Tara meneteskan air matanya, sesaat setelah Reza dan Ari pergi dari ruang uks. Bentakan Reza pada Tara memang sudah sangat keterlaluan apalagi saat ini Tara sedang terbaring di uks. Setelah merasa badannya sudah sedikit enakan dengan segera Tara meninggalkan uks dia tidak mau tertinggal satu materi pelajaran pun.
Sesampainya di kelas.
"Hehh, cupu cepet sini" Dian memanggil Tara dengan sedikit kencang, tanpa berkata apapun Tara menuju tempat duduk Dian.
"Ada apa, Dian?"
"Heh, cupu gak usah banyak tanya ya! ngapain lu pingsan segala tadi? waktu dihukum cari perhatian senior aja dasar cewek cupu gatel!" maki Dian.
"Gak kayak gitu Dian, tadi saya emang beneran udah gak kuat lagi bukan mau cari perhatian"
"Alesan aja lu" Dian bangung sambil menjambak rambut Tara
"Wow, Dian sepertinya ini akan menjadi tontonan gratis" ucap Sri.
Sedangkan murid-murid lainnya juga ikut menonton Tara yang sedang dibully oleh Dian, tidak ada niatan dari mereka untuk membantu atau menghentikan perbuatan Dian.
"Ya, begitulah Sri"
"Dengerin gue ya cupu, mulai sekarang lu jadi babu gue, terus misalnya kalau lu gak nurut gue bakal bikin lu lebih melarat dari ini paham!!" Dian berkata dengan penuh penekanan, dia juga masih menarik rambut Tara dengan kuat.
Dian melepaskan rambut Tara yang sedari tadi dia pegang dengan erat, lalu dengan sengaja Dian mencium tangannya yang habis memegang rambut Tara barusan.
"Week, lu gak keramas berapa hari sih cupu?"
"Maaf, Dian"
"Udah sana pergi beliin gue minuman"
"Tapi"
"Lu mau bantah gue ya?"
"Gak kok"
"Ya udah sana pergi beliin gue minum sialan!"
Dengan segera Tara pergi dari kelas untuk membelikan Dian minuman. Untung saja ini hari pertama mereka masuk sekolah jadi belum ada pelajaran yang akan di mulai.
"Seneng banget gue punya mainan baru"
"Iya Dian, si cupu itu harus sering-sering kita kasih pelajaran biar dia tau rasa"
Tara harus menaik turuni anak tangga agar bisa sampai di kantin, karena letak kanti dan kelasnya berada di lantai yang berbeda kantin berada di lantai dua sedangkan kelas Tara berada di lantai satu. Sesampainya di kanti Tara segera membeli minuman yang dipesan Dian, sesudah mendapatkan apa yang ia butuhkan Tara segera kembali ke kelasnya sedangkan beberapa orang yang berada di kanti menatap Tara dengan tatapan yang sangat aneh.
"Dian, ini minumannya"
"Lama banget sih lu, cuman beli ginian doang" sambil menarik kasar minuman yang ada di tangan Tara.
"Maaf Dian"
"Maaf, maaf gue kagak butuh maaf lu ya, udah sana pergi lama-lama gue kalau deket-deket sama orang cupu kayak lu bisa ketularan cupu dih amit-amit deh" Dian bergidik ngeri sendiri dengan ucapannya barusan.
Para siswa yang ada di kelas itu hanya menertawakan Tara, mereka juga terus mengejek Tara tanpa henti, mereka memperlakukan Tara seperti mainan. Sedangkan Tara sendiri sudah biasa dengan ini semua toh dari smp dia selalu di kucilkan Tara juga tidak pernah marah tau mengadu pada ibunya semuanya dia pendam sendiri.
"Ya Allah, kuatkan lah Tara dengan semua ini Tara udah banyak melalui hal-hal seperti ini dari smp bahkan dari kecil. Tara berharap anak laki-laki yang dulu pernah nolongin Tara bisa kembali jadi pahlawan buat nolongin Tara lagi "
Tara berdoa dalam hatinya sambil menulis sesuatu di buku miliknya. Tara hanya duduk sendiri karena tidak ada yang mau duduk sebangku dengan Tara.
***
Sepulang sekolah....
Tara pulang dengan mengayuh sepedah tua peninggalan almarhum ayahnya. Sepedah ini lah yang selalu menemani Tara kemanapun dia pergi Tara selalu merawat sepedah tua peninggalan ayahnya dengan sangat baik.
"Assalamualaikum, Ibu Tara pulang" dia mengucapkan salam sambil meletakan sepedanya dengan benar.
"Waalaikumsalam, cepat makan abis itu bantuin ibu panen kol"
"Iya ibu"
Dengan segera Tara masuk ke dalam rumah dan mengganti seragam sekolahnya dengan baju kebun. Setiap pulang sekolah Tara selalu membantu ibunya untuk mengurus kebun. Hanya kebun itu lah satu-satunya sumber ekonomi keluarga Tara. Dulu keluarga Tara termasuk keluarga yang terpandang di kampungnya tapi semenjak ayah Tara meninggal semuanya berubah drastis, kini ibu Tara menjadi tulang punggung keluarga semenjak hari itu juga Tara selalu membantu ibunya untuk mengurus kebun.
