Cklek …. Suara pintu kamar mandi terbuka membuat jantung Cara semakin maraton di dalam sana. Gadis itu masih merasa begitu malu dengan kejadian tadi. Sedangkan Geo yang baru saja keluar mengernyit bingung saat melihat tubuh Cara tidak terlihat. Laki-laki datar itu hanya melihat sesuatu yang menggunung di balik selimut, dia tebak itu pasti Cara.
Geo terkekeh kecil saat menebak gadisnya itu pasti masih merasa malu dengan kejadian tadi. Geo mendekat dengan senyum nakalnya, entahlah … mengerjai Cara sudah menjadi salah satu hal menyenangkan baginya saat ini. Geo duduk perlahan di tepian ranjang, Cara yang merasakan pergerakan di dekatnya sudah menelan salivanya kasar. "Sayang," panggil Geo.
Geo menarik perlahan selimut itu, tetapi sepertinya Cara menahannya dari dalam. "Jangan ditutup seperti ini. Nanti kamu sesak napas, bukalah," ucap Geo.
Perlahan Cara mulai membuka selimut itu, tetapi gadis itu hanya membuka bagian atas saja. Cara mengintip dari balik selimut, hal itu membuat Geo terkekeh gemas. "Kenapa? Mau dilanjutkan?" goda Geo.
Cara kembali menutup wajahnya saat mendengar kalimat Geo, hal itu kembali mampu membuat Geo tertawa. "Jangan ditutup Sayang." Geo menarik selimut itu kembali.
Cara melotot saat menyadari kalau kekasih tampannya itu belum memakai baju. Jujur saja gadis itu sudah biasa melihat Geo bertelanjang dada, bahkan tidak jarang Cara menggerayangi tubuh kekasihnya itu. Sebab Cara begitu menyukai delapan kotak roti sobek di perut Geo itu. Namun, kali ini situasinya berbeda, Cara masih merasa malu dengan kejadian tadi. Jadi saat melihat tubuh kekar Geo tampa balutan baju membuatnya semakin merasa malu.
"Kenapa Kak Ge belum memakai baju?" cicit Cara.
Geo menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Bukankah aku memang selalu seperti ini?" tanya Geo.
"Iya, tapi sekarang situasinya kan berbeda," sahut Cara.
"Kenapa memangnya?" Geo menyahut sengaja memancing Cara.
"Kak Geo ih," kesal Cara.
Geo terkekeh. "Apa Sayang?" Geo mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Cara. "Kenapa ini merah? Kamu pakai blush on?" ledek Geo.
"Jangan meledekku Kak," kesal Cara.
Geo tertawa sambil mengangkat tubuh Cara dan membawa gadis itu ke atas pangkuannya, posisi yang begitu disukai oleh sepasang kekasih itu. "Ayo kita lanjutkan yang tadi." Geo tersenyum nakal ke arah Cara yang kembali memerah.
Cara memeluk tubuh polos Geo. "Jangan diingat Kak," gumam Cara.
"Bukankah kamu yang masih mengingatnya? Sampai bersembunyi di balik selimut," ledek Geo lagi.
"Kak Ge ingin aku gigit lagi?" kesal Cara.
"Boleh, kalau kamu ingin melanjutkan yang tadi," goda Geo. Cara mencubit perut keras milik Geo membuat Geo tertawa geli.
"Aku bahkan sudah begitu tidak sabar menunggu pesta kita Sayang, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi. Aku sengsara." Suara serak Geo membuat Cara terpaku. Geo memeluk tubuh Cara erat, laki-laki itu merebahkan kepalanya di dada Cara.
Cara mengusap punggung polos kekasihnya sambil mengecup lembut kening Geo. "Hanya satu minggu lagi Kak, undangannya kan sudah siap dan tinggal diedarkan," ucap Cara.
"Tapi satu minggu itu lama Sayang," balas Cara.
