"Enggh …." Cara melenguh kecil, matanya yang sedari kemarin terpejam akhirnya mulai bergerak berusaha terbuka.
Pelan-pelan Cara membuka matanya, gadis itu memicing mencoba menyesuaikan sinar silau dipenglihatannya. Setelah matanya sempurna terbuka, Cara mengernyit bingung. Ruangan luas dan begitu bersih adalah hal pertama yang ditangkap Cara, setelahnya gadis itu meringis merasakan nyeri disekujur tubuhnya. Ditambah dengan kepalanya yang sedikit pusing akibat terlalu lama terpejam. 'Aku di rumah sakit?' batin Cara.
Cklek …. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian gadis di atas ranjang itu. Seorang laki-laki bertubuh besar dan berseragam serba hitam membuat Cara bergetar takut. Sedangkan laki-laki yang baru saja masuk sedikit terkejut saat melihat Cara sudah sadar dari tidurnya.
"Anda sudah sadar, Nona? Saya akan panggilkan dokter, saya juga harus memberi tahu Ketua." Laki-laki itu kembali keluar dari ruangan menyisakan kebingungan di otak Cara.
"Ketua?" gumam Cara bingung.
Tak berselang lama, seorang dokter masuk ke dalam ruangan gadis itu. Namun, Cara mengernyit saat melihat gerakan kaku dari dokter laki-laki itu. "Permisi Nona, saya akan memeriksa Anda. Apakah Anda merasakan sesuatu?" ucap dokter itu kaku.
"Oh … badan saya terasa nyeri dan kepala saya sedikit pusing," terang Cara.
Dokter itu mengangguk singkat. "Badan Anda terasa nyeri karena hampir seluruh tubuh Anda mendapatkan luka lebam, kami sudah memberikan obat pereda nyeri. Sedangkan kepala Anda terasa pusing, kemungkinan karena Anda tidak sadarkan diri cukup lama," jelas dokter.
"Cukup lama? Saya tidak sadar berapa lama Dok?" tanya Cara.
"Anda dibawa ke sini kemarin sore dan baru sadar sekarang," pungkas dokter.
Cara terkejut mendengar perkataan dokter laki-laki itu. "Selama itu?" gumam Cara.
"Saya sudah mengganti obat Anda, apa ada sesuatu yang perlu saya bantu, Nona?" Suara Dokter mengejutkan lamunan Cara.
"Aku ingin bertanya, Dok," ucap Cara.
"Silakan, Nona," balas dokter.
"Siapa yang membawa aku ke sini?" tanya Cara.
"Tuan Vetro, orang yang menabrak Anda," jawab dokter.
Cara mengernyit bingung, setelahnya gadis itu mengangguk kecil saat mengingat dengan jelas kejadian yang dia alami kemarin. "Terima kasih, Dok," lirih Cara.
"Sama-sama Nona, kalau begitu saya permisi. Jika Anda butuh sesuatu atau mungkin merasakan sesuatu, Anda bisa panggil kami dengan menekan tombol ini. Mungkin Anda juga bisa minta tolong kepada para pengawal di luar ruangan ini," terang dokter.
"Pengawal?" tanya Cara bingung.
"Iya, sedari kemarin ruangan Anda dijaga ketat oleh lima pengawal Tuan Vetro. Jadi Anda bisa minta tolong kepada mereka," ujar dokter.
"Hah?" kaget Cara.
"Saya permisi Nona." Dokter laki-laki itu keluar dari ruangan luas itu.
"Pengawal? Si-siapa sebenarnya Tuan Vetro yang dimaksud Dokter itu?" gumam Cara penasaran.
"Sepertinya dia laki-laki yang berkuasa, sampai mengirim pengawal untuk menjaga ruangan ini," sambung Cara. Setelahnya Cara terbayang kejadian kejam yang dialaminya kemarin. Mengingat itu membuat Cara mengepalkan tangannya karena menahan sesuatu yang menumpuk dan membuncah di dalam hatinya.
...*****...
Cklek …. Cara menoleh dan melihat seorang laki-laki tampan masuk ke dalam ruangannya. Cara ternganga di tempat merasa begitu terpana dengan ketampanan laki-laki itu. Cara meneguk ludahnya kasar saat menyadari tatapan laki-laki tampan itu sangatlah tajam, sehingga tanpa aba-aba Cara menundukkan kepalanya takut.
'Dia tampan sekali, tapi … tatapannya begitu tajam, membuatku takut,' batin Cara.
Ruangan itu hening, sebab Geo, laki-laki tampan yang dimaksud Cara hanya diam semenjak masuk ke dalam ruangan itu. Laki-laki itu hanya diam sambil menatap intens ke arah Cara. Hal itu membuat Cara takut sekaligus bingung. '**K**enapa dia hanya diam saja? Apa dia salah masuk ruangan?' Cara kembali membatin.
