Jesy menatap tajam Cara yang sedang berjalan santai bersama Siera. Rasa benci gadis itu membuat otak liciknya merajalela membentuk sebuah rencana balas dendam. "Lihat saja, akan aku balas semua perbuatanmu, wanita kurang ajar," desis Jesy.
"Kau mencariku?" Suara seseorang mengejutkan Jesy. Gadis itu menoleh dan tersenyum manis saat melihat seorang laki-laki tampan sedang berdiri dihadapannya.
"Iya, kamu kenal aku?" tanya Jesy.
"Jesyta Gerisam bukan? Kau sempat menjadi primadona kampus sebelum kedatangan Cara, tetapi ini pertama kalinya aku melihatmu dari dekat," sahut laki-laki itu. Kenyataan yang baru saja diperjelas oleh laki-laki itu sukses membuat Jesy semakin membenci Cara.
Sedari awal Jesy memang sudah membenci kedatangan Cara yang merebut gelar primadona kampus darinya, Jesy tidak terima. "Iya, aku Jesy. Aku ingin menawarkan kerja sama kepada Kak Yazi." Jesy tersenyum manis kepada laki-laki yang dipanggil Yazi itu.
Yazi Dersa adalah salah satu laki-laki populer di Universitas Alfa, dia merupakan kakak tingkat Cara dan Jesy. "Kerja sama apa?" tanya Yazi bingung.
"Aku dengar Kakak sempat ditolak oleh Cara, benar begitu?" papar Jesy.
Yazi terkejut, setelahnya wajah laki-laki itu mengeras saat mengingat kejadian satu minggu yang lalu. Saat dirinya menyatakan cinta kepada Cara, tetapi gadis itu malah menolaknya. Yazi tidak terima itu, di mana hampir seluruh wanita di kampus itu mengantri ingin menjadi pacarnya. Tetapi Cara malah dengan gampangnya menolak pernyataan cinta darinya. "Apa maumu?" tanya Yazi.
Jesy tersenyum miring. "Ikut aku," ucap Jesy.
...*****...
"Aku senang mendengarnya, semoga semuanya berjalan sesuai rencanamu," tutur Siera ikut senang saat mendengar cerita Cara.
"Iya, aku sudah merencanakan semuanya dengan matang. Aku sekarang sedang mengulur waktu, aku ingin melihat tindakan mereka. Aku yakin Jesy pasti ingin membalasku, aku tahu bagaimana sifatnya." Cara tersenyum tipis kepada Siera.
"Tapi jangan sampai membahayakanmu, kamu harus lebih hati-hati," peringat Siera.
Cara tertawa. "Kamu tenang saja, aku bukan lagi Cara yang dulu. Aku pasti akan melawan," balas Cara semangat.
Siera tertawa. "Bagus, kalau begitu baru aku senang," ujar Siera.
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Siera mengalihkan perhatian dua gadis itu. "Halo, Ma," jawab Siera.
"Sayang, jadwal kuliah kamu sudah selesai bukan? Segeralah pulang, temani mama ke kafe," sahut orang di seberang telepon.
"Baiklah Ma, aku segera pulang. Dah …." Setelahnya Siera menutup panggilan telepon itu.
"Sayang sekali, aku harus segera pulang," ujar Siera lesu.
Cara tertawa kecil. "Tidak apa-apa, pulanglah. Lain kali kita main bersama, kamu bisa datang ke mansion Kak Ge nanti," tutur Cara.
"Ah tidak, aku takut," ringis Siera ngeri.
Cara tertawa keras. "Ada aku, kamu tidak akan kenapa-napa. Sudah pergilah, kasihan mama kamu lama menunggu," balas Cara.
"Baiklah, aku pergi. Kamu jaga diri baik-baik, kalau ada yang mengganggumu segera hubungi … Tuan Vetro." Siera terkekeh bodoh yang diikuti oleh Cara.
"Dah …." Siera melambaikan tangannya kepada Cara.
"Hati-hati." Cara membalas lambaian tangan Siera.
