"Yang Mulia. Ratu sudah kembali, dan saat ini berada di istana Ratu." Lapor Marquess Filan.
"Sesore ini dia baru kembali." Ucap Raja Alec kesal.
Raja Alec segera keluar dari ruangan pribadinya itu melalui pintu dan jalan rahasia yang menghubungkannya langsung dengan kamarnya.
"Siapkan air hangat untukku. Aku mau mandi. Dan aku sedang tidak ingin diganggu atau menemui siapapun, kecuali Ibu Suri." Seru Raja Alec kepada para penjaga dan pelayannya dari dalam kamar.
"Baik, Yang Mulia." Jawab sang penjaga dan pelayan.
Raja Alec berusaha menenangkan diri dan meredam emosinya yang membuncah karena kelakuan Ratu, dengan berendam air hangat. Raja Alec menutup matanya, dan seketika muncul wajah cantik Ratu Roseline yang sedang tersenyum. Raja Alec segera membuka matanya.
"Mengapa wajah Ratu yang sedang tersenyum tiba-tiba muncul di dalam pikiranku?" gumam Raja Alec tak mengerti.
Raja Alec terdiam dan merenung.
"Entah mengapa aku merindukan senyuman itu. Dulu Ratu selalu tersenyum bagaimana pun caraku bersikap padanya. Dia selalu berusaha keras untuk menarik perhatianku. Meskipun terkesan murahan, tapi aku melihat ketulusan di matanya."
"Sejak awal aku memang tidak menginginkannya dan selalu mengabaikan Ratu. Aku ingin dia pergi jauh dari hidupku. Lalu, ada apa dengan perasaanku saat ini?"
Raja Alec terus bermonolog. Raja Alec menghirup napas panjang, lalu membuangnya dengan kasar.
Raja Alec memerintahkan agar hidangan makan malamnya disiapkan lebih cepat dan segera diantarkan ke kamarnya. Raja Alec sedang malas untuk keluar kamar.
"Apa Yang Mulia Raja ada di kamarnya?" Tanya Ratu Roseline kepada penjaga Raja.
"Ada Yang Mulia Ratu. Tapi Yang Mulia sedang tidak ingin diganggu dan tidak ingin menemui siapapun." Jawab si penjaga.
"Padahal aku ingin membahas tentang masalah para petani dengannya. Ya sudahlah aku selesaikan saja sendiri. Tanpa bantuannya sekalipun, aku tetap bisa membantu para petani itu." Batin Ratu Roseline.
Ratu Roseline hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan kamar Raja. Saat berada di depan istana Raja, Ratu Roseline bertemu dengan Countess Sarah. Countess Sarah sengaja mendatangi istana Raja karena ingin bertemu Raja Alec dan mengajaknya makan malam bersama.
"Salam Yang Mulia Ratu." Ucap Countess Sarah.
"Countess Sarah." Sahut Ratu Roseline sambil mengangguk, lalu melanjutkan langkah kakinya.
"Dasar ratu sombong." Gumam Nara tapi masih bisa didengar oleh telinga Ratu Roseline yang memiliki pendengaran yang sangat tajam.
Countess Sarah terkejut dan langsung menatap pelayannya itu.
Ratu Roseline segera menghentikan langkahnya.
"Lancang! Beraninya pelayan rendahan sepertimu menghina Ratu dari Kerajaan Cardania!" Bentak Ratu Roseline.
Countess Sarah dan Nara langsung gelagapan.
"Penjaga!" Teriak Ratu Roseline.
Dua penjaga istana langsung menghadap.
"Hormat Yang Mulia Ratu." Ucap para penjaga.
"Hukum pelayan ini dengan 50 cambukan, karena mulut kotornya telah berani menghina Ratu Kerajaan Cardania!" Perintah Ratu Roseline.
Countess Sarah dan Nara langsung membelalakkan matanya.
Nara langsung berlutut dan memohon ampun.
"Ampun Yang Mulia Ratu. Hamba mohon ampun."
"Hamba mohon Yang Mulia Ratu, mohon maafkan kebodohan pelayan hamba ini. Hamba minta maaf karena tidak bisa mendidiknya dengan baik." Mohon Countess Sarah.
"Baguslah kalau kau tahu diri. Sudah seharusnya kau mendidik pelayanmu dengan baik. Tapi hukuman tetap akan dijalankan." Ucap Ratu Roseline tanpa rasa kasihan.
