"Ganti, saya tidak suka stroberi." Cara hanya melirik singkat nampan yang baru saja di letakkan Jesy di atas meja kerjanya. Gadis itu tetap melanjutkan kerjanya di laptop tanpa terganggu.
Sedangkan napas Jesy sudah memburu sebab berusaha menahan emosi. 'Wanita brengsek,' batin Jesy marah.
Cara menoleh ke arah Jesy yang masih diam tidak bergerak. "Kenapa masih diam? Saya rasa telingamu masih berfungsi dengan baik. Apa perlu saya atur jadwalmu dengan dokter THT?" sindir Cara santai.
Jesy menghela napas dalam mencoba mengontrol emosinya. "Maaf Nona," ucap Jesy.
"Cepat ganti, tenggorokan saya sudah kering," tutur Cara lagi.
Jesy mengambil nampan yang berada di atas meja kerja Cara dengan perasaan dongkol. "Nona ingin apa?" tanya Jesy. Dia tidak ingin mengulang untuk kesekian kalinya hanya karena sebuah minuman.
Cara kembali menoleh saat mendengar pertanyaan Jesy. "Bukankah kemarin saya sudah memberikanmu dokumen? Apa kau tidak membaca itu? Di dalam dokumen itu sudah tertulis secara rinci semua hal tentang saya, mulai dari hal yang saya suka dan hal yang tidak saya suka. Begitu pula dengan hal yang membuat saya alergi. Saya sengaja memberikannya kemarin supaya kau bisa tahu semua tentang saya, jadi kau tidak kesulitan di saat melayani saya. Kau mengabaikan hal ini, apa kau sedang menganggap saya remeh?" ucap Cara datar.
Jesy diam, memang dokumen yang diberikan Cara kepadanya kemarin tidak dibacanya. Sebab saat melihat judul dokumen tentang Cara membuatnya muak dan tidak ingin tahu. "Maaf Nona, saya tidak bisa mengingat semuanya secara cepat," kilah Jesy.
Cara tersenyum miring. "Saya lupa kalau kapasitas otakmu ternyata tidak seberapa. Saya minta maaf karena baru saja menilaimu seakan sama dengan otak saya yang jelas tidak sebanding dengan otakmu," ucap Cara santai.
Jesy mengepalkan tangannya kuat, napasnya kembali berat isyarat akan kemarahan. "Baiklah, tidak masalah. Tapi … kau bisa terus membawanya kemana-mana bukan? Jadi silakan kau lihat dokumen itu, saya tidak menuntutmu ingat dalam waktu dekat ini. Bahkan saya tidak yakin kau akan mengingatnya selama bekerja di sini. Jadi silakan kau baca saja langsung dokumennya," sambung Cara.
Jesy diam beberapa saat. "Saya meninggalkan dokumen itu di kamar saya Nona," terang Jesy.
"Kau sungguh ceroboh ya? Baiklah, kali ini mood saya sedang baik. Kau minta dokumen baru kepada Ratna," titah Cara.
"Baik Nona, saya permisi." Jesy berbalik sambil membawa nampan di tangannya. "Lihat saja, aku akan mengerjaimu." Jesy bergumam sambil tersenyum licik.
...*****...
"Mas, tidakkah kamu cemas dengan keadaan putri kita?" tutur Sasdia khawatir.
"Apa yang akan dikhawatirkan? Dia bekerja di perusahaan ternama, bukankah itu membanggakan?" Torih menyahut santai sambil terus menonton film di layar TV ruangan tamu.
"Membanggakan katamu? Dia diperbudak oleh anak gembel itu Mas, kenapa kamu malah santai seperti ini?" protes Sasdia.
"Ck … tidak bisakah kau diam? Aku ingin menenangkan otakku yang hampir pecah selama tiga bulan ini." Torih berdecak sambil menatap tajam Sasdia.
"Aku khawatir dengan anak kita Mas, bagaimana kalau anak gembel itu memperlakukannya semena-mena?" tutur Sasdia.
