Satu bulan kehamilan Dea, wanita itu terus menguatkan hati menerima sikap kasar dari Torih dan Sasdia. "Mas, aku pusing." Sasdia mendekat ke arah Torih sambil memegang kepalanya.
"Kenapa? Ayo kita ke dokter." Torih dengan cepat meraih tangan Sasdia.
"Aku ingin dokternya yang ke sini," balas Sasdia.
"Ah … baiklah! Aku akan menelepon dokter Jeje dulu." Torih mengambil ponselnya yang berada di atas meja.
.
.
.
"Bagaimana dengan istriku Dokter, apa ada yang serius?" tanya Torih cemas.
Dokter Jeje tersenyum kecil mendengar pertanyaan dari Torih. "Tidak apa-apa, Tuan Gerisam tidak perlu khawatir. Hal ini biasa bagi perempuan yang sedang hamil muda." Dokter Jeje tersenyum ramah.
Sedangkan Torih dan Sasdia terdiam mendengar penjelasan dari dokter Jeje, begitu pula dengan Dea yang berada tak jauh dari sana. "Ma-maksud Dokter?" Torih bertanya dengan wajah bingung menatap dokter Jeje.
"Istri anda sedang hamil Tuan Gerisam, sepertinya masih sangat baru. Jadi saya sarankan kalian nanti berkonsultasi secara langsung kepada dokter kandungan supaya lebih rinci lagi." Dokter Jeje menjelaskan sambil tersenyum ramah.
Torih dan Sasdia masih terdiam dengan wajah terkejut seakan tidak percaya. "Sa-saya hamil Dokter?" Sasdia kembali bertanya seakan ingin memastikan lagi. Dokter Jeje kembali tersenyum setelahnya dia mengangguk singkat.
"Mas, akhirnya aku hamil!" Sasdia memeluk suaminya yang masih terdiam dengan wajah terkejut.
"I-iya Sayang … terima kasih Dokter." Torih membalas pelukan istrinya kemudian menoleh ke arah dokter Jeje dengan raut bahagia.
Sedangkan Dea terdiam kaku di tempatnya menyaksikan pelukan bahagia yang penuh haru sepasang suami istri di depannya. Dea memegang perut ratanya, merasa kasihan dengan calon anaknya yang masih berada di dalam perutnya itu. Sampai saat ini Torih bahkan tidak pernah menyapa atau pun melakukan hal lainnya untuk calon buah hati mereka.
.
.
.
"Ada apa?" tanya Dea datar.
Dea saat ini berhadapan dengan Torih dan Sasdia yang beberapa menit yang lalu memanggil dirinya. "Karena istriku sudah hamil, jadi kau boleh pergi sekarang," tutur Torih tanpa perasaan.
Dea terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Torih. Dia sudah menebak mereka akan segera mengusirnya dari sana. Dea tertawa miris mengingat nasib sialnya yang akan terus berlanjut. "Aku tidak akan pergi," sahut Dea.
Torih dan Sasdia terkejut mendengar jawaban dari Dea. "Apa maksudmu, bukankah kau sudah ingin pergi dari sini? Maka pergilah secepat dan sejauh mungkin," desis Torih.
"Aku akan tetap di sini untuk anakku." Dea berucap sambil menatap mereka datar.
"Aku tidak menerimamu di sini, ini rumahku dan aku berhak untuk mengusirmu. Aku juga akan segera menceraikanmu!" bentak Torih.
Dea tertawa sinis mendengar kalimat Torih sehingga membuat Torih dan Sasdia menatap heran ke arah Dea. "Kau sebenarnya tidak perlu menceraikan aku … karena sebenarnya kita bahkan sudah lama bercerai!" seru Dea.
Torih dan Sasdia mengernyit bingung semakin tidak mengerti maksud dari wanita itu. "Secara agama, kata-kata kasar yang kau lontarkan selama ini kepadaku sudah membuat kita bercerai tuan Gerisam. Untungnya kita memang tidak pernah satu ranjang, sehingga kita tidak termasuk melakukan zina." lanjut Dea.
Torih dan Sasdia terdiam membenarkan perkataan Dea, beberapa detik kemudian Torih tertawa mengejek ke arah Dea. "Satu ranjang? Cuih … kalau bukan karena ulah istriku yang membuat aku tidak sadarkan diri waktu itu … aku tidak akan pernah mau satu ranjang denganmu bahkan tidak ingin membuatmu hamil seperti itu. Jika dalam keadaan sadar aku mendekatimu mungkin aku sudah muntah, melihatmu saja sudah membuat aku mual apalagi jika aku menyentuhmu. Gembel!" sarkas Torih.