Tring … tring … tring …
Ponsel Cara berbunyi, gadis itu menoleh dan tersenyum saat melihat nama Hubby terpampang di layar ponselnya. "Selamat siang, Hubby," sapa Cara lembut.
Geo terdiam sejenak, panggilan hubby yang dilontarkan Cara untuknya mampu membuat hati Geo menghangat. "Panggilan itu akan segera terkabul, Sayang," sahut Geo.
Cara terkekeh kecil. "Aku tunggu loh," goda Cara.
"Ingin aku buktikan sekarang?" tanya Geo serius.
Cara kembali tertawa. "Aku percaya Kak, kenapa Kak Ge menelepon? Ada sesuatu yang penting?" tanya Cara.
"Iya," sahut Geo.
"Apa Kak?" tanya Cara lagi.
"Aku merindukanmu," tutur Geo datar.
Cara terdiam sejenak, setelahnya gadis itu tertawa. "Kakak tidak cocok menggombal seperti itu," ejek Cara.
"Aku tidak menggombal Baby, aku bersungguh-sungguh," tutur Geo.
"Iya, aku tahu. Perlu aku datang ke sana?" Cara terkekeh kecil.
"Tentu, jadwal kuliahmu sudah selesai bukan? Maka cepatlah ke sini," titah Geo.
"Iya Sayang, aku …."
"Sedang menelepon dengan siapa kau? Laki-laki yang keberapa itu?" Kalimat Cara terpotong oleh kedatangan Jesy dan Yazi yang sedang menatapnya sinis.
Cara tersenyum miring. 'Benar dugaanku bukan? Tidak sia-sia aku menunggu dia beraksi di sini,' batin Cara senang.
"Sayang," suara Geo dari ponselnya menyadarkan Cara.
"Nanti aku telepon lagi ya Kak, aku kedatangan tikus besar," tutur Cara.
"Apa maksudmu? Kau mengatakan kami tikus?" murka Jesy tidak terima.
"Kak, aku tutup ya." Setelahnya Cara memutuskan sambungan teleponnya dengan Geo.
.
.
.
Geo menatap ponselnya dengan pandangan datar, setelahnya laki-laki itu menghubungi nama Alex di ponselnya. "Halo," sapa Alex.
"Susul Cara, pantau keadaan," titah Geo.
"Dia di kampus?" tanya Alex.
"Hemm," deham Geo.
"Baiklah, aku segera bergerak. Aku suka dengan pertunjukkan." Alex tertawa senang di seberang telepon. Setelahnya Geo menutup panggilan telepon begitu saja.
.
.
.
Cara memasukkan telepon genggamnya ke dalam tas dengan gerakan santai. Setelahnya gadis itu menatap Jesy dengan pandangan remeh. "Ada apa Nona Gerisam?" tanya Cara santai.
"Tidak usah pura-pura seakan tidak bersalah kau bangsat, karena ulahmu keluargaku berantakan," desis Jesy.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" Cara menaikkan sebelah alisnya pura-pura tidak mengerti.
"Aku muak melihat wajah sok polosmu itu," geram Jesy.
"Kalau kau muak kenapa malah ke sini? Seharusnya kau pergi jauh-jauh dariku, bukannya malah mendekat seperti ini. Bukan salahku, sebab kau sendiri yang datang menemuiku bukan?" balas Cara santai.
Jesy mengepalkan tangannya marah, Cara sungguh berhasil memancing amarahnya. Namun, beberapa detik kemudian Jesy tersenyum miring sambil menatap sekitar. Gadis itu melirik Yazi yang berada di sampingnya seakan memberi kode. "Kau gadis murahan!" teriak Jesy keras.
Teriakan itu mampu menarik perhatian mahasiswa lainnya untuk mendekat ke tempat kejadian. Cara dapat melihat Jesy tersenyum puas, merasa rencananya mulai berjalan lancar. Cara menaikkan sebelah alisnya mencoba menebak rencana licik gadis itu. "Dengan wajah sok polosmu itu kau menggoda kekasihku? Sekarang kau malah sedang bertelepon mesra dengan orang lain, wanita *j*a**g*," tuduh Jesy.
