Geo memeluk Cara dari belakang. "Dapat," tutur Geo.
"Kaki Kak Ge terlalu panjang, jadi tentu saja begitu mudah mengejarku." Cara tertawa di dalam gendongan Geo.
Geo tertawa kecil. "Coba lihat itu." Geo menunjuk sebuah tempat yang tidak jauh dari sana. Cara mengikuti arah tunjuk Geo, setelahnya gadis itu menurunkan tubuhnya dari gendongan Geo.
"Apa itu Kak? Sepertinya di sini sedang ada acara," ujar Cara.
"Ayo." Geo menggenggam tangan Cara sambil menarik pelan gadisnya.
"Mau ke mana Kak? Jangan ke sana, takutnya kita mengganggu acara orang," papar Cara.
"Ikut saja Sayang," ujar Geo.
Geo dan Cara melangkah mendekat, mata Cara berbinar menatap dekorasi mewah di tepi pantai itu. "Sungguh indah," gumam Cara.
"Suka?" tanya Geo.
Cara mengangguk cepat, tetapi setelahnya gadis itu menoleh dengan kening berkerut. "Kenapa Kak Ge tanya begitu?" tanya Cara.
Bukannya menjawab, Geo malah mengajak Cara ke tengah dekorasi indah itu. Geo menunduk menatap wajah Cara hangat. "Aku tidak bisa romantis, tapi … aku harap ini akan menjadi salah satu kenangan indah nantinya," ucap Geo.
Cara masih menatap Geo dengan pandangan bingung. "Will you marry me Baby?" Geo mengulurkan sebuah cincin dengan gaya simpel tetapi sangat terlihat mewah dan elegan. Siapa saja yang melihatnya bisa menebak harga cincin itu tidaklah main-main.
Cara menganga dengan wajah terkejut, gadis itu menatap Geo dengan mata berkaca-kaca. "Ka-kak?" ucap Cara terkejut.
Geo tersenyum tipis. "Hubungan kita masih baru dimulai, dengan menikah aku ingin memulai semua hal manis tanpa hambatan status kekasih. Aku ingin kita lebih bebas dalam mengungkapkan rasa," terang Geo.
Cara masih menatap Geo dengan senyum haru. Setetes air mata yang sedari tadi menggenang di pelupuk matanya terlepas sudah. Geo terkejut melihat itu, dengan cepat laki-laki tampan itu mengusap air mata yang membasahi pipi indah milik gadisnya. "Kenapa menangis Sayang? Kalau kamu belum siap, aku tidak apa-apa. Aku bisa menung …."
Kalimat Geo terpotong karena Cara meletakkan jari telunjuknya di bibir laki-laki itu. Cara menggeleng pelan. "Bukan begitu Kak, aku bukan sedih tetapi … aku sangat senang dan terharu." Cara tersenyum kepada Geo.
"Tolong pasangkan cincin indah ini ke jari manisku." Cara tersenyum manis ke arah Geo yang ikut tersenyum tipis. Setelahnya Geo memasangkan cincin itu ke jari manis Cara, begitu pas melekat di sana.
Cara tersenyum menatap jari manisnya yang sudah tidak lagi polos. "Indah sekali," ucap Cara.
"Kamu suka cincinnya?" tanya Geo.
"Sangat suka, Kak Ge pintar memilihnya," tutur Cara.
Geo tersenyum senang mendengar itu. 'Yah, meski sebenarnya itu adalah pilihan Juan,' batin Geo.
"Tidak berapa lama, cincin itu akan segera di ganti," ucap Geo.
"Dan aku menunggu itu." Cara tersenyum manis ke arah Geo. Geo menarik tangan Cara lembut, setelahnya laki-laki itu mengajak Cara duduk disebuah sofa yang sudah disediakan di sana. Seperti biasa, gadis itu akan duduk manis di atas pangkuan kekasih tampannya. Cara merebahkan tubuhnya di badan kekar milik Geo.
"Aku sangat senang Kak, akhirnya aku bisa menemukan pengganti bunda setelah sekian tahun aku hidup kesepian. Aku … merindukan bunda." Cara terisak kecil saat mengingat mendiang bundanya, kehidupan Dea Marisa tidak berakhir baik bahkan sampai diakhir hayatnya. Mungkin hanya satu hal yang membuat Dea bahagia setelah pernikahannya dengan Torih, yaitu kehadiran Cara putri tercintanya.
Mengingat penderitaan bundanya membuat Cara semakin memupuk dendam di dalam hatinya untuk keluarga Gerisam. Setelah Sasdia yang membawa Dea masuk ke dalam kehidupan mereka, mereka pula yang membuat Dea menderita. Bahkan ketika Dea sudah tenang di alam sana, mereka masih saja mengungkit dan mengumpatinya.
