Tara dan Nia segera pergi ke kelas mereka masing-masing, untuk mengambil tas mereka, karena bel tanda pulang sekolah sudah tiba. Tara dan Nia tidak satu kelas mereka berdua berbeda jurusan Nia di jurusan IPS sedangkan Tara mengambil jurusan IPA 1.
Keduanya berjalan bersama menuju kelas masing-masing, walaupun berbeda kelas tapi kelas mereka berdua masih satu arah.
"Tar, ketemu di gerbang ya"
"Iya Nia, Aku duluan masuk kelas ya," pamit Tara, sambil berlalu masuk ke dalam kelasnya, karena sekarang mereka sudah berada di depan kelas Tara.
"Oke," jawab Nia, sambil pergi berlalu menuju kelasnya juga.
Barus saja Tara hendak mengambil tasnya, tapi iya urungkan karena panggilan seorang dari seberang bangku miliknya.
"Ee, cupu lu mau pulang kan?" Dian menatap Tara dari atas sampai bawah dengan tatapan yang jijik.
"Iya Dian, ada apa?"
"Bawa tas gue!" perintah Dian, tanpa mau dibantah.
Tara akan mengambil tas milik Dian dari tangan pemiliknya, tapi dengan sengaja Dian menjatuhkan tasnya ke lantai.
"Upss, maaf gue gak tau kalau bakal jatoh"
Tara memungut tas Dian tanpa menjawab ucapan Dian atau pun marah, sama sekali tidak.
"Selakain punya gue bawa juga," ucap Sri. Dia melempar tas miliknya ke arah kursi Tara.
Duk...
"Auu," tas yang tadi dilempar oleh Sri, mengenai punggung tangan Tara sampai berdarah tapi dia tidak menyadari hal itu.
"Hahahah"
Dian dan seluruh siswa yang masih berada di dalam kelas itu tertawa bersama. Ketika Tara merintih kesakitan saat terkena lemparan tas milik Sri.
"Aduh, cupu jangan nangis ya"
"Sakit gak?"
"Dah, cupu"
Para siswa-siswi di dalam kelas itu tidak ada yang menolong Tara sama sekali, mereka malah menertawakan Tara dan meninggalkan Tara begitu saja di dalam kelas. Sekarang hanya tersisa Tara di dalam kelas tersebut.
"Ya Allah berdarah, aku harus bersihin darah ini dulu kalau Ibu tau pasti dia akan khawatir," ucap Tara, dia baru menyadari jika punggung tangannya berdarah oleh lemparan Sri tadi.
Di depan gerbang Nia sedang menunggu kedatangan Tara.
"Aduh, Tara mana sih? apa gue susul aja ke kelasnya ya"
Nia sangat gelisah, sedari tadi dia menunggu Tara di depan gerbang. Akan tetapi Tara tidak muncul-muncul juga.
"Gue sulus aja kali ya?" sambil berpikir, tapi kaki Nia sudah berjalan hendak masuk ke dalam sekolah lagi.
"Niaaa" Tara berteriak sedikit kencang, karena jaraknya dengan Nia masih sedikit jauh.
"Itu anak dari tadi ditungguin barus muncul," oceh Nia.
Tara jalan mendekati Nia, yang sedang berdiri di depan gerbang.
"Maaf lama, tadi ada urusan sedikit," ucap Tara sambil memegang pundak Nia.
"Urusan apa?"
"Tadi disuruh bawain buku ke ruangannya pak Joko," dusta Tara.
Sebenarnya dia bukan keruang pak Joko, melainkan pergi menemui Dian dan Sri yang berada di kantin untuk memberikan tas keduanya yang mereka titip kan tadi.
"Ya udah yuk pulang," ajak Nia.
Barus saja keduanya hendak melangkah meninggalkan sekolah, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka.
"Loh, Pak supir kenapa jemuput Nia?"
Nia bertanya dengan heran, karena biasanya dia tidak pernah dijemput jika pulang sekolah. Walaupun Nia orang punya tapi dia lebih suka pulang sekolah menaiki kendaraan umum.
"Maaf non Nia, bapak disuruh bos jemput. soalnya hari ini mau kenkota untuk menjenguk kakak non Nia" jelas supir.
"Baiklah, tapi bisakan antar teman saya dulu pak"
"Tapi_"
Tara memotong ucapan pak supir Nia, yang belum usai, "aku pulang sendiri aja Nia kayaknya supir kamu buru-buru," ucap Tara mengerti.
"Ya udah, gak papa nih?"
"Iya Nia tenang aja, aku gak bakal nyasar juga kok," Tara meyakinkan Nia.
"Oke, kalau gitu gue duluan ya"
"Iya"
Setelah kepergian Nia dan supirnya Tara berjalan sendirian menuju halte bus. Sudah tiga bulan ini Tara tidak lagi menggunakan sepedanya untuk pergi sekolah, sepedanya hanya dikhususkan untuk mengantar kol ke pasar. Sesampainya di halte Tara duduk untuk menunggu bus sekolah yang sebentar lagi akan lewat.