"Tapi Yang Mulia." Sahut Countess Sarah tak terima.
"Kau pikir siapa dirimu dengan beraninya membantah ucapanku! Kau harus tahu dan ingat di mana posisimu Countess Sarah. Kau bukan siapa-siapa di istana ini. Kau hanyalah seseorang yang beruntung mendapatkan kebaikan Yang Mulia Raja, sehingga kau bisa tinggal di dalam istana ini untuk sementara waktu, sebagai rasa terima kasih karena kau telah menyelamatkan nyawa Yang Mulia."
"Kalau kau tidak terima dengan keputusanku, silakan angkat kaki dari istana ini. Meskipun kau mengadu kepada Yang Mulia Raja sekalipun, aku tak peduli." Ucap Ratu Roseline tegas.
Countess Sarah hanya bisa menunduk dan meremas gaunnya. Countess Sarah tidak ingin gegabah dan membuatnya harus keluar dari istana. Countess Sarah tidak ingin berjauhan dengan Raja Alec.
"Apa kalian tuli? Cambuk dia sebanyak 50 kali." Bentak Ratu Roseline.
Para penjaga tersentak dan terkejut mengetahui perubahan sikap Ratu mereka yang tak kalah menakutkan seperti Raja Alec.
"Baik, Yang Mulia." Jawab para penjaga, lalu mengeluarkan cambuk mereka.
"Jika kejadian ini sampai terulang lagi. Aku pastikan dia akan kehilangan kedua kaki dan tangannya." Ucap Ratu Roseline dengan tatapan membunuhnya.
Tubuh Countess Sarah seketika gemetar karena ketakutan.
Ratu Roseline dan Marie meninggalkan istana Raja. Para penjaga segera memberikan hukuman cambuk kepada Nara. Nara berteriak kesakitan. Countess Sarah tidak tega melihatnya. Dalam hati Countess Sarah tidak terima dengan perlakuan Ratu Roseline. Countess Sarah segera berlari masuk ke dalam istana Raja.
"Penjaga. Katakan kepada Yang Mulia Raja jika aku, Countess Sarah ingin bertemu." Teriak Countess Sarah dengan wajah paniknya.
"Maaf Nona, Yang Mulia Raja sedang tidak ingin menemui siapapun." Ucap penjaga.
"Tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan kepada Yang Mulia Raja. Aku mohon sampaikan jika aku mau menghadap." Ucap Countess Sarah sedikit berteriak.
"Sekali lagi maaf Nona. Kami tidak bisa menyampaikannya karena kami harus memenuhi perintah Yang Mulia Raja. Silakan Anda pergi dari sini." Jawab penjaga.
"Aku ini wanita yang dekat dengan Yang Mulia Raja." Bentak Countess Sarah dengan emosi.
Penjaga hanya menyunggingkan senyumnya.
"Yang Mulia Ratu Roseline, istri sah dari Yang Mulia Raja saja tidak bisa menemui beliau. Sebaiknya Anda pergi dari sini, atau kami akan menyeret Anda keluar karena telah mengacau di sini." Ucap penjaga.
Countess Sarah menatap penjaga itu dengan tatapan marah, lalu kembali ke tempat Nara yang sedang diberi hukuman. Countess Sarah menangis melihat Nara yang terus mendapatkan cambukan tanpa ampun. Setelah 50 kali cambukan diberikan, penjaga menyeret tubuh Nara yang lemah itu menuju paviliun tamu. Countess Sarah meminta pelayan yang lain untuk mengobati luka Nara.
"Maafkan hamba, Nona." Lirih Nara.
"Lain kali jangan kau ulangi lagi. Apa yang kau lakukan tadi bisa mengancam posisiku di sini. Aku sudah berusaha keras agar aku bisa terus berada di istana dan dekat dengan Yang Mulia Raja." Ucap Countess Sarah kesal.
"Hamba tahu. Hamba berjanji tidak akan mengulangi kesalahan hamba lagi." Ujar Nara sambil menahan perih saat lukanya diberi obat.
Ratu Roseline baru saja selesai menikmati makan malamnya bersama Marie.
"Yang Mulia. Bagaimana jika Countess Sarah mengadu kepada Yang Mulia Raja? Hamba takut Yang Mulia Raja akan marah kepada Anda," Ucap Marie.
Ratu Roseline tersenyum tipis.
