"Bangsat! Siapa yang berani meneror ku seperti ini," murka Torih.
"Datang lagi? Hasil pencarian orang suruhan Mas itu bagaimana?" tanya Sasdia.
"Tidak ada hasil, katanya data pengirim tanpa cela. Benar-benar rapi dan sulit untuk dilacak, mereka menduga pelakunya orang berpengaruh," tutur Torih fruatasi.
"Padahal ini sudah hampir dua minggu Mas, paket misterius ini selalu datang," ujar Sasdia.
"Dia tahu semuanya, bahkan sampai titik koma korupsiku," panik Torih.
"Siapa kira-kira Mas? Apakah Mas akhir-akhir ini punya masalah dengan seseorang?" tanya Sasdia.
Torih terdiam, laki-laki paruh baya itu nampak berpikir siapa si pelaku. "Aku tidak merasa memiliki masalah dengan orang penting, dengan para bawahan mungkin iya. Tapi … aku yakin mereka tidak akan mampu melakukan ini," papar Torih.
"Terus siapa? Kalau sampai kasus ini bocor, bisa bahaya Mas," ucap Sasdia panik.
"Kau diamlah! Aku pusing." Torih pergi begitu saja dengan wajah frustasinya.
...*****...
Cara menatap sosok laki-laki yang sedang duduk tegap di ruangan makan, terlihat laki-laki itu sedang fokus dengan ponselnya. Cara menarik napas dalam mencoba menghilangkan rasa gugupnya setelah kejadian di ruangan gym tadi. "Selamat pagi Kak!" sapa Cara mencoba terlihat biasa saja.
Geo mendongak dan mendapati Cara sedang tersenyum kepadanya, laki-laki itu menatap wajah Cara intens sehingga membuat kegugupan yang sedang ditutupi Cara semakin meronta ingin keluar. 'Ya ampun, tidak bisakah dia tidak membuat aku gugup?' batin Cara.
"Duduklah," ucap Geo menyadarkan Cara.
"Ah … iya." Cara duduk dengan gerakan sedikit kaku.
"Kakak ingin makan apa?" tanya Cara. Sudah hampir setiap pagi atau pun malam, gadis itu akan mengucapkan hal itu. Sebab Cara melayani Geo seakan seorang suami, Geo pun tidak menolak bahkan sampai saat ini. Laki-laki itu malah sudah terbiasa dengan kehadiran Cara, kesepian di dalam dirinya perlahan mulai memudar.
"Seperti kemarin," sahut Geo.
"Baiklah," balas Cara.
.
.
.
"Cara," panggil Geo. Mereka baru saja menyelesaikan kegiatan sarapan pagi.
"Iya Kak," sahut Cara.
"Ikut aku," tutur Geo.
Cara mengernyit bingung. "Ke mana Kak?" tanya Cara bingung.
"Pertemuan dengan perwakilan Jaya Company," papar Geo.
"Denganku? Bukankah biasanya Kak Ge dengan Kak Farel?" bingung Cara.
"Farel ada urusan," jelas Geo.
Cara mengangguk singkat. "Baiklah, kapan?" tanya Cara.
"Sebentar lagi, kamu siap-siap saja. Aku sudah menyiapkan baju untukmu," ujar Geo.
"Padahal bajuku masih begitu banyak," gumam Cara.
"Kalau begitu aku akan siap-siap dulu, Kak." Cara berdiri dari duduknya, kemudian berlalu dari sana.
...*****...
Geo menatap tajam laki-laki yang berada dihadapannya. Sebab laki-laki itu sedari tadi terus menatap ke arah Cara dengan pandangan tertarik. Entah kenapa melihat itu membuat hati Geo panas dan begitu tidak suka. "Saya tidak menyangka, perempuan semuda Anda sudah menjabat sebagai direktur utama di VT Group. Saya benar-benar kagum." Jodi tersenyum kepada Cara.
