"Hormat, Yang Mulia Ratu." Seru para bangsawan dan pejabat pemerintah sambil memberi hormat.
Tanpa terkecuali, Duke Sullivan yang juga hadir di ruang pertemuan kerajaan. Ratu Roseline berjalan dengan langkah tegasnya sambil menegakkan badan dan pandangannya. Marquess Andry dan Felix berjalan di belakangnya. Ratu Roseline menduduki singgasana Raja. Semua yang berada di sana saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Kalian pasti terkejut dengan kedatanganku ke sini." Ucap Ratu Roseline dingin.
"Benar sekali Ratu." Jawab Viscount August.
"Mulai saat ini aku, Ratu Roseline Cardania yang akan menggantikan posisi Yang Mulia Alec selama Yang Mulia Raja masih dalam perawatan."
Semua bangsawan dan para pejabat membelalakkan mata mereka.
"Tapi, Yang Mulia." Protes salah seorang pejabat.
Brakk!!!
Ratu Roseline meletakkan stempel kerajaan Cardania di atas meja.
"Bagaimana mungkin Ratu bisa mendapatkan stempel Raja?" Terdengar bisik-bisik di antara para bangawan.
"Bukankah kalian memohon kepada Yang Mulia Ibu Suri agar ada seseorang yang menggantikan posisi Raja untuk sementara waktu. Dan Ibu Suri Helene memilihku untuk menggantikan posisi Raja." Ucap Ratu Roseline.
"Mohon ampun Ratu. Untuk menduduki posisi Raja, dibutuhkan orang yang menguasai tentang sistem pemerintahan dan orang yang berpengalaman." Ujar Menteri Perdagangan, Tuan Robin.
Ratu Roseline tersenyum sinis.
"Apa kau meragukan kemampuanku, Menteri?" Tanya Ratu Roseline sambil menyeringai.
"Ti-tidak Ratu. Hamba tidak bermaksud seperti itu."
"Tuan Robin tidak bermaksud seperti itu Ratu. Namun benar apa yang dikatakan olehnya, jika bukan orang sembarang yang bisa menjadi pemimpin Kerajaan sebesar ini meskipun hanya sementara. Benar begitu, Duke Sullivan?" Ujar Viscount August sambil tersenyum ke arah Duke Sullivan.
Duke Sullivan menghela napas. "Benar Viscount, August. Untuk menjadi pemimpin di sebuah kerajaan memang bukanlah orang sembarangan."
"Ratu bukan orang sembarangan, Viscount August. Ratu adalah pemimpin kedua setelah Yang Mulia Raja. Berani sekali kalian merendahkan Yang Mulia Ratu." Ucap Marquess Andry.
Para bangsawan seketika dibuat gugup.
"Akan aku tunjukkan bahwa kalian salah menilaiku. Marquess Andry bacakan laporan yang kau bawa." Ujar Ratu Roseline.
Marquess Andry membuka gulungan kertas yang dia bawa dan membacakannya dengan lantang.
"Aku akan membacakan laporan tindak penyelewengan dan kecurangan yang dilakukan oleh para bangsawan dan para pejabat kerajaan."
Marquess Andry menyeringai saat melihat keterkejutan sebagian besar bangsawan dan pejabat kerajaan.
"Pertama, Menteri Perdagangan. Tuan Robin, telah memonopoli penjualan benih gandum. Dan menjual benih gandum dengan harga yang mahal kepada para petani."
"I-itu semua bohong Ratu. Pasti ada orang yang ingin menjatuhkan posisi hamba. Mana buktinya jika hamba melakukan semua tuduhan itu?" Elak Tuan Robin.
Ratu Roseline tersenyum.
"Buktinya terpampang nyata di gudang milik keluargamu yang ada di Minean, daerah selatan Kerajaan Cardania. Kau menimbun semua benih gandum di sana. Kau mau mengelak apalagi, Mentri?"
Tuan Robin membelalakkan matanya. Bertahun-tahun dia telah melakukan penimbunan, dan tidak ada satupun yang mengetahuinya. Bertahun-tahun dia sudah menjalankan bisnis ilegal ini.
