Kediaman Gerisam saat ini sedang kedatangan tamu penting, yaitu seorang laki-laki paruh baya yang merupakan salah satu calon rekan bisnis Torih. Torih begitu semangat dan berharap bisa bekerja sama dengan laki-laki paruh baya yang bernama Baskoro, dengan begitu Gerisam Group akan semakin berkembang, pikir Torih. "Ternyata anak Anda juga berkuliah di Universitas Alfa," tutur Baskoro.
"Benar, saya juga baru tahu ternyata anak Tuan Baskoro juga berkuliah di sana." Torih tersenyum ramah.
Sasdia dan Jesy ikut tersenyum ramah, Torih memang menyuruh anak dan istrinya untuk ikut duduk menyambut kedatangan Baskoro. Terkecuali untuk Cara yang diperkenalkan sebagai seorang pembantu keluarga Gerisam. Cara yang memang sudah biasa diperlakukan rendah seperti itu hanya diam tidak membantah, dia tidak ingin menyulut api kekejaman dalam jiwa Torih.
"Kenapa lama sekali pembantu itu membuat minuman? Maaf Tuan Baskoro, pembantu kami memang seperti itu. Lelet sekali." Sasdia tersenyum canggung ke arah Baskoro.
"Tidak apa-apa," sahut Baskoro.
"Cara, cepatlah!" Sasdia memanggil Cara sedikit berteriak sambil kembali menatap Baskoro sungkan.
"I-iya, Nyonya." Cara mulai mendekat sambil membawa nampan berisi empat gelas di atasnya.
Jesy menatap Cara sambil tersenyum penuh arti, saat Cara tepat berjalan di depannya gadis itu mengulurkan kakinya sehingga membuat Cara tersandung dan berakhir di lantai. "Astaga!" pekik Sasdia.
Torih menatap tajam Cara yang sudah bergetar ketakutan. "Maaf yah, eh … Tu-tuan, saya tidak sengaja menyandung kaki Nona Jesy." Cara berucap gemetar.
"Aduh bagaimana ini? Maafkan kami Tuan Baskoro," tutur Sasdia panik.
Insiden terjatuhnya Cara ternyata tidak sesimpel itu, karena air yang berada di atas nampan itu mendarat sempurna di tubuh Baskoro sehingga membuat laki-laki paruh baya itu basah kuyup. "Maafkan kesalahan kami ini Tuan, kami akan segera memecat pembantu kurang ajar ini." Torih menatap Baskoro panik setelahnya laki-laki itu menatap tajam Cara yang sudah menunduk takut.
"Minta maaflah, Bangsat!" bentak Torih.
Cara terlonjak kaget, setelahnya gadis itu bersujud di kaki Baskoro dengan tubuh bergetar. "Ma-maafkan saya, Tuan," ucap Cara bergetar ketakutan.
"Sudahlah, saya permisi." Baskoro berdiri dengan raut tidak terbaca sambil berlalu dari sana.
"Tuan." Torih bersuara merasa kecewa.
Kepergian Baskoro meninggalkan kemarahan besar di dalam diri Torih. Laki-laki paruh baya itu menatap tajam Cara, atmosfer di dalam ruangan itu berubah seketika. Bahkan Sasdia dan Jesy ikut merinding melihat wajah keras Torih yang sedang berada di puncak kemarahan. Dua wanita itu yakin penderitaan Cara akan lebih parah dari sebelumnya.
"Kau benar-benar sampah … pembawa sial, kau sudah membuat aku kehilangan rekan kerja penting, Brengsek!" murka Torih.
Laki-laki itu mendekat ke arah Cara yang masih bersujud di tempatnya, tubuh gadis itu bergetar kaku begitu ketakutan. Brukh …. "Akhh …."
Torih menendang punggung Cara tanpa perasaan sehingga gadis itu tidak bisa menahan jeritannya. Tidak sampai di sana, ayah tidak berperasaan itu terus menghajar dan menghantam tubuh Cara tanpa ampun. Jeritan tangis dan kesakitan berseliweran di dalam ruangan itu. Bahkan Sasdia dan Jesy yang menyaksikan itu sudah bergidik ngeri, tubuh Cara sudah terombang ambing oleh kaki dan tangan Torih yang tidak berhenti bermain.
"Kau anak sialan, kenapa kau harus lahir ke dunia ini, Bangsat? Mati saja kau, susul ibu gembelmu itu." Torih bersuara di sela-sela aksi kejamnya.
"Sakit Ayah, maafkan aku." Cara terus berteriak kesakitan, terdengar begitu pilu.
"Sakit …." Cara kembali berteriak sambil terisak.
"Mati kau, mati." Torih menendang tubuh Cara untuk yang terakhir kalinya.
