"Kau ingin tetap bekerja tidak hah? Dengan seenaknya kau datang terlambat, kau pikir ini milik nenek moyangmu?" bentak manager.
Cara diam sambil menunduk mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh manager kafe. Dia tidak berani menyahut karena itu akan percuma, sebab dia hanya gadis jelek dan miskin yang tidak akan pernah didengar oleh orang lain. Padahal ini adalah pertama kalinya bagi Cara datang terlambat ke tempat kerja, biasanya dia adalah orang yang selalu tepat waktu. Tetapi kata-kata yang dilontarkan oleh manager kafe seakan Cara selalu datang terlambat.
"Seharusnya kau bersyukur sudah diterima bekerja di sini, aku yakin tidak akan ada orang yang mau menerimamu sebagai pelayan dengan wajah jelek dan penampilan udikmu itu," lanjut manager.
"Tetapi kau malah seenaknya datang semaumu saja? Tidak tahu diuntung, sadar dirilah dengan wajahmu itu. Dasar gadis miskin," sambung manager.
Cara masih diam, dia sudah sangat biasa mendengar kalimat kasar yang ditujukan kepada dirinya. Jangankan orang lain ayah kandungnya saja selalu berkata dan bersikap kasar kepadanya. "Aku minta maaf," cicit Cara.
"Aku tidak butuh maafmu, jika kau masih ingin bekerja di sini maka jangan seenaknya lagi. Gajimu hari ini aku potong, ini …." Dengan gerakan kasar manager kafe memberikan beberapa lembar uang kepada Cara sebagai upah kerjanya hari ini, sebab Cara memang meminta untuk digaji perhari.
"Pergilah dari hadapanku," sarkas manager.
"Terima kasih." Dengan gerakan cepat Cara berlalu dari sana karena tidak ingin semakin menyulut kemarahan manager kafe.
Meski manager kafe selalu bersikap dan berucap kasar kepadanya, Cara masih merasa berterima kasih. Sebab apa yang dikatakan oleh manager itu memang benar, tidak ada orang yang mau menerimanya bekerja karena penampilannya itu. Jadi Cara berterima kasih kepada pemilik kafe dan juga manager kafe itu karena masih mengizinkan dirinya untuk bekerja di sana.
"Hah … tidak apa-apa, yang penting aku masih bisa makan dan sedikit menabung." Cara menatap uang dua puluh lima ribu di tangannya sambil tersenyum tipis. Cara bekerja setiap hari sebagai pelayan kafe, gadis itu bekerja dari jam empat sore sampai jam sebelas malam dengan gaji hanya tiga puluh lima ribu rupiah sehari.
...*****...
"Aku ingin berkuliah di Universitas Alfa Pa, aku tidak ingin tempat lain. Teman-temanku semuanya di sana," rengek Jesy.
"Iya Sayang, tapi nilaimu tidak mencukupi untuk mendaftar di sana. Kita cari kampus lain saja yah, ada kok yang …."
"Tidak," Jesy dengan cepat memotong ucapan Torih.
"Aku tidak ingin tempat yang lain, aku hanya ingin Universitas Alfa. Kalau tidak aku tidak akan kuliah." Jesy menatap tajam kedua orang tuannya.
Sedangkan Torih dan Sasdia sudah menghela nafas berat melihat sifat keras kepala putri kesayangan mereka. "Baiklah, Papa akan usahakan, nanti Papa minta tolong kepada teman Papa untuk menyuap salah satu dosen di sana." Torih mengusap puncak kepala Jesy mencoba membujuk putrinya itu.
"Lakukan apa saja, aku hanya ingin berkuliah di sana. Kalau tidak biarkan aku ke Amerika!" tukas Jesy.
Torih dan Sasdia terkejut dengan wajah takut menatap Jesy. "Jangan Sayang, jangan tinggalkan Mama, kami tidak bisa jauh denganmu nak." Sasdia mendekat ke arah Jesy kemudian memeluk putrinya itu.