Sasdia tertawa mendengar kalimat yang dilontarkan oleh suaminya, kemudian menatap remeh ke arah Dea. Sedangkan Dea sudah mengepalkan tangannya mencoba menahan semua gejolak kemarahan atas hinaan yang selalu didapatnya. "Kau masih ingin bertahan dengan semua ini? Ya sudah, biarkan saja Mas, aku jadi ada bahan untuk dipermainkan." Sasdia menatap Dea dengan senyum miringnya.
"Tapi aku selalu ingin marah jika melihat wajahnya Sasa, dia juga membuat aku mual." Protes Torih sambil menatap Sasdia.
"Aku akan sangat bosan kalau tidak ada mainan Mas," sahut Sasdia.
Torih menghela nafas kasar mendengar jawaban istrinya, kemudian laki-laki itu menatap tajam ke arah Dea yang masih terdiam. "Kau boleh tetap di sini, tetapi jangan sampai aku melihat wajah jelekmu itu. Aku jijik," hina Torih.
Dea menekan dadanya mencoba untuk bersabar, kemudian wanita itu mengangguk singkat menyanggupi perkataan Torih. Niat awal Dea yang ingin pergi dari rumah itu menghilang saat satu bulan yang lalu dia berada di sana. Dea memikirkan calon anaknya nanti, jika dia pergi dari rumah Torih maka anaknya akan lahir sebagai anak tanpa seorang ayah.
Dea memikirkan itu semua, hal itu pasti akan membuat anaknya nanti bersedih dan bertanya-tanya siapa ayahnya. Sebab itu Dea menguatkan hati untuk tetap di sana supaya saat anaknya lahir ke dunia nanti, dia mengetahui siapa ayahnya. Tetapi sepertinya pilihan Dea untuk tetap tinggal di sana adalah kesalahan besar. Bahkan saat anaknya lahir, Torih tidak mengizinkan Dea memberi nama putrinya menggunakan nama belakang Torih.
Sehingga pada akhirnya Dea memberi nama putrinya tanpa menggunakan marga ayahnya. "Selamat datang putri bunda … Lavia Cara."
...*****...
"Cepat kau pergi dari hadapanku sebelum kau habis di tanganku!" bentak Torih. Dengan tergesa Cara berdiri dengan air mata yang sudah merembes dari pelupuk matanya. Gadis itu berlari dari hadapan sang ayah yang menatapnya dengan penuh kemarahan.
Brak …
Cara menangis tersedu-sedu di dalam kamar kecil miliknya. Kamar yang ditempatinya merupakan kamar pembantu keluarga Gerisam, akan tetapi sedari kedatangan Dea di kediaman Gerisam kamar itu dihuni oleh Dea yang sekarang beralih kepada Cara. "Bunda … Cara lelah, Cara ingin bertemu bunda." Cara berucap lirih sambil tersedu dengan air mata yang terus berjatuhan.
Hal seperti ini hampir setiap hari terjadi kepada Cara, di mana Torih akan memarahinya dengan kata-kata kasar dan tidak jarang pula ayahnya itu bermain fisik kepadanya. Cara akan melepaskan semua perasaan tertekan dan perasaan sedih miliknya di dalam kamar itu, dengan memanggil nama bundanya yang seakan ikut berada di sana.
"Enam tahun kepergian bunda, tapi aku sudah merasa berpuluh tahun. Aku tidak kuat, aku ingin bertemu bunda." Cara bersuara dengan isak tangis yang terdengar begitu pilu. Sayangnya tidak ada seorang pun yang akan mendengar dan akan bersimpati dengan penderitaan yang dialaminnya.
Suara tangis Cara terhenti saat mendengar alarm dari jam kecil miliknya. Gadis itu menatap jam kecil itu kemudian menghela nafas panjang. "Aku harus siap-siap," gumam Cara.
Dia akan segera bersiap untuk bergerak ke tempat kerjanya. Selama hidupnya Cara tidak pernah mendapatkan uang dari Torih, bahkan untuk makan pun dia harus berusaha sendiri. Sama halnya dengan penderitaan Dea, setelah kelahiran Cara semua kebutuhan ditanggung oleh Dea. Mereka hanya diizinkan tidur di rumah itu tanpa boleh ikut makan atau pun minum. Padahal mereka di suruh untuk membersihkan rumah Gerisam seperti seorang pembantu.
