"Kali ini sepertinya tidak bisa jika hanya kami yang memimpin, lagi pula kamu juga sudah lumayan lama tidak ke markas," ucap Alex.
"Jam berapa?" Geo bertanya sambil terus mengusap rambut Cara yang berada di pahanya.
"Jam setengah tujuh," sahut Alex.
Geo menunduk menatap Cara yang sedang sibuk dengan ponselnya. Cara yang merasa ditatap ikut menoleh, setelahnya gadis itu menaikkan sebelah alisnya seakan bertanya. "Kenapa Kak?" tanya Cara.
"Aku boleh pergi?" tanya Geo.
Cara mengernyit. "Kenapa harus minta izin Kak? Aku tidak apa-apa menunggu di sini, lagi pula seperti yang Kak Alex katakan kalau Kak Ge sudah lama tidak ke markas." Cara tersenyum manis ke arah Geo.
Geo diam, Cara memang mengizinkannya. Namun, perasaannya yang tidak mengizinkan untuk meninggalkan Cara sendiri. Bukan karena takut Cara kenapa-napa di mansion, sebab jelas saja mansion Geo sangat aman dibanding tempat mana pun. Sebab, mansion mewah itu memiliki keamanan tingkat tinggi. Jelas saja karena Geo adalah sang pemimpin mafia ternama bahkan di dunia. Geo yang tidak bisa jauh dari Cara, barang sedetik pun.
Alex memutar bola matanya malas. "Ck … kenapa tidak kau ajak saja Cara ke sana? Tidak ada yang akan melarangmu," ujar Alex malas. Markas Death memang bukan sembarang markas, Geo memiliki aturan yang sangat ketat. Salah satunya adalah tidak boleh membawa orang baru yang berada di luar anggota Death, kecuali para tahanan.
Geo diam, apa yang dikatakan Juan ada benarnya. Tidak ada yang akan berani melarangnya di sana. "Kamu ikut saja ya?" ajak Geo.
"Tidak apa-apa, aku tidak masalah di sini Kak. Aku tidak mau mengganggu pertemuan kalian nanti," papar Cara.
"Tidak akan mengganggu Ra, kamu kan calon istri Geo. Jadi kedepannya mereka memang harus mengenalmu. Lagi pula ada ruangan khusus Geo di sana, kamu bisa menunggu kami selesai pertemuan di sana," jelas Alex.
"Aku yakin pawangmu ini tidak bisa berpisah apa lagi berjauhan denganmu." Farel menyambung kalimatnya sambil melirik Geo dengan pandangan meledek.
Cara menatap Geo sambil terkekeh kecil. "Baiklah, aku ikut saja," putus Cara.
...*****...
"Seharusnya kau lebih patuh lagi Jesy," geram Torih.
"Apa lagi Pa? Aku sudah melakukan apa pun yang wanita itu suruh, apa lagi?" sahut Jesy kesal.
"Katanya kau selalu lamban merespon perkataannya, kau seharusnya lebih sigap. Jangan membuat Cara marah," ucap Torih.
"Setiap perkataannya itu selalu memancing emosiku Pa, jadi aku mencoba mengontrolnya dulu supaya aku tidak kelepasan untuk mengumpatinya. Makanya aku sedikit lamban merespon, aku sudah muak Pa," protes Jesy.
"Ini semua terjadi juga karena ulahmu, jadi kau nikmati saja. Lagi pula hanya satu bulan," cibir Torih.
"Memang satu bulan, tetapi rasanya bertahun-tahun. Aku sudah berusaha mengontrol emosiku selama hampir dua minggu ini. Papa memang mudah berbicara sebab aku yang menjalaninya, Papa memang santai menunggu hasil dari rumah tanpa memikirkan aku yang bersusah payah," murka Jesy.
Plak …. Torih menampar Jesy sambil menatap tajam putrinya. Sasdia yang melihat itu melotot terkejut, wanita paruh baya itu mendekat ke arah putrinya yang sudah bergetar menahan tangis. "Anak kurang ajar, apa kau sedang mengukur usaha denganku, hah? Baru ini kau sudah merasa paling berjasa? Padahal ini semua terjadi juga karena ulah bodohmu, anak brengsek!" bentak Torih.