"Kau juga menggoda Kak Yazi dan menyebar gosip murahan seakan kau menolak laki-laki populer di kampus ini? Kau benar-benar murahan." Jesy melanjutkan kalimatnya sambil menatap tajam Cara yang masih diam dengan wajah datarnya.
Para mahasiswa yang menyaksikan itu mulai berbisik. "Benarkah itu? Jadi gosip itu tidak benar?" ujar seorang wanita.
"Aku tidak tahu, sepertinya begitu. Jesy sepertinya sangat marah, Kak Yazi juga di situ," balas seorang wanita lagi.
"Aku tidak menyangka ternyata Cara gadis yang seperti itu, wajahnya saja yang polos."
"Iya, berarti kita tertipu."
Jesy tersenyum puas saat mendengar bisikan dan lontaran yang keluar dari mulut para mahasiswa. Gadis itu menatap tajam Cara yang masih saja diam dengan wajah tanpa ekspresi. "Kau memanfaatkan wajah sok polosmu itu untuk memeras laki-laki kaya. Setelah itu kau meninggalkan mereka begitu saja, sama seperti kekasihku dan Kak Yazi," tambah Jesy.
"Kalau boleh aku tahu, siapa nama kekasihmu Nona Gerisam?" Akhirnya Cara bersuara sambil menatap dingin Jesy dan Yazi bergantian.
Jesy terdiam sejenak, "B-boy Arjuna," sahut Jesy sedikit ragu.
Cara mengangguk singkat. "Boy Arjuna? Aku tidak mengenal laki-laki bernama Boy Arjuna, mungkin lebih tepatnya tidak tahu sebab laki-laki itu hanyalah sebuah karanganmu saja. Bukan begitu?" sahut Cara santai.
Jesy melotot. "Tidak usah mengelak kau," sembur Jesy.
"Kalau begitu bisa kau hubungi nomornya? Supaya kita berbicara secara langsung dan meluruskan kesalah pahaman ini." Cara tersenyum miring.
Jesy menelan salivanya kasar. "Di-dia sudah memblokir nomorku, dan aku juga sudah menghapus nomor teleponnya," kilah Jesy.
Cara terkekeh sinis. "Baiklah, kalau begitu aku ingin bertanya kepada laki-laki di sampingmu itu." Cara menatap Yazi yang sempat terkejut.
"Kapan aku memerasmu?" tanya Cara.
Yazi terlihat bingung. "Seminggu yang lalu kau mengajakku jalan, dan aku mengabulkan keinginanmu itu. Kita sempat berhubungan beberapa hari, sebelum kau menghilang begitu saja setelah kau memintai ku uang sejumlah … dua pulun juta rupiah," terang Yazi terpotong-potong.
"Wah, benarkah begitu?" ujar seorang mahasiswa.
"Dia meminta uang kepada laki-laki? Memalukan sekali."
"Ya ampun, kalau aku jadi dia. Lebih baik lari saja."
Jesy menatap Cara dengan senyum miring. "Dengar, kau masih ingin mengelak? Kau benar-benar perempuan murahan, memanfaatkan wajah untuk mendapatkan uang. Cuih …." Jesy meludah seakan begitu merendahkan Cara.
Byur ….
Jesy mengguyur tubuh Cara dengan susu coklat yang sedari tadi digenggamnya. Jesy memang sengaja menyiapkan itu untuk membalaskan hal yang sempat dia alami beberapa minggu yang lalu. "Bagaimana? Ini pembalasanku untuk beberapa minggu yang lalu dan untuk kejadian di pesta kala itu," bisik Jesy kepada Cara. Cara menatap tajam Jesy, tubuhnya sudah basah dan kotor oleh susu coklat yang ditumpahkan Jesy kepadanya.
Ting ….