Tetapi mereka seakan menjadi pembantu tanpa dibayar, Torih dan Sasdia berkata kalau apa yang mereka lakukan di rumah itu adalah untuk biaya sewa selama mereka tinggal di sana. Sampai kelulusan Cara dari sekolah dasar, Dea selalu bekerja keras untuk membiayai kebutuhan putrinya itu. Namun tepat saat Cara memasuki SMP, Dea mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan nyawa. Mulai dari sana lah, Cara yang saat itu berumur 13 tahun harus mencari kerja untuk membiayai hidupnya sendiri.
...*****...
"Semuanya sudah siap?" tanya seorang laki-laki berwajah datar.
"Sudah, mereka sudah menyiapkan semua yang kita minta," sahut seorang laki-laki lagi.
"Bagus," balas laki-laki datar.
"Geo." Suara seseorang mengalihkan perhatian dua laki-laki yang berada di dalam ruangan itu. Mereka dapat melihat kedatangan seorang laki-laki yang juga berwajah datar.
"Huh … aku merasa sedang berada di kutub utara," keluh Alex. Alex Rowin adalah laki-laki manis nan hangat dan bisa dikatakan sebagai manusia normal yang berada di antara dua laki-laki kutub di dalam ruangan itu.
"Pengkhianat," tutur Fare datar. Farel Jhons biasa dipanggil Farel, laki-laki tampan namun datar dan irit bicara.
"Di mana?" tanya Geo. Geo Vetro adalah laki-laki tampan dengan segudang pesona yang mampu membuat para wanita hilang kesadaran saat melihat wajah tampan miliknya. Namun, sayangnya Geo sangatlah dingin, datar dan tak tersentuh bahkan melebihi Farel yang merupakan sepupunya. Mata Geo sangat tajam seakan mampu menusuk segala hal yang ditatapnya.
"Aku sudah menangkapnya," balas Farel.
"Dendrion, anggota bagian barat yang sempat kau ciduk aksi korupsinya itu?" tanya Juan.
"Iya," sahut Farel. Alex mengangguk mengerti, dia sudah menebak ini semua akan terjadi.
"Ingin bermain?" Geo berdesis sambil senyum miring yang terlihat begitu menakutkan. Geo berdiri dari duduknya kemudian pergi diikuti dua laki-laki di belakangnya. Tujuan mereka saat ini adalah ruangan penyekapan Death.
Death adalah nama dari salah satu kumpulan mafia terkejam di negara Indonesia. Death berasal dari bahasa Inggris yang berarti kematian dan Geo merupakan pemimpin dari Death. Geo adalah laki-laki kejam yang terkenal tidak memiliki hati karena dengan tanpa ampun memberi hukuman kepada parasit dalam hidupnya, baik itu musuh atau pun pengkhianat.
Sifat iblis laki-laki itu memang sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang seperti malaikat. Sedangkan dua laki-laki di belakang Geo juga merupakan anggota penting di Death. Alex yang merupakan sahabat Geo menjabat sebagai wakil pemimpin Death, sedangkan Farel yang merupakan sepupu Geo menjabat sebagai sang ahli IT Death.
...*****...
Bruk …
Suara benda jatuh begitu keras terdengar di kediaman Gerisam. Setelahnya suara tawa nyaring mengisi kesunyian kediaman itu. "Kau benar-benar seperti sampah." Jesy menatap remeh Cara.
Cara sudah meringis karena merasakan nyeri disekujur tubuhnya, bunyi dentuman keras benda jatuh tadi berasal dari tubuhnya. Cara yang sedang berjalan sedikit terburu-buru tidak melihat keberadaan Jesy sehingga harus berakhir di lantai keras itu karena Jesy dengan sengaja menjulurkan kakinya guna menyandung Cara.
Sebenarnya hal itu sudah sangat sering dilakukan oleh Jesy kepada Cara, akan tetapi karena Cara tidak melihat keberadaan Jesy sehingga membuatnya tidak bisa mengelak. "Ck … membosankan." Jesy berdiri dari duduknya dan bergerak untuk pergi dari sana.
Tetapi sebelum benar-benar pergi Jesy masih menyempatkan diri untuk menginjak kaki Cara yang masih terjulur. "Arghh …," erang Cara merasakan sakit.
"Kaki jelekmu itu menghambat jalanku." Jesy berucap santai sambil berlalu dari sana.