"Sudah Mas, kenapa kamu menjadi keterlaluan seperti ini? Dia anak kita, anak yang dulu begitu kita manja dan kita sayang. Kenapa sekarang kamu jadi begini Mas?" Sasdia berteriak menangis sambil memeluk Jesy yang sudah terisak kecil.
Torih menatap malas dua wanita yang saling berpelukan dihadapannya. "Sudah aku katakan kalau aku menyesal memanjakannya selama ini. Pokoknya kau harus bersikap lebih baik lagi kepada Cara. Aku tidak mau jika dia sampai menarik bantuannya." Setelahnya Torih pergi meninggalkan Sasdia dan Jesy yang sedang beradu isak tangis.
...*****...
"Lavia Cara,dia adalah kekasih dan calon istri Geo. Kalian ingat wajahnya dan kalian jelas tahu apa selanjutnya." Juan memperkenalkan Cara kepada seluruh anggota Death yang hadir dipertemuan itu.
"Siap!" Suara keras yang serentak menggema di dalam ruangan pertemuan markas Death.
Bulu roma Cara berdiri kala mendengar itu, sungguh hal menakjubkan sekaligus menakutkan melihat mereka secara langsung seperti ini. 'Aku tidak bisa membayangkan jika berurusan dengan Death, menakutkan,' batin Cara.
Setelahnya Cara menoleh ke samping di mana keberadaan kekasihnya yang sedang berdiri dengan aura yang berbeda. Memang sisi kepemimpinan Geo di Death mampu membuat siapa saja merinding, termasuk Cara. 'Aku tidak menyangka akan menjadi kekasih seorang pemimpin mafia, dia begitu tampan tetapi … saat ini auranya mampu membuat aku merinding.' Cara membatin sambil mendongak menatap wajah dingin Geo.
Geo yang tahu Cara sedang memperhatikannya menundukkan kepala, setelahnya laki-laki itu mengernyit saat menyadari wajah pucat milik kekasihnya. "Ingin keluar?" tanya Geo.
Cara terlonjak, suara Geo membuatnya terkejut sebab gadis itu sedang melamun. Heo yang melihat gerakan terkejut Cara menjadi merasa bersalah. "Aku mengejutkanmu? Maaf." Geo berucap begitu lembut sambil mengusap rambut Cara.
Cara tersenyum tipis. "Tidak apa-apa," sahut Cara.
"Ayo kita keluar," ajak Geo. "Aku antar Cara dulu." Geo berucap kepada Alex setelahnya laki-laki itu menarik pelan pinggang Cara seperti biasa.
.
.
.
"Membosankan ternyata." Cara menggulingkan tubuhnya di atas ranjang besar ruangan khusus Geo di markas itu.
"Kenapa aura Kak Ge bisa begitu berbeda ya? Di kantor dia memang terlihat berwibawa dan tegas, tetapi … waktu memimpin Death auranya lebih menakutkan. Apa yang dikatakan Kak Alex waktu itu benar, aku tidak tahu seberapa kejamnya Kak Ge jika sedang memimpin anggota mafianya," gumam Cara.
Kebosanan gadis itu terus berlanjut, sekarang Cara membaringkan tubuhnya di atas karpet yang berada di bawah kasur itu. Cara fokus kepada ponselnya sambil terus berguling-guling seperti anak kecil. Geo yang baru saja masuk terkejut saat melihat kekasihnya sedang berguling di atas karpet. Laki-laki itu terkekeh kecil merasa lucu dengan tingkah Cara.
Geo mendekat, gadis itu sepertinya masih belum menyadari kedatangannya. Dengan tiba-tiba Geo mengangkat tubuh Cara membuat gadis itu memekik terkejut. "Aakh …." Cara menoleh dan mendapati wajah tampan Geo yang sedang tersenyum hangat kepadanya.
"Aku terkejut Kak," sungut Cara. Geo terkekeh, setelahnya laki-laki itu meletakkan tubuh Cara di atas kasur empuk itu.
"Kenapa di bawah? Nanti sakit," ujar Geo.
"Aku bosan," celetuk Cara.