"Terima kasih, Tuan." Cara membalas dengan senyum ramahnya. Jodi Mersua, laki-laki yang menjabat sebagai wakil CEO di Jaya Company. Laki-laki itu menjadi utusan dari perusahaannya karena CEO mereka tidak dapat bertemu. Jodi jugalah laki-laki yang sedari tadi ditatap tajam oleh Geo.
Tiba-tiba Geo berdiri membuat Cara dan Jodi mendongak. Setelahnya Cara dan Jodi ikut berdiri. "Kalau begitu terima kasih atas hari ini Tuan Jodi, semoga kerjasama antara perusahaan kita berjalan dengan baik." Cara kembali tersenyum ramah.
"Tentu saja, saya sangat senang hari ini bisa bertemu dan berkenalan denganmu." Jodi mulai mendekat ke arah Cara dengan tatapan penuh nafsu.
Dengan gerakan cepat Cara mendekat ke arah Geo dan memegang lengan kekar laki-laki datar itu. Sebenarnya sedari tadi Cara sudah sangat risih dengan tatapan menjijikan yang ditujukan Jodi kepadanya. Sedangkan Geo masih saja menatap tajam Jodi dengan raut tak terbaca.
Tiba-tiba Geo mengulurkan tangan kanannya ke arah Jodi. Awalnya Jodi terkejut dan menatap bingung uluran tangan Geo. Namun, setelahnya laki-laki itu menerima uluran tangan kanan Geo. "Sampaikan pesan saya kepada Tuan Jay, jangan mengusik singa tidur," desis Geo.
Jodi meringis merasakan telapak tangannya seakan remuk. Jabatan tangannya dengan Geo ternyata tidak sekedar jabatan tangan biasa. Geo menggenggam tangannya begitu erat, sukses membuat Jodi menahan jeritan sebab tulang telapak tangannya seakan hancur. "To-tolong lepaskan, Tuan," rintih Jodi menahan sakit.
Krak ….
"Akh …!" Jeritan Jodi menggema di ruangan itu. Cara bahkan sudah terlonjak karena terkejut, apa lagi gadis itu juga mendengar dengan jelas suara tulang patah dari telapak tangan Jodi.
Cara mendongak dan terkejut melihat raut gelap dari wajah Geo. Ekspresi Geo memang masih terlihat datar, tetapi aura yang di keluarkan sudah begitu lain. Bahkan Cara tidak berani menatap mata tajam Geo yang sekarang terlihat lebih menakutkan dari biasanya. "Ma-maafkan saya Tuan, ta-tapi apa salah saya?" Jodi berucap disela rintihan kesakitan.
"Kau mengusik milikku," desis Geo tajam.
Deg …. Jodi terkesiap, setelahnya laki-laki itu melirik takut ke arah Cara yang sedang mendongak menatap Geo dengan pandangan tidak kalah terkejut. "Sa-saya minta maaf Tuan, saya tidak tahu kalau Nona Cara adalah gadis Tuan," panik Jodi.
"Sebut namanya sekali, kau mati," desis Geo. Glek …. Dengan gemetar Jodi menutup mulut menggunakan tangan kirinya karena tangan kanannya masih digenggam oleh Geo. Padahal dapat dipastikan telapak tangannya itu sudah remuk.
Cara mengeratkan pegangan tangannya di lengan kekar Geo, hal itu mampu mengembalikan kesadaran Geo. Laki-laki datar itu menunduk guna menatap wajah Cara, terlihat wajah Cara sudah pucat. Sepertinya gadis itu ikut takut melihat jiwa iblis Geo yang sempat terpancing untuk keluar. "Pergi sebelum kau mati di sini," usir Geo datar.
Jodi berlari ketakutan begitu tangannya dilepas oleh Geo. Sedangkan Cara menghela napas pelan merasa sedikit lega, meski sebenarnya aura mencekam di dalam ruangan itu masih tersisa. "Tidak apa-apa?" tanya Geo singkat.