"A-apa maksud Ratu? Itu memang gudang milik keluarga hamba yang digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil panen dari ladang keluarga hamba, Ratu."
Tuan Robin terus mengelak.
"Sejak kapan ladang keluarga Tuan Robin berada di dataran Rubania yang terletak di daerah timur Cardania? Bahkan para penjual dari Rubania sendiri yang mengirimkannya ke gudang keluargamu." Ucap Ratu Roseline.
Tuan Robin semakin gugup dan bingung harus menjawab apalagi. Tuan Robin sudah tidak bisa berkutik lagi. Tuan Robin langsung berlutut.
"Hamba mohon ampun Yang Mulia. Beri hamba kesempatan untuk memperbaiki kesalahan hamba. Hamba mempunyai anak yang masih kecil, Yang Mulia." Mohon Tuan Robin.
"Seharusnya kau memikirkan mereka sebelum melakukan kecurangan itu Tuan Robin." Jawab Ratu.
"Apa yang telah kau lakukan itu sama saja mencekik para petani secara perlahan, Tuan Robin. Prajurit Raja saat ini pasti sudah tiba di Minean untuk mengamankan barang bukti. Mintalah pengampunan kepada Raja, itupun jika Raja masih mau berbaik hati padamu." Ujar Marquess Andry.
"Pengawal! Bawa Tuan Robin dan masukkan dia ke dalam penjara!"
Dua orang pengawal segera masuk dan membawa Tuan Robin yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi ke dalam penjara. Marquess Andry melanjutkan membacakan tindakan penyelewengan yang dilakukan oleh beberapa bangsawan dan pejabat. Mereka kompak melakukan protes dan tidak terima dengan tuduhan yang telah diberikan.
"Itu semua tidak benar Yang Mulia. Kami tidak melakukan semua kejahatan itu." Protes mereka.
"Benar tidaknya, prajurit kerajaan yang akan membuktikannya. Dan Yang Mulia Raja juga sudah menerima salinan laporan ini." Ujar Marquess Andry.
Para bangsawan dan pejabat yang namanya disebutkan oleh Marquess Andry beserta barang buktinya segera digiring menuju penjara.
"Kalau boleh tahu, dari mana Yang Mulia Ratu mendapatkan laporan tersebut?" Tanya Viscount August dengan ramah.
"Dari apa yang aku lihat dan temukan dengan mata kepalaku sendiri. Kalian pasti berpikir selama ini aku keluar dari istana hanya untuk bersenang-senang. Mungkin awalnya memang benar, aku keluar dari istana untuk menghilangkan penat. Namun saat aku mengetahui banyak hal tentang para bangsawan dan pejabat kerajaan, aku semakin tertarik dan penasaran." Jawab Ratu Roseline sambil menyeringai.
Viscount August memaksakan senyumnya.
"Sungguh mulia apa yang Ratu lakukan. Tapi sebaiknya hal seperti itu biar dikerjakan oleh prajurit dan kepala keamanan kerajaan. Itu bisa membahayakan keselamatan Ratu. Jauh lebih baik, jika Ratu tinggal di istana untuk menjaga kesehatan tubuh Ratu. Supaya Ratu bisa segera memberikan keturunan untuk Yang Mulia Raja." Ucap Viscount August.
"Viscount August!" Teriak Duke Sullivan dengan wajah menahan marah.
"Kau bisa bersikap santai sekarang, karena namamu masih belum disebutkan sebagai bangsawan yang bermasalah, Viscount August." Batin Ratu Roseline.
"Beraninya kau mengatur hidupku! Aku yang lebih berhak atas diriku, bukan kau atau kalian semua." Ucap Ratu Roseline dingin.
"Jika Yang Mulia Ratu tidak berkenan atau tidak sanggup memberikan pewaris untuk Raja, setidaknya ijinkan Raja menikah lagi supaya bisa mendapatkan keturunan." Viscount August semakin berani.