Hati Geo berdenyut sakit mendengar isakan dari gadisnya. Geo mengusap rambut Cara lembut mencoba menenangkan. "Jangan menangis Sayang, sekarang ada aku. Kamu tidak akan pernah kesepian lagi, tumpahkan semuanya kepadaku." Geo berucap sambil mengusap pipi lembab Cara.
Cara mendongak menatap wajah Reo lembut. 'Bunda … aku menemukan laki-laki yang begitu tampan dan dia membuat aku jatuh sejatuh-jatuhnya ke dalam pesonanya. Dia sangat memperlakukan aku dengan baik, dia bahkan memperlakukan aku bak ratu. Aku sangat beruntung bukan? Aku bahagia bunda, dan … aku harap bunda juga bahagia melihatku dari sana.' Cara membatin sambil menatap Geo hangat seakan sedang menatap bundanya.
Geo membalas tatapan hangat dari kekasihnya, setelahnya laki-laki itu mencium kedua mata Cara bergantian. Geo berlanjut ke bibir manis Cara yang sudah menjadi candu baginya. 'Kamu lebih berbahaya dari pada narkoba bagiku Cara, sungguh candu,' batin Geo frustasi.
Kali ini Geo bukan hanya mengecup singkat bibir Cara seperti biasa. Namun, laki-laki itu sedikit memberikan sensasi lain kepada Cara yang ikut hanyut di dalam permainan Geo. Laki-laki itu memeluk hangat tubuh mungil Cara yang ikut memeluk badan kekarnya. Sepasang kekasih itu terhanyut ke dalam hangatnya suasana senja di tepi pantai itu. Hembusan angin menerpa sayu tubuh sepasang insan yang sedang saling memadu kasih.
...*****...
Cara menatap santai dua orang manusia dihadapannya. "Bagaimana?" ucap Cara memecahkan kesunyian.
"Jesy bersedia Nona Cara, kapan dia bisa memulainya?" jelas Torih.
Cara tersenyum puas menatap Jesy yang sedang membalasnya dengan tatapan benci. "Hari ini, saya sudah sangat bosan. Jadi kau bisa memulainya hari ini Nona Gerisam. Untuk masalah perusahaan Anda, saya akan segera membantu. Tunggu sebentar." Cara meraih telepon kantor di atas mejanya. Torih tersenyum senang melihat Cara segera bertindak.
"Suntikkan sahammu ke dalam Gerisam Group, bantu pemasokan yang lainnya," titah Cara kepada orang di seberang telepon.
Setelahnya Cara menatap Torih yang terlihat sedang menunggunya penuh harap. "Tidak sampai lima menit, Gerisam Group akan mendapat investor baru," papar Cara santai.
Tring … tring … tring …
Seperti perkataan Cara, belum sampai lima menit Torih sudah mendapat telepon dari orang kepercayaannya. Torih menatap Cara berharap. "Silakan diangkat Tuan," ucap Cara.
Dengan gerakan cepat Torih mengangkat panggilan telepon itu. "Halo," sapa Torih.
"Kita mendapat investor baru Tuan, nominalnya lumayan. Dengan ini perusahaan kita ada sedikit kemajuan," terang orang di seberang telepon.
Torih tersenyum senang sambil menatap Cara. "Baguslah, kau pantau terus." Setelahnya Torih memutuskan sambungan teleponnya dan menatap Cara dengan pandangan senang.
"Terima kasih Nona, seperti katamu Gerisam Group sudah mendapat investor baru," tutur Torih senang.
Jesy terkejut, gadis itu menatap Cara dengan pandangan tidak percaya. 'Bagaimana bisa secepat itu? Sepertinya jabatannya memang tidak main-main,' batin Jesy.
Sedangkan Cara sudah tersenyum miring. 'Aku akan membuat kau naik dulu Tuan Gerisam, setelah itu aku akan memutus tali peganganmu sehingga membuatmu … boom, jatuh dari ketinggian. Nikmatilah,' batin Cara.
"Itu belum seberapa, jika saya puas dengan pelayanan anak Anda ini …." Cara menggantung kalimatnya sambil menatap Jesy dengan senyum miring. "Maka saya akan membuat Gerisam Group benar-benar stabil, bahkan … mungkin bisa lebih baik dari dulu," sambung Cara.
Torih tersenyum senang, sedangkan Jesy sudah menatap sinis ke arah Cara. Namun, gadis itu hanya bisa diam saat ini, sebab Jesy tidak ingin jika Cara menarik kembali bantuannya. 'Tahan Jesy, setidaknya sampai gadis murahan ini yang menyuruhmu berhenti. Ayo kita buat dia tidak betah,' batin Jesy.
"Terima kasih banyak Nona, saya jamin Jesy akan melayani Anda dengan baik. Benar kan Jes?" Torih menatap Jesy dengan tatapan tajam seakan menekan putrinya itu.