Cara mengusap kakinya sambil terus meringis, sebenarnya ini belum seberapa perlakuan yang diterimanya dari tiga manusia penghuni rumah ini. Dia bahkan pernah mendapatkan hal yang lebih parah dari Torih, ayah kandungnya sendiri. Dengan perlahan Cara berdiri dari duduknya mencoba manahan sakit di sekujur tubuhnya. "Aku bisa terlambat." Cara mencoba berlari sambil menahan rasa sakit ditubuhnya.
.
.
.
"Kemana saja kau, kenapa baru sampai? Lihatlah pelanggan sedang sangat ramai, cepat bersiap!" bentak seorang laki-laki yang merupakan manager kafe di tempat Cara bekerja.
Laki-laki itu mendorong tubuh Cara sehingga membuat gadis itu terhuyung. "Pulang nanti temui aku, jangan kau kira kau bisa datang seenaknya," tutur manager itu saat melihat Cara akan bergerak ke ruangan ganti pelayan.
"Ma-maaf," cicit Cara.
"Cepatlah sialan!" umpat manager. Dengan gerakan cepat Cara bergerak keruangan ganti, meski seluruh badannya terasa sangat sakit gadis itu tetap akan bekerja, jika tidak bekerja maka dia tidak akan mendapatkan uang untuk makan atau pun untuk mencukupi kebutuhan lainnya.
"Ck … aku muak sekali harus satu shift dengan gadis culun itu," kesal seorang pelayan.
"Benar, sayang sekali dengan namanya. Nama bagus begitu malah bertolak belakang dengan wajah orangnya yang sungguh miris."
Sekumpulan pelayan itu tertawa mendengar penuturan dari salah satu temannya. "Iya, aku rasa ibunya pasti menyesal melahirkan anak seperti itu. Tidak berguna sekali."
"Entah apa yang bisa dibanggakan dari dirinya, wajah kucel dan body rata begitu. Siapa yang akan tertarik kepadanya?"
"Lihatlah, wajah kusam dan kucel yang menjijikkan itu. Apa lagi kaca matanya yang membuat aku ingin muntah," sarkas seorang pelayan lagi.
"Sebab itu aku selalu menyuruhnya pergi kalau aku ingin makan, makananku tidak tertelan kalau melihat wajahnya yang menjijikkan itu."
"Aku juga, malas sekali melihat wajah menyeramkannya itu."
"Mau bagaimana lagi, tapi kan ada bagusnya juga. Dia bisa kita perbudak."
"Iya, lagi pula pak Vizi mempertahankan dia hanya karena dia rajin. Kalau bukan karena itu mana mungkin anak seperti dia bisa bekerja sebagai pelayan di kafe ternama seperti ini."
"Iya juga, wajahnya jelas tidak layak dipertontonkan kepada pengunjung. Yang ada kafe ini tutup karena pengunjung tidak ada yang bisa menelan makanannya setelah melihat wajah menyeramkannya itu."
"Benar, apa lagi dengan tubuh yang super kurus itu. Hah … siapa yang akan tergoda?"
Sekumpulan pelayan itu kembali tertawa merasa begitu senang mengolok wajah dan kehidupan Cara. Semua rekan kerja Cara sama sekali tidak menyukai keberadaan gadis itu. Namun, mereka memanfaatkan sifat penurut Cara sehingga tidak jarang Cara mengerjakan semua pekerjaan sendiri. Cara memang gadis yang rajin, itu adalah satu-satunya hal yang membuat pemilik kafe tempatnya bekerja tetap mempertahankan keberadaan Cara di sana. Sebab jika menilai dari segi wajah dan fisik, jelas saja Cara tidak akan diterima.
Sedangkan Cara yang sedari tadi mendengar percakapan sekumpulan teman kerjanya itu sudah menunduk sedih, hal seperti ini memang selalu dia dapatkannya sedari kecil. Jadi sebenarnya itu bukanlah hal baru baginya, namun tetap saja setiap mendengar ujaran kebencian dan pandangan jijik orang lain untuk dirinya membuat Cara semakin begitu terpuruk ke dasar bumi yang terdalam sehingga tidak pernah sanggup untuk bangkit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Ryuto
namanya beda ya bun
2024-04-10
0
kutu kupret🐭🖤🐭
bego di peliara pergi lah dari rumah luknutjul anjiiiiiiiiiing itu🖕🖕🖕💣
2023-05-05
1
Jalitong Jalitong
thor,,klau mencritakn masa lalu,,kasih flesbeck,,,biar yg baca itu paham
2023-02-04
2