"Kakak tadi mempermainkan aku bukan? Bagaimana kalau sekarang giliranku?" Cara tersenyum nakal kepada Geo yang sudah melotot dengan wajah was-was.
'Astaga, sepertinya kali ini aku akan melepaskannya di kamar mandi lagi,' batin Geo frustasi. Cara memulai aksinya, gadis itu dengan sengaja menyentuh pelan dada bidang Geo, sedangkan laki-laki datar itu sudah pasrah sambil memejamkan matanya menahan suara. Melihat wajah frustasi Geo membuat Cara sekuat tenaga menahan tawa.
Cup …. Cara mencium lembut pipi Geo, kemudian gadis itu memeluk dan mulai menciumi leher laki-laki itu. Geo menegang sambil melenguh pelan. "Sayang jangan siksa aku seperti ini," bisik Geo menahan lenguhannya.
Cara menoleh dan terkekeh kecil melihat wajah frustasi milik kekasihnya. 'Kenapa malah semakin tampan?' batin Cara tidak habis pikir.
Cara menyingkap baju Geo dan menatap berbinar delapan kotak di perut kekasihnya. Cara menyentuh roti sobek itu pelan membuat Geo mengerang keras. "Arrgh … stop Baby." Geo menahan tangan Cara sambil menatap gadis itu dengan pandangan sendu dan tertekan seakan sedang menahan sesuatu yang begitu besar.
Cara terkekeh kecil. Cup …. Cara mencium bibir Geo singkat, gadis itu merasa kasihan melihat wajah tertekan milik kekasih tampannya itu. Setelahnya Cara menyingkir dari atas tubuh Geo yang sudah panas dingin karena ulahnya. "Kamu benar-benar nakal Sayang, lihat saja jika kita sudah menikah … aku akan membuatmu menyesal sudah memancingku seperti ini." Geo berbisik tepat di daun telinga Cara sehingga membuat gadis itu merinding.
Geo berdiri dengan wajah merahnya. "Aku harus ke kamar mandi lagi." Geo bergumam setelahnya laki-laki itu bergerak cepat menuju kamar mandi untuk melepaskan sesuatu yang sudah meronta ingin terbebaskan.
"Kak Ge bukannya sudah mandi? Bukankah Kakak menyuruhku mandi, kenapa malah Kak Ge yang masuk?" Cara berteriak di depan kamar mandi.
"Ini sudah tidak bisa diundur, ini juga karenamu Sayang," balas Geo dari dalam kamar mandi.
Cara mengernyit bingung. "Memangnya aku kenapa?" gumam Cara.
...*****...
Torih berjalan menuju meja resepsionis perusahaan VT Group. "Permisi, apakah saya bisa bertemu dengan Nona Lavia Cara?" tutur Torih kepada resepsionis.
"Maaf, apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?" tanya resepsionis.
"Belum, nomornya tidak bisa saya hubungi," jawab Torih. Laki-laki itu baru menyadari jika jabatan Cara begitu penting di VT Group. Jelas saja tidak akan semudah itu untuk bisa bertemu dengannya.
"Maaf Tuan, jika Anda belum memiliki janji maka Anda tidak bisa menemui Nona Cara," papar resepsionis sopan.
"Bisakah Anda menghubunginya dulu, katakan kepadanya kalau Torih Gerisam ingin bertemu," pinta Torih.
Resepsionis itu menatap wajah Torih sejenak. "Baiklah." Setelahnya wanita muda itu terlihat menghubungi seseorang dari telepon kantor yang ada di mejanya.
"Maaf Bu Ratna, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Nona Cara," tutur resepsionis.
"Siapa? Hari ini Nona Cara tidak memiliki janji temu," balas Ratna, sekretaris Cara.
"Dia memang belum memiliki janji Bu, dia meminta untuk menanyakan langsung kepada Nona Cara," sahut resepsionis.
"Baiklah, siapa namanya?" tanya Ratna.
"Torih Gerisam Bu," jawab resepsionis.
"Aku tanyakan kepada Nona Cara dulu, nanti aku hubungi lagi," papar Ratna.
"Baik Bu." Setelahnya sambungan telepon itu terputus.
Resepsionis menoleh ke arah Torih. "Mohon ditunggu dulu Tuan, sekretarisnya akan bertanya dulu apakah Nona Cara bersedia bertemu dengan Tuan atau tidak," jelas resepsionis.
"Baiklah," sahut Torih.
.
.
.
Tok … tok … tok …
"Masuk," tutur Cara.
"Maaf mengganggu Nona, ada seseorang yang ingin menemui Nona Cara," ucap Ratna.
Cara menoleh. "Bukankah tadi kamu mengatakan kalau kita tidak ada jadwal pertemuan hari ini?" tanya Cara.
