Tring … tring …tring …
Geo yang sedang sibuk dengan laptopnya, menatap ponselnya yang sedang berdering. Laki-laki datar itu tersenyum tipis saat melihat nama Cara sebagai si pemanggil. "Halo Kak," sapa Cara.
"Iya?" sahut Geo.
"Kakak di mana? Aku ada sedikit keperluan masalah proyek baru, aku perlu tanda tangan Kakak malam ini," terang Cara.
"Aku di ruangan kerja," balas Geo.
Cara terdiam ragu. "Ke sini saja," sambung Geo.
"Tidak apa-apa?" tanya Cara ragu.
"Tidak apa-apa," jawab Geo.
"Baiklah, aku tutup Kak. Aku segera ke sana." Setelahnya Cara mematikan sambungan telepon.
.
.
.
Cara menoleh sekeliling, ini adalah pertama kalinya bagi Cara menapakkan kaki di lantai empat mansion Vetro setelah empat bulan gadis itu tinggal di sana. Cara menatap kagum sekitar, sebab lantai empat yang dikhususkan untuk Geo begitu mewah dan tertata. "Elegan sekali," gumam Cara memuji.
"Ah … aku tidak tahu letak ruangan kerja Kak Re di mana," ucap Cara bingung. Namun, gadis itu masih saja melangkahkan kakinya sampai gadis itu melihat sebuah pintu besar nan mewah.
"Mungkin ini kamar Kak Ge, aku lanjut saja." Cara kembali melanjutkan jalannya sampai gadis itu menemukan satu pintu lagi.
"Coba kita ketuk, mungkin di sini," gumam Cara.
Tok … tok … tok …
"Masuk." Suara berat nan datar menyahut dari dalam ruangan itu.
"Benar ternyata di sini," ujar Cara. Setelahnya Cara membuka pintu itu secara perlahan, setelah pintu terbuka gadis itu dapat melihat Geo sedang fokus dengan laptopnya. 'Sungguh tampan,' puji Cara di dalam hati.
"Permisi, Kak." Cara bersuara sambil mendekat ke arah Geo.
"Dokumen ini akan aku kirim malam ini, jadi aku membutuhkan tanda tangan Kakak." Cara menyodorkan sebuah map kepada Geo.
"Duduklah." Geo bersuara sambil meraih map yang diberikan Cara. "Sepertinya kamu melupakan sesuatu," papar Geo.
Cara terkejut mendengar perkataan Geo. "Benarkah, apa Kak?" tanya Cara.
"Kamu perlu revisi halaman dua, kamu meninggalkan bahan yang cukup penting." Geo kembali menyodorkan map kepada Cara yang segera diambil oleh gadis itu.
"Astaga, maaf Kak. Aku kurang teliti, aku akan merevisinya. Terpaksa direvisi semua," ringis Cara.
"Kerjakan di sini saja," tutur Geo.
"Eh … tidak usah Kak, aku takut mengganggu Kak Ge. Pekerjaan Kakak lebih menumpuk," tolak Cara tidak enak.
"Aku tidak terima penolakan," sela Geo.
Cara terdiam sedikit terkejut, setelahnya gadis itu mengangguk singkat. "Baiklah," putus Cara.
"Ke sini," titah Geo.
Dengan gerakan sedikit ragu Cara mendekat ke arah Geo. "Pakai ini." Geo memberikan laptopnya kepada Cara.
"Terus Kakak bagaimana?" tanya Cara.
"Ada, pakai saja. Kerjakan di sana." Geo menunjuk sofa besar di dalam ruangan itu.
"Baiklah," sahut Cara.
...*****...
"Jadi semua itu ulah perempuan murahan itu?" geram Jesy.
"Kita tidak bisa menganggapnya remeh sekarang, posisinya di VT Group sangat memungkinkan untuk dia melakukan itu kepada kita," terang Torih.
"Terus kita harus bagaimana Mas? Tidak mungkin kita diam saja," kesal Sasdia.
"Kita harus pikirkan matang-matang, jangan terburu-buru," papar Torih.
"Aku muak melihatnya yang sok berkuasa," racau Jesy.
"Tapi dia benar-benar punya kuasa saat ini Jes. Apa yang dia katakan itu benar, hanya dengan satu tanda tangan darinya perusahaan kita bisa hancur," resah Torih.
...*****...
Geo menoleh saat merasakan tidak ada pergerakan dari arah sofa. Benar saja, di sana Cara sudah terlelap dengan posisi tidak nyaman. Geo mendekat dan mendapati layar laptop masih menyala, laki-laki itu melihat pekerjaan Cara sudah selesai. Gadis itu hanya tinggal mengirim berkas sebab Geo sudah menandatanganinya.
