Meminta maaf

Reza benar-benar mengantarkan Tara pulang ke rumahnya atas perintah bundanya dan juga mama Mia serta isyarat dari Nia.

Tidak ada percakapan apapun di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Reza untuk mengantar Tara pulang. Tara hanya fokus melihat jalan tanpa mau mengajak Reza berbicara sedangkan sedari tadi Reza selalu mencuri-curi pandangan pada Tara sambil tetap fokus mengemudi.

"Nia kenapa kamu buat aku terjebak di dalam mobil bersama orang ini sih?  bener-bener dah si Nia," batin Tara.

Sedangkan Reza masih menimang-nimang caranya untuk meminta maaf dengan Tara.

"Segitu bencinya apa lu sama gue Tar? sampek-sampek gak mau ngomong sama sekali walapun cuman kita berdua disini," batin Reza.

Reza mengemudikan mobilnya melewati jalan menuju rumah Tara dia ingin mengajak Tara kesuatu tempat tapi  tidak izin dulu dengan orangnya.

"Kenapa kita kesini?" tanya Tara dengan suara dingin.

"Kan rumah saya disana" ucap Tara lagi, masih dengan nada dingin tanpa menatap Reza.

"Pliss, gue mau ngomong sama lu sebentar Tar, gue mohon" Reza menjawab dengan penuh harapan.

"Saya mau pulang!"

"Iya gue akan anter lu pulang, tapi setelah gue ngomong sesuatu yang penting"

"Ya udah kalau mau ngomong-ngomong aja disini gak usah jauh-jauh" ketus Tara.

Reza tidak memperdulikan Tara yang terus minta pulang dengan nada dingin, dia terus mengemudikan mobilnya ke suatu tempat yang lumayan bagus.

"Kenapa kita kesini?" tanya Tara saat Reza memberhentikan mobilnya di sebuah wisata indah yang berada tidak jauh dari rumah Tara jika pergi menggunakan bus atau kendaraan roda empat lainnya.

Reza masih tidak menjawab pertanyaan Tara dia keluar dari mobil begitu saja tak berselang lama pintu di tempat duduk Tara terbuka oleh Reza.

"Pliss keluar sebentar ya, gue mau ngomong" pinta Reza dengan sangat memelas.

Tara turun dari mobil Reza tanpa mengucapkan apa-apa saat ini dia sudah berdiri di depan Reza yang berada di dekat mobil.

"Tar gue tau gue salah, sesalah-salahnya" ucap  Reza, sambil berusaha meraih kedua tangan Tara tapi Tara segera menepisnya.

"Oke" ucap Reza, saat Tara tidak mau menerima tangannya.

Reza memulai apa yang akan iya sampaikan pada Tara sedangkan Tara hanya menyimak apa yang akan diucapkan oleh Reza.

"Gue salah Tar, gue cowok kurang ajar gue cowo berengsek, gue ngajak lu kesini karena gue mau minta maaf atas apa yang udah pernah gue lakuin dulu sama lu Tar. Gue tau gue salah dan gue terima apa aja keputusan lu Tar, tapi inget gue nggak bakal nyerah sampai lu bener-bener mau maafin gue" Reza sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.

"Kenapa kak? kenapa barus sekarang ha?kenapa? apa dulu aku rendah banget di mata kak? iya sampai aku dipermalukan di depan banyak orang!!" bentak Tara. Dia sedang berusaha keras agar air matanya tidak jatuh, karena saat ini mata Tara sudah berkaca-kaca. Tara saat ini mengingat jelas bagaimana Reza memperlakukannya dengan sangat tidak berperasaan. Saat mengingat semua itu hati Tara kembali merasa sakit dan hancur.

"Maaf Tar gue emang brengsek" ucap Reza penuh penyesalan. Dia juga sedang mengingat bagaimana dihari itu dia memperlakukan Tara dengan tidak baik.

" Saya mau pulang!"  bentak Tara lagi.

Dengan sigap Reza membuka kembali pintu mobil miliknya untuk Tara, Reza paham jika Tara belum bisa memaafkannya. Sebenarnya Tara tidak ingin pulang dengan Reza lagi tapi mau bagaimana ditempat itu tidak ada kendaraan umum sedangkan bis masuk hanya di hari-hari tertentu saja.