"Iya Nona, dia tidak memiliki janji. Makanya dia meminta izin secara langsung, apakah Nona bersedia atau tidak. Kita bisa menolaknya jika Nona keberatan," jelas Ratna.
Cara mengernyit. "Siapa?" tanya Cara lagi.
"Namanya Torih Gerisam, Nona," sahut Ratna.
Cara terkejut, setelahnya gadis itu tersenyum miring. 'Akhirnya dia datang juga,' batin Cara.
"Baiklah, suruh dia ke sini," titah Cara.
"Baik Nona, kalau begitu saya permisi." Setelahnya Ratna pergi dari ruangan, meninggalkan Cara yang sedang tersenyum miring. 'Mari kita mulai permainan berikutnya,' batin Cara senang.
.
.
.
"Nona Cara bersedia bertemu dengan Anda Tuan, mari saya antar Anda ke ruangannnya," ucap resepsionis.
Torih tersenyum senang. 'Aku harus bisa membujuknya, aku yakin dia masih memiliki balas kasih kepadaku sebagai ayahnya,' batin Torih percaya diri.
...*****...
"Selamat datang Tuan Gerisam," sambut Cara.
Torih terkejut saat melihat aura Cara benar-benar berbeda, apalagi di saat gadis itu sedang duduk di kursi kekuasaannya itu. 'Dia benar-benar sudah berubah, seperti orang yang berbeda,' batin Torih.
"Kalau begitu saya permisi Nona," ucap Ratna.
"Baiklah, tapi tolong bawakan tamu kita minuman dan juga makanan pencuci mulut. Dia adalah tamu penting." Cara menatap Ratna setelahnya gadis itu melirik Torih dengan pandangan tidak dapat diartikan.
"Baik Nona. Maaf Tuan, Anda ingin minuman apa?" tanya Ratna kepada Torih.
"Terserah saja," sahut Torih.
"Bawakan dia teh hijau, Tuan Gerisam sangat menyukai teh hijau. Bukan begitu Tuan?" Cara menatap Torih dengan senyum manis. Sedangkan Torih sempat terkejut saat mengetahui jika Cyra ternyata masih mengingat salah satu hal yang disukainya.
"Ah … iya," sahut Torih ragu.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi Nona." Cara mengangguk singkat membuat Ratna berlalu pergi dari sana.
"Silakan duduk Tuan Gerisam," tutur Cara. Setelahnya gadis itu berdiri dan mendekat ke arah sofa ruangan kerja miliknya. Torih ikut bergerak dengan gerakan sedikit kaku.
Beberapa menit berlalu ruangan Cara begitu sepi sebab tidak satu pun di antara mereka yang bersuara. Torih bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, apa lagi aura Cara yang tidak biasa membuatnya semakin merasa gugup. Sedangkan Cara ikut diam, sengaja menunggu laki-laki paruh baya itu untuk berbicara. Cara tersenyum miring saat mengetahui Torih sedang berada dalam fase gugup dan bingung. 'Aku pernah berada di posisimu ini Tuan Gerisam, lama sekali mengumpulkan nyali untuk berani berbicara kepadamu,' batin Cara tajam.
Tok … tok … tok …
Suara pintu diketuk dari luar memecahkan keheningan di dalam ruangan luas itu. "Masuk," ucap Cara.
"Permisi Nona," Ratna datang bersama seorang karyawan dari bagian kantin kantor. Karyawan itu membawa nampan yang berisikan dua gelas minuman dan beberapa makanan santai.
"Terima kasih." Cara tersenyum ramah kepada seorang gadis yang sepertinya lebih kecil dari pada Cara.
"Iya Nona," balas karyawan itu.
"Ratna, berikan bonus kepadanya," tutur Cara.
"Baik Nona," sahut Ratna.
"Terima kasih banyak Nona." Karyawan itu menunduk berkali-kali sebab begitu senang bisa mendapatkan bonus langsung dari Cara. Cara tersenyum manis menatap gadis itu, entah kenapa melihatnya membuat Cara mengingat masa dulu di saat dirinya berjuang untuk bisa melanjutkan hidup. Mengingat itu Cara mengepalkan tangannya sambil melirik Torih singkat.
"Tidak apa-apa, tetaplah semangat. Saya pernah berada di posisimu, bahkan saya sudah banting tulang sedari umur dua belas tahun untuk bisa melanjutkan hidup. Itu tepat setelah kematian bunda saya, ayah saya tidak pernah memberi saya uang bahkan sampai saat ini." Cara berucap santai sambil melirik Torih yang sudah menegang di tempatnya.
"Pergilah." Cara tersenyum tipis kepada Ratna dan karyawan itu.