"Tidak Kak, terima kasih." Cara tersenyum manis ke arah Geo.
"Jangan perlihatkan senyum itu kepada laki-laki lain," pesan Geo.
"Hah?" Cara menatap bingung ke arah Reo.
"Aku tidak suka," sambung Geo.
Cara masih saja ternganga, bahkan gadis itu tidak sadar saat Geo mengajaknya keluar dari ruangan itu. "Aku tidak mengerti," gumam Cara.
Geo menoleh saat mendengar kalimat pelan yang dilontarkan Cara. Tiba-tiba laki-laki itu menghentikan langkahnya, kemudian Geo menatap Cara dengan tatapan intens. Sedangkan Cara terkesiap saat Geo berhenti tiba-tiba dan menatapnya seperti itu. "Entah sejak kapan, tapi … aku mulai menyukaimu. Aku tidak suka jika ada laki-laki lain menatapmu dengan pandangan tertarik," tutur Geo serius meski masih dengan nada datarnya.
Cara melotot dengan mulut terbuka merasa tidak percaya. "Mimpikah?" gumam Cara ling-lung.
"Tidak," sahut Geo.
Cara terlonjak saat Geo menyahut perkataannya. 'Jadi tidak mimpi? Ya ampun, Kak Geo menyukaiku?' jerit Cara di dalam hati.
"Ingat pesanku, jangan tersenyum kepada laki-laki lain," peringat Geo.
Cara mengangguk patuh sebab gadis itu masih berada dalam kebingungannya. "Good girl," Geo mengusap puncak kepala Cara sambil tersenyum begitu tipis.
Kebingungan Cara yang belum habis kini bertambah karena aksi dari Geo itu. Cara berjalan mengikuti langkah kaki Geo dengan pandangan kosong masih merasa tidak percaya. 'Sepertinya sebentar lagi aku akan menjadi gila karenamu, Kak,' batin Cara frustasi.
...*****...
Torih menatap sebuah lembaran kertas yang bertuliskan 'Bagaimana jika bukti korupsi ini aku sebar?'. Tatapan Torih menajam, dengan gerakan penuh emosi laki-laki paruh baya itu merobek selembar kertas itu. "Datang lagi Mas?" tanya Sasdia.
Torih hanya diam, matanya menyorot tajam entah ke mana. "Siapa?" geram Torih.
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Torih mengalihkan perhatian sepasang paruh baya itu. Torih mengernyit saat melihat nomor tidak dikenal menghubunginya. "Halo," sapa Torih.
"Apa kiriman saya sudah sampai, Tuan Gerisam?" tanya seorang wanita di seberang telepon.
Torih mengernyit. "Siapa kau?" tanya Torih.
"Apakah semudah itu kau melupakan aku, anak tercintamu?" ejek wanita itu.
Torih terdiam sejenak, setelahnya laki-laki itu melotot terkejut. "Cara?" gumam Torih.
Cara tertawa di seberang telepon, tebakan Torih benar. "Ya, seratus untuk Anda," sahut Cara.
Torih mengepalkan tangannya. "Apa maksudmu?" tanya Torih.
"Kiriman saya hari ini sudah sampai bukan? Terus bagaimana, apa kau setuju jika aku menyebarkan bukti korupsi itu?" ujar Cara santai.
Torih kembali melotot. "Jadi kau yang selama ini menerorku?" murka Torih.
Torih dapat mendengar suara tawa Cyra dari telepon genggam miliknya. "Bukankah aku sudah memperingati kalian sebelumnya, seharusnya kalian tahu kalau itu adalah aku. Kalian mencoba mencari tahu, tapi sayang … hasilnya zonk sampai saat ini. Kasihan sekali," ejek Cara.
Torih mengepalkan tangannya erat. 'Bagaimana dia bisa tahu ini semua?' batin Torih.