"Kenapa rasanya sakit banget lebih sakit daripada saat dia mempermalukanku di depan umum. Ingin memaafkan tapi entah kenapa hati kecil ku tidak rela, tapi kenapa sampai saat ini aku masih merasa tidak asing padanya kenapa?" batin Tara.

Di sepanjang perjalanan Tara hanya memejamkan matanya tapi dia tidak tertidur, Tara hanya butuh penenang untuk saat ini.

"Gue gak akan pernah nyerah Tar, gue bakal ngelakuin apa aja asalkan lu mau maafin laki-laki brengsek ini " gumun Reza tapi Tara tidak bisa mendengar nya sama sekali.

Saat merasa mobil sudah berhenti Tara yang sedari tadi hanya menutup mata segera turun dari mobilnya tanpa mengucapkan terimakasih.

"Assalamualaikum, Ibu" Tara mengucapkan salam sambil tersenyum pada Ibu Siti, padahal baru saja dia sedang bersedih.

"Waalaikumsalam, kamu diantar siapa itu nak?" tanya ibu Siti.

"Gak tau bu, Tara pamit masuk dulu ya" ucapnya Ibu Siti merasakan ada yang aneh dari Tara.

"Sampai segitunya dia rela terlihat bahagia di depan ibunya padahal baru saja dia sedang sangat hancur oleh gue"  ucap Reza. Masih di dalam mobil dia belum berniat untuk turun saat melihat Tara sudah masuk ke dalam rumahnya baru lah Reza menyusul turun untuk sekedar menyapa ibu Siti.

"Assalamualaikum, Ibu" sapa Reza.

"Waalaikumsalam nak Reza, jadi yang nganterin Tara nak Reza?"

"Iya ibu"

"Tapi kenapa kok kayaknya Tara sedikit anah ibu liat pas turun dari mobil?"

"Hehe maaf ibu, mungkin tadi Reza nyupirnya sedikit kekencangan" ucap Reza tidak jujur tapi dia juga tidak sepenuhnya berbohong, karena memang dia mengemudi sedikit kencang.

"Lain kali kalau lagi nyetir mobil ataupun motor jangan ngebut-ngebut" nasehat ibu Siti.

"Hehe, Iya ibu in sya Allah"

Ibu Siti mengajak Reza untuk masuk ke dalam rumahnya, dengan senang hati Reza mengiyakan ajakan ibu Siti, karena Reza sangat betah berada dirumah yang sederhana itu.

"Ooh iya, nak Reza bukannya Tara main ke rumah Nia tapi kok nak Reza yang nganter Tara pulang?"

"Iya bu, tadi kebetulan Nia ada acara mendadak jadi Reza yang anter Tara pulang"

"Kok bisa?"

"Iya soalnya Reza barus tau tadi pas Tara main kerumah Nia ternyata Nia tetangga Reza dengan jarak dua rumah" jelas Reza.

"Ada-ada aja tetangga gak tau"

Sementara itu di dalam kamar Tara sedang menangis untuk melegakan perasaannya.

"Kenapa itu orang gak pulang-pulang sih" kesel Tara setelah iya sudah selesai menangis.

Tara segera beranjak dari kasurnya dia membersihkan diri, karena Tara harus tetap mengajar anak-anak yang mengaji di surau. Seburuk apapun keadaannya Tara tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Tara sudah siapa dengan pakaian tertutupnya untuk pergi kesura.

"Ibu, Ta" ucap Tara, terhenti saat dia melihat Reza masih duduk bersama ibunya padahal dia  yakin Reza sudah tidak ada lagi di rumahnya, karena Tara tidak mendengar lagi suaranya.

"Kenapa? dia lebih cantik banget sih setiap mengenakan hijab"  ini untuk kedua kalinya Reza melihat Tara berbalut hijab.

"Tara udah mau berangkat nak?"

"Ee, iya bu" ucapanya.

Tapi Tara pergi berjalan ke arah dapur untuk minum selesai minum Tara segera berpamitan pada ibunya begitu juga dengan Reza, walaupun dia malas bicara dengan Reza tapi jika ada ibunya pasti akan bertanya-tanya ada apa, karena Tara tidak pernah berbuat masalah pada siapapun.

Terpopuler

Comments

Bhebz

Bhebz

wow Tara guru ngaji ya

2022-04-21

0

MN.Aini

MN.Aini

lanjut lanjut semangat🤗

2022-03-22

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!