"Bangsat! Sudah dua bulan tapi semuanya malah semakin berantakan," murka Torih.
"Bagaimana, Mas?" tanya Sasdia panik.
"Pendapatan perusahaan menurun drastis, aku yakin bulan ini kita akan kesulitan mengurus gaji karyawan. Padahal sudah hampir setengah karyawan yang aku pecat selama dua bulan ini. Brengsek!" umpat Torih frustasi.
"Terus kita harus bagaimana Mas? Aku tidak ingin hidup susah," tutur Sasdia.
"Aku juga, akan ditaruh di mana mukaku kalau tiba-tiba perusahaan bangkrut," keluh Jesy.
"Ini semua juga karena kau Jesy, jika minggu ini perusahaan semakin anjlok … maka kau lihat saja akibatnya," desis Torih.
"Kenapa Papa selalu menyalahkan aku, ini semua karena Cara perempuan murahan itu. Dia membuat hidup kita …."
"Diam kau bangsat!" bentak Torih. Suara keras itu sukses membuat Sasdia dan Jesy terlonjak terkejut. Selama dua bulan ini Sasdia dan Jesy sangat sering mendapatkan perlakuan dan kata-kata kasar dari Torih. Itu semua karena keadaan Gerisam Group semakin hari semakin menurun, Torih frustasi dan melampiaskan kemarahannya itu kepada Sasdia dan Jesy.
Sasdia dan Jesy terdiam, mereka tahu betul bagaimana sifat Torih. Jika dulu ada Cara yang akan menanggung semua kemarahan Torih, maka kali ini mereka yang akan menjadi sasaran laki-laki paruh baya itu. Memang semuanya telah berubah, hubungan manis dan harmonis keluarga Gerisam sudah tidak ada. Semuanya hanya tinggal kenangan, sekarang kehidupan mereka hanya dilingkupi perasaan tertekan, perasaan takut dan kemarahan yang tak terbendung.
"Jika kalian hanya bisa berbicara, maka jagalah mulut busuk kalian itu. Sudah aku katakan jangan pernah membahas hal yang tidak-tidak tentang Cara, gunakan otak kalian itu untuk berpikir sebelum berbicara," desis Torih.
Jesy mengepalkan tangannya kuat. 'Wanita murahan itu benar-benar membuat semuanya hancur, aku tidak terima,' batin Jesy marah.
"Sekarang aku percaya, kalau otak Cara benar-benar pintar. Tidak seperti otakmu yang bodoh itu Jesy, itu semua pasti turunan darimu Sasa," sambung Torih tajam.
"Kenapa kau malah membahas ini dan seakan menyalahkan aku Mas, Jesy anak kita berdua. Jadi … bisa saja semuanya turunan darimu," tukas Sasdia tidak terima.
"Aku tidak bodoh seperti itu, sewaktu sekolah dasar saja anakmu itu hampir tidak naik kelas. Sedangkan Cara adalah anak yang memiliki nilai tertinggi di sekolah. Cara kuliah dengan beasiswa karena otak cerdasnya, sedangkan Jesy … harus menyogok orang dulu baru bisa berkuliah," kata Torih.
"Terus kau menyalahkan aku akan hal itu? Bukankah dulu kau menuduhnya mencontek, bahkan sampai Cara diterima di universitas karena kepintarannya itu kau masih tidak mengakuinya. Kau seharusnya bercermin Mas," sosor Sasdia marah.
Sedangkan Jesy sudah mengepalkan tangannya kuat, kedua orang tuanya itu tidak sadar bahwa mereka sedang membandingkan Cara dengan dirinya di depannya sendiri. "Jadi kalian malu memiliki anak bodoh sepertiku?" desis Jesy tertahan.
Sasdia terkejut mendengar perkataan putrinya. "Tidak seperti itu Sayang, maksud kami …."
