"Baru dua minggu anakmu dijadikan budak, kau sudah seperti ini. Bagaimana dengan bundaku yang melihat anaknya diperlakukan buruk sedari kecil hingga saat ini, ibu tiri?" bisik Cara tepat di daun telinga Sasdia. Sasdia merinding, apa lagi saat melihat tatapan dingin yang begitu menusuk dari mata Cara.
"Kalian itu gembel, jadi pantas saja diperlakukan buruk seperti itu. Sudah menjadi kodrat dunia, yang rendah ditindas bukan?" sinis Sasdia.
Cara tersenyum miring sambil mengangguk kecil. Setelahnya gadis itu menatap Torih dan Jesy yang juga sedang menatapnya. "Benar juga apa yang dikatakan ibu tiriku ini, yang rendah ditindas." Cara mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Itu kau tahu diri," ejek Sasdia.
"Cukup Sasa," tegur Torih.
"Tidak apa-apa Tuan Gerisam, apa yang dikatakan oleh Nyonya Gerisam itu memang benar, bahkan sangat benar. Aku akui itu," ucap Cara santai.
"Tapi Nyonya Gerisam …." Cara menatap Sasdia yang juga sedang menatapnya. "Sepertinya kau lupa dengan keadaanmu sekarang, perlu aku perjelas lagi?" Cara tersenyum miring.
Sasdia terdiam, wanita paruh baya itu terlihat bingung belum mengerti maksud perkataan Cara. "Tingkatan kita memang berbeda sedari dulu, aku sekarang berada ja … uh, di atasmu. Kau lupa jika kehidupanmu sekarang ini berada di tanganku?" Cara tersenyum licik sambil mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkannya kepada Sasdia.
"Dan untuk anakmu itu, seperti yang kau katakan tadi. Yang rendah ditindas, bukan begitu Nyonya? Jadi … karena sekarang aku berada di atas kalian, otomatis kalian adalah orang rendahan bukan? Aku juga sangat menjunjung tinggi kata-kata yang kau katakan tadi, jadi pantas saja kalau anakmu itu aku tindas. Sebab … kalian merupakan orang rendahan bagiku." Cara tersenyum miring.
Sasdia terdiam kaku, dia melupakan itu. Sedangkan Torih sudah geram dengan perasaan was-was. "Maafkan dia Nona Cara," ucap Torih.
Cara menoleh ke arah Torih dengan pandangan datar. "Huh … perbuatan anak Anda kemarin saja sudah cukup membuat saya berpikir dua kali untuk memaafkannya. Sekarang ditambah dengan perbuatan istri tercinta Anda ini, saya benar-benar tersinggung Tuan Gerisam." Cara menatap tajam Torih yang sudah menegang di tempanya.
"Maafkan saya Nona, saya yang terlalu lembek kepada mereka selama ini. Saya berjanji akan memberi mereka pelajaran setelah ini," bujuk Torih.
Sasdia dan Jesy terperanjat saat mendengar perkataan Torih. Mereka yakin apa yang dikatakan oleh laki-laki paruh baya itu tidaklah main-main. Wajah sepasang ibu dan anak itu sudah berubah pucat, sepertinya mereka mulai membayangkan apa yang akan Torih lakukan kepada mereka nanti. Sedangkan Cara yang melihat itu sudah tertawa puas di dalam hati. 'Selamat menikmati hal yang selama ini aku alami,' batin Cara.
"Keluar! Urusan kita cukup sampai di sini, saya muak melihat wajah kalian." Cara mengusir mereka sambil berjalan menuju kursi kekuasaannya.
"Tolong Nona, maafkan perbuatan anak dan istri saya. Saya berjanji akan melakukan apa pun yang Anda suruh." Torih mendekat ke arah meja kerja Cara sambil memohon.
"Saya katakan keluar." Cara berdesis sambil menatap tajam Torih.
"Tolong beri saya kesempatan lagi Nona, perusahaan Gerisam bisa hancur tanpa bantuan dari Anda." Torih bertekuk lutut sambil memohon kepada Cara.
Sasdia dan Jesy melotot melihat itu. Sedangkan Cara sudah tersenyum puas. "Memangnya saya peduli? Seharusnya Anda ajar anak dan istri Anda untuk menghargai saya terlebih dahulu, baru meminta bantuan kepada saya. Kalau sudah seperti ini, saya sudah tidak berminat membuat perjanjian apa pun dengan kalian," papar Cara datar.
"Pergi secara baik-baik dari ruangan saya, atau saya panggil security?" sambung Cara.
Torih mengepalkan tangannya kuat, laki-laki paruh baya itu berdiri dan menatap Sasdia dan Jesy dengan pandangan kemarahan. Sasdia dan Jesy terlonjak saat melihat tatapan mematikan Torih untuk mereka. "Ma," cicit Jesy ketakutan.