"Tara, udah belum makannya ayok cepet bantu Ibu," Ibu Siti berteriak sedikit kencang dari kebun yang terletak tepat di belakang rumah mereka.
"Iya, Bu bentar Tara udah mau selesai ini"
Dengan segera Tara menghabiskan makanannya yang tinggal sedikit lagi. Setelah itu dia menyusul ibunya yang sudah berada di kebun.
Kebun.....
"Kamu panen disebelah kiri ibu di sebelah kanan"
"Iya Bu" dengan semangat empat lima, Tata segera memanen Kol...
Walaupun kebun milik keluarga Tara tidak besar, tapi mereka sudah sangat sudah sangat bersyukur memiliki kebun tersebut.
"Tara gimana sekolah kamu?" Ibu Siti bertanya sambil terus fokus memanen kol.
"Alhamdulillah seru bu, banyak banget temen-temen yang baik sama Tara" dusta Tara.
Begitulah Tara dia akan selalu tersenyum bahagia, walaupun yang dialami sangat menyedihkan, dia tidak pernah bercerita apa-apa pada ibunya tentang pembullyan yang selama ini Tara dapatkan.
"Syukurlah kalau gitu Tar, jangan lupa belajar yang giat"
"Iya, Ibu pasti hehe"
"Maafin Tara Bu selalu boong sama Ibu, tapi Tara juga gak mau nambah beban Ibu cuman gara-gara Tara" batin Tara dalam hati.
"Taraaa!!" Ibu Siti memanggil dengan sedikit kencang.
"Astagfirullah, Ibu ngagetin Tara aja" sambil mengelus dadanya, karena benar-benar kaget.
"Untung Tara gak jantungan Bu"
"Lagian kamu dari tadi ngelamun aja ngapain? Ibu panggil-panggil gak dengar, liat itu kolnya udah hampir rusak gara-gara kamu"
"Hehe, maafin Tara Bu, Tara lagi gak ngelamunin apa-apa kok"
Tara melanjutkan memanen kol yang sudah hampir selesai.
"Ya udah, lanjut yang bener abis itu kita ke pasar buat jual kolnya"
"Iya bu"
Tara dan ibu Siti melanjutkan memanen kol dengan tenang. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Tara dan ibunya selalu bersyukur dengan apa yang mereka punya saat ini.
"Ibu Tara masukin kolnya ke karung dulu ya"
"Iya, sambil pilihin yang busuk jangan dimasukin"
"Iya ibu"
Dengan sangat cekat Tara memasukan semua kol ke dalam karung sambil memeriksa jika ada yang sudah tidak layak dipakai.
"Tara kamu anter dulu yang setengah entar balik lagi ngambil yang ini ya" ucap ibu Siti setelah dia selesai memanen semua kol.
"Iya Ibu, Tara berangkat dulu, assalamualaikum" setelah mengucapkan salam Tara segera berangkat menuju pasar menggunakan sepedanya.
Tara mengayuh sepedanya dengan hati-hati, karena dia membawa beban yang lumayan berat untuk ukuran sepedah tua.
"Dian, coba lihat itu si cupu bukan sih? yang lagi bawa sepedah ngapain dia?" ucap Sri sambil menajamkan penglihatannya dari dalam mobil.
"Mana, Sri?" tanya Dian dengan penasaran.
"Itu lagi naik sepedah samperin yuk, kita kerjain mumpung disitu ada genangan air" ucap Sri lagi.
Dia menunjuk ke arah Tara yang sedang berhenti untuk istirahat karena jarak pasar dari rumah Tara lumayan jauh.
Perlahan Dian membuka jendela mobilnya untuk memastikan orang yang Sri tunjuk tadi Tara atau bukan. Benar saja orang itu adalah Tara dengan segera Dian mengemudikan mobilnya mendekat kearah Tara.
"Upss, maaf cupu gue nggak tau kalau disitu ada lu, juga gue nggak tau kalau ngelewatin genangan air" ucap Dian dari depan kursi kemudi.
Dian tertawa puas setelah berhasil mengerjai Tara, sambil terus menjalankan mobilnya begitu juga dengan Sri yang duduk di sebelah Dina.
"By, cupu kita duluan"
Tara hanya tersenyum kecil kepada kedua orang yang sudah membuat bajunya kotor seperti habis berenang di lumpur.
"Lihat lah, Dian si cupu tersenyum seperti orang bodoh"
"Sudah biarkan saja dia"
Walaupun bajunya sudah kotor Tara tetap melanjutkan perjalanannya, untuk pergi ke pasar karena dia harus segera mengantar kol-kol itu pada pelanggan yang sudah memesannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Bro Koli
yang sabar Tara
2022-04-06
0
Anak orang
Dian awas lu ya,
2022-04-04
0
Sitymun
bgus kak 🤗
2022-04-02
2