Cara terdiam tidak memiliki tenaga bahkan untuk sekedar terisak, gadis itu hanya pasrah dengan hidupnya yang mungkin akan segera berakhir dan menyusul bundanya. "Cepat pergi kau dari sini, jangan pernah kembali lagi!" bentak Torih.
Cara berusaha dengan susah payah untuk menggerakkan tubuhnya yang sudah tidak berbentuk. "Cepatlah, Bangsat!" murka Torih.
Degan kekuatan yang tersisa, Cara menyeret tubuhnya sambil menangis dalam diam. Cara berjalan dengan tubuh penuh luka, mata gadis itu berkunang-kunang pertanda bahwa dia sudah tidak dapat menahan rasa sakit. Meski pandangannya tidak begitu jelas, Cara masih melanjutkan langkahnya dengan sesekali tersandung.
Tin … tin … tin …
Brukh … Tubuh lemah Cara terhempas cukup keras ke pembatas jalan sebab dia baru saja tertabrak mobil. "Sh**," umpat pengendara mobil. Laki-laki pemilik mobil itu keluar untuk melihat korban yang baru saja dia tabrak, laki-laki datar itu mengernyit saat melihat keadaan gadis yang ditabraknya tergolong mengenaskan.
...*****...
Langkah kaki bersahutan di sebuah koridor rumah sakit, dua orang laki-laki tampan terlihat sedang berjalan dengan gagah. "Kau menabrak orang?" tanya Alex.
"Hmm," deham laki-laki yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Kenapa kau sesantai itu? Padahal korbanmu sedang kritis," bingung Alex.
"Dia sudah kritis sebelum aku tabrak," tutur Geo santai.
"Hah?" Juan mengernyit bingung.
Geo Vetro adalah laki-laki yang baru saja menabrak Cara. Laki-laki datar yang merupakan pemimpin kumpulan mafia kejam itu bertanggung jawab dengan membawa Cara ke rumah sakit. Meski dia tahu kalau keadaan Cara sudah kritis sebelum Geo menabraknya.
"Farel." Geo memanggil Farel menghiraukan kebingungan Alex yang sudah mendengus kesal.
"Iya?" sahut Farel singkat.
"Cari tahu," titah Geo.
"Baiklah," jawab Farel.
"Utus seseorang, aku pergi."Geo berdiri dari duduknya kemudian berlalu dari sana.
Alex menatap kepergian Geo dengan mulut terbuka seakan tidak percaya. "Benar-benar anak itu," kesal Alex.
...*****...
"Mas." Sasdia mendekat dengan wajah sedikit ragu ke arah Torih yang sedang duduk diam di atas ranjang kamar mereka.
Wajah datar Torih menandakan kalau laki-laki paruh baya itu masih berada di lingkup amarahnya. "Bagaimana kalau gembel itu mati?" ujar Sasdia hati-hati.
Torih menatap tajam Sasdia. "Bagus kalau dia mati, kenapa kamu seperti tidak senang?" balas Torih.
"Bukan begitu Mas, aku hanya takut kalau kamu ikut terseret nantinya," jelas Sasdia.
"Kamu tenang saja, aku bisa mengurus itu. Kalau benar dia mati, aku akan sangat senang," desis Torih.
"Aku sebenarnya juga senang, tapi sayang sekali aku dan Jesy menjadi kehilangan mainan," sungut Sasdia.
"Sudahlah, aku sudah cukup bersabar dengan keberadaannya selama ini, aku muak," geram Torih. "Dia bahkan membuat aku kehilangan partner kerja yang begitu menguntungkan," sambung Torih berdesis.
"Apa tidak bisa kita bicarakan lagi dengan Tuan Baskoro? Semoga saja dia bisa mengerti dan memberi kita kesempatan lagi," usul Sasdia.
"Akan aku coba," jawab Torih.
...*****...
"Bagaimana?" tanya Geo.
"Dia masih belum sadar, luka fisiknya tergolong parah, banyak luka memar bahkan tulang punggungnya sedikit bergeser. Sebenarnya apa yang terjadi? dokter mengatakan kalau luka itu bukan karena kecelakaan. Tetapi sepertinya dari hasil kekerasan," sahut Alex.
"Rel." Bukannya menjawab, Geo malah memanggil Farel sepupunya yang sedari tadi diam.
"Sudah," tutur Farel.
Setelahnya Farel menyodorkan tablet miliknya kepada Alex yang sudah memutar bola matanya kesal. "Apa salahnya jika kau saja yang membaca? Ck … mulut kalian itu tidak akan bertambah lebar hanya karena sering bersuara," gerutu Alex.