"Iya, Papa tidak ingin putri satu-satunya Papa harus pergi jauh dari jangkauan Papa," sambung Torih.
"Heh … papa masih ada satu putri lagi, itu si gembel." Jesy tersenyum sinis mengingat wajah Cara.
"Jangan bawa-bawa dia Sayang, Papa jijik. Dia bukan putri Papa, putri Papa hanya satu. Yaitu kamu." Torih bersuara sambil mendengus jijik.
"Makanya lakukan apa pun supaya aku bisa berkuliah di kampus Alfa, dengan uang semuanya bisa dilakukan," ketus Jesy.
"Pasti, kamu tenang saja. Papa jamin kamu akan berkuliah di sana." Torih kembali mengusap kepala putrinya sambil tersenyum hangat sarat akan kasih sayang.
Sedangkan Cara yang sedari tadi mendengarkan percakapan tiga manusia itu sudah tersenyum miris. Tanpa sadar air mata gadis itu kembali jatuh membasahi pipinya. "Aku juga ingin merasakan Ayah mengusap kepalaku dan melontarkan senyum kasih sayangnya untukku!" Cara menatap sendu Torih yang sedang mengusap kepala Jesy.
"Kapan aku akan merasakan semua itu?" lirih Cara. Cara berjalan menjauh dari belakang pintu utama kediaman Gerisam, Cara tidak sengaja mendengar percakapan tiga orang di dalam sana saat dirinya hendak menuju kamarnya.
Cara memang tidak perlu melewati pintu utama untuk masuk ke dalam kamarnya, karena kamar pembantu keluarga Gerisam memang di letakkan sedikit jauh dan terpisah mengingat bagaimana sombong dan angkuhnya sifat keluarga itu. "Hah … aku tidak boleh mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin kudapatkan," lirih Cara.
Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur mungil di ruangan itu sambil menertawakan keinginannya yang jelas mustahil akan terjadi. Cara tahu betul betapa benci dan jijiknya Torih kepada dirinya dan juga mendiang bundanya. "Apakah salah terlahir dari keluarga kelas rendah? Sampai sebegitu benci dan jijiknya Ayah kepada Bunda dan juga aku yang merupakan anak kandungnya sendiri." Cara menatap sendu langit-langit kamarnya.
Setelahnya gadis itu memerengkan tubuhnya membelakangi tembok dan menyisakan sedikit ruang kasur di sampingnya. Tiba-tiba saja bayangan Dea hadir dalam imajinasinya, Cara melihat bundanya sedang menatapnya sambil tersenyum hangat. "Bunda …." Cara bergumam lirih sambil menggapai bayangan semu itu.
Setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk mata indah gadis itu, Cara begitu merindukan kehadiran bundanya. Setiap hari Cara akan selalu berimajinasi melihat kehadiran Dea yang setia menemaninya bahkan sampai gadis itu terlelap menyelami dunia mimpi. Cara senang, meski itu hanya sebuah halusinasi atau pun imajinasinya dia tidak peduli. Mungkin tanpa kehadiran wajah semu Dea selama ini, Cara tidak akan pernah bisa tertidur dengan tenang.
...*****...
"Apa yang kau lakukan gembel?" Suara seseorang mengejutkan Cara yang sedang membersihkan ruangan makan keluarga Gerisam. Gadis itu membalikkan badannya dan melihat keberadaan Jesy yang sedang menatapnya dengan pandangan benci seperti biasa.
"Aku sedang membersihkan meja makan Jes," sahut Cara.
"Kenapa kau membersihkannya di saat aku akan ke sini, hah? Kau membuat aku tidak selera makan setelah ini." Jesy membentak sambil menatap tajam Cara yang terkesiap di tempatnya karena mendengar suara tinggi Jesy.
"Ada apa Sayang?" Sasdia datang dan mendekat ke arah putrinya, setelah itu wanita paruh baya itu menatap tajam ke arah Cara.
"Gadis kotor itu di sini di saat aku akan ke sini, aku jadi tidak berselera makan setelah ini." Jesy menunjuk Cara dengan tangan kirinya.