"Kami permisi Nona." Setelahnya Ratna dan karyawan itu pergi dari ruangan itu.
"Jadi apa yang membawa Anda ke sini Tuan Gerisam?" pada akhirnya Cara bertanya.
Torih terlonjak, suara Cara membangunkannya dari lamunan kejadian masa lalu. Kalimat Cara tadi jelas sekali bermaksud menyindir dirinya, dan Cara berhasil bahkan tepat sasaran. Laki-laki paruh baya itu mengakui kalau dia memang tidak pernah memberikan uang kepada Cara bahkan seratus perak pun. "Saya ingin meminta bantuan," papar Torih ragu.
Cara menaikkan sebelah alisnya. "Bantuan apa?" tanya Cara pura-pura tidak tahu. Padahal gadis pintar itu jelas tahu apa maksud Torih, bahkan jauh sebelum laki-laki paruh baya itu datang menemuinya. Cara sudah menebak kalau kejadian ini akan terjadi, dan terbukti sekarang Torih benar-benar datang menemuinya.
"Tolong … bantu kembalikan ketimpangan Gerisam Group," lirih Torih.
Cara tersenyum miring. "Apa untungnya untuk saya?" tanya Cara.
Torih terdiam, laki-laki itu tidak tahu harus menjawab apa. Cara terkekeh kecil. "Bagaimana jika Anda memberi saya mainan?" usul Cara.
Torih menatap Cara dengan pandangan bingung. "Maksud Anda?" tanya Torih.
"Saya mulai bosan, saya ingin memiliki permainan tetapi yang hidup. Mungkin … putri Anda bisa," papar Cara santai.
Torih melotot, namun laki-laki itu diam bingung harus menjawab apa. Cara menatap sinis Torih yang menunduk bingung. "Saya akan membantu Anda mengembalikan kedudukan Gerisam Group, tetapi … berikan Jesy kepada saya untuk menjadi pelayan saya selama satu bulan. Sebentar bukan? Saya bahkan menjadi pelayannya selama bertahun-tahun." Cara tersenyum miring kepada Torih yang sempat tertegun.
Torih terdiam sejenak seakan memikirkan sesuatu. "Baiklah, saya akan membicarakan ini kepada Jesy," tutur Torih.
"Saya tunggu kabar dari Anda besok, saya tidak suka menunggu terlalu lama," terang Cara.
...*****...
"Kita mau ke mana sebenarnya Kak?" Cara menatap Geo yang sedang fokus menyetir mobil.
"Kejutan Sayang, kalau aku beritahu berarti bukan kejutan lagi namanya," sahut Geo santai.
Cara mendengus kesal. "Tetapi aku penasaran." Cara mengerucutkan bibirnya merajuk.
Geo melirik sekilas kemudian terkekeh kecil melihat wajah merajuk milik kekasihnya. "Kenapa dengan mulut itu, ingin dicium?" goda Geo.
Cara melotot ke arah Geo yang kembali terkekeh. "Jika saja Kak Ge tidak sedang membawa mobil, sudah aku buat tegang," racau Cara kesal.
"Apanya yang dibuat tegang Sayang?" Geo tersenyum nakal sambil menaikkan sebelah alisnya ke arah Cara.
Cara kembali melotot. "Ih … Kak Ge mesum," pekik Cara.
Geo tertawa. "Kenapa mesum, aku kan hanya bertanya Sayang. Pikiran kamu saja yang aneh-aneh, iya kan?" ejek Geo.
Cara mendengus kesal. "Aku merajuk sampai nanti malam," ucap Cara.
Geo kembali tertawa. "Merajuk kenapa kasih tahu?" Geo terkekeh gemas.
"Sayang," panggil Geo. Cara diam tidak menyahut, gadis itu sedang menjalankan aksi merajuknya. Geo terkekeh melihat wajah kesal milik kekasihnya, sungguh lucu.
"Ayo kita turun, sudah sampai. Katanya penasaran," ujar Geo. Mendengar itu Cara menoleh sekeliling, gadis itu mengernyit saat mengetahui mereka sedang berada di tepi pantai.
"Ayo Baby." Pintu mobil terbuka dan Geo mengulurkan tangannya kepada Cara.
"Kenapa kita ke sini Kak?" Cara bertanya sambil mengikuti langkah kaki Geo.
"Bukankah kamu ingin sekali melihat sunset?" tutur Geo. Cara terkejut kemudian gadis itu menatap berbinar ke arah Geo.
"Sangat tepat waktu ya." Cara melihat matahari yang mulai memerah di ujung lautan.
"Ayo," ajak Geo.
"Ke mana Kak? Di sini kan juga kelihatan," ucap Cara.