"Cepat pulang." Suara Torih begitu rendah isyarat akan kemarahan. Dengan gerakan kasar Torih menarik tangan Sasdia dan Jesy keluar dari ruangan itu.
Cara yang melihat itu semua sudah tersenyum puas. "Ya ampun, pagi-pagi seperti ini mereka sudah mempertontonkan drama yang begitu bagus untukku. Pasti sebentar lagi Kak Farel akan mengirimkan aku video yang lebih menarik lagi." Cara merebahkan punggungnya ke sandaran kursi kebesarannya sambil tertawa senang.
"Ah … sayangnya Kak Farel dan Kak Alex belum pulang. Padahal akan semakin menyenangkan kalau aku menontonnya bersama mereka," gumam Cara.
...*****...
"Akhh … ampun Mas." Kediaman Gerisam dipenuhi isak tangis dan teriakan pilu dari mulut Sasdia dan Jesy yang sedang mendapat pukulan dari Torih.
"Sudah aku katakan gunakan otak kalian itu sebelum bertindak! Bangsat!" Torih berteriak sambil terus memukul Sasdia dan Jesy dengan ikat pinggang celananya.
"Cukup Mas, sakit Mas." Sasdia berucap lirih sambil memegang kaki Torih memohon. Torih melempar ikat pinggang itu kasar, napas laki-laki paruh baya itu sudah tersengal. Sepertinya Torih sudah kelelahan memukuli anak dan istrinya itu, bisa dibayangkan bagaimana kondisi Sasdia dan Jesy yang sudah mengenaskan saat ini. Sepasang ibu dan anak itu saling berpelukan sambil terisak pilu.
Tring … tring … tring …
Torih mengatur napasnya, laki-laki itu mengambil ponselnya yang sedang berdering bersahutan dengan tangisan Sasdia dan Jesy. "Diam!" bentak Torih kepada Sasdia dan Jesy.
"Halo," sapa Torih.
"Bisakah Tuan ke sini? Perusahaan menurun drastis Tuan, semua investor kembali menarik saham mereka. Sepertinya ini akan sedikit sulit, keuangan perusahaan benar-benar oleng. Ki…."
Prang …. "Brengsek!" Torih menendang meja kaca yang berada di dekatnya. Setelahnya laki-laki itu menatap tajam Sasdia dan Jesy sejenak sebelum akhirnya bergegas pergi dari sana.
Sedangkan Sasdia dan Jesy yang melihat kepergian Torih bisa bernapas lega. "Ma, aku sudah tidak kuat. Aku pusing Ma," lirih Jesy.
"Sayang, ayo kita ke kamar. Mama obati luka kamu," ajak Sasdia.
"Tapi Mama juga luka," ucap Jesy.
"Tidak, luka mama tidak terlalu parah. Ayo!" Sasdia berdiri sambil menarik tangan Jesy membantu anaknya berdiri. Wajah Jesy begitu pucat, hal itu membuat Sasdia begitu cemas.
"Kita panggil dokter saja ya? Atau kita langsung ke rumah sakit, kamu sangat pucat Sayang." Sasdia bersuara sambil terus memapah tubuh Jesy, sedangkan Jesy hanya diam tidak menyahut.
Bruk …. "Jesy!" Sasdia berteriak panik saat dengan tiba-tiba tubuh Jesy ambruk ke lantai, gadis itu pingsan. Sasdia berlari panik ke arah telepon rumah sambil menangis histeris.
...*****...
Cara menatap datar Torih yang kembali datang. Gadis itu menghela napas malas harus kembali berdebat dengan laki-laki paruh baya itu. "Tolong beri saya kesempatan terakhir Nona, jangan tarik bantuan Anda. Saya mohon Nona," bujuk Torih.
"Saya tidak ingin berurusan lagi dengan Anda Tuan Gerisam. Anda urus saja urusan Anda sendiri," sahut Cara malas.
"Saya sudah memberi mereka pelajaran Nona, saya pastikan mereka tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi," ucap Torih.
"Saya tidak peduli lagi, Anda selalu mengatakan hal yang sama disetiap ada masalah. Saya muak," cemooh Cara.
"Tapi kali ini saya serius Nona, tolong beri saya kesempatan. Bantu saya Nona, keadaan Gerisam Group kembali menurun," ulang Torih.
"Sudah saya katakan kalau saya tidak peduli Tuan Gerisam," desis Cara.
Torih mendongak dan menatap Cara serius. "Setidaknya bantu saya sebagai seorang ayah untukmu Cara," ucap Torih.
Cara terbahak membuat Torih mengernyit bingung. "Ayah? Apakah selama ini Anda merasa sudah memerankan sosok Ayah denganku?" ujar Cara datar.