"Iya! Aku malu dan aku menyesal selalu menuruti keinginanmu itu selama ini, lihatlah karena ulahmu semuanya menjadi kacau. Andai kau pintar dan berpikir dulu sebelum bertindak, kita tidak akan berada di ambang kebangkrutan," potong Torih.
Sasdia menatap tajam Torih setelahnya wanita paruh baya itu mendekat ke arah Jesy yang sudah bergetar menahan marah bercampur tangis. "Kau keterlaluan Mas," sembur Sasdia.
Tring … tring … tring …
Ponsel Torih berdering, nama orang yang terpampang di layar ponselnya memberikan ketakutan di dalam hati Torih. "Halo," jawab Torih.
"Semakin kacau ,Tuan," tutur orang itu.
Prang …. Torih membanting vas bunga yang berada di dekatnya dengan amarah yang memuncak. Sasdia dan Jesy terlonjak saat dengan tiba-tiba Torih membanting vas bunga sehingga menimbulkan bunyi nyaring. "Brengsek!" murka Torih.
Bruk …. "Minggir kalian bangsat." Torih mendorong Sadia dan Jesy yang menghalangi jalannya.
"Akhh …." Sasdia dan Jesy mengerang secara bersamaan saat tangan mereka tidak sengaja menyentuh pecahan dari vas bunga yang dibanting Torih.
"Ssst sakit Ma," rintih Jesy menahan sakit. Tangannya sudah berlumuran darah, luka Jesy memang lebih besar dari pada luka milik Sadia. Telapak tangan Jesy menganga cukup besar sehingga dengan cepat darah merembes kemana-mana.
"Astaga, Sayang," tutur Sasdia panik.
"Sakitt, hiks." Jesy menangis menahan sakit.
"Mama telepon dokter dulu." Sasdia berlari menahan sakit di tangannya yang juga terluka. Namun melihat luka Jesy terlihat lebih parah membuat Sasdia panik sendiri.
...*****...
Cara tersenyum puas melihat rekaman yang baru saja di kirim Farel. "Sungguh memuaskan," gumam Cara senang.
Setelahnya Cara mengambil ponsel kemudian menghubungi seseorang. "Pantau terus, tahan sahammu sedikit. Jangan biarkan dia bangkrut dulu," titah Cara.
"Baik, Nona Cara," sahut orang di seberang telepon.
Cara tersenyum miring, semua rencana yang dia rancang begitu matang berjalan dengan lancar. "Ah … senangnya hatiku." Cara bergumam sambil berdiri dari kursi kekuasaannya. Gadis itu sedang berada di ruangan direktur utama, ruangan kerjanya di VT Group.
"Ke ruangan Kak Ge, ah …." Cara berjalan dengan senyum senang menuju lift, sebab ruangan Geo berada satu lantai lebih tinggi dari letak ruangannya.
.
.
.
"Nona Cara," sapa sekretaris Reo sopan.
Cara membalasnya dengan senyum tipis. "Di dalam?" tanya Cara singkat.
"Iya Nona, perlu saya bukakan pintunya?" tawar Orin, sekretaris Geo.
"Terima kasih, saya saja." Cara berjalan mendekat ke arah pintu ruangan Geo kemudian mendorong pelan pintu besar itu.
Cara dapat melihat wajah serius Geo, gadis itu tersenyum tipis sambil menutup kembali pintu ruangan Geo. Cara berjalan pelan, Geo masih belum menyadari kehadirannya. 'Sungguh tampan ciptaan-Mu Tuhan, dan dia adalah milikku,' puji Cara di dalam hati.
Cara mencium tengkuk Geo pelan, gadis itu dapat menangkap gerakan terkejut dari laki-laki tampan itu. Geo menoleh dan tersenyum tipis saat melihat Cara sedang tersenyum manis kepadanya. "Kapan datang, kenapa aku tidak tahu?" Geo menarik pelan pergelangan tangan Cara kemudian membawa gadis itu ke pangkuannya.