"Mas … Mas Torih!" Sasdia berteriak memangggil nama Torih.
Sedangkan Cara sudah berkeringat dingin saat mendengar ibu tirinya itu memanggil ayahnya, jika Torih sudah turun tangan gadis itu bisa berakhir mengenaskan. Cara menelan salivanya kasar saat melihat kedatangan Torih yang sedang menatapnya datar sarat akan rasa benci. "Ada apa?" tanya Torih.
"Dia membuat anak kita tidak nafsu makan Mas," tutur Sasdia.
Torih menatap Cara tajam kemudian menoleh ke arah Jesy. "Kenapa Sayang?"
"Aku jijik melihat wajahnya, dia pasti sengaja ke sini karena tahu aku akan ke sini Pa. Wajah menjijikannya itu membuat aku mual," sahut Jesy.
Dengan wajah marah Torih menoleh ke arah Cara yang sudah terdiam kaku di tempatnya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Mulut gadis itu tidak mampu bersuara barang sekata pun untuk membela dirinya. Gadis itu terlalu takut dan begitu tertekan dengan atmosfer menyeramkan yang dikeluarkan oleh Torih.
Plak … bruk …
Tanpa menahan kekuatannya Torih menampar pipi Cara dengan tidak berperasaan, sehingga membuat Cara jatuh terduduk sebab tubuh kurusnya tidak mampu menahan kekuatan besar dari Torih. Sudut bibir gadis yang menjadi korban tamparan itu mengeluarkan darah segar, itu cukup untuk membuktikan betapa kerasnya Torih menampar putri kandungnya itu. "Kau berani?" desis Torih tajam.
"Pergi dari sini sialan." Torih menendang kaki Cara kuat sehingga terdengar suara mengaduh dari mulut gadis itu.
"Akhh …." Cara segera menutup mulutnya yang hampir berteriak, dengan tergesa gadis itu berdiri menahan sakit di pipi kiri dan kakinya yang baru saja menjadi korban keganasan Torih.
"Ma-maaf … aku akan pergi." Cara berjalan meninggalkan ruangan makan itu dengan langkah terburu-buru.
Cara berjalan sambil sedikit pincang sebab tulang kaki yang baru saja ditendang oleh Torih begitu ngilu dan sakit. Cara hanya berharap luka kakinya itu tidak parah. Padahal Cara sama sekali tidak salah di sana, dia selalu melakukan kegiatan bersih-bersih setiap hari di jam yang sama. Jam itu adalah beberapa menit sebelum Torih, Sasdia dan Jesy sarapan pagi. Jadi tentang pertemuannya dengan Jesy di ruangan itu bukanlah salah Cara, sebab gadis itu jelas tidak tahu kalau Jesy akan datang.
Lagi pula biasanya Jesy belum akan terlihat berkeliaran di jam itu, kalau seandainya Cara tahu Jesy akan datang ke sana gadis itu pasti akan memilih pergi menghindar dari masalah. Cara memang disuruh untuk mengurus rumah keluarga Gerisam, membersihkan segalanya tetapi tidak boleh sampai terlihat oleh tiga penghuni lain di rumah itu. Apalagi saat membersihkan ruangan makan, mereka beralasan akan kehilangan nafsu makan jika melihat Cara berkeliaran di tempat mereka biasa makan.
Satu hal yang tidak Cara lakukan di rumah itu adalah memasak, tentu saja dengan alasan yang sama. Mereka tidak sudi memakan makanan yang di masak oleh Cara yang merupakan gadis jelek yang cupu, udik, berpenampilan seperti anak jalanan dan menjijikan menurut mereka. Kata-kata mereka memang keterlaluan, penampilan Cara memang sangat biasa-biasa saja dengan baju dan celana lusuh yang dia punya hanya beberapa pasang. Ditambah dengan kaca mata yang dia kenakan membuatnya terlihat seperti gadis cupu. Cara hanya terlihat suram, kata gembel dan anak jalanan terlalu berlebihan untuknya, apa lagi bila disebut menjijikkan.
