Villa istimewa

"Tara!!" panggil Nia heboh, saat mereka baru saja bubar dari pengumuman yang diberikan oleh pak Galih.

"Astagfirullah Nia, jangan teriak-teriak juga kali" Kesel Tara, sahabatnya itu berteriak sangat kencang sehingga mengganggu beberapa siswa-siswi yang lalu lalang.

"Hehe, maaf habisnya seneng banget kita udah libur aja, gak nyangka aja udah satu semester sekolah di SMA Tunas Bangsa"

"Iya sama Nia, aku juga gak nyangka aku bisa bertahan sejauh ini, ini semua berkat kamu terimakasih banyak ya Nia, sayang Nia banyak-banyak pokonya" ucap Tara tulus.

"Udah-udah gue manggil lu tadi bukan buat sedih-sedihan, tapi gue manggil lu mau ngajakin liburan, gimana mau nggak?" tawar Nia.

"Emmm"

"Tapi gue harap sih lu mau" potong Nia, sebelum Tara memberikan jawaban. "Maaf ya Nia gak bisa kasihan ibu sendirian dirumah" biasanya begitu alasan yang diberikan Tara pada Nia.

"In sya Allah Nia" jawab Tara.

"Yesss!" Nia sangat bahagia.

"Kirain lu tadi mau jawab gini; meef ye Nia gek bisi soilnya ibu sindiran di rumah" ejek Nia. Waktu itu Tara pernah memberikan alasan yang sama persis seperti apa yang dikatakan oleh Nia..

"Hahahah! udah Nia sakit perut liatnya kalau kamu kayak gitu" ucap Tara, sambil menahan tawanya yang disebabkan oleh Nia.

"Tapi kita mau liburan kemana Nia?"

"Puncak, Villa, kamu maunya dimana?"

"Villa aja gimana, tapi..." ucap Tara menggantung ucapannya.

"Woii, lah tapi ape?"

" Tapi Villanya yang bagus pokoknya suasananya yang tenang itu, gimana ada gak?"

" Ada tenang aja"

Setelah selesai merencanakan akan berlibur kemana mereka berdua pergi ke kantin. Tadi saat pengumuman pak Galih memberitahu semua siswa-siswinya jika mereka mendapatkan libur dua minggu dalam satu semester ini..

Di kantin...

Saat ini kantin dipenuhi oleh semua siswa-siswi SMA Tunas Bangsa. Hampir dari mereka semua pergi menuju kantin setelah acara pengumuman oleh kepsek, mungkin mereka semua haus dan lapar apa lagi tadi matahari sangat terik.

"Nia kita duduk dimana semuanya penuh?" ucap Tara setengah berbisik sambil menajamkan penglihatannya siapa tau masih ada kursi yang kosong.

"Ayok ikut," ajak Nia saat dia melihat ada kursi kosong yang tinggal dua, tepat di sebelah Reza dan Ari yang sedang ngobrol sambil menikmati makanan mereka.

"Nia pelan-pelan" Nia menarik tangan Tara dengan sedikit kasar.

"Maaf Tar, soalnya gue takut kursinya diambil orang, karena cuman dua kursi itu lagi yang tersisa," jelas Nia tidak memperdulikan Tara.

"Kan, kita bisa makan di kelas Nia"  tapi Nia tidak mendengarkan jawaban Tara, karena mereka sudah sampai di kuris yang Nia lihat tadi.

"Boleh gabung gak?" tanya Nia saat sudah berada di dekat Ari dan Reza.

"Silahkan, ini tempat umum" jawab Ari..

"Duduk Tar"

Mendengar Nia bicara duduk. Tara segera memutar badannya menghadap Reza dan Ari, karena saat Nia sudah berhenti berjalan Tara tidak memutar badannya yang membelakangi Nia. Saat Tara mengadap mereka bola matanya dengan Reza tidak sengaja bertemu, mereka sempat beradu pandangan beberapa menit tapi dengan segera Tara mengalihkannya, karena dia tidak suka hal tersebut terjadi.

"Nia kenapa kita makan sama mereka sih?" bisik Tara.

"Duduk aja Tar, gue sama Reza nggak gigit orang kok gak usah takut" ucap Ari sedangkan Reza hanya diam saja.

"Heheh, iya kak Ari makasih banyak" lalu Nia dan Tara segera duduk. Nia duduk disebelah Reza sedangkan Tara duduk disebelah Ari jadi Reza dan Tara duduk berhadap-hadapan.