"Baru saja, ternyata ketangkasan seorang Geo Vetro sudah berkurang ya? Sampai tidak tahu ada orang datang," goda Cara.
Geo tersenyum sambil mengecup pelan bibir Cara. "Sepertinya itu hanya berlaku kepada dirimu, Baby," tutur Geo.
Cara tertawa pelan. "Masih banyak? Aku lihat Kakak sangat serius," Cara bertanya sambil menatap laptop Geo.
"Lumayan, pekerjaanmu sudah selesai?" balas Geo.
"Tentu saja sudah, ini sudah jam pulang, Tuan Vetro," tutur Cara.
"Benarkah?" Geo melirik jam tangannya kemudian dia mengangguk singkat.
"Sampai lupa waktu seperti itu?" sindir Cara.
"Ada sedikit kesalahan dari bagian material, Sayang. Jadi aku sedikit memborong hari ini," terang Geo.
Cara mengangguk singkat. "Sudah, sekarang ayo pulang. Aku ingin tidur." Cara membaringkan kepalanya di dada bidang Geo.
Geo mengusap rambut Cara lembut. "Baiklah," sahut Geo. Laki-laki datar itu memang tidak pernah bisa menolak keinginan gadisnya.
Geo dan Cara berjalan santai di lorong kantor dengan keadaan seakan saling berpelukan. Tangan kekar Geo memeluk pinggang ramping Cara posesif, sedangkan Cara melingkarkan kedua tangannya dipinggang Geo, sangat mesra bukan? Geo berjalan dengan muka datarnya seperti biasa, berbeda dengan Cara yang memperlihatkan wajah ramah kepada para karyawan yang menyapa mereka.
Para karyawan menunduk dan mencuri pandang kepada sepasang kekasih yang selalu terlihat romantis. Mereka menatap Geo dan Cara dengan pandangan iri sekaligus kagum. "Mereka begitu serasi bukan?" ucap salah satu karyawan.
"Benar, aku tidak menyangka ternyata Tuan Geo begitu romantis."
"Setiap aku melihat mereka, aku akan selalu merasa iri. Mereka begitu serasi dengan segala keromantisan itu."
Langkah kaki Geo dan Cara terhenti kala melihat seorang laki-laki yang sedang menatap kesal ke arah mereka. "Inilah yang membuat aku malas pulang, keromantisan kalian membuat jiwa jombloku begitu terinjak," gerutu Alex.
Cara tertawa, setelahnya gadis itu melepas tangannya di pinggang Geo dan mendekat ke arah Alex dengan senyum bahagia. "Kak Alex kapan sampai, kenapa tidak memberi kabar? Aku sudah rindu." Cara semakin mendekat bersiap memeluk Alex.
"Sayang." Suara berat Geo menghentikan aksi gadis itu, Cara menoleh ke belakang dan melihat tatapan tajam Geo isyarat tidak suka. Cara menggaruk kepala belakangnya sambil meringis pelan.
"Huh … kekasihmu itu benar-benar pencemburu. Ternyata dia bukan hanya raja bisnis dan raja kematian, tetapi dia juga raja cemburu. Semua saja Anda borong Tuan Vetro, jika ada perlombaan untuk orang pemcemburu aku yakin nama Anda berada diurutan Pertama Tuan Vetro yang terhormat," kesal Alex.
Cara tertawa mendengar perkataan Alex yang terdengar begitu menahan kesal. Sedangkan Geo hanya diam sambil berjalan santai ke arah Cara kemudian kembali memeluk pinggang gadis itu posesif. Berbeda dengan para karyawan yang masih memperhatikan mereka, para karyawan ikut terkekeh kecil melihat sifat pencemburu Geo yang begitu lucu menurut mereka.
"Aku baru pulang bukannya disambut baik, tapi kau malah seperti ini. Menyebalkan sekali kau." Alex berbalik dan pergi meninggalkan Geo dan Cara dengan wajah kesal.
