Pagi-pagi sekali Roseline sudah membuatkan bubur ayam dan mengantarkannya langsung kepada Ibu Suri. Roseline berjalan keluar dari istana Ibu Suri bersama Marie. Roseline berencana pergi ke perpustakaan istana untuk mencari sebuah buku.
Dan ternyata dari arah berlawanan, Raja Alec sedang berjalan beriringan dengan Countess Sarah, terlihat senyuman mengembang di bibir keduanya. Dan di belakang keduanya ada Marquess Filan dan pelayan Countess Sarah.
"Menjengkelkan."
Roseline seketika menghentikan langkahnya dan berbalik sambil mendengus kesal.
"Ratu." Panggil Raja Alec.
Roseline menghentikan langkahnya lagi dan berbalik.
"Yang Mulia Raja." Sapa Roseline.
Raja Alec menganggukkan kepalanya.
"Salam Yang Mulia Ratu." Sapa Countess Sarah sambil memberi hormat.
"Countess Sarah. Bagaimana keadaan lengan tangan Anda?" Ucap Roseline dingin.
"Sudah sedikit lebih baik, Yang Mulia." Jawab Countess Sarah dengan ramah.
"Apa Ratu baru saja mengunjungi Ibu Suri?" Tanya Raja Alec.
"Benar Yang Mulia. Hamba baru saja mengunjungi Ibu Suri." Jawab Roseline.
"Aku lihat tadi kau sedang berjalan ke arah perpustakaan. Lalu mengapa kau langsung berbalik arah saat melihat kami? Apa kau sengaja ingin menghindar?" Tanya Raja Alec sinis.
Roseline menatap Raja Alec dengan tajam.
"Hamba hanya tidak ingin merusak keindahan pagi yang cerah ini dengan pemandangan yang tak menyedapkan mata." Jawab Roseline.
Raja Alec menyerngitkan dahinya. Terlihat tatapan penuh kebencian di mata Roseline.
"Yang Mulia Raja beserta rombongan ingin mengunjungi Ibu Suri, bukan? Silakan lanjutkan perjalanan kalian. Hamba permisi dulu. Ayo Marie." Roseline memberi hormat, lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Raja Alec.
Raja Alec mengeraskan rahangnya.
"Apa Yang Mulia baik-baik saja? Hamba minta maaf jika kehadiran hamba di istana ini telah membuat sikap Yang Mulia Ratu berubah kepada Yang Mulia Raja." Ucap Sarah dengan wajah sedihnya.
"Kau jangan merasa bersalah, Countess Sarah. Perubahan sikap Ratu tidak ada hubungannya denganmu." Ucap Raja Alec dengan lembut.
Sarah tersenyum bahagia, karena Raja Alec perhatian padanya. Tatapan keduanya masih terpaku.
"Maaf Yang Mulia, apa kita akan tetap berkunjung ke istana Ibu Suri?" Seru Marquess Filan yang membuat keduanya tersentak.
"Tentu saja." Sahut Raja Alec.
Raja Alec segera melangkahkan kakinya lagi menuju istana Ibu Suri, diikuti Countess Sarah, Marquess Filan dan pelayan Countess Sarah.
Pelayan Ibu Suri segera melapor, dan tak lama kemudian Raja Alec, Countess Sarah dan Marquess Filan masuk ke dalam ruangan Ibu Suri.
"Salam Ibu." Sapa Raja Alec.
"Bagaimana kabarmu pagi ini, Putraku?" Tanya Ibu Suri.
"Baik, Ibu." Jawab Raja Alec.
"Hormat hamba, Yang Mulia Ibu Suri." Ucap Countess Sarah dengan lembut dan senyum manisnya.
"Bagaimana keadaan lengan tanganmu, Countess Sarah?" Tanya Ibu Suri.
"Sudah lebih baik Yang Mulia. Semua berkat Yang Mulia Raja dan pengobatan dari tabib istana." Jawab Countess Sarah sambil melirik Raja Alec dan tersenyum.
Ibu Suri hanya tersenyum tipis.
"Tadi aku sempat bertemu dengan Ratu, dan berkata jika Ratu sudah mengunjungi Ibu lebih dulu." Ucap Raja Alec.
