Dian yang barus saja masuk ke dalam area sekolahnya dibuat terheran-heran, karena tidak ada berita apa-apa tentang Tara yang sudah dia dan Sri jebak kemaren, Dian hanya mendengar desas-desus soal murid cantik yang melebihi Putri sang primadona sekolah kecantikannya.
"Ini aneh, kenapa si cupu itu gak jadi bahan olokan di sekolah? gue harus cari tau"
Dian mengambil hendponenya dari dalam tas miliknya, jari-jari tanganya bermain lincah di atas kayboard hendponnya dia mengirim suatu pesan pada seorang yang sudah berkerja sama dengannya.
"Woii, Rio lu kemaren berhasil kagak?" pesan yang ditulis Dian untuk orang yang bernama Rio.
"Kemana sih tu anak gue tunggu aja pasti entar juga dibales sama dia"
Setelah selesai bicara sendiri Dian memasukan handponenya kembali ke dalam tas miliknya. Dian segera masuk kedalam kelas karena lonceng tanda masuk sebentar lagi akan berbunyi.
"Wow, dimana itu si cupu kok gak keliatan, tapi tunggu itu cewek siapa yang duduk di bangku si cupu?" batin Dian yang masih berdiri di.depan pintu masuk kelas mereka.
"Haii, lu siapa?" tanya Dian pada Tara dia benar-benar tidak mengenali Tara sama sekali.
"Kenapa lu duduk dibangku si cupu?" tanya Dian lagi semakin penasaran, karena sedari tadi Tara hanya diam saja.
"WOII, LU PUNYA MULUT KAN? JAWAB DONG KAGAK USAH BIKIN ORANG EMOSI,"
Emosi Dian sudah terpancing oleh orang yang ada di depannya ini, sedari tadi hanya mengabaikannya. Dia sebenarnya iri dengan kecantikan Tara. Orang yang selama ini dia bully tapi Dian belum menyadari kalau orang tersebut Tara. Bukan apa Dian hanya tidak mau di kelasnya ada orang yang lebih cantik dari pada dirinya..
"Liat geh si Dian, pagi-pagi udah bikin ribut aja" bisik para siswa-siswi.
"DIEM KALIAN SEMUA!!" bentak Dian.
"DAN BUAT LO! GUE TANYA LU SIAPA HAH? LU BISU ATAU GIMANA?" ketus Dian, dia masih saja bicara dengan nada ngegas.
"SAYA TARA APA ANDA PUAS!!" ucap Tara sinis, lalu dia kembali duduk, karena menurut Tara percumah saja melawan orang seperti Dian tapi untuk saat ini jika Dian main tangan maka Tara juga sama.
"Tu kan bener dia Tara, udah cantik sekarang makin berani aja dia"
Dian hanya diam terpaku dan menatap Tara dengan penuh kebencian.
"Woww," ucap Dian sambil bertepuk tangan.
"Di gaji berapa lu sama om-om yang udah tidur bareng lu? sampek bisa perawatan dengan biaya malah gitu" ucap Dian, sambil terus menatap Tara dengan tatapan sinis. Sebuah senyum jahat terbit di bibir Dian.
Tara mulai mendengar bisik-bisik yang tidak enak dari mulut teman-teman sekelasnya oleh perkataan Dian barusan.
'Deg'
Selama bertahun-tahun Dian membully Tara, tapi Tara tidak pernah membalas atau pun membantah ucapan Dian, tapi kata-kata Dian saat ini sudah sangat membuat Tara sakit hati sesakit-sakitnya.
"JAGA YA KAMU KALAU NGOMONG, SAYA GAK PERNAH KAYAK GITU!!" Tara mulai emosi untuk pertama kalinya semua orang melihat Tara bicara lantang seperti sekarang ini.
"Apa? bilang aja yang gue bilang barusan benerkan? ngaku lu"
Dian sebenarnya mau menunjukan sebuah foto agar bisa memfitnah Tara. Tapi sayangnya Rio orang yang bekerja sama dengannya belum membalas chatnya.
"Kenapa lu gak bales chat gue sih Rio!, awas aja kalau ketemu mana gue udah kasih lu uang banyak lagi siall, " batin Dian.
Nia yang mendapat laporan dari seorang siswa jika Dian sedang mencari ulah pada Tara segera pergi menuju kelas Tara.
"LU YANG HARUSNYA JAGA MULUT, LU YANG KAYAK SINGA ITU," teriak Nia dari depan pintu masuk, sekarang semua orang mengalihkan mata mereka pada Nia yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ternyata ada yang bela juga" sindir Sri yang sedari tadi hanya diam.
"Hati-hati ya kalau ngomong, awas kalian berdua masuk dalam perangkap sendiri" sindir Nia.