"Jaga bicaramu Sasa, jangan berbicara seperti itu tentang Cara. Dia adalah orang yang menopang kehidupan kita saat ini. Kau ingin dia menarik bantuannya, hah?" geram Torih.
"Tapi tetap saja dia yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Kamu berubah juga karena ulahnya," papar Sasdia.
"Diamlah, aku ingin santai untuk hari ini. Jangan membuat aku muak berada di sini," desis Torih.
"Kau santai di sini sedangkan kau tidak tahu kalau anakmu sedang apa sekarang. Jesy selama ini tidak pernah melakukan pekerjaan apa pun Mas, dia pasti akan kesulitan dan kelelahan. Kamu seharusnya …."
"Diam!" Torih berteriak memotong kalimat Sasdia sambil berdiri dan menatap tajam istrinya itu. Sedangkan Sasdia sudah terlonjak karena bentakan dari Torih.
"Aku ingin mendinginkan otak yang sudah mendidih selama tiga bulan ini. Tapi kau malah membuatnya kembali mendidih, tidak bisakah kau diam melihat aku santai sebentar saja, hah? Kau tidak tahu bagaiamana gilanya aku selama tiga bulan ini mempertahankan perusahaan, bangsat!" Torih pergi dari sana setelah memaki Sasdia yang sudah terdiam dengan tubuh bergetar.
"Kamu berubah Mas, ke mana suamiku yang dulunya hangat?" Sasdia terisak mengingat keharmonis keluarga mereka dulu. Sebelum kedatangan Cara menghancurkan semua itu, tepat tiga bulan yang lalu semuanya hancur dan hilang.
...*****...
"Ini Nona." Jesy meletakkan sebuah cangkir di atas meja kerja Cara dengan senyum licik terukir tipis di wajah cantiknya.
Cara menoleh, setelahnya gadis itu menatap Jesy sekilas. "Baiklah, terima kasih." Cara kembali menatap laptop melanjutkan kesibukannya.
Jesy menatap kesal. 'Kenapa belum diminum?' batin Jesy. "Bukankah tadi Anda mengatakan kalau tenggorokan Anda sudah kering Nona? Mungkin Anda perlu minum terlebih dahulu," ucap Jesy kepada Cara.
Cara tersenyum miring. 'Ternyata kau memang bodoh sekali Jesy, apa dia tidak berpikir aku akan curiga jika dia berucap seakan perhatian kepadaku?' batin Cara remeh.
Cara mendongak sambil tersenyum kepada Jesy. "Terima kasih, ternyata kau perhatian juga ya. Saya cukup tersanjung, karena kau sudah membuat mood saya semakin bagus hari ini. Saya akan memberimu hadiah, tunggu sebentar." Cara meraih telepon kantor di atas meja kerjanya menghiraukan raut bingung dari wajah Jesy.
"Ratna, tolong siapkan makan siang khusus untuk Nona Gerisam. Dia akan segera ke sana," ucap Cara.
Jesy melotot tidak percaya kepada Cyra. 'Mudah sekali membohonginya, najis sekali aku memberi perhatian untukmu,' batin Jesy mengejek.
"Silakan temui Ratna di luar." Cara bersuara sambil menatap Jesy.
"Terima kasih Nona, padahal itu hanya sebuah perhatian kecil," ucap Jesy.
"Tidak apa-apa, saya jarang mendapatkan perhatian seperti itu. Jadi … saya sangat menghargainya," ucap Cara.
"Kalau begitu saya permisi Nona," pamit Jesy.
"Baiklah, makanlah yang banyak," balas Cara.
Cara tersenyum miring melihat kepergian Jesy. "Astaga, aku tidak menyangka ternyata adik tiriku itu lebih bodoh dari dugaanku. Jesy, jesy." Cara menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Sudahlah, lebih baik aku menemui Kak Ge sebelum dia yang datang ke sini." Cara menutup laptopnya dan bersiap menuju ruangan Geo.