Torih terdiam tidan mampu menjawab. "Kau tahu, sudah cukup untukku membuat kau berada di atas selama dua minggu ini Tuan Gerisam. Lumayan bukan, dua minggu berada di atas awan kemudian jatuh kembali ke dasar lautan. Oh … masih belum ya, sedang proses tenggelam." Cara tersenyum licik ke arah Torih yang sudah mengepalkan tangannya marah.
"Apa maksudmu?" geram Torih.
Cara tertawa sinis. "Kau saja yang bodoh, terlalu gila harta sampai tidak sadar kalau kau sedang dipermainkan. Padahal … dari awal aku sudah mengatakan kalau aku akan membuat sebuah permainan untuk kita. Aku tidak menyangka kalau kau malah begitu serius memainkan peranmu di dalam permainan ini. Aku sungguh puas." Cara tersenyum miring.
Torih berdiri menatap tajam Cara. "Kau sengaja mempermainkan aku?" bentak Torih.
Cara tersenyum. "Ya, ini adalah salah satu skenarioku. Bagaimana, menyenangkan bukan?" Cara tertawa senang.
Torih mengepalkan tangannya marah. "Kau benar-benar anak brengsek! Anak gembel sepertimu memang akan selalu membawa sial keluargaku, seharusnya kau mati saja menyusul wanita brengsek itu," murka Torih.
Cara menatap datar Torih, gadis itu berdiri dari duduknya dan mendekat perlahan ke arah Torih. Cara menatap Torih dengan pandangan dingin. "Kau selalu seperti ini, jika kau marah kepadaku kau selalu membawa nama bundaku. Dia sudah tenang di dalam surga, tapi kau masih mengumpatinya di sini. Hal inilah yang membuat aku semakin membencimu, sehingga aku benar-benar ingin kau hancur … ayah," desis Cara.
"Ingatlah ini baik-baik, ayahku tersayang. Aku, Lavia Cara tidak akan pernah melepaskan kau dan anak istrimu itu. Aku … akan membuat hidup kalian sengsara, bahkan sampai ke neraka sekali pun." Cara menekan setiap perkataannya sambil menatap datar sang ayah.
Torih mengepalkan tangannya marah, setelahnya Torih mengangkat tangan kanannya berniat menampar Cara. Namun, hal itu tidak terealisasikan sebab tangannya sudah di tahan terlebih dahulu oleh seorang laki-laki berwajah datar. Torih terkejut, begitu pula dengan Cara yang sudah melotot menatap laki-laki itu. "Kak Farel," gumam Cara.
"Kau ingin menampar direktur utama VT Group, sebesar apa nyalimu ingin berhadapan dengan VT Group?" Suara dingin Farel membuat Torih terkejut. Laki-laki paruh baya itu jelas kenal siapa orang yang sedang berada dihadapannya saat ini.
'Brengsek, aku tidak ingin mencari masalah dengan wakil CEO ini. Yang ada semuanya semakin berantakan.' Torih membatin sambil melirik Cara tajam. Setelahnya laki-laki paruh baya itu pergi dari sana dengan kemarahan yang belum tertuntaskan.
Cara menatap Farel dengan mata menyipit sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Katanya tiga hari lagi," sinis Cara.
Farel menoleh dan tersenyum tipis. "Kejutan," ucap Farel datar.
Cara menganga tidak percaya. "Tidak bisakah Kakak mengucapkannya itu dengan sedikit ekspresi?" tanya Cara. Cara terlonjak saat mendengar suara tawa begitu keras dari seorang laki-laki. Gadis itu memiringkan kepalanya dan melihat sosok Juan di pintu masuk ruangannya, laki-laki itu sudah kejang karena tertawa.
"Astaga, perutku sakit." Alex memegang perutnya sambil mencoba menghentikan tawa.
Cara menatap Alex dengan pandangan kesal, sedangkan yang ditatap sudah berjalan ke arah sofa tamu ruangan itu. "Sudah tahu kalau dia adalah sepupu kekasihmu, sifat mereka sebelas duabelas." Alex bersuara dengan sisa tawanya.
...*****...
Cara duduk santai di atas tikar piknik, gadis itu baru saja meminta pelayan mansion Vetro untuk menyiapkannya tempat untuk bersantai di taman mansion. Cara merasa bosan jika harus terus di dalam ruangan. Gadis itu sudah sekitar satu jam berada di sana. Cara memang pulang lebih dulu dari pada Geo, sebab Geo masih memiliki pertemuan dengan salah satu rekan bisnis.
Cup …. Cara mendongak saat merasakan seseorang mengecup puncak kepalanya. Geo berdiri dengan setelan kantor yang masih lengkap terpasang di tubuh kekarnya. "Sudah pulang?" Cara berdiri sambil menarik kepala Geo dan mengecup singkat bibir kekasihnya.