"Maaf ya, sedikit lama sebab ada sedikit masalah." Geo ikut membaringkan tubuhnya sambil memeluk Cara dan mencium leher gadis itu gemas.
"Kakak berat ih," ucap Cara.
Geo membaringkan tubuhnya ke samping dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Cara. 'Selalu nyaman,' batin Geo.
Cara menunduk ingin melihat wajah Geo, baru kali ini laki-laki itu terlihat begitu lelah. Cara mengusap kepala kekasihnya lembut. "Kak Ge capek?" tanya Cara.
"Kenapa? Kamu ingin pulang?" ujar Geo balik bertanya.
"Tidak, tidurlah. Sepertinya Kakak sangat lelah hari ini," papar Cara.
Geo memejamkan matanya menikmati setiap usapan lembut di rambutnya. Laki-laki itu memeluk Cara erat. Cara terus mengusap rambut Geo sambil sesekali mencium lembut puncak kepala laki-laki itu. Tidak berapa lama, Cara merasakan hembusan napas teratur menerpa kulit lehernya. Geo terlelap, Cara tersenyum merasa begitu senang. 'Aku harap kita akan terus seperti ini Kak, I love you.' Setelah membatin Cara ikut memejamkan matanya, menyusul Geo ke alam mimpi.
...*****...
"Bisa saya minta tolong Tuan Gerisam?" ucap Cara melalui telepon.
"Tentu Nona Cara, apa yang bisa saya lakukan untukmu?" sahut Torih di seberang telepon itu.
Cara tersenyum miring, sedangkan Jesy yang mendengar perkataan Cara sudah meliriknya benci. "Bisakah Anda membelikan saya bakso Pak Yanto yang berada di dekat kediaman Anda? Jesy sepertinya sudah lelah, jadi bolehkah saya meminta tolong kepada Anda?" kata Cara santai.
"Tentu saja Nona Cara, saya akan segera datang membawa pesanan Anda," sahut Torih.
Cara tersenyum. "Tetapi jika Anda sedang sibuk, tidak usah. Saya tidak ingin menganggu Anda," ucap Cara basa-basi.
"Tentu tidak Nona, saya tidak sibuk. Saya akan segera datang ke sana," sahut Torih.
"Terima kasih kalau begitu, Anda memang begitu baik." Cara tersenyum sinis.
"Apa pun untuk Anda Nona Cara," balas Torih. Mendengar itu Cara terkekeh sinis di dalam hati. 'Apa pun untukku?' batin Cara mengejek.
"Baiklah, tolong Anda belikan aku dua bungkus bakso lengkap ya," tutur Cara
"Baik Nona, saya akan segera datang." Setelahnya Cara memutuskan sambungan telepon dan menatap ke arah Jesy yang sedang berdiri menatapnya benci.
Cara tertawa. "Ternyata Papamu itu patuh sekali ya," ujar Cara mengejek. Jesy mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Apa kalau aku suruh dia untuk mengusir kalian, dia akan patuh juga ya?" Cara menatap Jesy sambil tersenyum miring.
Jesy melotot. "Apa maksudmu?" desis Jesy.
Cara kembali tertawa. "Tidak, aku hanya berandai. Tapi … sepertinya itu menarik juga untuk dicoba. Bukan begitu, Nona Gerisam?" Cara tersenyum licik ke arah Jesy yang sudah memerah menahan emosi.
"Jangan semakin menjadi Cara, kau pikir kau siapa, hah?" murka Jesy.
"Aku … siapa?" ujar Cara. Setelahnya gadis itu berdiri dari kursi kebesarannya mendekat ke arah Jesy. "Aku adalah orang yang sedang menopang hidup kalian, apa kau tidak sadar itu?" Cara tersenyum mengejek ke arah Jesy.
Jesy mengepalkan kedua tangannya. "Tidak cukup aku selama ini? Aku sudah bekerja untukmu selama dua minggu, seharusnya kau tidak semakin menjadi," geram Jesy.
Cara tertawa keras, setelahnya gadis itu menatap datar ke arah Jesy. "Dua minggu? Kau sudah merasa teraniaya sekali rupanya, padahal masih dua minggu. Apa kau lupa, aku menjadi budak kalian selama bertahun-tahun," desis Cara tajam.