.
.
.
"Aku kuat," gumam Cara menguatkan dirinya sendiri. Setelah mengobati pipi dan kakinya, gadis itu beralih kepada selembar kertas di atas kasur miliknya yang bertuliskan 'Formulir Pendaftaran Beasiswa Universitas Bangsa'.
"Maaf Bunda, aku terpaksa menentang perkataan Bunda untuk kali ini. Aku ingin berkuliah, semoga dengan ini aku bisa membuat Ayah bangga. Aku berharap Ayah memberikan aku kasih sayangnya setelah aku membuatnya bangga dengan ini," gumam Cara.
Gadis itu memulai menulis di lembaran pendaftaran itu dengan harapan yang begitu besar. Dia berharap ajuan beasiswanya diterima, dia juga berharap dengan ini bisa membuat Torih bangga sehingga dia bisa mendapatkan kasih sayang ayah kandungnya itu. "Aku tidak meminta lebih, aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Sama seperti Jesy," lirih Cara.
...*****...
"Jesy," panggil seseorang.
"Hai," sahut Jesy.
"Bagaimana, kau jadi satu kampus dengan kami bukan?" tanya seseorang lagi.
"Tentu saja, semuanya bisa dilakukan asal memiliki uang." Jesy tertawa diikuti oleh dua temannya.
"Bagus lah, tidak akan seru jika kita berpisah," balas Hesti yang merupakan salah satu teman Jesy.
"Benar, kita 'kan memang harus selalu bersama. Nanti kita harus cari laki-laki di kampus itu yang memiliki banyak uang dan kalau bisa dia tampan." Sambung Iren sambil tertawa diikuti yang lain.
"Tentu saja, aku cantik jadi jelas pendampingku harus tampan dan ber-uang. Aku tidak butuh laki-laki kere," Jesy berucap dengan angkuh.
"Benar, kau pasti akan menjadi primadona kampus nantinya sama seperti waktu kita di SMA," tutur Hesti. Iren mengangguk setuju sedangkan Jesy sudah tersenyum angkuh.
"Tentu saja." Jesy tersenyum sombong.
"Sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau kau memiliki saudara tiri yang sangat bertolak belakang denganmu," seru Iren.
"Benar, melihat wajahmu yang begitu cantik aku tidak percaya kalau si gembel itu adalah saudara se-ayahmu. Iuh …." Hesti bergidik jijik membayangkan wajah Cara.
Jesy tertawa keras saat teman-temannya mengungkit dan menghina Cara. "Jangankan kalian, aku saja tidak sudi dan sangat malu mengakui dia sebagai saudaraku. Sama sekali tidak level, bahkan Papa juga sangat membenci dan jijik kepadanya," desis Jesy.
"Terus kenapa dia masih diizinkan tinggal di rumahmu?" tanya Hesti bingung.
"Benar, kenapa tidak diusir saja lagi pula ibunya juga sudah mati bukan?" tambah Iren.
Tiga sekawan ini memang memiliki sifat yang sama, mereka sama-sama tidak memiliki hati. "Aku tidak tahu, tapi kata mamaku dia bisa mengurangi pengeluaran keluarga Gerisam. Kami tidak memerlukan pembantu karena semuanya dikerjakan oleh gembel itu," jelas Jesy.
Iren dan Hesti mengangguk mengerti mendengar perkataan Jesy. "Benar juga," ucap Hesti.
"Yang paling penting itu, kata mama si gembel bisa membuat aku dan mama memiliki mainan. Sebelumnya mama sudah menjadikan ibunya sebagai mainan, sekarang karena ibunya sudah mati jadi tersisa anaknya saja. Ketika moodku sedang buruk aku akan menumpahkan semuanya kepada gembel itu, jadi dia memang ada gunanya tetap ditampung di rumahku," lanjut Jesy.