"Aku tidak peduli dan aku tidak takut padanya. Jika Yang Mulia Raja tidak terima, maka aku akan membawa masalah ini ke hadapan Yang Mulia Ibu Suri dan masalah ini akan dilanjutkan ke pengadilan kerajaan. Dan pastinya pihak Countess Sarah lah yang akan dirugikan." Ucap Ratu Roseline sambil menyeringai.
Marie hanya mengangguk. Meskipun Marie merasa aneh dengan perubahan sikap Ratunya, tapi dia juga merasa senang karena Ratu tidak akan mudah disakiti seperti dulu.
Ratu Roseline (Alice) ingat cerita yang ada di novel. Saat Ratu Roseline menghukum pelayan Countess Sarah, Raja Alec marah dan memberikan hukuman cambuk serta Ratu Roseline dilarang keluar dari istana Ratu selama satu minggu.
"Kalau sampai dia berani memberikan hukuman cambuk padaku, maka aku akan balik memberinya cambukan menggunakan cambuk yang sudah dilapisi dengan potongan pisau milikku." Batin Ratu Roseline.
Pada keesokan paginya, Countess Sarah sudah menunggu di depan istana Raja, dengan didampingi pelayannya yang baru, karena Nara masih sakit dan tidak bisa melayaninya. Countess Sarah menunggu Raja Alec keluar dari istananya.
Saat melihat Raja Alec keluar bersama Marquess Filan, Countess Sarah tersenyum bahagia.
"Salam Yang Mulia Raja." Ucap Countess Sarah sambil memberi hormat.
"Countess Sarah. Apa yang sedang kau lakukan di depan istanaku? Dan sepagi ini?" Tanya Raja Alec bingung.
"Hamba minta maaf Yang Mulia, jika hamba telah mengganggu Yang Mulia di pagi ini. Hamba ingin memohon bantuan Yang Mulia." Jawab Countess Sarah.
Raja Alec menyerngitkan dahinya.
"Bantuan apa? Katakan." Tanya Raja Alec.
"Hamba memohon keadilan kepada Yang Mulia Raja untuk pelayan hamba, Nara." Jawab Countess Sarah.
"Memangnya ada masalah apa? Dan di mana pelayan pribadimu itu?" Tanya Raja Alec sambil melihat pelayan baru Countess Sarah.
"Pelayan hamba, Nara, sedang sakit Yang Mulia setelah mendapatkan hukuman cambuk dari Yang Mulia Ratu." Ucap Countess Sarah sedih.
Raja Alec dan Marquess Filan membelalakkan mata mereka.
"Yang Mulia Ratu pasti mempunyai alasan mengapa beliau sampai memberikan hukuman kepada pelayanmu itu." Ucap Marquess Filan.
"Semua karena salah hamba Yang Mulia, karena hamba tidak bisa mendidik pelayan hamba dengan baik sehingga dianggap kurang sopan oleh Yang Mulia Ratu. Hamba sudah memohon ampun, tapi Yang Mulia Ratu tidak peduli." Ucap Countess Sarah sambil menangis.
"Hanya karena masalah itu. Bagaimana Ratu bisa melakukan hal kejam dengan memberikan hukuman cambuk?" Ucap Raja Alec.
"Kita ke istana Ratu sekarang." Seru Raja Alec dengan wajah emosinya.
Raja Alec hendak melangkahkan kakinya menuju istana Ratu.
"Mau ke mana kau, Putraku?" Seru Ibu Suri Helene.
"Salam Ibu." Ucap Raja Alec.
Marquess Filan dan Countess Sarah juga memberi hormat kepada Ibu Suri Helene.
"Ananda mau ke istana Ratu, Ibu." Jawab Raja Alec.
"Untuk apa? Apakah untuk memarahi Ratu karena telah menghukum pelayan dari Countess Sarah?" Tanya Ibu Suri Helene.
"Benar Ibu." Jawab Raja Alec.
"Ratu pergi keluar dari istana sejak pagi tadi."
"Apa seorang Raja akan membela pelayan yang sudah berani menghina Ratunya?" Tanya Ibu Suri Helena.
"Apa maksud Ibu?" Tanya Raja Alec tak mengerti.
"Pelayan dari Countess Sarah telah berani menghina Ratu, sehingga Ratu memberikan hukuman padanya. Benar seperti itu, Countess Sarah?" Ujar Ibu Suri Helene.