Cklek …. Terdengar suara pintu kembali terbuka, Cara masih setia dengan posisi menundukkan kepalanya. Namun, di dalam hatinya, gadis itu berharap orang yang baru saja datang bisa mengusir aura tegang di dalam ruangan itu. "Heh, kenapa sunyi sekali?" lontar Alex.
Alex menatap bingung Cara yang sedang menunduk dengan wajah pucatnya, setelahnya laki-laki itu menoleh ke arah Geo yang sedang menatap Cara dengan tatapan datar khas milik ketua mafia itu. 'Pantas saja gadis ini terlihat begitu ketakutan,' batin Alex malas.
"Hah …." Alex menghela napas lelah, setelahnya laki-laki itu menatap kesal ke arah Geo.
"Kau ke sini hanya untuk ini? Diam dan membuatnya takut," cetus Alex jengah.
Geo menoleh, setelahnya laki-laki datar itu menyibukkan dirinya dengan ponsel. Hal itu membuat Alex kembali menghela nafas kesal. "Sabar sekali Anda, Alex," gumam Alex menahan kesal.
"Jangan menunduk seperti itu, dia tidak akan memakanmu." Alex menatap Cara yang sempat terkejut mendengar perkataannya.
Dengan perlahan Cara mengangkat kepalanya, setelahnya gadis itu dapat melihat Alex sedang tersenyum tipis ke arahnya. Melihat itu Cara dapat sedikit bernapas lega. "Perkenalkan nama saya Alex, dan dia adalah Geo orang yang menabrakmu," jelas Alex.
Cara terkejut, setelahnya dengan sedikit kaku gadis itu melirik ke arah Geo yang masih fokus dengan ponselnya. "Kami tahu jika luka fisikmu bukan ulah Geo, kau sudah sekarat bahkan sebelum Geo menabrakmu," sambung Alex.
Cara terkejut, tetapi gadis itu diam tanpa membantah karena apa yang dikatakan Alex adalah benar. "Tetapi kau beruntung karena yang menabrakmu adalah Geo, meski laki-laki itu datar dan menakutkan seperti yang kau lihat. Dia bertanggung jawab, meski lukamu tidak sepenuhnya karena dia. Jadi, dia akan membayar perawatanmu sampai kau sembuh," papar Alex.
Cara kembali terkejut, untuk kedua kalinya gadis itu melirik singkat ke arah Geo yang masih sibuk sendiri. "Te-terima kasih," ucap Cara gugup.
"Jika kau butuh sesuatu, katakan saja. Kau bisa melaporkan kepada sekelompok laki-laki yang berjaga di luar, mereka siap membantumu," sambung Alex.
"Ini sudah cukup, sekali lagi terima kasih," sahut Cara.
Alex mengangguk singkat. "Baiklah, kalau begitu kami permisi. Semoga lekas sembuh." Alex tersenyum ramah kepada Cara. Cara membalas dengan senyum kaku karena tidak terbiasa. Setelahnya Geo berdiri dari duduknya kemudian pergi begitu saja, Alex yang melihat itu ikut bergerak mengikuti langkah sang ketua.
...*****...
Satu minggu berlalu Cara merasakan hidup di dalam rumah sakit, selama itu pula setiap harinya Geo datang meski hanya sekedar duduk sebentar tanpa berbicara. Geo datang sendiri tanpa ditemani Alex seperti hari pertama. Cara sedikit bingung karena Geo hanya datang tanpa mengajaknya berbicara meski hanya sepatah kata. Laki-laki datar itu hanya duduk setidaknya sampai sepuluh menit, setelah itu dia akan pergi lagi.
Sama halnya dengan sekarang. Cara sedang menatap Geo dengan pandangan bingung dan ragu-ragu. Sebenarnya Cara sudah ingin sekali mengajak laki-laki itu berbicara semenjak hari pertama, tetapi melihat raut wajah Geo yang seperti itu membuat Cara mengurungkan niatnya.
"Ma-maaf, Tuan." Entah keberanian dari mana, Cara bersuara meski begitu pelan bahkan bisa dikategorikan sebagai bisikan.
Namun, Geo yang bisa mendengar itu menoleh dan menatap Cara datar, hal itu membuat Cara terkesiap sambil menelan salivanya kasar. 'Tenang Cara, dia memang tampan. Tapi tatapannya itu sungguh menakutkan dari apapun. Fokus dan berbicaralah,' batin Cara yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"I-itu, be-besok saya sudah diizinkan pulang. Terus saya harus apa?" tanya Cara tergagap.