Geo menatap wajah polos Cara yang sedang tertidur pulas. 'Cantik dan menyejukkan,' batin Geo. Setelahnya laki-laki itu membereskan semua sisa pekerjaannya dan Cara.
Kemudian laki-laki itu menarik Cara secara perlahan ke dalam pelukannya, setelahnya Geo menggendong Cara ala bridalstyle. Geo membawa tubuh Cara ke dalam kamarnya, laki-laki itu menidurkan Cara secara perlahan takut mengganggu tidur pulas gadis itu. 'Aku sudah terbiasa dengan kehadiranmu.' Geo membatin sambil menatap wajah Cara intens. Setelah itu Geo ikut membaringkan tubuhnya di samping Cara dan membawa raganya ke alam mimpi.
...*****...
'Kenapa berat sekali?' Cara membatin dengan mata masih terpejam. Gadis itu melenguh saat tubuhnya terasa begitu berat, seakan ada sesuatu yang menghimpitnya. Dengan perlahan Cara membuka matanya meski dia masih merasa begitu mengantuk.
'Mimpi macam apa ini?' batin Cara. Gadis itu melihat dada bidang seorang laki-laki yang sepertinya sedang memeluknya erat.
Cara mendongak, sepersekian detik gadis itu melotot dengan wajah ling-lung. 'Mimpiku kali ini sangat indah,' Cara kembali membatin.
Cara menatap wajah tampan Geo yang terlihat begitu polos dikala laki-laki itu terlelap. Perlahan gadis itu mengusap pipi tampan milik laki-laki datar itu. "Sungguh nikmat jika wajah tampan ini menjadi hal pertama yang selalu aku lihat di setiap bangunku," gumam Cara tanpa sadar.
"Kamu memancingku?" Cara terlonjak saat bibir Geo bergerak dan mengeluarkan suara.
'Ini tidak mimpi?' batin Cara terkejut. Cara dapat melihat mata Geo perlahan terbuka, gadis itu sudah menganga tidak percaya. Cara menelan salivanya kasar saat mata tajam milik Geo menatapnya begitu lembut. "Bangun Cara." Cara bergumam sambil menggelengkan kepalanya.
"Bukankah kamu sudah bangun? Dan malah memancing buaya yang sedang terlelap," sela Geo.
Cara menegang di tempat, gadis itu menatap Geo dengan mata mengedip-ngedip bingung. Setelahnya gadis itu menyentuh pipi Geo masih mencoba memastikan. "Aku tidak mimpi?" ujar Cara bingung.
"Kamu berharap ini mimpi?" tanya Geo. Cara melotot, setelahnya wajah gadis itu memerah karena salah tingkah bercampur malu. Dengan gerakan spontan gadis itu menyembunyikan wajah panasnya di dada bidang milik Geo. "Kenapa bisa?" tanya Cara gugup.
Geo sempat terkejut dengan gerakan tiba-tiba dari Cara, setelahnya laki-laki itu tersenyum saat mengetahui gadis itu sedang malu dan salah tingkah. "Kamu tertidur semalam, dan aku menidurkanmu di kamarku," terang Geo.
"Maaf, jadi merepotkan Kak Ge," sahut Cara tidak enak.
Geo menarik wajah Cara dari pelukannya, setelahnya laki-laki itu menatap muka merah gadis itu dengan tatapan serius. "Mulai saat ini kamu tidak akan pernah lepas dariku, aku tidak akan pernah melepaskanmu sebab kamu adalah milikku," tegas Geo.
Cara terkejut dengan perkataan Geo yang jelas bukanlah hal main-main, gelenyar aneh mengalir di dalam hati gadis itu. Cara menghangat, perkataan Geo mampu membuat gadis itu semakin merona. Hatinya senang, perasaan yang selama ini dia simpan dan dia jaga akhirnya terbalas. Geo menyukainya bahkan mengaku tidak akan pernah melepasnya, Cara merasa begitu beruntung.
"Jangan sampai ada laki-laki lain dikehidupanmu, sebab … aku pastikan laki-laki itu akan mati di tanganku." Suara dingin Geo mampu membuat bulu kuduk Cara meremang. Perkataan Geo tidak main-main, Cara tahu itu. Lagi pula, selama hidupnya Cara tidak pernah menyukai seorang laki-laki pun di dunia ini selain Geo.
...*****...
Pesta VT Group
"Di sini kita akan memulai permainan baru." Cara tersenyum miring menatap keramaian pesta perusahaan VT Group dari sebuah ruangan tertutup. Tiba-tiba seseorang memeluk pinggang ramping Cara sehingga membuat gadis itu terkejut. Cara menoleh dan mendapati wajah tampan milik kekasihnya. Semenjak kejadian bangun tidur kala itu, Geo dan Cara resmi berganti status menjadi sepasang kekasih.
Cara tersenyum manis kepada Geo. "Sampai kapan disembunyikan?" tanya Geo.