"Benar Putraku. Ratu Roseline dengan baik hati membuatkan bubur ayam untuk Ibu dan dia sendiri yang mengantarkannya padaku." Ujar Ibu Suri.
"Bubur ayam? Buatan Ratu?" Tanya Raja Alec tak percaya.
"Ya, bubur ayam. Ratu sendiri yang membuatnya dan rasanya sangat lezat. Sebelumnya Ibu belum pernah merasakan makanan yang selezat buatan Ratu. Ratu memang istri dan menantu terbaik tiada duanya." Jelas Ibu Suri dengan sengaja.
Countess Sarah menunduk sambil meremas gaunnya.
"Sebaiknya Countess Sarah kembali beristirahat supaya lebih cepat sembuh. Karena luka seperti itu akan lama sembuhnya jika lenganmu digerakkan terus-menerus." Ucap Ibu Suri.
"Baik, Yang Mulia. Terima kasih atas semua kebaikan dan perhatian Yang Mulia. Hampa mohon ijin untuk undur diri dulu." Ucap Countess Sarah.
Ibu Suri hanya mengangguk. Countess Sarah dan pelayannya segera keluar meninggalkan istana Ibu Suri. Countess Sarah menyadari jika Ibu Suri Helene kurang menyukai kehadirannya di istana.
"Apa Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya pelayan Countess Sarah saat keduanya sudah keluar dari istana Ibu Suri.
"Aku baik-baik saja, Nara. Yang terpenting Yang Mulia Raja memberikan perhatiannya kepadaku." Jawab Countess Sarah sambil memaksakan senyumannya.
Countess Sarah dan pelayannya, Nara, segera kembali ke paviliun tamu.
"Apa ada yang ingin Putraku katakan pada ibumu ini?" Tanya Ibu Suri Helene.
"Sikap Ratu berubah. Dia bahkan dengan beraninya menghindariku dan mengabaikanku." Ucap Raja Alec kesal.
Ibu Suri tersenyum.
"Mengapa kau harus kesal Putraku? Bukankah selama ini kau selalu mengabaikan Roseline, dan tak pernah menganggap keberadaannya di istana ini." Ujar Ibu Suri.
Lidah Raja Alec terasa kelu untuk menjawab. Ucapan Ibu Suri serasa meninju hatinya.
"Bukankah kau sendiri yang meminta Ratu untuk tidak mengusik dan mencampuri urusanmu, Putraku? Kau pasti masih ingat dan tidak melupakannya, kan?"
Raja Alec terdiam.
"Perasaan manusia itu bisa berubah karena keadaan. Rasa cinta seseorang bisa berubah menjadi kebencian jika hati orang itu terlalu sering disakiti, termasuk perasaan Roseline. Ibu tahu jika selama satu pernikahan kalian, kau tidak pernah mendatangi istana Ratu, terutama kamar Ratu, setelah malam pengantin kalian." Ujar Ibu Suri.
Raja Alec tersentak.
"Roseline tidak pernah mengadu, tapi Ibu tahu. Jangan pernah menyalahkan orang lain atas balasan yang kita terima dari apa yang telah kita perbuat padanya." Tutur Ibu Suri.
Raja Alec dan Marquess Filan sudah tiba di istana Ratu. Baru kali ini, Raja Alec menginjakkan kakinya di istana Ratu lagi, setelah malam pengantin mereka. Dan di malam itu Raja Alec tak menyentuh Roseline sama sekali dan malah menghinanya, lalu meninggalkannya begitu saja.
"Katakan pada Ratu, Yang Mulia Raja ingin bertemu." Ucap Marquess Filan kepada salah satu pelayan Ratu.
"Mohon ampun Yang Mulia Raja. Ratu sedang tidak berada di kamarnya. Ratu sedang pergi keluar istana." Jawab pelayan itu.
Raja Alec mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Raja Alec langsung meninggalkan istana Ratu dengan langkah lebarnya dan kembali ke istananya sendiri. Marquess Filan segera menyusulnya.
Brakk...
Raja Alec membanting pintu ruangan pribadinya dengan keras.
"Beraninya dia pergi tanpa meminta ijin dulu padaku." Bentak Raja Alec kesal.