"Kok lama banget ya? biasanya kalau nunggu bus pulang sekolah gak selama ini?" Tara berbicara pada diri sendiri.
Saat Tara sedang menunggu bus di halte pertama, tiba-tiba Reza dan kedua kawannya datang entah dari mana, sepertinya mereka habis latihan basket. Karena baju yang mereka kenakan baju olahraga juga biasanya jam pulang sekolah waktunya anak basket latihan.
"Re, itu bukan junior kita yang lu hukum waktu itu kan? pas pertama masuk sekolah?"
"Iya bener Re, itukan cewek cupu yang waktu lu hukum itu," ucap kedua teman Reza, dengan sedikit kencang jadi Tara masih bisa mendengar apa yang mereka katakan.
Reza menoleh ke arah Tara yang berada tidak jauh di sebelahnya. Saat Reza melihat Tara tidak disengaja mata keduanya bertemu. Dengan segera Reza mengalihkan pandangannya.
"Re, kayaknya itu cewek cupu suka deh sama lu" ucap Dio enteng.
"Iya sih, dari tadi dia ngeliatin lu aja," ucap Toni membenarkan ucapan Dio.
"Ee, waktu itu juga pas kita kumpulan gue liat dia ngeliatin lu aja dari kejauhan sehabis kita keluar dari ruang osis," ucap Dio lagi.
Entah mereka berdua sengaja memancing Reza untuk marah atau mereka memang sedang menggoda Reza, sedari tadi Reza tidak menggubris ucapan-ucapan Dio dan Toni. Tapi Reza akhirnya bereaksi saat ucapan Dio yang kedua kali keluar dari mulutnya.
"Re lu mau kemana?" panggil Toni, sedangkan Reza sudah jalan mendekat ke arah Tara.
"Wah, ayok kita samperin si Reza kalau kagak bisa ngamuk, kenapa dia marah? padahal kan gue emang bicara fakta, karena waktu itu gue liat sendiri cewe cupu itu merhatiin Reza dari kejauhan"
"Udah di entar aja ngomelnya sekarang ayo kita samperin Reza sama cewek cupu itu," ajak Toni agar Dio tidak terus-terusan bicara.
Saat ini Reza sudah berdiri sempurna di hadapan Tara. "Woii, cewe cupu!"
Tara tersentak kaget oleh suara Reza yang begitu mengerikan, dia juga tidak menyadari jika Reza sudah berdiri di sampingnya.
"Iya kak, ada apa?" jawab Tara takut.
"Lu suka ya sama gue?" Reza bertanya tanpa babibu lagi.
"Buset, si Reza asal jeplak aja tu mulut," bisik Dio pada Toni yang sudah berdiri di samping Reza dan Tara.
"Eng-su"
Tara bingung akan bicara suka atau tidak tapi apa hak dia jika bicara suka dengan Reza sudah dipastikan Reza akan menolaknya. Tapi sebenarnya Tara hanya merasa tidak asing pada Reza maka dari itu Tara diam-diam sering memperhatikan Reza. Soal suka atau tidak Tara belum seberapa yakin.
"Jawab!!" bentak Reza.
"Gue tau lu suka kan sama gue, Iya kan? mulai sekarang lu buang jauh-jauh suka lu sama gue, karena gue gak suka sama lu paham!!"
Suara Reza yang begitu keras mengundang banyak para murid untuk menonton hal tersebut, karena masih banyak para murid yang belum pulang dari sekolah.
"Huuuuu"
"Dasar cewek cupu gak tau malu"
"Masa suka sama ketua osis yang beda jauh banget sama dia levelnya"
Para murid yang menyaksikan hal itu mereka semua mengejek Tara.
Sedangkan Tara sedari tadi sudah meneteskan air mata akibat bentakan yang iya dapat dari Reza barusan. Tara tidak peduli dengan orang-orang yang merendahkannya dia hanya sakit hati oleh ucapan dan bentakan yang Tara dapat dari Reza. Sudah lama Tara memperhatikan Reza semenjak pertama masuk sekolah SMA Tunas Bangsa, karena Tara merasa seperti tidak asing dengan Reza juga entah kenapa dia bisa langsung tertarik dengan Reza begitu saja
"Re udah ayok pergi" ajak Dio dan Toni.
Saat sebuah Bus berhenti Tara segara masuk ke dalamnya dengan keadaan masih menangis dan sakit hati. Para penghuni bus juga penasaran apa yang sedang terjadi tapi mereka tidak bisa bertanya pada siapa pun.
"Sakit-sakit banget rasanya " batin Tara masih menangis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Kucing Hitam
Semangat kk
2022-04-12
0
Queen
Hay thor.....aku udah mampir nih dan ceritanya bagus banget yah kak aku suka.....
2022-03-30
1
💋ShasaVinta💋
besok besok awas aja kalo reza bucin yah ke tara... tak cubit ginjalmu rez...
2022-03-26
1