"Sabar dulu ya, aku masih ingin bermain-main dengan mereka. Kalau mereka tahu aku memilikimu, pasti semuanya tidak lagi seru." Cara mengusap rahang tegas kekasihnya.
Geo menghela napas pelan terpaksa menuruti keinginan kekasihnya. "Aku pergi lebih dulu, jangan jelalatan." Cara memeluk tubuh kekar Geo sejenak, setelahnya gadis itu berjinjit berniat mencium pipi kiri Geo. Sebab tinggi Geo yang berada diangka 191 cm terlihat begitu timpang dengan tinggi Cara yang hanya 165 cm.
"Dia benar-benar membuat aku gila." Geo bergumam sambil menatap kepergian Cara.
.
.
.
"Hai … kita bertemu lagi." Cara tersenyum miring ke arah Torih, Sasdia dan Jesy yang sedang menatapnya dengan raut terkejut.
"Mau apa kau ke sini? Pergi, kami jijik melihat wajah murahanmu itu," desis Jesy.
"Wah … mulut putri Anda berbahaya Tuan Gerisam, bisa saja mengancam kelangsungan hidup Gerisam Group." Cara tersenyum licik.
Torih terkesiap, setelahnya laki-laki paruh baya itu menatap tajam ke arah Jesy yang sudah melotot tidak percaya. Sedangkan Cara sudah bersorak senang di dalam hati. "Maaf, Jesy sedang ada masalah. Jadi … tolong dimaklumi," papar Torih lembut.
Sasdia dan Jesy menatap tidak percaya ke arah Torih, sedangkan Cara sudah tersenyum miring merasa puas melihat musuhnya mulai tunduk kepadanya. "Oh begitukah?" Cara mengangguk singkat seakan memaklumi.
"Bisakah aku minta tolong, Nona Gerisam?" Cara menatap Jesy santai. Sedangkan Jesy sudah menatap Cara dengan pandangan penuh kebencian.
"Tentu saja, Anda ingin minta tolong apa?" sahut Torih. Lagi, perkataan Torih memancing keterkejutan Sasdia dan Jesy.
Cara tersenyum manis. "Bisa ambilkan aku air minum?" pinta Cara.
Jesy melotot. "Kau …."
"Tentu, cepat ambilkan Jes," potong Torih cepat.
"Tapi Pa …." Torih menatap tajam Jesy sehingga membuat gadis itu mendengus kesal, setelahnya Jesy bergerak dari sana dengan wajah marah.
"Apa maumu, hah? Kenapa kau seenaknya menyuruh-nyuruh putriku?" Sasdia menatap tajam Cara.
"Diam Sasa," tegur Torih tajam.
"Mas kamu …."
"Aku bilang diam." Torih menatap tajam Sasdia sehingga membuat istrinya itu mendengus marah.
Sedangkan Cara yang melihat itu sudah bersorak senang di dalam hatinya. 'Pertunjukkan yang memuaskan,' batin Cara.
"Ini." Jesy kembali dan menyodorkan sebuah gelas berisi cairan berwarna ungu gelap kepada Cara.
"Aku tidak sepertimu Nona Gerisam, aku tidak meminum minuman berakohol. Bisa kau ganti yang baru?" balas Cara santai.
Jesy menatap tajam Cara. "Kau pikir kau siapa, hah? Seenaknya memerintahku," sembur Jesy.
"Aku salah satu orang berkuasa di sini," jawab Cara santai.
"Ambilkan saja yang baru Jes," titah Torih.
"Tidak Pa, kenapa Papa malah menuruti perkataan wanita murahan ini? Dia hanya ingin mempermainkan kita," tolak Jesy tidak terima.
"Bukankah kita memang sedang memulai permainan baru?" sela Cara.
"Aku tidak akan pernah mau menuruti perkataanmu, brengsek! Kau hanya wanita murahan yang sok berkuasa." Jesy menunjuk Cara dengan tangan kirinya.
"Sudah Jesy," tegur Torih.
"Perlu saya ralat Nona Gerisam, saya bukan sok berkuasa. Tetapi memang berkuasa, saya bisa dengan mudah membuat Gerisam Group hancur berkeping-keping. Dengan demikian hidupmu juga akan hancur, kau tidak akan bisa menyombong dengan kekayaan yang tidak seberapa itu. Dan … kata-kata gembel yang terpaut pada diriku dahulu, akan berpindah kepadamu." Cara tersenyum jahat.
Jesy mengepalkan tangannya erat, genggamannya pada gelas yang dia bawa semakin kuat. Tiba-tiba Jesy membating gelas itu dengan emosi memuncak.
Prang … plak … bruk ….
