada disana tapi dia tidak bisa melihat wajah cowok itu.
Setelah kepergian Tara dan Nia, Irfan tidak kunjung beranjak dari tempat itu sepertinya dia sedang mencari seseorang tapi belum ditemukan. Setelah sedikit lebih lama mencari akhirnya Irfan menemukan orang yang dia cari sedari tadi.
"Woii!" Irfan mengagetkan orang yang sedari tadi ia cari.
"Astagfirullah," ucap orang itu sambil mengelus dadanya.
"Yee, gitu aja kaget lu Re, dari tadi lu gue cari-cari gak ketemu," ucap Irfan pada Reza yang merupakan sepupunya itu.
"Bukannya lu dari tadi nggak nyari gue ya Fan?, asik aja sama cewe" tuding Reza sambil menaikan satu alisnya. Saat tadi Irfan membalikan banda dia barus tau kalau itu sepupunya yang ngobrol dengan Tara tadi.
"Bukannya itu murid dari sekolah lu Re? lu kok nggak kasih tau gue sih kalau ada cewek secantik itu di sekolah lu"
"Gimana gue mau kasih tau, dia aja cantik tiba-tiba kalau dari dulu gue tau juga gue nggak bakal kasih tau lu " ucap Reza, tapi tidak sampai di mulutnya hanya di dalam benaknya saja.
"Lupain masalah cewe lu kenapa cari gue?" tanya Reza, berusaha mengalihkan topik tapi untuk Irfan juga akhirnya tidak mengungkit masalah Tara lagi.
"Lu kesini kenapa kagak main kerumah? di cariin bokap tu"
"Kapan-kapan deh, kalau libur main salam sama paman sama bibi. Ini kan mendadak ya jadi gimana mau kesono salam aja ya Fan soalnya bentar lagi rombongan gue mau pulang" jelas Reza dia tidak enak sebenarnya dengan paman dan bibinya itu tapi mau bagaimana lagi.
"Oke, oke tapi ngomong-ngomong salam ya sama Tara dari gue" ucap Irfan senyum misterius sedangkan Reza hanya bengong.
"Gimana gue mau nyampein salam sama dia, ngomong aja dia gak pernah sama gue, ini saja karena penting kalau gak penting mana mungkin gue bisa ngomong sama dia. Apa waktu itu gue keterlaluan banget ya sama Tara?" Reza tidak sadar jika sedang melamun.
"WOII, REZAA!!" teriak Irfan sedari tadi dia memanggil orang itu tapi tidak ada respon.
"Bisa gak sih lu kalau ngomong janggan teriak-teriak di kuping orang," ucap Reza dingin.
"Nah kambuh kan dinginnya, salah sendiri dari tadi bengong aja" ketus Irfan.
Saat kedua orang itu sedang asik ngobrol ada seorang yang menghampiri Reza dan Irfan. Entah orang itu muncul dari mana tiba-tiba sudah ada di depan kedua orang tersebut. "Kak"
"Tumben dia mau manggil gue" batin Reza pede. Orang yang memanggilnya tadi Tara, Karena Tara memanggil Irfan dan Reza dengan sebutan sama jadilah kedua orang itu sama-sama menoleh ke arah Tara.
"Ada apa, Tara?" sapa Irfan ramah.
"Maaf kak Irfan maksud saya kak Reza" senyum Tara, tanpa sadar senyum yang Tara tunjukan itu membuat kedua cowok yang ada di hadapannya meleleh.
"Kenapa?"
"Ayok, saya disuruh pak Galih baut ngasih tau kakak kalau busnya udah mau jalan" ucap Tara tanpa ekspresi.
"Astagfirullah, sampe lupa gue"
"Ya udah kalau gitu gue duluan ya Fan, salam sama bibi sama paman" ucap Reza, lalu iya berjalan pergi mengikuti Tara yang sudah lebih dulu pergi dari tempat itu setelah berpamitan dengan Irfan.
"Kak Reza sama kak Irfan saling kenal atau gimana?" batin Tara.
"Kenapa gue gak suka liat Tara deket-deket sama Irfan? ada apa sama gue sebenernya?" gumun Reza, yang berjalan dibelakang Tara dengan jarak yang sedikit cukup jauh.