Cara kembali tertawa. "Kak Alex merajuk Kak," ujar Cara.
"Biarkan saja." Geo memulai kembali langkahnya diikuti oleh Cara.
...*****...
"Terima kasih Tuan Adam, jika bukan karena kebaikan Anda mungkin Gerisam Group sudah benar-benar hancur." Torih berbicara melalui telepon genggamnya.
"Tidak masalah, saya masih melihat peluang dari Gerisam Group. Jadi berusahalah Tuan Torih," sahut Adam, orang di seberang telepon.
"Tentu Tuan, sekali lagi terima kasih banyak," ucap Torih.
"Iya, saya masih ada pertemuan. Saya tutup," balas Adam.
"Baiklah Tuan," putus Torih.
Bruk …. Torih menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil menghela napas lega. "Setidaknya masih ada sedikit harapan," gumam Torih.
"Mas." Suara Sasdia membuat Torih menoleh. Torih menatap Sasdia dengan wajah datar.
"Jesy masih menangis, katanya tangannya masih terasa sakit," terang Sasdia.
Torih mendengus. "Dia saja yang terlalu manja," sahut Torih santai.
"Mas, dia anakmu. Kenapa kamu jadi seperti ini?" protes Sasdia.
"Kau tidak usah menambah bebanku Sasa, cukup dengan kelakuan bodoh putrimu itu membuat perusahaanku hancur. Beruntung masih ada orang yang mempertahankan sedikit sahamnya," desis Torih.
"Kau sungguh keterlaluan Mas, kau berubah!" teriak Sasdia.
"Diam! Aku memang seperti ini sedari dulu, aku rasa kau tahu aku." Torih membentak sambil berdiri dari duduknya.
"Ck … sudahlah, kau hanya membuat aku semakin frustasi." Setelahnya Torih pergi keluar meninggalkan Sasdia yang menjerit histeris.
"Mau ke mana kamu, Mas?" teriak Sasdia. "Kau brengsek Torih!" Sasdia kembali berteriak sambil menangis histeris.
Jesy yang melihat semuanya dari kejauhan ikut menangis kecil. "Kenapa semuanya jadi seperti ini?" gumam Jesy sendu.
...*****...
"Bagaimana?" tanya Geo kepada Alex.
"Sudah aku tangani, mereka sepertinya tidak tahu kalau daerah itu milik Death," sahut Alex.
"Pelayaran?" ucap Farel.
Alex menoleh. "Semua aman, aku tahu kalau Qwerty pasti ingin menggagalkan rencana Death dalam pemasokan senjata. Mereka bermain kotor, tetapi semuanya aman. Aku sudah membawa awak kapal ke polisi Kanada, sedangkan kepala besarnya berada di markas utama. Kapan kau akan ke markas utama?" terang Alex sambil bertanya kepada Geo diakhir kalimatnya.
Geo terdiam, markas utama Death berada di Amerika. Biasanya Geo akan dengan mudah dan sering pulang-pergi dari Indonesia ke Amerika atau ke negara lainnya. Namun, sekarang ada Cara yang membuat Geo harus berpikir dua kali untuk ke luar negeri. Laki-laki itu sudah begitu terbiasa dengan kehadiran Cara, jadi sangat sulit untuknya jika berpisah dari gadis itu.
"Sudahlah, kali ini biar aku dan Farel yang urus. Aku tahu kau tidak bisa berpisah dari Cara bukan? Cara kuliah saja kau sudah seperti mayat hidup," ejek Farel.
Geo hanya diam, sebab apa yang dikatakan oleh Farel adalah benar. "Minggu depan, kau ikut Juan." Geo menatap Farel yang mengangguk mengerti.
...*****...
Geo memeluk tubuh Cara yang masih tertidur pulas. "Sayang, bangun. Sebentar lagi makan malam." Geo mencium setiap jengkal wajah Cara.
"Enggh." Cara melenguh mulai terganggu karena aksi Geo. Geo masih saja menciumi wajah Cara gemas.