Cara terkekeh, gadis itu menarik wajah Geo dari dadanya kemudian mengecup gemas bibir laki-laki tampan itu. 'Kamu sukses menaklukan jiwa iblisku, Cara.' Geo membatin sambil menatap Cara hangat.
"Ayo pakai baju, Kakak sudah berjanji akan kembali ke bawah," ujar Cara.
Geo melirik jam dinding di dalam kamarnya. "Tapi ini sudah gelap Sayang," tutur Geo.
Cara menunduk kecewa mendengar kalimat Geo, sedangkan Geo yang melihat itu terkejut dan merasa bersalah. "Aku pakai baju dulu, tunggulah." Geo mengecup bibir Cara sebelum meletakkan gadis itu di atas ranjang.
Cara tersenyum senang. "Yes!" teriak Cara senang. 'Meski masih di kawasan mansion, tetapi aku tetap senang. Serasa adegan piknik romantis, hihi.' Cara membatin sambil terkekeh kecil.
...*****...
Torih berjalan dengan keadaan berantakan. Laki-laki paruh baya itu begitu frustasi karena kondisi Gerisam Group yang kembali anjlok. Torih menatap sekeliling rumah yang terasa begitu sepi. 'Ke mana mereka?' batin Torih.
Kring … kring … kring …
Suara telepon rumah mengalihkan perhatian Torih. Dengan langkah malas laki-laki paruh baya itu berjalan menuju benda berisik itu. "Halo," sapa Torih.
"Mas," sahut seorang wanita di seberang telepon.
Torih mengernyit bingung. "Sasa?" tanya Torih memastikan.
"Iya, ini aku. Aku sedang di rumah sakit, Jesy tadi pingsan. Sekarang dia harus dirawat di sini, setidaknya satu hari," papar Sasa.
Torih terdiam, sedikit rasa bersalah menyelinap ke dalam hatinya. "Rumah sakit mana?" tanya Torih.
"Rumah sakit Kesehatan Utama, kamu bisa ke sini Mas? Tolong bawakan aku baju ganti," ucap Sasdia.
"Baiklah," sahut Torih. Setelahnya laki-laki itu mematikan sambungan telepon begitu saja.
Torih menatap sekeliling ruangan tamu itu, begitu berantakan. Kekacauan yang ditinggalkannya tadi pagi masih begitu lengkap di sana. Mereka memang sudah tidak memiliki pembantu tepat saat Gerisam Group menurun sekitar tiga bulan yang lalu.
Bruk …. Torih menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sambil menghela napas panjang. 'Kenapa jadi begini? Anak sialan itu benar-benar membuat semuanya hancur,' batin Torih frustasi.
...*****...
Cara mendorong kasar pintu ruangan Geo membuat tiga orang di sana terkejut, di sana ternyata sedang ada Alex dan juga Farel. Tiga laki-laki itu menoleh ke arah Cara, sedangkan Cara berjalan santai tanpa menghiraukan tatapan tiga laki-laki itu. Cara mendekat dan memilih duduk di antara Alex dan Farel sehingga membuat mereka kembali terkejut. Alex dan Farel melirik kaku ke arah Geo yang sudah menatap tajam ke arah mereka.
Glek …. Alex dan Farel menelan salivanya kasar. "Ra," panggil Alex.
Cara menoleh dan menatap Alex bertanya. "Apa?" tanya Cara santai.
"Kamu tidak sedang menginginkan ada aksi pembantaian bukan?" ujar Alex.
Cara mengernyit tidak mengerti. "Maksud Kakak?" tanya Cara bingung.
Alex menghela napas dalam. "Tolong lihatlah tatapan pemilik ruangan ini," tutur Alex.
Cara mengernyit, tetapi setelah itu dia menoleh ke arah Geo yang sudah menatapnya tajam. Namun, bukannya takut Cara malah menghiraukannya terlihat begitu cuek. Hal itu membuat Alex dan Farel saling pandangan, kemudian dua laki-laki itu melirik Geo yang terlihat mengernyit. Sepertinya laki-laki datar itu sama bingungnya dengan tingkah Cara saat ini. "Ekhm … kamu ingin Geo mengamuk kepada kami?" ringis Alex.
