Plak …. Torih menampar Jesy begitu keras, sehingga menyebabkan ujung bibir gadis itu mengeluarkan darah segar. Jesy meringis sambil menatap Torih dengan pandangan tidak percaya. Setelahnya Jesy menatap tajam Cara, isyarat akan kebencian yang mendalam.
"Jesy!" Torih berteriak saat melihat Jesy berlari keluar dari sana. Setelahnya Torih menoleh ke arah Cara yang sedang menatapnya datar. "Maaf Nona Cara, saya akan memberi Jesy pelajaran," ujar Torih gugup.
"Keluar!" titah Cara dingin.
Torih terkejut, laki-laki paruh baya itu mendongak dan melihat wajah Cara begitu dingin. "Tolong beri saya kesempatan, besok saya akan membawa Jesy kembali ke sini," bujuk Torih.
"Saya katakan keluar," ulang Cara.
Torih mengepalkan tangannya erat. 'Anak kurang ajar itu kembali menghancurkan semuanya, awas saja kalau sampai Cara menarik bantuanya,' batin Torih marah.
"Sekali lagi maaf Nona, saya permisi. Besok saya akan ke sini lagi bersama Jesy, tolong beri saya kesempatan. Permisi Nona." Setelahnya Torih pergi dari sana meninggalkan Cara yang sudah tersenyum puas.
"Aku penasaran dengan pertunjukan di kediaman Gerisam, mari kita hubungi Kak Farel." Cara bergumam sambil tersenyum miring.
...*****...
"Jesy!" Torih berteriak dari pintu rumah kediaman Gerisam. "Ke sini kau!" lanjut Torih memanggil Jesy.
Sedangkan di dalam sebuah kamar, Jesy sudah bergetar takut sambil menangis di pelukan Sasdia. "Aku takut Ma, Papa pasti sangat marah kepadaku. Bagaimana ini Ma? Tolong aku." Suara Jesy bergetar ketakutan, hal itu membuat hati Sasdia berdenyut sakit.
"Tenang Sayang, ada Mama. Kita hadapi Papa bersama," ujar Sasdia menenangkan.
Brak …. Dua orang wanita yang sedang saling berpelukan itu terlonjak saat dengan tiba-tiba pintu kamar Jesy terbuka dengan begitu kasar. Torih berdiri di depan pintu dengan wajah merah padam, terlihat begitu emosi. "Ke sini kau anak brengsek!" bentak Torih.
"Mas, jangan seperti ini. Jesy sudah ketakutan karena ulahmu ini." Sasdia bersuara dengan kalimat bergetar sambil menatap Torih was-was.
"Dia kembali menghancurkan semuanya, ke sini kau!" Torih menarik tangan Jesy kasar dari pelukan Sasdia.
Jesy dan Sasdia saling berteriak histeris. "Mama tolong aku!" teriak Jesy.
"Lepaskan anakku Mas, apa yang akan kau lakukan kepada anakku." Sasdia menangis histeris sambil mengejar Torih yang masih menarik tangan Jesy kasar.
"Aku harus memberi anak tidak tahu diuntung ini pelajaran. Dia merusak segalanya," ujar Torih.
"Jangan Mas," lirih Sasdia.
Torih membawa tubuh Jesy ke dalam sebuah gudang kecil di kediaman Gerisam. Lagi, mereka seakan dejavu. Dulu mereka juga pernah memerankan aksi ini, tetapi bedanya orang yang diseret Torih adalah Cara. Sedangkan sekarang Torih menarik kasar Jesy yang sudah berteriak histeris sambil memberontak.
Bruk …. Torih melemparkan tubuh Jesy ke dalam gudang kumuh itu. "Renungi kesalahanmu di sini," desis Torih. Setelahnya Torih menutup pintu itu dengan kasar.
Duk … duk … duk …
"Buka Pa, maafkan aku Pa. Suara Jesy dari dalam gudang itu terdengar bersahutan dengan suara pintu yang digedor-gedor.
"Bukakan pintunya Mas, Jesy pasti ketakutan." Sasdia memohon sambil memeluk kaki Torih.