Suara pemberitahuan dari ponsel Cara terdengar pelan di telinga Cara sebab ponsel itu berada di dalam tas gadis itu. 'Ingin mempermalukan aku? Baiklah, mari kita lihat siapa yang akhirnya akan malu,' batin Cara sinis.
"Kalian ingin sesuatu dariku? Kau mengatakan aku menyebar berita yang tidak-tidak tentang penolakanku minggu lalu bukan? Jika memang aku memintaimu uang, apakah kau ada bukti? Logikanya lagi, jika memang aku memerasmu, aku pasti tidak akan berani menunjukkan batang hidungku dihadapanmu seperti ini bukan?" Cara menatap Yazi datar. Semua orang terdiam merasa apa yang dikatakan oleh Cara masuk akal.
Pats …. Tiba-tiba layar pengumuman kampus menyala, semua mahasiswa menoleh terkejut mendengar layar besar itu tiba-tiba saja menyala. Setelahnya layar itu memperlihatkan sebuah video yang nampaknya diambil secara diam-diam.
Dialog di dalam video.
"Cara," panggil Yazi.
Cara menoleh. "Iya?" sahut Cara santai.
"Aku tidak suka basa-basi, semenjak kamu datang ke sini aku sudah menyukaimu. Kamu pasti kenal aku bukan?" tutur Yazi percaya diri.
Cara mengernyit bingung. "Maaf, aku baru di sini. Jadi … tidak mengenalmu, memangnya kamu siapa?" tanya Cara.
Yazi nampak terkejut. "Oh … perkenalkan aku Yazi Dersa, kakak tingkatmu. Aku laki-laki populer di kampus ini," Yazi berucap dengan nada menyombong sambil mengulurkan tangannya ke arah Cara.
"Lavia Cara." Cara membalas uluran tangan Yazi singkat.
"Aku sudah tahu kamu, ayo kita pacaran," ajak Yazi santai.
Cara melotot tidak percaya, semudah itu laki-laki itu mengajak wanita berpacaran. "Maaf, aku sudah memiliki kekasih. Permisi."
Setelahnya Cara pergi begitu saja meninggalkan Yazi yang sudah menatapnya marah. "Sok cantik sekali dia," geram Yazi marah.
Video selesai.
Semua orang menatap mengejek ke arah Yazi yang sudah melotot tidak percaya. Laki-laki itu merasa malu sekarang, Yazi melirik Cara ragu. 'Siapa dia? Kenapa dia bisa memiliki video saat kejadian itu?' batin Yazi.
Pats …. Suara layar itu kembali menarik perhatian sekumpulan mahasiswa. Mereka menunggu pertunjukan lain yang mungkin bisa menjawab kebingungan mereka saat ini.
Dialog di dalam video.
"Ayo kita buat dia malu," tutur Jesy.
"Kenapa?" tanya Yazi.
"Apa Kakak tidak ingin balas dendam atas penolakannya itu? Dia sok jual mahal, padahal aslinya murahan," desis Jesy.
"Kenapa kau ingin melakukan ini?" tanya Yazi penasaran.
"Aku membencinya, karena kehadirannya ketenaranku lenyap. Bahkan beberapa minggu yang lalu dia membuat aku malu, aku ingin membalasnya," geram Jesy.
"Baiklah, tapi … bagaimana caranya?" tanya Yazi.
"Itu cara mudah, kita tinggal berakting. Aku akan mengarang cerita, Kakak tinggal mengikuti alur yang aku ciptakan. Kepopuleran Kak Yazi bisa mempermudah kita untuk menipu mahasiswa lainnya, aku yakin mereka akan percaya dengan perkataan Kakak." Jesy tersenyum miring.
"Baiklah, aku memang tidak menyukai sifat sok jual mahalnya itu," putus Yazi.
Video selesai.
"Cukup sampai di sini atau perlu aku putar video lainnya?" Cara tersenyum miring ke arah Jesy dan Yazi yang sudah memucat.