"Atau mungkin nanti akan ada pembantaian sadis di markas," papar Farel datar. Juan mengangguk, sedangkan Cara sempat terkejut. Cara kembali melirik Geo yang masih diam di kursi kekuasaannya sambil menatap dingin ke arah mereka.
Cara membalas tatapan Geo dengan tatapan malas, setelahnya gadis itu berdiri dan kembali keluar dari ruangan itu. Alex dan Farel menganga melihat itu, setelahnya mereka menatap Geo yang begitu terlihat bingung. "Kau apakan Nyonya Vetro sampai dia seperti itu Tuan Vetro?" tanya Juan.
Geo berdiri dari duduknya kemudian bergerak cepat bermaksud menyusul Cara. Alex mendengus malas melihat laki-laki datar itu pergi tanpa menjawab pertanyaanya.
.
.
.
Cara berjalan kesal. "Ck … tidak peka sekali si datar itu," kesal Cara.
Cara terkejut saat seseorang menarik tangannya, gadis itu menoleh dan terkejut melihat keberadaan Geo. Setelahnya Cara menatap Geo malas. "Kenapa?" tanya Geo.
Cara menatap Geo dengan wajah kesal. "Apa yang kenapa?" ketus Cara.
Geo semakin mengernyit, tidak biasanya Cara seperti itu. "Kamu yang kenapa Sayang?" tutur Geo lembut.
"Aku tidak kenapa-kenapa Tuan Vetro," tekan Cara malas.
"Kenapa Sayang?" Geo kembali bertanya.
"Aku ingin pergi, malas di sini. Panas!" Cara menjawab sambil menatap sinis ke arah Geo.
Geo menatap kepergian Cara dengan sejuta kebingungan di dalam benaknya. Sedangkan Cara sudah menggerutu kesal disela langkahnya. "Kenapa?" gerutu Cara meledek ucapan Geo.
"Mentang-mentang tampan, dia … akhh." Kalimat Cara terpotong karena tiba-tiba gadis itu berteriak. Cara menatap kesal Geo yang dengan tiba-tiba menggendong dirinya ala bridal style. Sedangkan Geo tetap berjalan sambil menatap lurus ke depan dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Aku mau turun," ucap Cara. Namun, ucapannya tidak dihiraukan oleh Geo membuat gadis itu semakin kesal.
"Kak, aku mau turun," kesal Cara.
"Ingin aku cium di sini Baby?" bisik Geo. Cara melotot, yang benar saja. Mereka sedang berjalan di koridor kantor yang begitu ramai, jika Geo benar-benar melakukan itu … jelas saja akan begitu memalukan.
Cara dengan cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, hal itu membuat Geo terkekeh kecil. Geo membawa tubuh Cara ke lobi perusahaan. Sepanjang perjalanan itu jelas saja mereka menjadi pusat perhatian. "Tuan." Beberapa orang pengawal menunduk hormat kepada Geo.
Geo meletakkan tubuh Cara ke dalam mobil. Setelahnya laki-laki itu melajukan mobil dan membawa Cara pergi. Sedangkan Cara hanya diam tanpa berniat untuk bersuara. Jujur saja Geo merasa begitu aneh, sebab biasanya kekasihnya itu sangatlah cerewet. Tidak seperti sekarang yang hanya diam, hal itu membuat hati Geo tidak tenang. "Sayang," panggil Geo begitu lembut.
Cara masih diam, gadis itu memiringkan wajahnya melihat jalanan kota. Geo menghela napas berat, dia bingung harus bagaimana menghadapi sikap Cara yang sepertinya sedang merajuk. Laki-laki itu bingung, hal apa yang membuat gadisnya itu terlihat begitu marah kepadanya. "Sayang, berbicaralah. Aku bingung kenapa kamu seperti ini," ucap Geo lagi.