Dengan gerakan cepat, setelah membanting gelas hingga menimbulkan bunyi nyaring dan menarik perhatian semua tamu dipesta itu. Jesy menampar Cara, seakan dejavu … Cara menjatuhkan dirinya sambil memulai aktingnya yang seakan tertindas. Semua orang terkejut saat melihat kejadian itu, mereka dengan jelas melihat Jesy menampar Cara hingga terjatuh.
Tidak terkecuali dengan Torih dan Sasdia yang sudah melotot saat menyadari semua mata tertuju ke arah mereka. Torih mengumpat saat menyadari kelakuan Jesy itu mampu berakibat buruk untuk perusahaannya. Jelas dari tatapan tidak suka yang ditujukan para tamu undangan untuk Jesy. Mereka menatap Jesy dengan pandangan menuduh dan merendahkan.
"Nona Cara, Anda tidak apa-apa?" Seorang wanita datang membantu Cara berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" Wanita itu menatap tajam ke arah Jesy yang sudah terkejut saat menyadari dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
"Sepertinya gadis itu sudah gila," sinis seorang tamu.
"Benar, dia tidak waras dengan membuat masalah di pesta besar ini," tambah seorang tamu lagi.
"Kalau Tuan Vetro tahu, pasti hidupnya hancur," rundung seorang wanita.
"Apa dia tidak tahu kalau wanita yang ditamparnya itu adalah direktur utama VT Group?" ejek tamu lainnya.
"Bukankah dia anak dari Tuan Torih, pemilik Gerisam Group?" tutur seorang laki-laki.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa." Cara tersenyum tipis ke arah para tamu membuat semua orang semakin menyudutkan Jesy.
Torih mengepalkan tangannya marah, laki-laki itu memegang tangan Jesy kuat sambil menatap ragu ke arah Cara. "Maafkan kelakuan putri saya Nona Cara, ini salah saya yang kurang mendidiknya. Kami permisi." Setelah mengucapkan itu Torih menarik kasar tangan Jesy sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Cara menatap kepergian keluarga itu dengan senyum puas. Berbeda dengan Geo yang sedari tadi sudah menahan amarahnya saat melihat Cara ditampar oleh Jesy. Laki-laki itu tidak suka jika gadisnya diperlakukan buruk seperti itu. "Jika bukan karena permintaan gadisku untuk tidak menyentuh mereka, sudah aku pastikan tangannya yang baru saja menampar pipi gagisku berpisah dari tubuhnya," gumam Geo tajam.
.
.
.
"Perlu aku beri pelajaran?" Geo bertanya sambil mengusap lembut pipi Cara yang masih memerah. Setelah kepergian Torih, Sasdia dan Jesy, laki-laki datar itu menyuruh Cara segera menemuinya di ruangan tadi.
"Tidak usah Kak, ini tidak terlalu sakit. Lagi pula, ini adalah salah satu dari rencanaku. Kita lihat hasilnya besok." Cara tersenyum manis ke arah Geo. Cara sedang duduk dipangkuan Geo yang masih terlihat menahan emosi.
"Tetap saja aku tidak suka jika kamu diperlakukan kasar, aku benci itu," papar Geo.
Cara terkekeh kecil. "Aku tidak apa-apa, ini tidaklah sakit." Cara mengusap lembut pipi Geo.
"Tidak sakit? Lihatlah ini membekas sampai sekarang, jika saja kamu tidak melarangku untuk menyentuh mereka. Aku jamin tangan wanita itu sekarang sudah terpisah dari tubuhnya." Geo menyentuh pipi Cara dengan hati-hati.
Cara tersenyum tipis, gadis itu merasa senang dan beruntung bisa mendapatkan perhatian dari laki-laki seperti Geo. Laki-laki yang memiliki kepribadian sedingin es, tetapi bongkahan es itu perlahan mencair jika Geo sedang bersamanya. "Biarkan aku bersenang-senang dulu, nanti ada saatnya Kak Ge yang turun tangan. Bukankah sedari awal Kak Ge ingin aku membuat pertunjukan yang semakin menarik?" ujar Cara.
"Itu dulu, sekarang aku tidak ingin kamu kenapa-napa. Aku susah mengontrol jiwa iblisku yang meronta ingin keluar, di saat melihatmu diperlakukan kasar oleh orang lain. Aku bisa saja kelepasan menyiksa dan membunuh mereka," terang Geo.
"Tenanglah … ke depannya aku akan baik-baik saja, aku berjanji. Jika mereka keterlaluan, Kak Ge boleh turun tangan." Cara memeluk tubuh kekar Geo sambil memejamkan matanya merasa begitu nyaman. 'Nyaman sekali,' batin Cara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Parih Tiambun
ceritanya terlalu ringan, jadi bosan bacanya
2025-01-18
0
Xavier~
Butuh kaca??
2024-07-05
0
kutu kupret🐭🖤🐭
bukan nya loe yang jalang beracun lebih jumawa 👿
2024-02-20
0