Geo menaikkan sebelah alisnya. "Terserah," balas Geo datar.
Hati Cara menghangat. Entahlah, hanya dengan mendengar suara berat Geo mampu membuat gadis itu merasa begitu nyaman meski tidak menghilangkan rasa takut di dalam hatinya. 'Pertama kali dengar, menyejukkan,' batin Cara senang.
"Sa-saya tidak punya rumah," ungkap Cara pelan.
"Bukan urusan saya," sahut Geo datar. Cara terkesiap, setelahnya gadis itu menunduk lemah. Dia bingung harus ke mana nantinya. Gadis itu melihat Geo berdiri kemudian pergi begitu saja dari sana.
...*****...
"Selamat Nona, Anda sudah boleh pulang." Setelah mengucapkan itu dokter laki-laki itu pergi dari sana dengan gerakan kaku, sebab Geo juga sedang berada di sana.
"Urusan kita selesai, silakan pergi," ucap Geo datar.
"Tuan, tolong saya. Saya bersedia melakukan apa saja asal Tuan membantu saya." Cara bersujut di kaki Geo memohon.
"Lepaskan," desis Geo tajam.
Cara tersentak mendengar kalimat tajam dari Geo, setelahnya gadis itu melepaskan tangannya dari kaki Geo dengan ragu. "Tolonglah saya Tuan, saya berjanji akan melakukan apa saja. Tolong bantu saya balas dendam," kalimat Cara berubah tegas.
Geo sedikit terkejut mendengar perkataan Cara. Kalimat balas dendam dari mulut gadis itu mampu menarik perhatian laki-laki datar itu sebab dia tahu bagaimana kisah kehidupan miris Cara. Geo tersenyum miring merasa mendapat pertunjukkan baru. "Saya dapat apa?" tanya Geo datar.
Cara tersenyum senang merasa mendapat kesempatan. "Saya bersedia melakukan apa saja untuk Anda," sahut Cara mantap.
Satu minggu di rumah sakit membentuk tekad Cara untuk balas dendam. Hati dan fisiknya yang hancur membuat gadis itu mengingat akan kesengsaraan yang dirinya dan juga mendiang bundanya terima selama ini. "Baiklah, meski saya belum tahu apa keuntungan untuk saya, tapi sepertinya ini akan menarik." Geo kembali tersenyum miring. Cara sempat tertegun melihat senyum menakutkan yang diperlihatkan Geo, namun gadis itu merasa senang karena Geo bersedia membantunya.
...*****...
Geo membawa Cara ke mansion mewahnya, Cara bahkan sempat ternganga melihat kemewahan mansion itu. 'Sepertinya ini istana,' batin Cara tidak percaya.
"Kau mulai dari penampilan fisik, saya sudah menyewa orang untukmu." Suara Geo mengejutkan keterpesonaan Cara.
"Kau ke kamarmu dulu, saya sudah mempersiapkan semua keperluanmu," sambung Geo.
Cara terdiam. 'Ternyata dia bisa berbicara panjang juga,' batin Cara.
"Antar dia ke kamarnya," titah Geo kepada seorang pelayan.
"Baik Tuan, mari Nona," sahut pelayan itu.
Cara menatap Geo sebentar, setelahnya gadis itu mengikuti langkah kaki pelayan wanita yang membawanya ke arah lift. Ting …. 'Lantai tiga?' batin Cara terkejut.
"Maaf, di sini ada berapa ruangan?" tanya Cara penasaran.
"Di lantai tiga ada tiga ruangan Nona, kamar Anda merupakan kamar tamu utama di mansion ini. Selain itu ada ruangan olah raga tuan Geo dan juga perpustakaan umum," jelas pelayan itu.
Cara terpukau dengan hal itu. 'Lengkap sekali, lalu bagaimana dengan lantai lainnya?' batin Cara.
"Kalau lantai lainnya?" tanya Cara.
"Lantai satu ada ruangan santai dan beberapa tempat main atau perkumpulan yang memang sengaja dibuat oleh Tuan Vetro, sedangkan lantai dua khusus untuk kamar tamu, di sana ada sepuluh kamar tamu. Sedang lantai empat ada kamar Tuan Vetro dan ruangan kerjanya, lantai empat adalah kawasan Tuan Vetro, siapa saja di larang ke sana tanpa izin dari Tuan," papar pelayan.
"Di belakang mansion ini ada gedung yang termasuk mewah Nona, di sanalah kami tinggal." Pelayan itu melanjutkan sambil tersenyum ramah kepada Cara.
'Benar-benar kaya raya dia,' batin Cara kagum.
...*****...
"Selamat pagi, Tuan," sapa Cara ramah. Geo menoleh dan terkejut melihat perubahan Cara, sudah hampir satu bulan Cara berada di mansionnya. Namun, selama itu Geo baru bertemu dengan gadis itu hari ini karena kesibukannya di luar kota.