"Nona Cara." Suara seorang laki-laki mengalihkan perhatian seluruh mahasiswa. Mereka terkejut saat melihat seorang laki-laki tampan mendekat ke arah kerumunan. Laki-laki itu memakaikan jas yang sedang digenggamnya ke tubuh Cara yang setengah basah.
"Lain kali lihat dulu siapa lawanmu. Ingin menggunakan senjata, tetapi tidak tahu cara menggunakannya. Akhirnya malah menjadi senjata makan tuan." Cara berucap sambil menatap datar Jesy dan Yazi.
Setelahnya Cara berjalan mendekat ke arah Jesy yang sudah mematung di tempatnya. "Bagaimana? Apakah perlawananku kali ini menarik? … Kau seharusnya sadar dengan posisimu sekarang, kita tidak selevel. Jika dulu levelku berada di bawahmu, maka … sekarang levelmu sungguh jauh di bawahku. Kau tidak akan pernah menang melawanku, adik tiri." Cara berbisik menekan kata adik tiri tepat di telinga Jesy sambil tersenyum licik.
Jesy mengepalkan tangannya melihat kepergian Cara dengan tatapan penuh kebencian. 'Kenapa jadi seperti ini?' jerit Jesy di dalam hati.
Huuu …. Semua mahasiswa menyoraki dan memaki Jesy dan Yazi yang masih terdiam menatap kepergian Cara. Mereka tidak hanya menyoraki. Namun, ada beberapa dari mereka yang melemparkan botol atau apa pun yang ada digenggaman mereka ke tubuh Jesy dan Yazi.
...*****...
"Keadaanmu yang seperti ini akan membuat Geo mengamuk kepadaku," ujar Alex.
Cara tertawa. "Nanti aku bantu berbicara," tutur Cara.
"Pertunjukanmu tadi sangat mengesankan," puji Alex.
"Ini semua juga berkat Kak Farel yang begitu tepat waktu dalam membaca situasi, aku bahkan tidak menyangka dia selincah itu menunjukkan semua bukti tanpa persiapan," ucap Cara.
"Dia memang sangat ahli dalam hal itu," ujar Alex.
"Aku begitu menikmati pertunjukanmu, aku senang akhirnya otakku yang sempat tersendat tadi sekarang sudah fresh kembali," papar Alex.
Cara tertawa keras mendengar ungkapan Juan. "Kalau saja aku tidak dalam keadaan basah seperti ini, aku ingin sekali melihat wajah tertekannya itu. Namun, tidak apa-apa … aku sudah puas melihat wajah marahnya itu."
"Aku akui Geo benar-benar berhasil mendidikmu Cara, aku dapat melihat karakter Geo pada dirimu di saat kamu beraksi." Alex menggelengkan kepalanya tidak habis pikir. Sedangkan Cara hanya terkekeh kecil.
"Bedanya, sisi lembutmu masih terlihat. Berbeda dengan Geo yang jelas saja begitu kejam dan mengerikan," sambung Alex.
Cara menoleh ke samping, menatap Alex yang sedang fokus membawa mobil. "Kak Geo sekejam apa?" tanya Cara penasaran.
Alex melirik Cara sejenak. "Kamu belum pernah melihat kekejaman Geo yang sesungguhnya, sifat dan perhatian yang selama ini dia berikan kepadamu sangat berbanding terbalik dengan karakter dia yang sebenarnya. Bukan berarti dia menipumu, tetapi dia memang seperti itu hanya kepadamu. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena hadir di dalam kehidupan Geo dan menjadi seorang pengendali untuknya," papar Alex serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Vin Yu Lie
biasa aja 🙂
2023-07-08
0
Lee Fay
Balas dendam apa ini astagaa? LEMAH kali😭😭 knpa gadak blas nyiram apa gtu jga? Haisshh emosi aku dibuat si OON CYRA
2022-09-29
2
Lee Fay
Kau berubah jd cantik aja. Tpi otak masih OON. Balas dendamnya ga seru, terlalu LEMAH
2022-09-29
0