"Apa kau bingung kenapa saya tahu semua rahasiamu itu? Itu adalah hal mudah bagi saya, padahal saya sudah menunggu-nunggu balasan dari kalian. Tetapi, sampai saat ini kalian masih tidak dapat menemukan saya, jadi … saya mulai bosan dengan permainan ini. Makanya sekarang saya beri tahu Anda, kalian terlalu lemah." Cara tertawa mengejek. Sedangkan Torih sempat terkejut saat Cara bisa memintas pikirannya.
"Kau benar-benar kurang ajar, anak tidak tahu diuntung!" bentak Torih.
Cara tertawa keras. "Aku tahu, sebab ayahku juga seorang laki-laki brengsek. Maka … tidak salah jika aku sebagai anaknya menjadi seperti ini bukan?" tutur Cara.
Torih terdiam, wajahnya memerah menahan amarah. "Aku sudah benar-benar bosan dengan permainan ini, bagaimana kalau kita buat permainan baru?" Kalimat Cara mampu membuat Torih menegang di tempat.
"Apa yang kau inginkan bangsat?" umpat Torih.
"Saya? Saya ingin kalian merasakan hal yang pernah saya rasakan dulu, bahkan saya akan membuat semuanya menjadi berkali lipat," desis Cara.
Torih terpaku, lidahnya terasa kelu tidak dapat bersuara. Laki-laki paruh baya itu menelan salivanya susah payah saat menangkap perkataan Cara tidaklah main-main. Mengingat itu membuat Torih merasakan kekhawatiran di dalam dirinya. Posisi Cara saat ini sangat memungkinkan untuk gadis itu melakukan apa saja kepada mereka. Buktinya aksi teror ini, sudah hampir satu bulan Torih tidak bisa menemukan pelaku yang ternyata putrinya sendiri.
"Kalian ingin permainan seperti apa?" tanya Cara lagi.
"Tolong hentikan semua ini Cara, aku adalah ayahmu. Kau ingin menjadi anak durhaka?" papar Torih.
Cara terkekeh sinis. "Ayah saya? Ya, memang Anda adalah ayah saya dan saya adalah anak kandung Anda, saya sangat tahu itu. Tetapi … apakah garis takdir ini Anda ingat beberapa bulan yang lalu? Di saat Anda memperlakukan saya begitu kasar dan kejam, bahkan saya hampir meregang nyawa empat bulan yang lalu. Apa Anda ingat?" tutur Cara dingin.
Torih terdiam kaku, laki-laki itu tidak dapat menjawab perkataan Cara. "Kenapa Anda diam? Tidak dapat menyerga sebab itu semua benar adanya bukan? Bahkan bunda saya yang sudah tenang di surga pun selalu mendapat umpatan dari mulut busuk Anda itu. Saya muak berlama-lama berbicara dengan Anda, saya memang anak durhaka. Hasil dari didikan ayah saya," geram Cara.
"Oh iya, saya ada hadiah untuk Anda. Setelah panggilan ini saya putuskan, Anda akan segera mendapat panggilan lain tentang hadiah itu. Apakah Anda penasaran? Kalau begitu saya akan tutup panggilan telepon ini, supaya Anda segera tahu apa hadiah dari saya. Semoga Anda suka." Setelahnya Cara menutup panggilan itu secara sepihak.
Torih menatap layar ponselnya dengan pandangan was-was, kata hadiah yang dilontarkan Cara membuat perasaannya tidak enak. "Apa yang dia rencanakan?" gumam Torih.
"Siapa Mas? Kenapa terlihat begitu tegang, apa pelaku teror itu, apa dia Cara yang kamu panggil anak?" tanya Sadia yang sedari tadi mendengarkan.
"Iya," sahut Torih singkat.
Sasdia melotot tidak percaya. "Jadi perkataannya waktu itu tidak main-main?" tutur Sasdia.
Tring … tring … tring …
Torih menatap layar ponselnya ragu. "Kenapa tidak diangkat Mas?" tanya Sasdia bingung.