"Kak Re bawa saja mobilnya," sahut Cara.
Geo kembali menghela napas. "Baiklah, tapi kamu ingin ke mana sekarang?" tanya Geo.
Cara menatap Geo dengan pandangan tajam. "Bukankah Kak Ge yang tiba-tiba mengajakku?" kesal Cara.
Geo meringis melihat wajah marah kekasihnya. 'Aku tidak menyangka, diumurku yang sudah menginjak angka 25 tahun. Ini adalah kali pertama aku merasa ngeri melihat kemarahan seseorang,' batin Geo.
...*****...
Geo yang baru saja berniat membukakan pintu untuk Cara terhenti saat melihat Cara sudah lebih dulu berada di luar. Gadis itu berjalan mendahuluinya membuat Geo mengejar langkah kecil gadis itu. "Hei," panggil Geo.
Cara mendongak dengan mata menyipit. Geo kembali meringis. 'Aku tidak menyangka kalau marahnya begitu menakutkan,' batin Geo.
Cara berniat menutup pintu kamarnya tetapi segera ditahan oleh Geo. Gadis itu mendengus malas dan berlalu begitu saja, Geo masuk dan mengikuti langkah kaki Cara ke arah ranjang. Laki-laki itu menatap wajah Cara intens. "Ayo katakan Sayang, ada apa?" ucap Geo lembut. Laki-laki itu mengusap lembut pipi Cara yang sedang menggembung kesal.
"Dia siapa?" Cara menatap tajam Reo.
"Dia? Dia siapa Sayang?" tanya Geo bingung.
"Ish … tidak usah pura-pura lupa." Cara menatap Geo dengan mata menyipit.
'Astaga, aku yakin kalau dia benar-benar jodohku. Marahnya mengerikan,' batin Geo meringis. "Aku benar-benar tidak mengerti Sayang," sahut Geo.
"Tadi bertemu dengan siapa?" tanya Cara memperjelas.
Geo terdiam, beberapa detik kemudian laki-laki itu tersenyum geli. 'Apa dia melihat aku bertemu dengan Maya?' batin Geo.
"Ternyata Nyonya Vetro ini sedang cemburu rupanya," ledek Geo.
Cara menatap kesal ke arah Geo. "Jadi siapa Tuan Vetro?" tekan Cara kesal.
Geo tertawa. "Namanya Maya, Sayang. Dia itu wakil CEO QR Group, salah satu rekan bisnis kita. Tadi aku tidak bertemu berdua saja, pasti kamu melihat kami saat Tuan David meminta izin untuk menelepon," jelas Geo.
Cara memicingkan matanya, gadis itu tahu kalau Geo tidak berbohong. "Tapi dia suka Kak Ge," sinis Cara.
"Bukan aku yang suka dia kan Sayang?" Geo mencubit pipi Cara gemas.
"Tetap saja aku tidak suka, jelas sekali dari tatapannya dia mencoba mencari perhatian Kakak," ujar Cara kesal.
Geo tertawa, laki-laki itu menarik tubuh Cara kemudian memeluknya erat. "Tapi aku tidak tertarik kepadanya, bukan kah itu yang lebih penting? Ingat, satu minggu lagi kita akan menikah Sayang, dan aku juga memberi dia undangan pernikahan kita." Geo mengecup gemas seluruh wajah Cara.
Cara mengerucutkan bibirnya kesal. "Marahnya Nyonya Vetro ternyata mengerikan juga ya. Ternyata karena cemburu." Geo tersenyum nakal ke arah Cara.
Cara memukul dada bidang Geo merasa malu, Geo terkekeh. "Aku sempat takut loh tadi," ujar Geo lagi.
"Aku takut Kak Ge selingkuh, wanita tadi cantik dan …."
Cup …. Kalimat Cara terpotong sebab Geo mencium bibir gadis itu. "Tidak ada yang secantik kamu Baby," bisik Geo. Setelahnya Geo kembali mencium bibir Cara dan sedikit me***at nya lembut.