"Sudah, kenapa di sini? Bosan?" tanya Geo.
"Betul sekali Tuan Vetro, aku sangat bosan selalu berada di dalam ruangan." Cara mengerucut malas.
Geo terkekeh melihat itu, wajah Cara membuatnya begitu gemas. Geo mengangkat tubuh kekasihnya kemudian membawanya Cara masuk ke dalam mansion. "Aku ingin di sini Kak," protes Cara.
"Temani aku bersih-bersih dulu, nanti kita ke sana lagi." Geo mengecup leher kekasihnya sambil terus melangkah masuk.
"Padahal aku akan tetap menunggu Kak Ge mandi di luar kok, bukan benar-benar menemani," celetuk Cara.
Geo menatap Cara dengan pandangan nakal. "Kenapa? Kamu ingin ikut masuk ke dalam kamar mandi? Aku tidak apa-apa, ayo saja." Geo tersenyum mesum membuat Cara melotot sambil memukul lengan kekar kekasihnya.
"Kak Ge mesum, ih." Cara menyembunyikan wajah merahnya ke ceruk leher Geo yang sedang tertawa.
"Aku tidak mesum Sayang, bukankah kamu yang memulainya lebih dulu?" ujar Geo.
"Maksudku bukan begitu tahu, Kak Ge saja yang otaknya kemana-mana," kesal Cara.
"Coba lihat aku dulu," tutur Geo.
Cara menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. "Tidak, aku tidak mau," tolak Cara.
Geo kembali tertawa. "Padahal aku ingin sekali melihat wajah merah milik gadisku, pasti sangat lucu," ledek Geo.
Cara yang merasa kesal menggigit gemas leher kekasihnya sehingga membuat Geo menggeram tertahan. "Kamu memancingku Baby, mentang-mentang aku akan mandi?" desis Geo.
Cara terkejut, setelahnya gadis itu mengangkat kepalanya dan melotot saat melihat bekas gigitannya terlihat begitu jelas di leher putih Geo. Setelahnya Cara menatap wajah kekasihnya yang sudah memerah dengan mata berkabut. 'Astaga, aku membangunkannya lagi?' batin Cara meringis.
"Maaf Kak." Cara tersenyum bodoh sambil menatap Geo yang sedang menatapnya dengan mata sayu.
Cara melotot saat merasakan Geo mempercepat langkahnya menuju kamar utama. 'Matilah aku,' batin Cara.
Klek …. Geo menutup pintu kamarnya pelan, setelahnya laki-laki itu membawa tubuh Cara ke dalam kamar mandi. Hal itu membuat Cara melotot terkejut. "Kenapa aku dibawa masuk Kak?" ucap Cara.
Geo meletakkan tubuh Cara di atas meja westafel kamar mandi dengan hati-hati. "Kau harus bertanggung jawab dulu Baby," bisik Geo. Suara rendah itu mampu membuat bulu kuduk Cara meremang, gadis itu bahkan sudah menelan salivanya susah payah.
Geo mengecup pelan daun telinga Cara, sehingga membuat gadis itu melenguh tertahan. Aksi laki-laki itu berlanjut ke area leher putih milik kekasihnya. Cara mencengkram lengan kekar Geo saat laki-laki itu menggelitik lehernya menggunakan lidah. Geo meneruskan aksinya sampai Cara tidak lagi bisa menahan lenguhan. "Enggh, Kak."
Suara Cara membuat Geo tersadar, laki-laki itu menatap wajah merah Cara. Gadis itu menatap Geo dengan mata berkabut. 'Sial,' umpat Geo di dalam hati.
Setelahnya laki-laki itu mengecup singkat bibir Cara. "Maaf Sayang," bisik Geo. Kemudian Geo mengangkat tubuh Cara dan membawanya ke luar kamar mandi.
Geo meletakkan tubuh kekasihnya di atas kasur kingsize kamar itu. Setelahnya laki-laki itu kembali ke kamar mandi dengan wajah merah menahan sesuatu. 'Sabarlah kau sampai semuanya resmi,' batin Geo frustasi.
Sedangkan Cara yang melihat Geo menghilang di balik pintu kamar mandi sudah berteriak histeris. "Ya ampun, malu sekali aku." Cara menutup seluruh tubuhnya dengan selimut karena merasa begitu malu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Nurul Syahriani
juan dan alex orang yang sama? jadi namanya alex atau juan?
2023-02-22
0
kristhin ananda
kayak drama.indosiar sama drama SCTV
2022-10-14
0
Berlian Arandita`
keren ceritanya, meski ketua mafia kejam tapi dia bisa jaga harga diri wanita dan harga dirinya sendiri. (kesucian)
2022-07-23
2