"Biarkan dia di sana, anak itu terlalu menyepelekan perkataanku. Aku memang terlalu lunak kepadanya selama ini," geram Torih.
"Sadarlah Mas, dia anakmu!" teriak Sasdia.
Duk … duk … duk …
"Ma, aku takut … di sini gelap. Tolong keluarkan aku Ma." Jesy terus menangis dan berteriak sambil memukul pintu gudang itu.
"Kalau begitu biarkan aku masuk menemaninya Mas," tutur Sasdia kepada Torih.
"Diamlah!" Torih pergi dari sana meninggalkan Sasdia dan Jesy yang saling beradu isak tangis.
"Maa … tolong aku," lirih Jesy.
"Tenanglah Sayang, Mama akan menemanimu di sini. Kamu jangan takut," sahut Sasdia.
...*****...
Cara yang merasa bosan sendiri di dalam kamar, memutuskan untuk naik ke lantai atas mansion milik Geo. Gadis itu tidak menemukan kekasihnya itu di dalam kamar. Bisa ditebak kemungkinan Geo sedang berada di ruangan kerjanya. Secara perlahan Cara membuka pintu ruangan kerja milik Geo. Baru saja gadis itu akan memanggil nama Geo, tetapi diurungkan saat Cara tidak sengaja mendengar Geo berbicara melalui ponselnya.
"Kau sudah pastikan?" Cara mengurungkan niatnya untuk masuk takut mengganggu kegiatan Geo. Gadis itu memilih tetap berdiri di sana menunggu Geo selesai menelepon.
"Bagus, bunuh dan berikan mayatnya untuk Mottle. Dia sudah empat bulan tidak makan daging manusia."
Deg …. Kalimat Geo itu mampu membuat Cara terkejut. 'Mottle?' batin Cara bertanya.
Mottle adalah seekor harimau belang hitam putih milik Geo. Harimau itu adalah hadiah dari mendiang kakeknya untuk ulang tahun Geo yang ke sepuluh tahun, kenapa harimau? Karena menurut kakeknya, harimau itu sangat mirip dengan Geo, keganasan mereka bisa diadu. Sekarang Mottle adalah peliharaan para anggota Death, binatang ganas itu dikurung di markas utama Death di Amerika.
"Tentu saja aku merindukan itu, kau tinggalkan Gery untukku. Sampai itu tiba … siksa dia, tetapi jangan buat dia mati. Aku sendiri yang akan mengambil nyawanya."
Glek …. Cara menelan salivanya susah payah, sungguh pembahasan Geo kali ini membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. 'Seharusnya kamu sadar Cara, kalau kekasihmu itu adalah seorang pemimpin mafia terkejam. Aku terlalu terhanyut dengan sifat manis dan lembut Kak Ge selama ini, sampai melupakan kalau dia sebenarnya laki-laki yang berprofesi sebagai pembantu malaikat maut,' batin Cara.
Cara menarik napas dalam mencoba menghilangkan rasa terkejutnya. Setelahnya Cara mulai melangkah dan menatap Geo yang sudah sibuk dengan laptopnya. 'Jika sedang seperti ini, dia tidaklah menyeramkan. Namun, sangat tampan. Ah … kenapa aku selalu terhanyut?' Cara membatin sambil menatap wajah serius Geo.
"Hubby," panggil Cara.
Geo menoleh dan tersenyum hangat saat melihat keberadaan Cara. 'Lihatlah, bagaimana aku tidak lupa akan statusnya sebagai pemimpin mafia. Dia selalu hangat kepadaku,' batin Cara lagi.
"Ke sinilah," ucap Geo.
Cara mendekat ke arah Geo. "Kak Ge masih sibuk ya? Padahal sudah malam lo ini," ujar Cara.
"Tidak, aku hanya mengecek data yang baru saja dikirim Alex dan Farel. " Geo menarik Cara ke atas pangkuannya.
"Mereka kapan pulang? Aku sudah rindu," tutur Cara.