Sasdia melihat nama si pemanggil di layar ponsel suaminya. "PT Sejahtera," gumam Sasdia.
"Itu bukannya perusahaan tempat kamu korupsi itu Mas?" tanya Sasdia panik.
Torih menghela napas panjang. "Diam." Setelah mengucapkan itu Torih mengangkat panggilan telepon itu. "Halo."
"Berani sekali kau bermain dengan perusahaan saya, bangsat!" murka laki-laki di seberang telepon. Torih menghela napas frustasi, ternyata bukti korupsinya sudah disebar.
"Hubungan kerjasama kita sudah saya tarik, semua keuntungan saya ambil sebagai kompensasi tindakan yang kau lakukan. Untung saja ada seseorang yang menjaminmu, jika tidak bisa saya pastikan kau membusuk di penjara, brengsek!" Setelah mengucapkan hal itu si penelepon memutuskan panggilan begitu saja.
Torih mengusap wajahnya frustasi. "Kenapa, Mas?" tanya Sasdia khawatir.
"Mereka sudah tahu," sahut Torih lesu.
"Terus bagaimana, apa mereka melaporkan kamu ke polisi?" Sasdia berucap panik.
"Tidak, katanya ada seseorang yang menjamin ku. Aku tidak tahu siapa," jelas Torih bingung.
"Siapa yang berbaik hati menjamin mu?" tanya Sasdia ikut bingung.
Tring … tring … tring …
Ponsel Torih kembali berdering, laki-laki paruh baya itu menatap tajam nomor baru yang sudah dikenalinya. "Kau pelakunya?" tuduh Torih cepat.
"Wah … ternyata Anda tidak sabaran ya. Tetapi … saya senang, sebab kali ini Anda bisa menebak dengan cepat. Bagaimana, suka dengan hadiah dari saya?" Cara tertawa sinis.
Torih mengepalkan tanganya marah. "Hentikan semua ini Cara," geram Torih.
"Sayangnya saya sudah begitu kesenangan dengan permainan ini, bagaimana tuh? Sudahlah … jalani saja, saya yang akan memikirkan dan membentuk alurnya seperti apa. Kalian hanya tinggal menjalaninya, mudah bukan? …. Oh iya, seharusnya Anda berterima kasih kepada saya. Sebab saya orang yang menjamin Anda di PT Sejahtera, kalau tidak mungkin sekarang polisi sudah di rumah Anda," ejek Cara.
'Jadi dia orangnya?' batin Torih.
"Sebenarnya bukan karena saya baik, tetapi karena saya masih ingin bermain. Kalau Anda di penjara, maka permainannya tidak akan seru lagi." Cara tertawa senang. Sedangkan Torih sudah mengepalkan tangannya merasa begitu emosi.
"Ada masanya Anda berada di sana, tetapi tidak sekarang … maka bersiap-siap saja. Sekarang Anda nikmati masa-masa di dunia bebas ini. Sebelum saya membuat semua milik Anda hilang dan … boom. Hancur tak bersisa." Setelahnya Cara mematikan panggilan telepon begitu saja. Meninggalkan Torih yang sudah terdiam kaku dengan keringat dingin di tubuhnya.
Ancaman Cara kali ini tidak main-main, kejadian hari ini adalah bukti dari keseriusan gadis itu untuk membalas dendam kepada mereka. Torih mengepalkan tangannya erat. 'Aku tidak akan membiarkan gadis brengsek itu merusak segalanya, aku membangun ini semua dengan susah payah,' batin Torih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Merlinda Ani Inda
setelah aku baca karakter dari cara kok sama persis dengan saya yah, ya walaupun cara bukan dunia nyata tapi itu pribadi aku banget. good cara.
2023-06-14
0
Rahman Hayati
bener bener seru ceritanya
2023-01-02
0
zonk
tntu sja,, merka hrus mndapatkan yang dari apa yang mreka lakukan pada mu
😈
2022-08-20
0