Jesy terdiam mengingat masa lalunya saat memperlakukan Cara begitu buruk dan kasar. "Bagaimana, sudah ingat? Jangan berpura-pura seakan kau lupa ingatan Nona Gerisam. Aku … akan selalu mengingat perlakuan kalian kepadaku selama ini. Bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada bundaku," sambung Cara.
Jesy memilih diam, sampai beberapa menit kemudian suara ketukan pintu memecah kesunyian.
Tok … tok … tok …
Cara menoleh ke arah pintu, setelahnya gadis itu melirik Jesy yang masih terdiam. "Kenapa masih diam? Tidakkah kau mendengar suara pintu diketuk? Bukakan!" titah Cara.
Jesy menghela napas dalam, gadis itu melirik Carao tajam sebelum mendekat ke arah pintu. Jesy terkejut saat melihat keberadaan Torih di sana. 'Cepat sekali, sebegitu patuhnya Papa kepada wanita murahan ini?' batin Jesy marah.
Cara menatap Torih dengan senyum miring merasa puas melihat kepatuhan Torih kepadanya. "Nona Cara, saya sudah membawakan bakso pesanan Anda." Torih mendekat sambil menenteng sebuah kantong plastik.
"Ternyata Anda cepat juga ya," sahut Cara.
"Saya tidak ingin membuat Anda menunggu terlalu lama Nona, saya tahu pasti Anda sudah begitu menginginkan ini bukan?" papar Torih.
"Anda begitu pengertian Tuan Gerisam." Cara berjalan ke arah meja kerjanya, setelahnya gadis itu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya.
"Ini saya ganti uang baksonya." Cara mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Torih.
"Tidak perlu Nona Cara, saya tidak apa-apa," tolak Torih.
"Tidak apa-apa, ambillah. Anggap saja ini sebagai rasa terima kasih saya karena Anda sudah meluangkan waktu untuk ini." Cara meletakkan uang itu ke dalam genggamam Torih. 'Lagi pula, aku tidak sudi menerima apa pun darimu,' lanjut Cara di dalam hati.
"Padahal tidak perlu Nona," ujar Torih.
"Tidak apa-apa. Jesy, ambilkan mangkok untuk bakso ini," titah Cara.
Jesy melirik Torih yang sedang menatapnya tajam. "Baik Nona," sahut Jesy.
Tidak berapa lama, Jesy kembali ke dalam ruangan dengan membawa sebuah mangkok di tangannya. "Ini Nona." Jesy mengulurkan mangkok itu kepada Cara.
"Kau ambilkan minuman untuk kami, saya sudah memesannya," ujar Cara.
Jesy melotot dengan wajah menahan marah. 'Kenapa tidak dia katakan sekalian? Tidak tahukah dia kalau aku capek turun naik gedung tinggi ini?' geram Jesy di dalam hati.
"Baik Nona," balas Jesy malas.
Melihat kepergian Jesy, Torih bersuara. "Apa Anda ada keluhan tentang Jesy Nona? Kalau ada katakan saja kepada saya," ucap Torih.
"Dia terlalu lamban, kadang dia terlihat mendongkol. Saya tidak suka, tapi saya mencoba memaklumi," sahut Cara santai.
"Maaf Nona, saya akan menasehati Jesy lagi nanti. Dia memang keras kepala," balas Torih.
"Ya, seharusnya Anda memang lebih keras lagi kepadanya. Jika Anda terus memanjakannya, dia tidak akan pernah maju," tutur Cara.
"Iya, saya memang salah selama ini sudah memanjakannya," sahut Torih. Cara tersenyum sinis mendengar perkataan Torih. Percakapan mereka terhenti saat melihat Jesy sudah kembali dengan nampan di tangannya.
"Masukkan bakso ini ke dalam mangkok," titah Cara kepada Jesy. Jesy mengepalkan tangannya, tetapi gadis itu menuruti perkataan Cara.
Jesy meraih bakso itu dengan senyum sinis. 'Sekalinya gembel ya tetap gembel, makanan yang sesuai untuk gadis gembel,' batin Jesy mengejek.