"Mereka masih ada urusan Sayang, kira-kira tiga hari lagi mereka baru bisa pulang. Kenapa, kamu butuh bantuan? Kalau iya aku akan menyuruh salah satu anggota terbaik di Death." Geo mengecup singkat bibir Cara.
"Tidak, aku hanya rindu mereka. Sudah satu minggu mereka pergi ke Amerika, masih belum pulang. Lagi pula meski mereka pergi, mereka masih membantuku dari jauh. Tadi Kak Farel juga mengirimkan aku satu video yang menyenangkan," kata Cara.
"Ada aku, jangan pikirkan mereka," tutur Geo.
Cara menatap Geo, setelahnya gadis itu tertawa kecil. "Mereka adalah dua kakak laki-lakiku Sayang, sedangkan kamu adalah calon Hubbyku. Maka tidak usah cemburu seperti itu." Cara mencubit pipi Geo gemas.
"Tetap saja aku tidak suka," ucap Geo.
Cara menekan kedua pipi Geo sehingga membuat bibir laki-laki itu mengerucut ke depan. Melihat itu Cara tertawa, setelahnya gadis itu mencium bibir Geo dengan keadaan seperti itu. "Aku sudah tidak sabar untuk segera memilikimu seutuhnya Baby," ucap Geo.
Cara tersenyum tipis. "Tidak lama lagi bukan?" balas Cara.
Setelahnya Geo mengangkat tubuh Cara, menggendong ala koala. "Bukannya Kak Ge sedang mengecek data?" tanya Cara.
"Bisa aku lihat nanti, sekarang ayo kita ke kamar." Geo berjalan membawa tubuh gadisnya menuju kamar utama mansion Vetro.
"Ke kamarku?" tanya Cara.
"No Baby, ke kamar kita," papar Geo.
Cara menatap Geo. "Kamar kita?" tanya Cara.
"Kamarku adalah kamar kita, mansion ini adalah punya kita. Semuanya yang ada di sini adalah milikmu Baby." Geo kembali mengecup gemas bibir kekasihnya.
"Tapi kita belum resmi menikah, jadi aku masih tamu di sini," tutur Cara.
"Tepat setelah aku meresmikan hubungan kita, kamu sudah menjadi nyonya di sini. Hanya sebentar lagi itu semua benar-benar resmi, Nyonya Vetro" terang Geo.
Cara tersenyum tipis. "Baiklah Tuan Vetro." Cara terkekeh kecil.
Geo mendudukkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi Cara masih bergelayutan di tubuhnya. "Aku ingin sekali pergi jalan-jalan malam seperti pasangan kekasih pada umumnya," papar Cara.
"Buatlah rencana, ayo kita pergi. Kapan?" ujar Geo.
"Aku masih takut kalau mereka melihat kita," ucap Cara.
"Biarkan saja, aku sudah tidak ingin menutupinya dari mereka," ujar Geo.
"Sudahlah, sekarang ayo kita tidur …." Cara mendorong tubuh Geo sehingga membuat laki-laki itu terbaring di atas ranjang. Cara membaringkan tubuhnya di atas badan kekar Geo sambil menatap wajah Geo yang begitu tampan tanpa cela.
"Kenapa Kakak begitu tampan?" ucap Cara kepada Geo. Geo terkekeh mendengar perkataan Cara, laki-laki itu mengusap lembut pipi kekasihnya.
"Tidak adil sekali, Kak Ge memborong segalanya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, kalau dibawakan ke dalam kategori obat. Ketampanan Kakak ini sudah over dosis," sambung Cara. Geo terbahak, ekspresi wajah Cara begitu lucu saat mengucapkan kalimat itu.
"Dan wajah ini adalah milikmu Sayang." Geo tersenyum manis ke arah Cara.
"Itulah kenapa aku begitu bersyukur, aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini." Cara mencium seluruh wajah Geo gemas. Geo tertawa merasa geli dengan aksi sang kekasih, setelahnya Geo membalikkan tubuh Cara sehingga gadis itu berada dikungkungan tubuh kekarnya. Setelahnya laki-laki itu berbalik mencium Cara, sehingga berlanjut dengan aksi hangat mereka. Ingat! Hanya hangat, bukan panas.
...*****...
"Mas bukakan pintu gudang, Jesy pasti sudah kelaparan. Dari semalam dia tidak makan Mas," ucap Sasdia memohon.
"Aku memang akan mengeluarkannya, dia harus ikut denganku kembali kepada Cara. Kewajibannya belum selesai, ini masih dua minggu." Torih berjalan menuju gudah tempat dirinya mengurung Jesy.
"Kamu masih ingin membawa Jesy kepada wanita murahan itu? Sadarlah Mas, Cara hanya ingin mempermainkan kita. Jangan jadikan anak kita sebagai tumbalnya," lirih Sasdia.
"Diam kau!" desis Torih. Setelahnya laki-laki itu membuka kunci pintu gudang, terlihatlah Jesy di sana dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.
"Sayang." Sasdia mendekat ke arah Jesy yang sudah terkulai lemas.
"Bangun dan bersiap, kau harus ikut ke VT Group. Jangan sampai Cara menunggu terlalu lama," titah Torih.
"Kamu tega Mas, tidakkah kamu lihat kalau Jesy begitu lemas? Dia tidak akan kuat," murka Sasdia.
"Jangan manja, tinggal kau beri dia makan dan minum. Setelah itu dia akan kembali bertenaga, cepatlah! Aku menunggu di depan." Setelahnya Torih pergi dari sana.
"Ma, aku tidak ingin menjadi pelayan Cara lagi," lirih Jesy tidak bertenaga.
"Iya Sayang, Mama akan membujuk Papamu nanti. Sekarang ayo kita makan dan minum dulu, setelah itu kita bersih-bersih supaya tubuh kamu sedikit bertenaga." Sasdia membantu Jesy untuk berdiri.
.
.
.
"Ayo! Kenapa lama sekali?" Torih datang mendekati Sasdia dan Jesy yang masih berada di atas ranjang kamar Jesy. Sasdia baru saja membantu putrinya itu membersihkan badan.
"Mas, lihatlah Jesy sangat lemah. Ini juga salahmu, kenapa kamu mengurungnya dan tidak memberinya makan semalam? Jadinya begini, kita urus besok saja ya. Kita tunggu Jesy pulih dulu," usul Sasdia.
"Tidak, Cara bisa semakin marah. Kemarin saja wajahnya sudah terlihat begitu tersinggung. Aku bahkan tidak tahu hari ini dia mau memaafkan kamu atau tidak, cepat ikut aku!" Torih menarik tangan Jesy yang dengan cepat ditahan Sasdia.
"Jangan begini Mas, kasihan Jesy," ucap Sasdia.
"Minggirlah Sasa," desis Torih.
"Aku tidak ingin menjadi pelayan Cara lagi Pa, aku capek," lirih Jesy.
"Kamu dengar Mas, Jesy sudah tidak kuat." Sasdia masih menahan tangan Torih yang ingin membawa Jesy.
"Kau tidak ada hak untuk menolak Jesy, kau harus mau. Dan kau minggirlah Sasa," bentak Torih.
"Jangan Mas," papar Sasdia.
"Aku bilang minggir, jangan buat aku semakin kasar lagi," desis Torih.
Sasdia menggeleng tetap keras menahan tangan Jesy. Rahang Torih mengeras, dengan kasar laki-laki itu mendorong tubuh Sasdia sehingga membuat wanita paruh baya itu terjungkal di lantai.
"Mama …." Jesy berteriak melihat Sasdia yang sudah terbaring di atas lantai.
"Cepat." Torih menarik kasar tangan Jesy membawa gadis itu pergi dari sana.
Sasdia yang melihat itu dengan segera bangkit dan mengejar Torih dan Jesy. "Mas, jangan!" teriak Sasdia.