"Cukup Viscount August. Jaga bicaramu." Bentak Marquess Andry.
"Di mana letak kesalahan saya Marquess? Kita semua sudah mendengar bagaimana penuturan dari Yang Mulia Ratu." Sahut Viscount August.
"Kami mohon kepada Ratu, agar membujuk Yang Mulia Raja untuk menikah lagi." Tambahnya sambil sedikit membungkukkan badannya.
Ratu Roseline tertawa.
"Raja bukanlah anak kecil yang harus aku bujuk. Dari pada kalian sibuk mengatur urusan rumah tangga dan percintaan kami, jauh lebih baik jika kalian fokus pada pekerjaan dan nasib kalian. Karena masih banyak daftar bangsawan dan pejabat yang masuk dalam pengawasan prajurit Yang Mulia Raja, termasuk dirimu, Viscount August."
Viscount langsung membelalakkan matanya dan wajahnya terlihat tegang. Ratu Roseline segera turun dari singgasana. Semuanya menunduk memberikan hormat. Ratu Roseline melenggang pergi diikuti oleh Marquess Andry dan Felix. Semua bangsawan dan pejabat kerajaan segera membubarkan diri untuk melenyapkan nasib mereka. Mereka khawatir jika kecurangan yang mereka lakukan juga akan terbongkar. Duke Sullivan melangkahkan kakinya menuju istana ratu. Banyak hal yang ingin Duke tanyakan kepada putrinya.
Raja Alec sangat marah saat Marquess Filan membacakan laporan tentang berbagai kecurangan dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh bangsawan dan pejabat kerajaannya.
"Kurang aj*r! Beraninya mereka mempermainkanku!" Ucap Raja Alec dengan wajah marah dan tangannya mengepal.
"Mohon tahan emosi Yang Mulia. Yang Mulia baru saja pulih." Ujar tabib Ma.
"Tabib Ma benar Yang Mulia. Saat ini Ratu dan Marquess Andry yang mengatasi para penjahat itu." Sahut Marquess Filan.
Raja Alec memejamkan matanya. Dalam hati dia semakin menyesal karena selalu mencurigai tindakan Ratu. Pada kenyataannya semua yang dilakukan oleh Ratu selama di luar istana adalah untuk menguak kejahatan orang-orang yang berada di dalam pemerintahan.
"Aku sangat menyesal Roseline." Batin Raja Alec.
"Bagaimana keadaan Ratu, tabin Ma?" Tanya Raja Alec.
"Keadaan Ratu semakin membaik Yang Mulia. Racun di dalam tubuh Ratu sudah keluar, berkat meminum ekstrak bunga mawar hitam." Jawab Tabib Ma.
"Syukurlah." Lirih Raja Alec sambil tersenyum.
"Aku masih penasaran, bagaimana Ratu bisa meminum obat Yang Mulia Raja?" Ujar Marquess Filan.
"Hamba juga penasaran, Marquess." Sahut tabib Ma.
Wajah Raja Alec langsung memerah sampai ke telinganya, saat mengingat momen bagaimana Ratu meminumkan obat penawar padanya.
"Yang Mulia!" Teriak Marquess Filan membuyarkan lamunan Raja Alec.
"Apa Yang Mulia sakit lagi? Atau mungkin Yang Mulia merasa kepanasan? Wajah dan telinga Yang Mulia memerah." Tanya Marquess Filan khawatir.
"Ekhm!"
"A-aku baik-baik saja. Aku hanya lelah dan ingin tidur. Jangan biarkan siapapun masuk dan menggangguku, kecuali Ibu dan Ratu." Ucap Ratu Alec.
Marquess Filan dan tabib Ma mengangguk. Keduanya segera keluar dari kamar Raja Alec. Raja Alec menyentuh bibirnya sambil tersenyum.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
nacho
sedang jatuh cinta yaa🤣🤣🤣
2024-03-13
0
Zieya🖤
yg lagi jatuh cinta 😂😂😂😂
2023-12-16
2
nisnus
*tabib
2023-02-15
2