Bus yang akan mengantar mereka pulang sudah melaju jauh dari kota, supir mengantar mereka sampai ke rumah masing-masing. Karena posisi hari sudah mulai semakin gelap tadinya matahari yang muncul menyinari dunia sudah digantikan dengan Bulan dan Bintang yang menghiasi malam. Sepertinya malam sedang menggambarkan kebahagiaan para juara dari SMA Tunas Bangsa dan yang lainnya atas apa yang mereka dapat.
Bis sampai di tempat jalan masuk rumah Tara, saat ini di dalam bis itu hanya tersisa pak Galih, Tara, Reza dan juga pak supir..
"Tara rumah kamu dimana?" tanya pak Galih khawatir dengan muridnya.
"Rumah saya masuk sedikit dari desa ini pak," jawab Tara seadanya memang benar begitu kenyataannya.
"Reza, temenin Tara sampek rumahnya" perintah pak Galih.
"Ga-u-s-ha-Pa-k"
Reza lebih dulu menjawab sebelum Tara menjawab pak Galih. "Baik pak"
Tanpa babibu Reza menyetujui saja perintah pak Galih.
Akhirnya Tara terpaksa pulang diantar Reza, atas permintaan kepala sekolahnya. Saat mereka berdua sedang berjalan ke arah rumah Tara tidak ada percakapan apapun diantara kedua nya mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Sesampainya di depan rumah sederhana milik Tara dia segera mengucapkan salam pada Ibunya. "Assalamualaikum, Ibu Tara pulang"
"Waalaikumsalam, nak ibu sudah pulang gimana lombanya?" seperti biasa Tara akan mencium punggung tangan ibunya pemandangan tersebut tidak luput dari pandangan Reza.
"Ini siapa?" tanya ibu Siti yang mulai peka akan kehadiran Reza.
"Saya Reza, Bu" ucapnya ramah.
"Nak Reza makasih udah mau nganter Tara, ayo masuk dulu minum sebentar atau gimana maaf rumah ibu sedikit sempit"
"Dia udah mau pulang Bu, ditunggu kepala sekolah soalnya" ucap Tara dingin, sambil membuka sepatunya, dia tidak memberikan kesempatan sama sekali pada Reza untuk menjawab ucapan ibunya.
"Ee, iya ibu kalau gitu saya pamit ya, assalamualaikum" pamit Reza, sambil mencium punggung tangan ibu Siti, dia melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan oleh Tara.
"Waalaikumsalam, nak Reza hati-hati dijalan," ucap ibu Siti, sedangkan Tara sudah berlalu masuk begitu saja tanpa mengucapkan apa-apa pada Reza.
🍇
🍇
Di tempat lain seorang gadis yang berusia dengan Tara sedang marah besar pada orang yang sudah iya percayai.
"AARRGGHH!! LU KURANG AJAR RIO! GUE UDAH BAIK SALAM LO. TAPI LO MALAH NIPU GUE SIALAN AWAS AJA KALAU KITA KETEMU LAGI GUE NGGAK BAKAL LEPASIN LO DENGAN MUDAH,"
teriak Dian sekencang-kencangnya di dalam kamar beruntung kamarnya kedap suara, jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakan Dian.
"RIO SIALAN! MATI LO!!" maki Dian lagi, entah dia sedang marah pada siapa karena hanya ada dirinya di dalam kamar tersebut.
"DAN UNTUK LO TARA, GUE BELUM KALAH INGET ITU HAHAH" Dian berkata sambil memandang foto Tara, yang entah dia dapatkan dari mana.
Entah disebabkan oleh apa Dian begitu sangat-sangat membenci Tara. padahal selama ini Tara lah yang selalu Dian siksa selalu Dian bully seharusnya Tara lah yang memiliki dendam yang amat terdalam. Hanya gara-gara dia selalu kalah dari Tara membuat Dian buta akan segalanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Memyr 67
dian sakit jiwa
2022-09-23
0
Lina Jayanti
koreksi kakak...
"Ada apa Tara?" ❌
"Ada apa, Tara?" ✔
ada imbuhan koma saat memanggil nama yang diajak ngobrol kakak... itu yang aku pelajari... 🙏
2022-04-02
2
Lina Jayanti
aku mampir nih kak, aku bacanya pelan ya thoorrr, semangaaattt❤😍
2022-04-02
1