"Maksud lu apa?"
"WOI, JANGAN PADA RIBUT KEMBALI KETEMPAT DUDUK KALAIN MASING-MASING" ucap ketua kelas. Dia barus saja kembali dari ruang guru jadi hanya mendengar perdebatan kecil antara Dian, Sri dan Nia.
"Lu hati-hati aja Dian," bisik Nia tepat di telinga Dian. Lalu dia segera pergi ke kelasnya setelah mengucapkan sampai ketemu di kantin pada Tara.
"Hari ini semua murid disuruh pergi kelapangan sekarang juga," ucap Adi yang merupakan ketua kelas setelah semua orang duduk di kursi masing-masing.
"Dan untuk lu Tara, langsung ke ruang osis disana semua kandidat lomba sudah berkumpul" jelas Adi. Setelah Adi menjelaskan semuanya mereka berbondong-bondong keluar dari kelas.
Bisa dilihat dari lantai dua dan tiga sekolah saat ini sudah ada satu bus yang terparkir sempurna di lapangan sekolah SMA Tunas Bangsa.
🍂
🍂
Ruang osis...
"Kalian semua, dikumpullin disini udah tau mau ada apa?" tanya Reza.
"Belum kak?" jawab mereka kompak.
"Hari ini kalian akan berangkat ke kota untuk mengikuti lomba cerdas cermat yang sudah ditentukan, dan kemana kandidat inti kalian?"
Reza belum tau kalau saat ini yang berdiri tepat di depannya Tara si gadis cupu. Mereka semua hanya saling tatap, karena Tara ada tepat di depannya.
"Lalu lu siapa? aiihh, lupakan jangan sampek gue emosi lagi gara-gara tu cewek, sekarang cepat panggil gadis cupu itu siapa namanya Tara iya benar Tara"
Deg..
"Kak Reza apa segitu bencinya sama Tara?" batin Tara. Tapi dia segera menepis semua hal tentang Reza yang tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Maaf kak, saya Tara" ucap Tara akhirnya.
"Bener lu Tara?" tanya Reza tidak percaya.
"Iya kak dia Tara, teman saya" ucap Nia meyakinkan.
"Kenapa cewek cupu ini sekarang cantik banget ?" batin Reza.
"Sudah kalau begitu segera ke lapangan, karena sebentar lagi kita akan berangkat ke kota, bagi yang ingin berpamitan pada orang tuanya silakan hubungi melalui handpone kalian masing-masing. Kami dari segenap osis minta maaf kalau ini semua mendadak, karena udah dari pusatnya untuk kalain berangkat hari ini" jelas Reza..
Semua orang sudah berkumpul di lapangan untuk melepas kepergian calon juara ke kota untuk beberapa hari. Semua persiapan sudah disediakan oleh pihak sekolah.
"Itu siapa? cantik banget" ucap orang-orang yang ada di lapangan, karena masih banyak yang belum tau penampilan Tara yang sudah berubah.
"Itu si Tara cewe cupu, kandidat inti" mereka yang sudah tau menjawab pertanyaan-pertanyaan para siswa-siswi yang belum tau kalau itu Tara.
"Cantik banget sekarang bisa tu di jadiin pacar"
"Iya bener"
"Dulu aja ngejek-ngejek sekarang muji-muji, emang manusia selalu lupa dengan apa yang pernah mereka perbuat " batin Tara.
"Alah, paling aja dia dapet uang dari om-om" ucap Dian, yang ikut nimbrung pada beberapa murid di sana sedangkan Nia dan Tara masih bisa mendengar perkataan Dian.
Tess...
Air mata yang selalu Tara pertahankan meluncur mulus begitu saja di wajah anggun Tara saat mendengar ucapan Dian yang begitu menyakitkan hati.
"Gue udah peringatin lu Dian, tapi lu tetap gak bisa jaga mulut jadi terima resiko yang akan lu dapat, " batin Nia..
"Udah Tar orang kayak gitu gak usah di dengerin mulutnya nanti juga balik sama dia sendiri" ucap Nia, agar Tara kembail bersemangat.
"Ngomong-Ngomong lu udah kasih tau Ibu kan kalau kita mau ke kota?" Nia memastikan takut-takut Tara belum izin, Nia tau betul seberapa sayang ibu Siti pada anaknya Tara.
"Udah tadi"
"Semangat dong jangan sedih masa tuan putri sedih" Nia terus berusaha menghibur Tara.
Bus yang akan membawa mereka ke kota sudah mulai berjalan menembus jalan raya yang sangat ramai kendaraan berlalu lalang. Ada sekitar 25 orang yang berangkat 5 diantaranya kandidat lomba sedangkan sisanya guru dan para osis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments