Cara tersenyum senang melihat selembar kertas di tangannya, senyum gadis itu sedari tadi tidak luntur sebab begitu bahagia. "Akhinya aku diterima, Bunda … aku bisa kuliah," gumam Cara.
Setetes air mata mengalir di pipi kusam gadis itu, kali ini air mata itu bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata kebahagiaan. Cara bahagia karena ternyata dirinya diterima berkuliah di Universitas Bangsa sebagai mahasiswa beasiswa. "Sekali lagi maaf Bunda, aku telah menentang perkataan bunda," ucap Cara berubah lirih.
Cara yang selama ini menutupi otak cerdasnya karena sebuah alasan. Akhirnya dengan berani menunjukkan satu hal yang menjadi nilai tinggi dirinya dari pada Jesy. Cara dengan berat hati menentang perkataan mendiang ibunya, di mana dulu Dea menyuruh dirinya untuk menyembunyikan kepintaran yang dimiliki Cara.
Flash back on!
"Hua … Mama, Papa kata Bu Guru nilaiku jelek. Aku hampir tidak naik kelas." Jesy kecil menangis tersedu-sedu ke arah Sasdia dan Torih.
"Tidak apa-apa Sayang, jangan menangis lagi. Kamu pintar kok," bujuk Sasdia lembut.
"Ta-tapi kata Bu Guru Cara sangat pintar, nilainya bagus dan paling tinggi di kelas kami." Jesy menunjuk Cara yang sedang tersenyum senang.
Sasdia dan Torih terkejut mendengar perkataan Jesy, sepasang suami istri itu menatap tajam ke arah anak kecil yang masih berumur enam tahun dengan pandangan menyelidik. Dea menatap was-was saat Torih mulai mendekat ke arah Cara dengan wajah tidak bersahabat. Cara tersentak kaget saat dengan kasar Torih merampas kertas laporan nilai yang sedang dipegang oleh gadis kecil itu.
Dea dapat melihat mata Torih membola saat membaca hasil ujian Cara yang begitu berbanding terbalik dari punya Jesy. Seperti yang dikatakan oleh Jesy, nilai Cara sangat sempurna berbeda dengan nilai Jesy yang hampir keseluruhan berwarna merah. Sasdia yang sempat melihat pun ikut terkejut, merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Huh … Kecil-kecil kau sudah pintar mencontek, besar mau jadi apa? Hah!" bentak Torih.
Cara terkejut mendengar nada tinggi yang di keluarkan Torih, meski sebenarnya gadis kecil itu tidak tahu kalau bentakan itu tertuju kepada dirinya. Cara tidak mengerti apa maksud dari ucapan Torih, sebab saat itu dia masih begitu kecil. "Kenapa kau menuduhnya seperti itu, Tuan? itu murni hasil otaknya," sela Dea tidak terima.
"Hasil otaknya? Dari mana kau tahu? Oh … jangan-jangan Kau sengaja membantunya saat dia sedang ujian. Ternyata kalian bukan hanya manusia dari berderajat rendahan, tapi kalian juga punya otak busuk," tuduh Torih.
"Mana mungkin manusia rendah seperti kau dan anakmu ini bisa mendapatkan nilai bagus seperti ini kalau tidak dengan cara curang. Memalukan!" sambung Torih tajam.
Dea mengepalkan tangannya mencoba menahan emosi, dia tidak akan keberatan jika dirinya selalu diperlakukan buruk. Namun, untuk Cara, Dea tidak pernah bisa terima karena bagaimana pun Cara darah daging Torih. Laki-laki itu tidak bisa mengelaknya, meski Torih tidak menginginkan Cara. "Kau, jangan coba-coba untuk mencontek lagi. Kau jangan membuat aku malu." Torih menatap tajam Cara sehingga membuat gadis kecil itu beringsut ketakutan.
"Cukup! ayo Cara." Dea segera memotong perkataan Torih, kemudian dia menarik tangan Cara menjauh dari sana.
.
.
.
"Sayang, mulai sekarang kalau kamu ujian atau menjawab pertanyaan apa saja di sekolah jangan jawab semuanya, yah. Sisakan sedikit, biarkan saja tetap kosong." Dea tersenyum kepada Cara.
"Kenapa Bunda?" tanya Cara polos.
"Supaya Ayah tidak marah lagi kepada Cara," jawab Dea berbohong.
"Baiklah Bunda, aku tidak akan menjawab semua pertanyaan lagi nanti. Supaya Ayah tidak marah lagi," tutur Cara semangat.
Dea tersenyum pedih menatap anak kandungnya, di mana gadis sekecil Cara harus selalu mendapatkan perlakuan buruk dan kasar dari ayah kandungnya sendiri. Semenjak kejadian itu Cara benar-benar menuruti perkataan bundanya, meski apa yang dia harapkan tidak pernah didapatnya. Torih masih saja marah dan berkata kasar kepadanya.
Flash back off!
...*****...
"Ayah, aku akan berkuliah." Suara Cara hampir tidak terdengar.
Berbicara dengan Torih adalah hal paling menakutkan dalam hidup Cara, untuk berbicara ini saja gadis itu sudah mengumpulkan keberanian sejak empat hari ke belakang. Torih yang sedang duduk santai bersama Sasdia dan Jesy menoleh ke arah Cara. "Kau ingin papa menguliahkanmu, begitu?" ledek Jesy.
Cara menggeleng kaku sambil terus menundukkan kepalanya, kebiasaannya sedari kecil karena gadis itu sangat takut hanya untuk menatap wajah-wajah orang yang selalu memperlakukannya buruk di rumah itu. "Mimpi saja kau, aku tidak sudi menguliahkanmu," desis Torih tajam.
Cara meneguk ludahnya kasar tidak dapat bersuara padahal hatinya ingin sekali menjawab perkataan itu. Namun lidahnya selalu akan terasa begitu berat jika sudah berhadapan dengan Torih. Sasdia dan Jesy menatap mengejek ke arah Cara sambil tersenyum miring. "Kau sama saja seperti ibumu yang sudah mati itu, terlalu bermimpi ketinggian," hina Sasdia.
"Kau pikir uangku sudi untuk singgah di dalam kehidupanmu itu? Cuih, jangan berharap hal yang tidak mungkin," pungkas Torih.
"A-aku mendapat beasiswa," cicit Cara.
Entah mendapat keberanian dari mana gadis itu menyela perkataan Torih, sedari awal dia hanya berniat untuk memberi tahu berita baik itu. Bukan untuk meminta uang Torih, sebab selama ini dia tidak pernah menuntut itu semua. Cara hanya mengharapkan kasih sayang, perhatian dan simpati dari ayah kandungnya. Hanya itu!
Tiga orang itu terkejut mendengar perkataan Cara, setelahnya mereka mendengus sinis. "Terus kau ingin membanggakannya, begitu?" tuduh Jesy.
"Bu-bukan begitu," Cara menjawab dengan terbata.
"Jangan kau pikir karena dirimu mendapat beasiswa, lalu kau begitu berbangga hati sehingga aku perlu bertepuk tangan untuk itu? Huh … pergi kau, aku muak!" bentak Torih.
Cara terlonjak mendengar bentakan dari Torih untuknya, setelahnya gadis itu memacu langkah segera menjauh dari ruangan santai keluarga Gerisam. "Gadis tidak tahu malu," desis Torih.
...*****...
"Aaaaa …." Teriakan seseorang menghentikan langkah kaki Cara, gadis itu menoleh sekeliling guna mencari sumber suara.
"Tolong …." Lagi, suara itu kembali membuat Cara mengurungkan langkahnya. Setelah beberapa detik Cara akhirnya menemukan seorang gadis yang sedang berdiri kaku di bawah sebuah pohon yang tidak jauh dari sana sambil berteriak tidak jelas.
Cara menatap bingung gadis itu, kenapa dia berteriak minta tolong padahal dia hanya berdiri kaku di sana? pikir Cara. Meski bingung, Cara mencoba mendekat ke arah gadis itu. "Hei, tolong aku, aku mohon. Aku rasanya sudah hampir pingsan," celetuk gadis itu cepat.
"Ada apa?" tanya Cara bingung.
"I-ini ada ulat di bahu kiri-ku, to … long singkirkan." Gadis itu berucap terbata-bata.
Cara memandang ke arah yang di katakan gadis itu, setelahnya Cara meringis ngeri saat melihat keberadaan hewan menggelikan yang dimaksud gadis di hadapannya. Cara menelan salivanya kasar. "A-aku juga takut ulat," tutur Cara gagap.
"Mati lah aku, hua …." Gadis itu menangis sekencang-kencangnya sehingga membuat Cara kebingungan sendiri.
"Hei tenanglah, aku akan mencari cara." Cara menatap gadis itu mencoba menenangkan.
"Aku sudah tidak kuat, aku ingin pingsan saja. Tetapi kenapa sedari tadi tidak bisa juga, hua …." Gadis itu kembali menangis mengeluarkan suara melengking yang mampu menusuk gendang telinga Cara.
"Tenanglah, a-aku akan memakai kayu. Kamu diamlah, jangan bergerak!" sela Cara.
Seakan terhipnotis gadis itu benar-benar menghentikan tangisnya sambil kembali terdiam kaku mencoba menahan suara. Cara mengambil sebuah ranting kayu yang lumayan panjang, setelahnya dengan sedikit kaku dan tangan yang bergetar Cara mengulurkan ranting itu ke arah ulat yang masih setia berada di bahu kiri gadis di hadapannya. Cara kembali menelan salivanya kasar sambil menatap serius hewan kecil yang sayangnya begitu ditakuti oleh sebagian besar kaum hawa.
Krak …. Dengan sekali gerakan Cara menghepaskan hewan menggelikan itu dari bahu gadis di hadapannya, begitu pula dengan ranting kayu yang langsung dibuang begitu saja. "Hah … akhirnya." Gadis itu menghela napas lega.
"Terima kasih ya." Gadis itu tersenyum senang ke arah Cara.
"Iya, jangan di bawah pohon lagi karena di sini pasti banyak ulat," ucap Cara.
"Iya, untung kamu datang. Kalau tidak, mungkin aku sudah pingsan di sini," gerutu gadis itu.
"Aku duluan." Cara bergerak pergi dari sana, namun dengan cepat diikuti oleh gadis itu.
"Eh … kita belum berkenalan, namaku Siera Burhan panggil saja Siera. Namamu siapa?" Gadis yang mengaku bernama Siera itu terus mengikuti langkah kaki Cara.
"Lavia Cara, panggil saja Cara." Cara menjawab sambil terus berjalan.
Cara sedikit kikuk karena tidak biasa berhubungan dengan orang lain seperti itu, dia berfikir mungkin Siera juga akan jijik kepadanya. Namun, kenapa gadis itu masih terus mengikuti langkah kaki Cara. 'kenapa dia masih ikut?' batin Cara.
"Wah … nama kamu bagus yah, kamu jurusan apa?" Siera masih terus berbicara sambil mengikuti Cara.
"Terima kasih, aku jurusan manajemen." Cara tersenyum kikuk kepada Siera.
"Wahh … berarti kita sama! Kamu masuk kelas siapa?" Siera berbicara sambil bertepuk tangan antusias.
"Kelas Mr. Ari," sahut Cara.
"Yah kita beda kelas, tapi tidak apa-apa aku tetap senang. Mulai sekarang kita teman yah." Siera berteriak kesenangan sehingga membuat Cara menatapnya tidak percaya.
Cara menghentikan langkahnya kemudian menatap wajah Siera ragu, dia menilai apakah gadis itu benar-benar serius atau hanya ingin mengoloknya seperti yang lain. "Kenapa?" tanya Siera bingung.
"Maksud kamu itu berteman dengan aku?" Cara balik bertanya.
Siera mengangguk polos. "Iya kamu, kan hanya kita yang berada di sini," sahut Siera.
"Ka-kamu tidak sedang mengolokku bukan?" papar Cara ragu
"Hah?" Siera mengernyit tidak mengerti maksud dari perkataan Cara. "Aku, mengolokmu? Untuk apa?" sambung Siera bingung.
"Ka-kamu tidak jijik berada di dekatku?" tanya Cara lagi.
"Hei, kenapa aku harus jijik? Yang menjijikkan itu ulat yang baru saja kamu buang, itu baru menjijikan bagiku. Hiii …." Siera bergidik ngeri mengingat kejadian menegangkan tadi.
"Sudah, sekarang kamu ingin ke mana?" lanjut Siera kembali dengan wajah cerianya.
"Oh … aku akan pulang, kelasku sudah selesai," Cara menjawab dengan wajah cengo merasa tidak percaya ada orang yang mau berteman dengannya.
"Berarti kita sama, pulang bareng yah. Kamu pulang naik apa?" tanya Siera.
"Kendaraan umum," sahut Cara.
"Oh ya, rumahmu di mana? biar aku antar, aku membawa mobil hari ini," balas Siera.
"Eh … tidak usah, aku naik angkot saja," tolak Cara merasa belum terbiasa memiliki teman.
"Tidak apa-apa, ayo." Siera menarik pelan tangan Cara seakan memaksakan kehendaknya. Sedangkan Cara hanya pasrah mengikuti langkah kaki Siera yang terus menyeretnya pergi.
...*****...
Beberapa bulan Cara berkuliah, hari-harinya masih terlihat dan terasa seperti biasanya. Hanya keberadaan Siera yang membuat kehidupannya sedikit berubah. Pasalnya gadis ceria yang cerewet itu ternyata benar-benar serius dengan ucapannya yang mengatakan kalau mereka sah menjadi teman.
Tidak jarang Siera menjadi seorang juru bicara saat Cara menjadi sasaran bully para mahasiswa lain. Siera akan membalas semua lontaran kasar dan tajam dari mahasiswa lain untuk Cara, sebab gadis yang diolok mereka hanya diam tanpa membantah. Siera bahkan sering sekali memarahi Cara karena gadis itu hanya diam di saat yang lain mengatai dirinya. Namun, Cara hanya akan membalas dengan senyum tipis yang membuat Siera semakin kesal.
"Heh, Cara, kau pakai topeng sana. Aku muak melihat wajah jelekmu itu," tutur seorang laki-laki yang merupakan salah satu mahasiswa di kampus itu.
Terdengar gelak tawa dari sekumpulan mahasiswa di sana, mereka menertawakan perkataan laki-laki itu kepada Cara. "Heh … kau yang seharusnya pakai topeng. Tidak sadar diri, lihatlah wajahmu yang penuh bopeng itu. Urus saja wajah burikmu itu jangan mengganggu temanku, bangsat!" Siera membalas tajam perkataan laki-laki itu sambil mengangkat jari tengahnya kepada sekumpulan mahasiswa itu.
"Kau!" Laki-laki itu menatap tajam Siera merasa tidak terima.
"Apa? Mau berkelahi, ayo. Siapa takut … sini biar ku buat semakin lebar mulut jelekmu itu," sentak Siera tajam. Siera menggulung lengan bajunya begitu serius dengan perkataannya kepada laki-laki yang sudah terdiam itu. Sedangkan Cara meringis sambil menarik tangan Siera untuk segera pergi dari sana sebelum sebuah malapetaka benar-benar terjadi.
"Lepas Ra, biar aku beri sambel mulut laki-laki kurang ajar itu." Siera terus memberontak, tetapi Cara menarik Siera menggunakan kedua tangannya karena kekuatan Siera tidaklah main-main.
"Sudah Al, aku tidak apa-apa," tutur Cara.
"Kamu selalu seperti itu, sudah aku katakan jangan diam saja. Lawan mereka, balas perkataan mereka," balas Siera kesal.
Dada Siera naik turun karena merasa begitu marah kepada laki-laki tadi dan kesal kepada Cara yang selalu saja diam di saat yang lain mengolok dirinya. "Tidak apa-apa, sungguh. Aku sudah terbiasa." Cara tersenyum tipis kepada Siera.
Siera mendengus kesal, perkataan itu hampir setiap hari didengar oleh Siera. Cara beralasan bahwa sudah biasa mendengar dan mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain. Hal itu malah semakin membuat Siera merasa tidak terima. "Sudah, ayo kita ke perpustakaan! Katanya kamu ada tugas penting," ajak Cara.
"Ck … terserahmu." Siera berjalan kesal mendahului Cara yang sudah terkekeh kecil menyusul langkah Siera.
'Seperti ini rasanya mempunyai teman, ada yang membela. Bunda … Cara punya teman, pengganti Bunda,' Cara membatin sambil menatap sendu punggung Siera yang berada di depannya.
"Ayo, Cara!" teriak Siera menyadarkan lamunan Cara.
"Iya," sahut Cara.
...*****...
"Hei, lap bagian yang di sana," titah seorang wanita kepada Cara.
"Baik," Cara segera melakukan perintah wanita itu padahal mereka sama-sama pelayan di sana.
Terdengar gelak tawa dari tiga orang wanita yang salah satunya baru saja memerintah Cara. "Bodoh sekali dia," tutur seseorang.
"Itulah enaknya satu shift dengan gembel itu." Seorang wanita menyahut sambil tertawa jahat.
Sedangkan Cara hanya pasrah sambil terus melakukan pekerjaannya, meski sebenarnya gadis itu sudah benar-benar letih.
.
.
.
"Bau apa ini?" teriak Jesy. Sasdia dan Torih menoleh ke arah Jesy dengan pandangan bertanya.
"Ya ampun, bau sekali." Jesy menutup hidungnya sambil mengernyit seakan benar-benar sedang mencium bau busuk.
"Ah, pantas saja! Ternyata ada gembel mendekat." Jesy menatap mengejek ke arah Cara yang baru saja sampai. Sasdia dan Jesy tertawa merasa begitu senang mengolok dan mengatai Cara, sedang Torih hanya menatap datar keberadaan Cara.
Ekspektasi Cara untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang Torih melalui otak cerdasnya tidak berjalan sesuai keinginannya. Torih masih saja bersikap kasar dan memperlakukannya tidak manusiawi. Hal itu tentu saja membuat Cara semakin kehilangan harapan sebab kemampuan yang dia miliki hanyalah itu, pikir Cara.
"Ayah," cicit Cara.
Torih menatap tajam Cara yang baru saja menyapanya sehingga membuat gadis yang ditatap tersentak takut. Cara menelan salivanya susah payah sebelum kembali bersuara. "A-aku menjadi perwakilan kampus untuk partisipasi bisnis, ja-jadi dekan ingin bertemu dengan Ayah." Cara memberikan selembar kertas dengan tangan bergetar kepada Torih.
Torih hanya menatap datar kertas yang diulurkan oleh Cara kepadanya, setelahnya laki-laki paruh baya itu kembali sibuk dengan laptopnya. "Pfftt … hahaha kau pikir papa mau datang ke kampus jelekmu itu?" Jesy tertawa keras.
"Heh, kau ingin mempermalukan mas Torih karena tau memiliki putri menjijikan sepertimu?" sinis Sasdia. Hati Cara berdenyut nyeri mendengar perkataan mereka, Cara kembali menarik tangannya dengan hati yang begitu terluka.
"Kau pikir aku akan bangga karena prestasimu itu? Wajahmu yang menjijikan itu lebih di atas segala hal yang membuat aku malu, kau cam kan itu." Torih menatap tajam Cara. Sekuat tenaga Cara mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, gadis itu berlari menjauh dari sana tidak ingin mereka mendengar isak tangisnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Xavier~
Ohh Alisa toh GW kira Lemora/Facepalm//Facepalm/
2024-07-05
0
Siti Asmaulhusna
smoga tabah yaCara biasa klo orang yg suka menghina biasa nnti dpt balasan
2023-01-07
1
Fariha Najmi
kok sama kian cyra namanya? aku cara loh😭
2022-11-26
0