"Apa perlu hamba kirimkan prajurit bayangan untuk mencari keberadaan Ratu, Yang Mulia?" Tanya Marquess Filan.
"Tidak perlu."
"Jika ada yang ingin menemuiku, katakan aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu. Siapapun itu." Ucap Raja Alec sambil memandang keluar jendela.
"Baik, Yang Mulia." Jawab Marquess Filan.
"Mengapa Yang Mulia Raja marah. Sebelumnya Yang Mulia Raja tidak peduli dengan semua urusan Ratu." Batin Marquess Filan heran.
Roseline sudah menggunakan baju yang lebih sederhana dan memakai celana untuk menyamar. Roseline mengikat rambut panjangnya seperti ekor kuda. Saat ini Roseline sedang menaiki kuda kesayangannya bersama Felix dan Marie menuju pasar ibu kota.
Roseline turun di depan sebuah butik kecil. Di dalam novel diceritakan bahwa butik itu milik pasangan suami istri Tuan dan Nyonya Bernard. Sebenarnya Nyonya Bernard sangatlah berbakat, rancangan gaun-gaunnya sangat bagus. Tapi karena kecurangan lawan bisnisnya, yaitu Nyonya Kellin, usahanya mengalami kebangkrutan.
Nyonya Kellin mencuri rancangan milik Nyonya Bernard, lalu memfitnah jika Nyonya Bernardlah yang telah meniru rancangan gaunnya. Akhirnya Tuan dan Nyonya Bernard dikuncilkan. Dan berkat rancangan gaun curiannya itu, butik Nyonya Kellin menjadi terkenal di kalangan para bangsawan.
Roseline masuk ke dalam butik bersama Marie. Sedangkan Felix berjaga di luar butik.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa pemilik butik dengan ramah.
Roseline tersenyum.
"Apa Nyonya pemilik butik ini?" Tanya Roseline.
"Benar Nona. Perkenalkan nama saya Eliza Bernard." Pemilik butik memperkenalkan dirinya.
Nyonya Bernard mempersilakan Roseline untuk duduk.
"Namaku Seline. Aku datang ke sini karena ingin meminta bantuan Anda, Nyonya Bernard. Aku ingin Anda membuatkan beberapa gaun untukku. Dan aku sudah membuat beberapa sketsa rancangannya." Ucap Roseline sambil menunjukkan beberapa gambar gaun rancangannya.
Nyonya Bernard melebarkan matanya.
"Ini bukan model gaun pada umumnya, tapi terlihat sangat indah, Nona." Ucap Nyonya Bernard sambil tersenyum.
"Apakah Anda bisa membuatkannya untukku?" Tanya Roseline.
"Bisa Nona."
"Tapi mengapa Anda memilih penjahit kelas bawah seperti saya untuk membuatkan gaun-gaun indah ini? Karena banyak butik yang lebih terkenal, seperti butik Nyonya Kellin." Tanya Nyonya Bernard.
"Aku memilih orang yang memang berbakat, bukan terkenal." Jawab Roseline.
"Terima kasih banyak Nona atas kepercayaan, Anda." Ucap Nyonya Bernard penuh haru.
Tuan Bernard masuk ke dalam butik dengan membawa gulungan-gulungan kain.
"Suamiku, lihatlah. Nona ini ingin membuat gaun di butik kita dengan rancangan yang sangat indah." Ucap Nyonya Bernard.
Tuan Bernard langsung mendekat dan melihat ke arah Roseline dan Marie. Tuan Bernard membelalakkan matanya, lalu segera berlutut.
"Yang Mulia Ratu." Seru Tuan Bernard.
Nyonya Bernard terkejut. Begitu juga dengan Roseline. Roseline tidak menyangka jika ada yang mengenalinya.
"Istriku, berlutut. Beliau adalah Yang Mulia Ratu Roseline Cardania." Bentak Tuan Bernard.
Nyonya Bernard segera berlutut memberi hormat.
"Hamba mohon ampun Yang Mulia Ratu karena hamba tidak mengenali siapa diri Anda yang sebenarnya." Ucap Nyonya Bernard sambil menunduk.
Roseline tersenyum.
"Bangunlah." Ucap Roseline.
Tuan Bernard dan Nyonya Bernard segera bangun dan berdiri.