Meski kesal laki-laki itu tetap mengambil tablet yang disodorkan oleh Rafel kepadanya. "Padahal berbicara tidaklah membayar," gumam Alex masih merasa begitu kesal. Alex adalah orang yang harus selalu siap untuk menjadi juru bicara, sebab kakak beradik sepupu ini begitu irit dengan suara mereka. Sebab itu Alex sering kali dibuat kesal akan hal itu.
"Lavia Cara biasa dipanggil Cara, gadis berumur dua puluh tahun merupakan anak dari Dea Marisa dengan Torih Gerisam. Cara berkuliah di Universitas Bangsa, dia memiliki seorang teman bernama Siera Burhan. Dea Marisa sudah meninggal dunia sekitar enam tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Cara tinggal bersama ayah, ibu tiri dan saudara tirinya di kediaman Gerisam. Tetapi dia tidak pernah dinafkahi oleh Torih semenjak lahir, sehingga dia bekerja untuk bertahan hidup semenjak kematian Dea." Alex menghentikan kalimatnya sejenak.
"Dia selalu diperlakukan buruk, tidak jarang ibu tiri dan saudara tirinya melakukan serangan fisik. Bahkan Torih pun sering melakukan kekerasan kepadanya, dan kejadian hari ini adalah puncaknya," sambung Alex.
"Ayahnya sendiri yang membuat gadis itu sampai sekarat seperti itu? Gila," kata Alex heran.
Sedangkan Geo dan Farel hanya diam dengan raut wajah datar seperti biasa. "Setidaknya gadis itu beruntung ditabrak olehmu, jika orang lain mungkin dia sudah mati," cetus Alex lagi.
"Jadi bagaimana? Kau akan merawatnya sampai sembuh?" tanya Alex.
"Hemm," deham Geo.
Alex mengangguk singkat, dia tahu betul bagaimana Geo. Laki-laki dingin itu meski kejam, dia adalah orang yang sangat menjunjung tinggi yang namanya tanggung jawab. "Death?" tanya Geo singkat.
"Kita ada pertemuan inti, Farel sudah mengurus sistem IT terbaru. Hari ini kita perkenalan dengan para inti," terang Alex.
"Kau share?" Geo menoleh ke arah Farel.
"Tidak, aku menunggu komandomu," sahut Farel.
"Kau tidak penasaran dengan penyerang markas Selatan?" tanya Alex.
Geo menoleh setelahnya laki-laki itu tersenyum miring. "Apa kau ingin aku turun tangan?" tanya Geo.
"Kenapa tidak, bukankah kau sudah lumayan lama cuti?" Alex ikut tersenyum miring.
Geo menaikkan sebelah alisnya, setelahnya laki-laki itu kembali terdiam. "Bawakan mainanku," putus Geo.
"Dilaksanakan, Ketua!" Alex berdiri semangat.
...*****...
Ting … tong …
Siera memencet bel rumah kediaman Gerisam, gadis itu cemas saat tidak bisa menghubungi Cara sedari kemarin. Kecemasannya bertambah saat mengetahui temannya itu tidak masuk kuliah tanpa izin. Sebab itu Siera memutuskan untuk mengunjungi rumah Cara setelah gadis itu selesai kuliah.
Cklek …. Pintu rumah mewah itu terbuka, Siera dapat melihat kehadiran seorang wanita paruh baya yang sepertinya asisten rumah tangga di sana. "Maaf, cari siapa ya, Mbak?" tanya wanita paruh baya itu ramah.
"Saya ingin mencari Cara, Bu. Dia tidak bisa dihubungi dari kemarin bahkan hari ini dia tidak berkuliah," jawab Siera sopan.
Terlihat raut kebingungan dari wajah wanita paruh baya itu. "Cara? Maaf, setahu saya tidak ada yang bernama Cara di rumah ini Mbak," tutur wanita paruh baya itu bingung.
Siera terkejut dengan wajah terlihat ikut kebingungan. Dia jelas ingat betul waktu itu mengantarkan Cara ke sini. Meski hanya beberapa kali, tetapi gadis itu belum pikun. "Benarkah? Saya ingat betul kalau rumahnya di sini, saya pernah beberapa kali mengantaranya pulang, Bu," ucap Siera.
"Ah … saya baru kemarin bekerja di sini Mbak, di sini hanya ada tiga orang. Anak majikan saya namanya Jesy, bukan Cara. Tapi tunggu, biar saya tanya dulu ya, Mbak. Silakan masuk dulu, Mbak," terang wanita paruh baya.
"Tidak usah Bu, saya tunggu di sini saja," tolak Siera.
"Siapa?" Suara seseorang mengalihkan perhatian Siera dan wanita paruh baya itu. Siera dapat melihat seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengannya sedang berjalan dengan wajah angkuh.