"Kak," suara serak Cara memanggil Geo.
"Hemm," dehem Geo lembut. "Ayo bangun, mandi setelah itu kita makan malam," sambung Geo.
"Masih mengantuk," sahut Cara pelan.
Geo tersenyum. "Makan malam dulu, nanti lanjut lagi tidurnya," ujar Geo.
Cara masih diam membuat Geo tersenyum nakal. Setelahnya Geo mencium telinga Cara lembut dan berlanjut ke leher putih gadisnya. Cara melotot, rasa kantuknya lenyap seketika. Cara menoleh dan melihat Geo tersenyum nakal ke arahnya. Cara bergidik ngeri melihat senyum menyeramkan itu. "Jangan seperti itu Kak, horor tahu." Cara menutup wajah Geo dengan kedua telapak tangannya.
Geo menyingkirkan tangan Cara pelan, kemudian laki-laki itu mendekat dan mengungkung tubuh mungil gadisnya di atas ranjang. Cara kembali melotot. "Sadar Kak, jangan bercanda, ih," resah Cara.
"Ayo menikah," tutur Geo.
Cara menganga tidak percaya. "Kakak jangan main-main, pasti mengerjai aku lagi kan?" tuduh Cara.
Geo memeluk erat tubuh Cara kemudian mencium leher gadis itu sehingga membuat Cara melenguh tertahan. Hanya sekedar itu, setelahnya Geo membenamkan wajahnya di ceruk leher Cara. "Aku serius, Sayang. Apa yang perlu kita tunggu lagi?" ujar Geo lembut.
Cara terdiam, apa yang dikatakan oleh Geo benar. Geo mendongak dan melihat ekspresi wajah Cara yang tampak memikirkan sesuatu. "Kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Geo.
Cara terkejut. "Bukan begitu Kak, tapi … aku masih memiliki sedikit trauma dengan hubungan pernikahan bundaku. Kakak tahu betul bagaimana masalalu bunda dan juga aku," terang Cara.
Geo diam, dia tahu betul bagaimana masalalu kelam mendiang Dea Marisa dan juga Cara. "Tapi … aku tahu Kak Re berbeda. Kakak sama sekali tidak sama dengan ayahku." Cara tersenyum manis ke arah Geo.
"Jadi?" tanya Geo.
"Kakak serius mengajakku menikah?" tanya Cara.
Geo menatap Cara serius. "Aku tidak pernah seserius ini Sayang, aku sudah tidak ingin menunggu lagi," sahut Geo.
Cara mengangguk singkat sambil tersenyum haru. "Jujur saja aku sangat beruntung bisa bertemu Kak Ge, bahkan tidak pernah terbayangkan di dalam pikiranku bisa mendapatkan perhatian Kakak. Aku bahagia … sangat bahagia," papar Cara serius.
"Kapan kita menikah?" Cara tersenyum lebar kembali kepada sifat cerianya.
Geo tersenyum senang, secara tidak langsung Cara menerima lamarannya untuk menikah bukan? "Aku akan mengurusnya, ratuku ini tinggal menunggu hasil." Geo mengusap pipi Cara lembut. 'Dan aku akan membuat lamaran romantis untukmu Sayang,'' sambung Geo di dalam hati.
Cara tersenyum senang. "Baiklah rajaku," balas Cara antusias. Setelahnya gadis itu dengan berani membaringkan tubuh Geo, kemudian Cara naik ke atas tubuh laki-laki itu sambil tersenyum nakal. Geo sudah melotot melihat aksi tiba-tiba yang dilakukan gadisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
The Lovely
Eh wahai Jesy bercerminlah siapa yg wanita murahan lo atau Cara yg wanita murahan
2023-04-18
1
Daniela Heske
lg training dl kt cyra🤣🤣🤣
2022-05-15
4
ggxxyou
di urutan pertama😂
2022-03-18
0