Hesti dan Iren tertawa, bukannya bersimpati dua gadis itu malah ikut merasa senang mendengar penderitaan Cara. "Wah … kalau begitu, jika moodku sedang buruk boleh aku ke rumahmu untuk melepaskan kekesalan kepada saudaramu itu?" Hesti bertanya sambil senyum jahat.
"Jangan sebut dia saudaraku, aku jijik … silakan saja, terserahmu ingin melakukan apa kepadanya. Tidak akan ada yang marah." Jesy berucap sambil terus sibuk dengan ponselnya.
Hesti tersenyum merasa begitu senang karena menemukan target untuk melepaskan kekesalan di saat moodnya sedang buruk. "Kalau begitu aku juga ingin," sela Iren.
"Silakan, terserah kalian," balas Jesy santai. Hesti dan Iren saling bertos ria merasa senang karena mendapat mainan baru.
...*****...
"Selamat malam ketua." Suara serentak beberapa orang mengalun mengisi kesunyian di ruangan gelap itu. Seorang laki-laki yang berada di dalam salah satu ruangan menyeramkan itu terkesiap, dia sudah berkeringat dingin saat mendengar panggilan 'ketua' dari para penjaga.
Citt …. Suara besi yang menjadi pintu ruangan itu mengalihkan perhatian laki-laki di dalam sana, seketika sekujur tubuhnya menjadi kaku saat melihat kedatangan orang yang paling ditakutinya selama ini. Dadanya sesak seakan dengan tiba-tiba seluruh oksigen menjauh dari jangkauannya.
"Dendrion." Suara berat nan rendah itu mampu mengusik ketenangan, laki-laki yang bernama Dendrion menunduk tidak berani menatap mata tajam sang laki-laki berjiwa iblis di hadapannya.
"Ada kata-kata terakhir?" sambung Geo.
Dendrion terkejut, laki-laki itu tidak mampu bersuara sebab lidahnya seakan tahu bahwa dirinya sedang dalam bahaya. Juan terkekeh mengejek saat melihat wajah ketakutan milik Dendrion. "Sudah tahu takut, kenapa kau memilih berkhianat?" tutur Juan santai.
"Ma-maaf kan aku, aku terpaksa." Dengan sisa keberanian Dendrion bersuara mencoba melakukan sedikit usaha penyelamatan diri dari sekumpulan iblis di hadapannya.
"Terpaksa … benarkah?" Alex pura-pura tertarik sambil tersenyum mengejek.
"A-aku diancam, tolong lepaskan aku kali ini saja. Aku akan melakukan apa pun untuk menebus kesalahanku ini," cicit Dendrion dengan suara bergetar.
"Kau terlalu banyak omong," sela Geo tajam.
Dendrion terhenyak saat mendengar kalimat yang dilontarkan Geo, orang yang paling ditakuti dan dihindarinya selama ini. Dendrion mengaku salah karena sudah berani berkhianat kepada Death hanya karena tergiur kesenangan sementara, sekarang dia sangat menyesal. Berurusan dengan Geo adalah hal yang paling dia hindari selama ini, tidak ada orang yang tidak takut dengan laki-laki tampan berwajah malaikat itu sebab sifatnya menyamai iblis yang tak punya hati.
Tring … tring … tring …
Suara ponsel Geo bergema di seluruh ruangan menegangkan itu, mengalihkan perhatian empat laki-laki yang berada di sana. Sang pemilik ponsel mengambil benda pipih itu dari dalam saku celana miliknya. Sebelah alis Geo terangkat saat melihat nama orang yang menghubunginya. "Kalian urus dia, aku pergi." Geo berjalan menjauh dari ruangan kematian itu meninggalkan tiga laki-laki di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Caca
Thor, ini kok ceritanya gaada? Di hapus kah?
2023-07-20
0
Vin Yu Lie
jgn mimpi di siang bolong lah, pake otak lah, pergi saja lah dri sana, bego jgn di pelihara.
2023-07-08
0
T o R a 21
judul'y cerdas...🤔apa'y yg cerdas..gk nyambung sm isi'y..yg ada pembullyan smua..🤦
2023-04-30
0