"Sungguh sebuah anugerah tak terkira Yang Mulia Ratu berkenan datang ke butik kecil kami." Ucap Tuan Bernard.
"Bagaimana Tuan Bernard bisa mengenali saya?" Tanya Roseline.
"Hamba pernah beberapa kali melihat Nona datang ke pasar bersama Tuan Sullivan, sebelum Yang Mulia menikah dengan Yang Mulia Raja Alec." Jawab Tuan Bernard.
Roseline menyunggingkan bibirnya.
"Jika gaun-gaunku sudah jadi, nanti pengawalku yang akan mengambilnya ke sini. Dan ini uang mukanya." Ucap Roseline sambil memberikan sekantong koin emas.
"Ini banyak sekali Yang Mulia." Ujar Tuan Bernard.
"Aku ingin kalian membelikan kain yang terbaik untuk gaun-gaunku." Sahut Roseline.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Nyonya Bernard.
"Terima kasih Yang Mulia Ratu. Semoga Yang Mulia Ratu selalu diberikan kebahagiaan dan panjang umur." Ucap Tuan Bernard.
"Sama-sama, Tuan Bernard." Ucap Roseline.
Roseline dan para pelayannya segera meninggalkan butik itu. Di tengah jalan, Roseline menghentikan laju kudanya. Roseline turun dan menemui para petani yang sedang mengolah ladang gandum yang luas tapi tampak kurang subur. Marie dan Felix juga segera ikut turun.
"Mengapa tanaman di ladang terlihat tidak subur?" Tanya Roseline.
"Karena benih yang kami dapatkan kurang bagus dan kami tidak memiliki uang untuk membeli pupuk, Nona." Jawab salah seorang petani.
"Siapa namamu?" Tanya Roseline kepada petani itu.
"Gustav, Nona." Jawabnya.
"Apa kau dan para petani yang lain mempunyai hewan ternak?" Tanya Roseline.
"Ada Nona." Jawab para petani.
"Bagus. Kumpulkan kotoran hewan ternak kalian. Dan besok bawa ke ladang ini. Aku akan membawakan bibit gandum yang baru." Ucap Roseline.
Para petani menyerngitkan dahi mereka.
"Untuk apa Nona kotoran ternak itu?" Tanya Gustav.
"Kotoran ternak bisa digunakan sebagai pupuk alami." Jawab Roseline.
"Siapa Nona sebenarnya?" Tanya Gustav.
"Hanya orang yang ingin membantu. Besok pagi aku akan datang ke tempat ini lagi dengan membawa benih gandum baru. Kalian siapkan saja kotoran hewannya. Nanti kita olah ladang ini bersama-sama." Ucap Roseline lalu naik ke atas kuda.
"Baik Nona. Terima kasih banyak." Ucap Gustav dan petani yang lain.
"Felix, perintahkan anak buahmu untuk pergi ke kediaman Duke Sullivan dan meminta benih gandum. Sampaikan kepada ayahku jika aku yang memintanya." Bisik Roseline.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Felix.
Roseline segera menarik tali kudanya dan melanjutkan perjalanan menuju istana.
"Permisi Marquess. Di depan ada Countess Sarah ingin bertemu dengan Yang Mulia Raja." Lapor penjaga.
"Sampaikan padanya jika Yang Mulia Raja sedang sibuk dan tidak bisa diganggu." Ucap Marquess Filan.
Penjaga itu segera menemui Countess Sarah.
"Yang Mulia Raja sedang sibuk dan tidak bisa diganggu, Nona." Ucap penjaga itu.
Wajah Countess Sarah terlihat kecewa sekali. Dia sengaja mendatangi ruangan pribadi Raja Alec karena ingin mengajak Raja Alec makan siang bersama. Countess Sarah dan pelayannya segera kembali ke kamarnya.
"Katakan kepada para penjaga, jika Ratu kembali suruh mereka segera melapor." Seru Raja Alec.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Marquess Filan.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
nacho
bikini panas rajanya sudah menjauh baru terhege2🤣🤣🤣
2024-03-13
0
Dede Mila
mulai tertarik nih kayak nya raja sombong...
2023-01-28
3
Yuli Yanti
🌹
2023-01-10
2