'Apa dia yang dimaksud ibu ini?' batin Siera.
"Ini Non, Mbak ini katanya mencari yang namanya Cara. Saya tidak tahu siapa yang dimaksud," papar wanita paruh baya.
Siera menangkap raut terkejut di wajah gadis yang sedang menatapnya dengan wajah penuh selidik. "Kau siapanya Cara?" tanya Jesy angkuh.
'Angkuh sekali,' Siera membatin kesal.
"Saya temannya, dari kemarin saya tidak bisa menghubunginya. Hari ini dia juga tidak berkuliah, apa Anda tahu di mana dia? Masalahnya setahu saya rumahnya di sini," terang Siera.
"Ternyata gembel itu punya teman juga," sinis Jesy.
"Apa maksudmu? Kau mengatai teman saya gembel?" protes Siera tajam.
Selama ini Siera tidak pernah terima jika ada orang yang mengatai atau mengolok Cara, gadis itu akan begitu marah. Jesy sempat terkejut melihat respon dari Siera, namun setelahnya Jesy tertawa mengejek. "Kau membelanya? Tidak sadarkah kalau orang yang kau sebut teman itu sangatlah menjijikan. Saya lihat kau terlihat dari keluarga berada, kenapa kau mau berteman dengan gembel itu?" ejek Jesy.
Siera menggeram marah, gadis itu menatap tajam sarat akan permusuhan kepada Jesy. "Jaga mulut kau itu sialan," geram Siera.
Jesy melotot terkejut, setelahnya gadis itu membalas tatapan tajam dari Siera kepadanya. "Kau mengataiku? Kau ingin mati?" berang Jesy tidak terima.
"Kau yang terlebih dahulu mengatai teman saya gembel, di mata saya kau bahkan lebih menjijikkan dari kata gembel," tekan Siera.
"Kau!" Jesy berniat menampar Siera, tetapi dengan cepat Siera menahan tangan Jesy sehingga membuat Jesy semakin kesal tidak terima.
"Ada apa ini?" Suara Sasdia mengalihkan perhatian dua orang yang saling bersitegang itu.
Asisten rumah tangga Gerisam yang tadi menangkap ketegangan di antara Jesy dan Siera dengan segera memanggil Sasdia, sebab dia takut akan terjadi hal yang lebih heboh. "Perempuan gila ini datang mencari Cara, kemudian marah-marah tidak jelas." Jesy menunjuk Siera marah.
Sasdia menatap Siera intens, setelahnya wanita paruh baya itu bersuara. "Kau siapa?" tanya Sasdia.
"Saya temannya Cara, dan gadis kurang ajar ini mengatai teman saya gembel. Jelas saya tidak terima itu," desis Siera.
Jesy melotot tidak terima saat Siera kembali mengatainya. "Kau …."
"Sudah," potong Sasdia.
"Tapi dia mengataiku, Ma. Aku tidak terima," protes Jesy.
"Sudah Jes, dan kau … Cara sudah tidak tinggal di sini. Jadi kau silakan pergi dari sini," terang Sasdia.
Siera terkejut. "Terus dia di mana?" tanya Siera.
"Mana kami tahu, mungkin dia sudah mati," sela Jesy. Siera kembali menatap tajam Jesy yang sedang menatapnya sambil tersenyum miring.
"Kami tidak tahu, dia mantan pembantu kami. Kami memecatnya setelah dia membuat kesalahan fatal, jadi masalah dia di mana sekarang bukan urusan kami," balas Sasdia.
Siera kembali dibuat terkejut. "Pembantu?" gumam Siera.
"Iya, dia hanya seorang pembantu rendahan. Kau saja yang bodoh mau berteman dengannya, apa lagi sampai membelanya seperti ini," sinis Jesy.
Siera menatap datar Jesy. "Apa salahnya dengan pembantu? Dia bekerja halal."
Jesy mendesis kesal, dia merasa tidak terima saat mengetahui Cara memilik teman. Bahkan temannya sampai membelanya seperti itu. "Terima kasih, saya permisi." Siera membalikkan badan kemudian berjalan menuju mobilnya.
'Kamu di mana Cara?' batin Siera sendu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
yha_th3
baca kesini ulang..krna pas baca arkana, lupa buyut2 nya siapa aja..hehehe mangaaat kak liaa
2025-01-12
0
ariyanto kanto
baru baca dan saya bingung dengan nama namanya
penasaran gara gara si alkanna eh pas baca cerita emaknya namanya beda semua bingunh
2024-09-23
0
kutu kupret🐭🖤🐭
cuiiiiiihhh anjiiiiiiiiiing ☠️
2024-02-20
0