"A-ampun Yang Mulia Ibu Suri. Pelayan hamba tidak bermaksud menghina Yang Mulia Ratu. Nara masih terlalu muda sehingga masih harus banyak belajar dalam bersikap." Ucap Countess Sarah dengan nada memelas.
"Jadi kau mencoba membenarkan sikap pelayanmu itu?" Seru Ibu Suri Helene.
Countess Sarah gelagapan.
"Ti-tidak Yang Mulia." Sahut Countess Sarah.
"Marquess Filan. Tolong katakan, apa hukuman dari Kerajaan Cardania bagi orang yang telah berani menghina anggota kerajaan, terutama Raja dan Ratu?" Tanya Ibu Suri Helene.
"Hukuman mati, Yang Mulia." Jawab Marquess Filan tegas.
Countess Sarah membulatkan matanya dan mulai ketakutan.
"Seharusnya Countess Sarah bersyukur Ratu tidak langsung memberikan hukuman mati kepada pelayanmu. Jangan karena kau mendapatkan kebaikan dari Yang Mulia Raja, kau bisa bersikap seenaknya di istana ini. Posisi Ratu setara dengan posisi Raja." Ucap Ibu Suri Helene.
Countess Sarah hanya bisa menunduk sambil meremas gaunnya.
"Dan kau, Putraku. Seharusnya kau menyelidiki masalah ini terlebih dahulu sebelum memberikan tuduhan kepada Ratu. Sebagai seorang pemimpin dan penguasa, Raja harus bisa bersikap adil dan bijaksana."
"Baik, Ibu. Ananda minta maaf."
"Sebaiknya kita segera ke ruang makan untuk sarapan bersama, Ibu." Ucap Raja Alec.
"Tidak perlu. Ibu sudah makan karena pagi-pagi sekali Ratu sudah membuatkan sarapan untuk Ibu." Ujar Ibu Suri Helene, lalu pergi meninggalkan istana Raja.
"Yang Mulia. Ha-hamba...." Ucap Countess Sarah.
"Cukup, Countess. Jangan membahas masalah ini lagi. Pelayanmu terbukti bersalah dan apa yang dilakukan oleh Ratu sudah benar. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu." Sahut Raja Alec kesal.
Countess Sarah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia segera pergi meninggalkan istana Raja dengan perasaan kecewa karena tidak mendapatkan pembelaan dari Raja Alec.
"Penjaga!" Panggil Raja Alec.
Para penjaga segera menghadap.
"Apa Ratu kemarin datang ke istana Raja?" Tanya Raja Alec.
"Benar Yang Mulia." Jawab penjaga istana.
"Mengapa kalian tidak menyuruhnya masuk?" Marah Raja Alec.
Para penjaga istana segera berlutut.
"Ampun Yang Mulia. Yang Mulia Raja sendiri yang mengatakan jika Yang Mulia tidak ingin bertemu dengan siapapun, kecuali Ibu Suri." Ucap penjaga istana.
Raja Alec menghela napas panjang. Dia baru ingat jika dia sendiri yang memberikan perintah kepada para pelayan dan penjaganya.
"Baiklah, kalian boleh pergi." Ucap Raja Alec.
Para penjaga segera kembali ke tempat mereka.
"Ratu pergi ke mana sepagi ini?" Guman Raja Alec.
"Ampun Yang Mulia. Menurut laporan dari para pengawal bayangan kita, Ratu pergi ke sebuah tempat latihan pasukan khusus milik Panglima Ramon, kakak dari Yang Mulia Ratu, yang masih berada di wilayah Duke Sullivan. Dan mereka juga mengatakan jika Ratu mahir dalam ilmu bela diri dan bermain pedang." Lapor Marquess Filan.
Raja Alec mengeraskan rahangnya.
"Apa? Ratu berlatih pedang? Apa maksud dan tujuan Ratu sebenarnya?" Batin Raja Alec.
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
nacho
mantap 😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘
2024-03-13
0
Zieya🖤
wahhh aku suka sekali ceritanya.....
❤️❤️❤️❤️
2023-12-16
2
Rin Rs
Huuu knpa crita semua sama buat kelainan dong biar dia pisah terus menyesal bukn skrg dia mula tertarik biar yesal duluan bru dia sadar nah itu yg bru mantap biar rasain tu raja sombong
2023-11-08
1