"Tara kamu yang ngajar ngaji anak-anak di desa kecil itu ya?" tanya Ari memecahkan keheningan diantara mereka berempat.

"Wow, serius lu ngajar ngaji?" tanya Nia heboh sedangkan Reza ingin ikut bicara tapi tidak enak..

"Bukan kak cuman bantuin mang Damar aja kalau dia lagi kewalahan" jelas Tara.

"Oh gitu, soalnya kemarin pas gue lewat situ, gue liat lu lagi ngobrol-ngobrol sama anak-anak disitu, terus juga ada temen gue ya ngeliatin lu dari kejauhan cukup lama sih lu sadar gak?" Ari sedang menyindir Reza kemarin yang kepergok olehnya saat memperhatikan Tara.

"Auuu," kaget Ari. Saat Reza menginjak sepatunya dengan  keras.

"Kenapa kak?" Nia dan Tara bertanya kompak.

"Kakinya nendang meja," kali ini Reza, yang menjawab pertanyaan Tara dan Nia sambil memberikan tatapan tajam pada Ari begitu juga Ari sambil berusaha melepaskan kakinya yang masih diinjak oleh Reza.

"Buset dah, si Reza tenaganya kuat baget kaki gue sampe kaku, untung lu sahabat gue" batin Ari ingin sekali dia mengeluarkan isi hatinya tapi apalah daya.

🍁

🍁

🍁

VILLA ISTIMEWA....

Nia benar-benar mengajak Tara berlibur ke sebuah Villa indah yang terletak di puncak, disitu juga terlihat ada banyak Villa yang sedang ada penghuninya sepertinya mereka juga sedang menikmati libur mereka seperti Tara dan Nia...

"Subahanallah, Nia tempatnya bener-bener bagus baget" ucap Tara senag..

"Coba bisa aja ibu juga ya kesini" Tara membayangkan bagaimana dia dan ibunya bisa menikmati suasana Villa yang benar-benar indah.

"Nanti kalau libur lagi kita ajak ibu gimana?" tawar Nia.

"Bener?" Tara sangat antusias.

"Iya lah, masa gue boong"

"Tapi Nia, Villa ini punya siapa?"

"Gue juga kurang tau Tar, tapi katanya Villa istimewa ini punya orang yang bener-bener istimewa" jelas Nia.

"Hebat yang punya, bisa punya Villa sebanyak ini" puji Tara.

Malam hari..

Karena merasa bosan Tara pergi jalan-jalan keluar Villa, untuk melihat-lihat sedangkan Nia sudah tertidur sedari tadi.

"Gak seru nih kayaknya kalau gak dapet pengalaman apa-apa," gumun Tara setelah berkata seperti itu Tara segera keluar dari dalam Villa, saat ini jam menunjukan pukul 8:30

"Ternyata Villanya bener-bener bagus apalagi ditambah cahaya bintang dan bulan yang sangat mendukung" ucap Tara pada diri sendiri sambil mengangkat kepalanya untuk melihat keatas langit malam.

"Subhanallah" ucap Tara kompak dengan seorang yang entah sejak kapan berdiri di sebelahnya.

"Kak Reza, sejak kapan dia ada disini?"  batin Tara saat keduanya sama-sama menoleh.

"Loh, Tara disini juga?" tanya Reza lembut dia barus sadar jika di sebelahnya ada orang. saat dia mendengar ada orang lain yang mengucapkan subhanallah kompak dengannya begitu juga Tara.

"Iya" jawab Tara dingin tanpa melihat kearah Reza..

"Kenapa? Tara selalu dipertemukan dengannya ya Rabb, orang yang ingin selalu Tara hindari tapi entah mengapa disaat yang sama Tara merindukannya, apa ini sebenarnya Tara benci perasaan seperti ini," batin Tara sambil Menahan air matanya agar tidak jatuh.

Entah kenapa setiap hanya berdua dengan Reza Tara selalu terbayang hal buruk yang pernah terjadi padanya yang disebabkan oleh Reza.

"Sampai saat ini apa lu masih membenci gue Tara?" batin Reza.

Barus saja Tara hendak pergi tapi terhenti saat Reza memanggil namanya.

"Tara tunggu"

Terpopuler

Comments

Bhebz

Bhebz

SMA Tunas Bangsa, kayak kenal hemm

2022-04-26

0

Kucing Hitam

Kucing Hitam

Harus berusaha Re, semuanya butuh perjuangan wkwkw

2022-04-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!