Namun, langkah Sasdia kurang cepat. Torih sudah lebih dulu membawa Jesy ke dalam mobil dan melajukan mobil itu kencang. Sasdia panik, dengan langkah lebar wanita paruh baya itu kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilnya. "Aku harus cepat, Mas Torih memang sudah gila." Sasdia bergumam disela langkahnya.
...*****...
Cara terkejut saat dengan tiba-tiba Torih datang bersama dengan Jesy yang ditariknya paksa. "Maaf Nona, saya sudah mengatakan Nona tidak mengizinkan mereka masuk. Namun, mereka memaksa." Ratna menunduk sambil melirik Torih dan Jesy.
"Tidak apa-apa Ratna, kembalilah ke mejamu," titah Cara.
"Baik Nona." Setelahnya Ratna pergi sambil menutup kembali pintu ruangan Cara.
Cara menatap datar sepasang ayah dan anak itu. "Ada apa Tuan Gerisam? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa pun lagi?" ujar Cara datar.
"Tolong maafkan Jesy Nona, kemarin dia sedang begitu lelah. Saya sudah memberinya pelajaran, jadi dia bisa kembali bekerja untuk Anda sekarang," papar Torih.
Cara menatap Jesy yang sudah terkulai lemah, gadis itu tersenyum miring melihat keadaan Jesy. "Minta maaflah," tekan Cara.
"Ayo minta maaf Jesy." Torih menatap Jesy dengan pandangan tajam.
Jesy menatap Cara dengan pandangan benci yang sudah begitu menumpuk di hatinya. Cara yang melihat itu memberikan senyum mengejek ke arah Jesy. "Jesy!" tegur Torih tajam.
"Apakah Anda membuatnya kehilangan suara Tuan Gerisam?" ejek Cara.
"Maaf Nona," ucap Torih, "ayo cepatlah minta maaf, bangsat," bisik Torih kepada Jesy.
"Aku minta maaf," ucap Jesy dengan nada suara begitu terpaksa.
Suara ribut mengalihkan perhatian mereka, setelahnya Cara tersenyum miring saat melihat keberadaan satu orang yang sudah lama ditunggu-tunggunya. 'Akhirnya lengkap juga,' batin Cara sinis.
"Maaf Nona …."
Suara Ratna terhenti saat melihat Cara mengangkat tangan kanannya. "Tidak apa-apa Ratna, kembalilah," sela Cara.
Sasdia menatap Cara dengan pandangan benci. "Ada apa ini? Apakah kalian sudah berjanji untuk saling berkumpul di sini? Ada acara reunian kah?" Cara bersuara sambil tersenyum miring.
Torih menatap tajam Sasdia. "Kenapa kau ke sini?" desis Torih.
"Aku tidak akan diam jika anakku diperlakukan buruk, apa lagi oleh anak gembel ini." Sasdia menunjuk Cara dengan napas memburu.
"Sasdia!" bentak Torih.
"Apa Mas? Aku sudah sabar selama ini melihat anakku diperbudak oleh seorang anak gembel. Aku tidak terima," teriak Sasdia.
Cara tertawa keras, begitu keras sampai membuat Torih, Sasdia dan Jesy menatap bingung ke arahnya. Setelahnya Cara menatap tajam Sasdia, tatapan itu mampu membuat Sasdia merinding. "Bersabar? Selama itukah aku memperbudak anakmu, Nyonya Gerisam?" desis Cara dingin.
Cara berdiri dari duduknya, secara perlahan gadis itu mendekat ke arah Sasdia yang sudah menatap Cara dengan pandangan was-was. Kakinya ingin bergerak mundur, tetapi entah kenapa tidak bisa. Tiba-tiba saja aura yang di keluarkan oleh Cara mampu membuatnya terpaku. Cara menatap dingin wajah Sasdia yang sedikit lebih pendek dari dirinya, setelahnya gadis itu mendekatkan mulutnya ke daun telinga Sasdia dan membisikkan sesuatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Khaanza
suka banget banget sama novelnya kak lia 😘🥰
2023-03-31
2
Lutfiah Zakiyah
bagus banget.. suka sama cyra
2022-09-26
0
Nur Haliza
suka cerita nya
2022-08-22
0