Jesy yang melihat tatapan Torih sempat terkejut, setelahnya gadis itu mengepalkan tangannya kuat mencoba menahan amarah. "Benar," sahut Jesy singkat.
Sedangkan Cara yang melihat interaksi ayah dan anak itu sudah tersenyum miring. Batinnya bersorak senang melihat wajah tertekan milik Jesy. Begitu terlihat jika Jesy sangat terpaksa menerima perjanjian itu. 'Sebentar lagi aku akan memperkenalkan kepadamu Jesy, bagaimana rasanya melayani orang tetapi tidak pernah dihargai,' batin Cara tajam.
"Kalau begitu Anda boleh pergi Tuan Gerisam, tinggalkan putri Anda dengan saya di sini," papar Cara.
"Baiklah Nona, sekali lagi terima kasih. Jika ada sesuatu Anda bisa menghubungi saya, saya siap kapan pun untuk Anda." Torih berdiri sambil mengacungkan tangan kanannya kepada Cara isyarat ingin berjabat tangan.
Cara menatap sejenak uluran tangan Torih. 'Dulu aku begitu menginginkan menggenggam tangan ini dan menciumnya hangat. Tidak disangka sekarang aku begitu jijik jika harus bersentuhan dengannya,' batin Cara.
Namun, gadis itu tetap menerima uluran tangan Torih sebentar. "Tentu saja," kata Cara singkat.
"Silakan diantar tamu kita Jesy." Cara menatap Jesy yang masih duduk santai di atas sofa. Terlihat raut terkejut dari wajah Jesy, setelahnya gadis itu nampak menatap tidak suka ke arah Cara.
"Jesy, jangan melamun. Dengarkan perkataan Nona Cara," tegur Torih.
Jesy menggeram tertahan, dengan kesal gadis itu berdiri dan mulai bergerak. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar perkataan Cara. "Saya ingin setiap saya berbicara, orang yang saya ajak berbicara menyahut perkataan saya. Saya tidak suka diabaikan." Cara menatap Jesy dingin.
Torih terkejut, setelahnya laki-laki paruh baya itu mencubit Jesy sehingga gadis itu berteriak sakit. "Ssst, sakit Pa," ringis Jesy.
"Jangan mengabaikan perkataan orang, kamu tidak sopan," tegur Torih lagi.
"Iya, baiklah aku akan mengantarnya," Jesy bersuara dengan nada terpaksa.
"Kau di sini sebagai pelayan saya, jadi panggil saya Nona Cara seperti yang lain," jelas Cara.
Jesy melotot dengan pandangan tidak setuju, tetapi tatapan tajam Torih membuatnya kembali menggeram marah. "Baik Nona Cara." Jesy menatap Cara sinis sambil menekan kata Nona Cara di dalam kalimatnya.
Cara tersenyum miring. "Baiklah, silakan antar Tuan Gerisam. Setelah itu kembali ke sini," titah Cara santai.
Jesy mengepalkan tangannya erat mencoba menahan emosi, gadis itu menatap tajam Cara yang sedang meminum teh dengan gerakan santai. 'Brengsek, aku benar-benar diperlakukan seperti seorang pembantu?' batin Jesy marah.
"Ayo." Torih berbisik sambil menggenggam tangan Jesy kuat. "Saya permisi Nona Cara," pamit Torih kepada Cara.
"Baiklah, hati-hati di jalan Tuan Gerisam." Cara tersenyum manis kepada Torih, tetapi jelas senyuman itu terlihat sangat berbeda. Bukan senyum tulus, tetapi senyum yang tidak dapat mereka artikan.
Cara menatap kepergian Torih yang menarik cepat tangan Jesy. Setelahnya gadis itu tersenyum miring. "Kau benar-benar gila harta Torih, tetapi sifatmu itu sangat mempermudah rencana balas dendamku. Hanya karena perusahaan laki-laki itu mau berbuat seperti itu kepada putri yang dulu begitu disayanginya. Huh … melihat keharmonisan keluarga kalian terpecah belah, sungguh membuat aku bahagia. Itu belum seberapa dari penderitaan bundaku selama ini, apa lagi jika digabung dengan penderitaanku. Aku bersumpah … tidak akan pernah membiarkan kalian hidup tenang," gumam Cara tajam. Setelahnya gadis itu kembali menyesap teh miliknya dengan gerakan anggun.
.
.
.
"Sakit Pa." Jesy meringis sambil terus mengikuti langkah cepat Torih yang menarik tangannya.
Torih berhenti dan melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Jesy. Jesy meringis melihat pergelangan tangannya sudah memerah, pantas saja begitu perih. "Kau harus bersikap baik kepada Cara, jangan mencoba untuk melakukan hal aneh. Ingat! Hidup kita sekarang bergantung kepadanya, kau harus bisa menjaga sikap," tegas Torih.