Cara yang memang dasarnya cantik, mampu membuat Geo terpana sejenak. Namun, laki-laki datar itu memang tidak mudah untuk tertarik kepada wanita hanya karena wajah cantiknya saja, kalau bukan karena itu Geo tidak akan berstatus jomblo sampai sekarang. "Karaktermu masih sama," papar Geo datar.
Cara terdiam, apa yang dikatakan oleh Geo memang benar. Dia masih belum bisa menghadirkan karakter baru di dalam dirinya. Namun, jika dibanding sebelumnya gadis itu sudah ada perubahan. "Saya perlu bantuan Anda, Tuan," ungkap Cara.
Geo menatap Cara dengan pandangan dinginnya, hal itu membuat Cara menelan salivanya susah payah. Gadis itu mengalihkan wajahnya merasa tidak bisa beradu tatap dengan mata tajam milik Geo. Cara mendongak saat mendengar kekehan remeh dari mulut Geo. "Menatap saya saja kau tidak berani," remeh Geo.
Cara tersedak ludahnya mendengar perkataan Geo, setelahnya gadis itu meringis malu. Dia dengan percaya diri meminta bantuan kepada Geo, sedangkan menatap mata laki-laki itu saja dia tidak berani. "Sa-saya akan terbiasa," ujar Cara ragu.
Geo menaikkan sebelah alisnya, setelahnya laki-laki itu tersenyum miring. "Buktikan."
Dengan ragu gadis itu mendekat ke arah Geo, setelahnya Cara duduk di hadapan laki-laki datar itu mencoba memberanikan diri untuk membalas tatapan mematikan Geo. Beberapa detik Cara menahan gemuruh di dalam hatinya saat saling bertatapan dengan Geo. Kali ini kegugupan gadis itu bukan karena takut, tetapi karena salah tingkah. Tatapan Geo memang mematikan, tetapi itu mampu membuat jantung Cara bergemuruh tidak menentu.
"Su-sudah, saya tidak tahan." Cara bergumam sambil mengalihkan tatapannya dengan tangan memegang dadanya gugup.
Geo menaikkan sebelah alisnya menatap Cara remeh. "Lemah," cibir Geo.
Cara melotot tidak terima. "Ini bukan karena saya takut, tapi karena saya gugup," ungkap Cara tanpa sadar.
Setelah sadar akan ucapannya, Cara menutup mulutnya malu. Sedangkan Geo hanya menatap gadis itu datar. "Maaf, saya em … ke kamar dulu Tuan." Cara memacu langkahnya sebab begitu malu.
.
.
.
Terbiasa? Yah, Cara mulai terbiasa akan segala sifat kaku, dingin, datar dan tegas milik Geo. Hal itu jugalah yang membuat karakter dan kepribadian baru Cara terbentuk. Sifat tegas dan aura mengintimidasi yang selalu diterima Cara dari Geo semakin memupuk karakter berani di dalam diri gadis itu. Selama tiga bulan, Geo tidak main-main dalam membentuk karakter baru di dalam diri Cara. Gadis itu bahkan kini terlihat dingin di saat menghadapi orang yang tidak di kenalnya.
"Karakter buatanmu bagus juga," Alex bersuara sambil menatap Cara yang sedang menginterogasi seorang koruptor di VT Group.
Sedangkan Geo sudah tersenyum miring menatap itu semua, dia merasa begitu puas dengan perubahan Cara. Ini adalah salah satu cara Geo dalam membentuk karakter dingin di dalam diri Cara. Cara memang sudah jauh berubah, sifat penakut gadis itu sudah menghilang. Meski sebenarnya gadis itu masih belum begitu berani menatap Geo lama-lama, alasannya adalah gugup. Hatinya tidak kuat.
Belum lagi dengan penampilan baru Cara yang begitu cantik mampu membuat laki-laki yang melihat terpana. Bahkan kecantikan Cara melebihi kecantikan Jesy yang selama ini diidam-idamkan para kaum adam. "Pertunjukkan yang lebih menarik akan segera dimulai, aku sudah lama menunggu ini." Geo tersenyum penuh arti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Quen
Lama lama jijik sma sifat si cara lemah banget jir bego lagi kenapa setelah dia disiksa sampe sekarat baru mau pergi itu pun karena di usir kalau engga dijamin bakal masih di rumah dajal itu kan bego banget jadi orang nunggu dia mati dulu kah
2024-05-03
0
Suzana Kamis
LB..tu apa thor
2023-01-08
1
Harisa Humania
seru ...lanjut Thor 😊😊 semangat
2022-03-29
3