...*****...
Torih, Sasdia dan Jesy menatap tajam seorang gadis yang sedang duduk santai di sebuah kursi ruang tunggu rumah sakit. Mereka bergerak cepat menuju gadis itu. "Wah … siapa ini?" ujar Jesy sinis.
Cara mendongak dan sedikit terkejut saat melihat keberadaan Torih, Sasdia dan Jesy. Gadis itu berdiri dan tersenyum miring saat melihat muka pucat milik Jesy. "Kamu begitu pucat, sedang sakit kah? Apa karena pelajaran yang dimaksud Tuan Gerisam kemarin? Anda yang membuat putri tercinta Anda ini masuk rumah sakit Tuan?" ejek Cara.
"Diam kau!" bentak Sasdia.
"Wuih … santai Nyonya Gerisam." Cara tersenyum sinis ke arah Sasdia.
"Kau sendiri sedang apa di sini? Apa jangan-jangan kau sedang memeriksakan kandungan? Siapa bapaknya, maksudku … ada berapa bapaknya?" Jesy tersenyum licik.
"Benarkah begitu? Aku benar-benar malu memiliki anak murahan sepertimu," desis Torih.
Sedangkan Cara hanya diam sambil menatap mereka datar. "Terserahku ingin melakukan apa di sini, lebih baik kalian pulang. Bukankah perusahaan Anda sedang berada di penghujung umurnya? Perlukan aku bantu kau Tuan Gerisam? Maksudku … membantu meruntuhkannya." Cara tersenyum miring ke arah Torih yang sudah mengepalkan tangannya marah.
Laki-laki itu bersiap menampar Cara, tetapi niatnya itu kembali terhalang karena tangan kekar seseorang sudah lebih dulu menahannya. Torih terperanjat saat melihat tatapan tajam dari seorang laki-laki yang begitu dikenalnya. "Tu-tuan Vetro," gumam Torih terkejut.
Geo menatap tajam Torih, tatapan itu mampu membuat laki-laki paruh baya itu bergetar takut. Sedangkan Jesy sudah menganga di tempatnya menatap wajah tampan Geo tanpa berkedip. "Maaf Tuan Vetro, gadis ini adalah gadis tidak benar. Dia sudah menggoda banyak laki-laki. Menurut saya dia tidak pantas menduduki posisi direktur utama di VT Group," ucap Torih gugup.
"Siapa kau berani mengatur perusahaanku."
Glek …. Suara rendah Geo mampu membuat Torih menelan ludahnya kasar. Tatapan mata Geo saja seakan sedang mengulitinya hidup-hidup. Cara yang melihat wajah takut Torih tersenyum miring. "Nyalimu besar juga mencoba menyakiti gadisku," sambung Geo dingin.
Deg …. Torih melotot. "Gadismu?" Torih bergumam sambil menatap Cara yang sedang tersenyum sinis. Sasdia dan Jesy ikut terkejut.
Cara mengulurkan sebuah undangan yang begitu terlihat mewah dan elegan sambil tersenyum miring. Torih menatap undangan itu dan mengambilnya ragu. Mata Torih melotot seakan ingin keluar dari porosnya, tangan laki-laki itu bergetar sambil menatap Cara yang sudah tersenyum mengejek. "Me-menikah? Satu minggu lagi?" gumam Torih tidak percaya.
"Aku harap kalian datang dihari bahagia kami nanti, keluargaku." Cara menekan kata keluargaku di dalam kalimatnya sambil tersenyum licik.
"Kalian … jika bukan karena permintaan gadisku. Kalian sudah lama pensiun dari bumi ini." Glek ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
apa mayat😱🤔
2024-02-21
0
TNS Slayer
mirip sekali dengan kriteriaku😀🤪🤪
2023-08-30
0
Eni Sulastri
sudah habiskah masa kontraknya makanya pensiun 🤣🤣🤣🤣
2022-07-23
3