Jesy mendengus kesal. "Iya Pa, aku tahu," sahut Jesy kesal.
"Jangan hanya pandai menjawab, tapi buktikan. Jika Cara memberi kabar buruk tentangmu, maka siap-siap saja kau. Gunakan otakmu yang tidak seberapa itu untuk berpikir, jangan asal berbuat," sambung Torih.
Jesy mengepalkan tangannya marah, sudah hampir tiga bulan ini dia menghadapi Torih dengan kepribadian lain laki-laki itu. Jesy bahkan sudah tidak melihat Torih yang dulu. Gadis itu seakan melihat ada sosok lain di dalam tubuh Torih. Torih selalu berucap kasar kepadanya selama tiga bulan ini. 'Aku rindu Papa yang dulu,' batin Jesy sedih.
...*****...
"Sayang, aku ke sana ya?" tutur Reo.
Cara terkekeh kecil. "Jangan Kak, satu bulan ini akan ada Jesy di sini. Jadi biar aku saja yang ke sana nanti, Kakak tunggu saja," terang Cara.
"Tapi kenapa belum sampai? Biasanya kamu sudah datang," ujar Reo.
Cara melirik jam tangannya, memang biasanya dia sudah berada di ruangan Geo jam segini. "Maaf Kak, mungkin nanti ya. Ijinkan aku untuk bermain-main dulu, oke?" jelas Cara.
Cara dapat mendengar Geo menghela napas panjang di seberang sana, mendengar itu Cara terkekeh kecil. "Baiklah, tapi jika dalam satu jam kamu masih belum ke sini. Aku yang akan ke sana," tegas Geo.
Cara kembali tertawa. "Iya Sayang, aku akan ke sana sebelum satu jam yang kamu berikan itu. Hari ini aku hanya ingin pemanasan dengannya," papar Cara.
"Aku tidak peduli kamu mau membuatnya seperti apa, yang pasti jangan sampai dia membuat kamu lupa waktu dan berakhir melupakan aku di sini. Jika sampai itu terjadi, aku tidak segan-segan membunuhnya," ujar Geo serius.
Cara kembali tertawa, bahkan kepada Jesy pun Geo cemburu? "Iya Hubby, kamu tunggu saja aku di sana. Satu jam bukan? Aku akan sampai di sana sebelum satu jam, oke?" bujuk Cara.
"Baiklah," sahut Geo terpaksa.
"Sekarang Kak Ge lanjut saja kerjanya," ucap Cyra.
Cyra menatap ke arah pintu yang baru saja terbuka, di sana terlihat sosok Jesy yang mungkin saja baru kembali dari mengantar Torih. "Aku tutup ya Kak, pelayanku sudah sampai," sambung Cara.
Sedangkan Jesy yang mendengar jelas perkataan Cara melotot sambil mengepalkan tangannya marah. "Baiklah, jangan lupa ke sini. Satu jam," tutur Geo mengingatkan.
Cara tertawa. "Iya Sayang, dah …." Setelahnya Cara memutuskan sambungan telepon sambil menatap Jesy datar.
"Lain kali kalau kau ingin masuk ketuk pintu dulu, ini adalah perusahaan besar yang mengutamakan tata krama dan kesopanan. Bagaimana jika tadi aku sedang ada tamu? Apa kau lupa kalau jabatanku di sini tidaklah main-main? Aku orang penting di sini, jadi bukan tidak mungkin aku kedatangan tamu penting," kata Cara datar.
Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya untuk kesekian kalinya. "Maaf Nona Cara," ucap Jesy tertekan.
"Sudahlah, sekarang kau bereskan itu semua. Aku tidak suka melihat hal berantakan apa lagi kotor." Cara menunjuk meja tamu ruangan itu yang masih menyisakan gelas dan bekas makanan lainnya.
Jesy terkejut, setelahnya gadis itu menatap tidak terima kepada Cara. Cara yang sadar akan hal itu bersuara. "Kenapa? Kau ingin protes? Tidak apa-apa, aku masih menyimpan nomor telepon Tuan Gerisam." Cara mengangkat ponselnya membuat Jesy mengumpat di dalam hati.
Dengan gerakan marah Jesy bergerak kesal ke arah meja tamu. Cara tersenyum puas melihat wajah tertekan milik Jesy. 'Ini baru dimulai Sayang, kau akan mendapatkan hal yang lebih dari ini,' batin Cara sinis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Arista Wijaya
aku padamu Thor 😘😘😘😘 ceritanya wooowwww banget 😍😍😍😍
2022-05-19
5
Wahzu Try Yonce
rasain jes
2022-04-26
0
ggxxyou
tekad yang kuat
2022-03-19
2