Byur …. Tangan Jesy tidak sengaja menjatuhkan gelas yang berisi minuman yang dibawanya tadi. Cara tersenyum licik melihat itu semua, apa lagi Cara dapat melihat raut marah dari wajah Torih. 'Aku merasa dejavu,' batin Cara sinis.
Gadis itu mengingat kejadian tiga setengah bulan yang lalu, di mana Torih marah besar kepadanya karena Cara tidak sengaja menumpahkan air minum kepada tamunya. Sekarang Cara seakan melihat kejadian itu kembali, tetapi sekarang posisinya sudah berganti. "Hati-hatilah Jesy," bentak Torih marah.
"Maaf Nona Cara, dia memang sangat ceroboh." Torih menatap Cara tidak enak.
"Tidak masalah, dia bisa mengambil yang baru lagi. Tapi … kau bersihkah itu dulu, ambil alat pembersih ke bagian cleaning service," titah Cara.
"Maksud Nona, saya yang membersihkannya?" tanya Jesy.
"Tentu saja, siapa lagi?" tanya Cara santai.
"Perusahaan ini kan ada cleaning service, suruh saja mereka yang membersihkan ini," papar Jesy.
"Tapi saya menyuruhmu," balas Cara.
"Tapi ini bukan urusan saya, di sini ada cleaning service. Mereka kan digaji untuk itu," protes Jesy.
"Jesy," tegur Torih.
"Saya tahu Nona Gerisam, tetapi saya menginginkan Anda yang membersihkan ini." Cara menatap Jesy dengan pandangan meremehkan.
Jesy mengepalkan tangannya marah. "Aku sudah menuruti semua perkataanmu, apa pun aku lakukan. Tapi ini bukan urusanku, kau seharusnya mengerti. Aku juga capek," teriak Jesy marah.
Torih berdiri sambil menatap tajam Jesy. "Diamlah Jesy, lakukan saja apa yang diperintahkan Nona Cara," desis Torih.
Sedangkan Cara masih duduk santai sambil menatap Torih dan Jesy dengan senyum puas. "Aku capek Pa, apa Papa tidak lihat bagaimana dia memperlakukan aku? Dia sengaja mengerjaiku Pa," protes Jesy.
"Kau berhentilah mencuci otak Papaku, kau membuat Papaku berubah." Jesy menunjuk Cara yang sedang tersenyum miring kepadanya.
"Jesy!" bentak Torih.
"Lihatlah, apa yang kau mau hah? Dasar perempuan murahan, kau membuat semuanya berantakan." Jesy berteriak histeris.
Cara tersenyum miring, gadis itu berdiri dari duduknya dan mendekat ke arah Jesy yang begitu terlihat marah. Cara mendekatkan bibirnya ke daun telinga gadis itu kemudian berbisik. "Kau bertanya apa mauku bukan? Dengarkan baik-baik, aku mau keluarga kalian hancur. Sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kalian, aku … tidak akan pernah membuat hidup kalian tenang." Setelah membisikkan itu Cara menarik wajahnya sambil tersenyum miring ke arah Jesy.
Sedangkan napas Jesy sudah memburu, wajahnya memerah begitu marah mendengar kalimat Cara. "Gadis sialan!" Jesy mengangkat tangannya berniat menampar Cara, tetapi aksinya itu terhalang sebab dengan cepat Torih menahan tangan putrinya itu.
Torih menatap tajam Jesy, sangat terlihat raut kemarahan di wajah laki-laki paruh baya itu. "Kau sudah kurang ajar kepada Nona Cara." bentak Torih. Plak ….
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Quen
Si cara kalau ga ditolong si geo pasti tetep jadi orang bego dan lemah
2024-05-03
0
Nurul Syahriani
di bab sebelumnya tadi udah 4 bulan.. sekarang koq 3 setengah.. dan bukannya pembalasan mulai setelah 3 bulan.. dan torih pusing mikirin perusahaan yg mau bangkrut jg udah 3 bulan.. harusnya udah 6 atay 7 bulan lahh
2023-02-22
0
Lutfiah Zakiyah
bucinnya dedy. nya 🤭
2022-09-25
1