"Ikut saja, atau kamu capek jalan? Ingin aku gendong?" tawar Geo.
"Tidak Sayang, ayo. Ingin ke mana memangnya? Ternyata menyenangkan juga berjalan di tepi pantai di saat matahari hampir terbenam seperti ini. Sangat menghangatkan," ujar Cara. Setelahnya Cara melepas genggaman tangan Geo kemudian berlari kecil mendahului kekasihnya yang sudah tersenyum tipis melihat aksi Cara.
"Aku ikut senang melihatmu bahagia seperti itu," gumam Geo. Setelahnya laki-laki itu menatap ponselnya dan melihat pemberitahuan baru dari Juan. Melihat pesan baru dari sahabatnya itu membuat Geo tersenyum tipis. 'Aku akan membuat lamaran ini menjadi salah satu kenangan mengesankan di dalam hidupmu.' Geo membatin sambil menatap Cara yang sedang asik dengan aksinya.
"Kak Ge, ayo kejar aku," teriak Cara dari kejauhan.
Geo tersenyum. "Berlarilah Sayang, sebelum aku mendapatkanmu." Setelahnya Geo berlari mengejar Cara yang sudah tertawa senang.
...*****...
"Apa? Aku tidak mau," bentak Jesy.
"Hanya satu bulan Jesy, ini tidaklah lama," tutur Torih.
"Jangankan satu bulan, satu menit pun aku tidak sudi melayaninya Pa," tekan Jesy.
"Iya Mas, yang benar sana anak kita harus menjadi pelayan putri gembel itu. Mama juga tidak setuju," protes Sasdia.
"Ini semua terjadi juga karena ulahmu Jesy, jadi kau harus bertanggung jawab. Ini adalah waktunya untukmu mengembalikan semua yang sudah kau buat kacau," geram Torih.
"Aku tetap tidak mau Pa, aku tidak sudi," tolak Jesy marah.
"Cari cara lain saja Mas, kenapa harus ini?" usul Sasdia.
"Ini sudah hampir tiga bulan, semua cara sudah aku lakukan tetapi semuanya zonk. Makanya aku menguatkan tekad untuk menemuinya, ini adalah cara terakhir. Aku jamin jika Cara membantu kita, Gerisam Group akan kembali membaik," terang Torih.
"Tetapi kenapa harus Jesy Mas?" ujar Sasdia.
"Karena itu keinginan Cara," sahut Torih.
"Tetap saja aku tidak mau," tegas Jesy.
"Kau harus mau, hanya satu bulan. Setelahnya kita bebas," ucap Torih memaksa.
"Aku yang menjalaninya Pa, aku tidak mau," jerit Jesy.
"Kau mau hidup susah, hah? Terlantar dijalanan, itu yang kau inginkan?" Torih menatap tajam Jesy yang sudah terdiam.
"Aku tidak bisa menjamin sampai mana Tuan Adam bersedia mempertahankan sahamnya di perusahaan kita. Jika sampai dia menarik sahamnya itu, kalian jelas tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Maka jika itu yang kalian inginkan … bersiap-siap saja dari sekarang," tekan Torih.
Sasdia dan Jesy menegang, bayangan hidup susah melintas di kepala mereka. Secara bersamaan Sasdia dan Jesy menggeleng ngeri. "Aku tidak ingin hidup susah," cicit Jesy.
Torih menatap datar putrinya, sedangkan Sasdia terlihat sangat tertekan. "Baiklah, aku bersedia," lirih Jesy terpaksa.
Sasdia menatap terkejut ke arah putrinya. "Kamu yakin Sayang?" tanya Sasdia.
"Harus bagaimana Ma, aku tidak siap hidup melarat. Belum lagi malunya," tutur Jesy.
"Bagus, besok kau ikut untuk menemuinya." Torih tersenyum puas.
"Kenapa cepat sekali Pa, tidak bisa diundur?" tawar Jesy.
"Tidak, Cara tidak suka menunggu lama. Aku tidak mau nanti dia berubah pikiran, Cara adalah satu-satunya kesempatan kita," papar Torih.
Mendengar Itu Jesy menghela napas pasrah sedangkan Sasdia mengusap punggung putrinya mencoba menguatkan. 'Aku harus membuat dia tidak betah mempertahankan aku sebagai pelayannya, aku harus menyusun rencana.' Jesy membatin sambil tersenyum licik.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Lee Fay
Bner. Dia sma kek Dea si oon itu. Psti ujung2 nya nnti dimaafkan
2022-09-29
0
Lutfiah Zakiyah
jesy jesy
2022-09-24
0
Sariani Sakka
pembalasan di mulai jesy...padan muka
hahahahahah
2022-05-13
0