...*****...
"Di kantin karyawan biasa?" tanya Jesy sinis.
"Iya, di mana lagi?" sahut Ratna.
"Aku mendapat hadiah spesial dari Nona Cara, seharusnya bukan di tempat rendahan ini," ujar Jesy angkuh.
Ratna menatap Jesy dengan pandangan tidak suka. 'Tidak sadarkah kalau dia hanya seorang pelayan? Pantas saja Nona Cara ingin mengerjainya,' batin Ratna sinis.
"Kamu hanya karyawan biasa di sini, Nona Cara hanya mengatakan hidangan spesial. Jadi kamu terima saja," terang Ratna.
Jesy mendengus kesal. "Seharusnya dia memesan tempat di kantin petinggi," ujar Jesy kesal.
Ratna memutar bola matanya malas. "Kau ingin direndahkan di sana? Kau tidak tahu bagaimana angkuhnya para petinggi VT Group ya? Dengan status pelayanmu itu kau hanya akan menjadi bulan-bulanan mereka," jelas Ratna.
Jesy menatap tajam ke arah Ratna. "Aku adalah keturunan Gerisam Group, bukan pelayan. Aku di sini hanya untuk memenuhi sebuah perjanjian dengan Nona Cara, setelah itu aku akan bebas," geram Jesy tidak terima disebut pelayan.
Ratna terkekeh kecil. "Sudah menjadi rahasia umum kalau Gerisam Group sedang berada diambang kebangkrutan. Itu pun sekarang dibantu oleh Nona Cara, maka jika mereka tahu kau keturunan Gerisam Group, itu malah akan menambah bahan buli mereka untukmu," papar Ratna santai.
Jesy terdiam, apa yang dikatakan oleh Ratna ada benarnya. Gadis itu memilih diam dengan perasaan dongkol. 'Tidak atasan, tidak bawahan mereka sama saja. Menyebalkan.' Jesy membatin sambil melirik sinis Ratna yang berjalan di sampingnya.
"Silakan kau ambil makanan yang di sana, aku ada urusan sebentar." Ratna menunjuk ke arah ujung ruangan luas yang ramai itu, setelahnya wanita itu pergi begitu saja meninggalkan Jesy dengan wajah bingungnya.
"Ck … tidak bisakah dia mengantarku dulu ke sana?" gerutu Jesy kesal. Setelahnya gadis itu berjalan menuju sudut ruangan yang cukup jauh dari sana. Sebab kantin itu sangatlah luas, jelas saja karena karyawan VT Group tidaklah sedikit.
Jesy menatap satu meja yang berada di sudut ruangan itu dengan wajah mengernyit. 'Ini hidangan biasa, aku juga sudah sering memakannya. Cih, aku seharusnya tidak boleh terlalu percaya dengan selera wanita murahan itu. Jelas menurutnya ini sudah mewah karena dulu dia adalah gembel,' batin Jesy mengejek.
Namun, mata Jesy berbinar saat melihat hidangan di atas meja yang satu lagi. 'Astaga, ini bukannya makanan dari luar negeri yang masih dipromosikan itu ya? Sudah tiga bulan ini aku tidak makan keluar bersama Papa dan Mama, jadi aku belum pernah mencoba makanan yang sedang viral ini. Mungkin ini yang dimaksud Cara makanan mewah untukku itu,' batin Jesy senang.
Jesy mulai mengambil satu piring yang berada di atas meja itu dan berniat melahapnya. Namun, gerakannya terhenti saat kedatangan dua orang wanita yang menatapnya dengan wajah bingung. "Hei, kau yakin ingin memakan ini?" tanya salah satu dari mereka.
Jesy menoleh, gadis itu dapat melihat seluruh pasang mata sedang menatap ke arahnya. "Tentu saja, memangnya kenapa?" balas Jesy angkuh.
"Tidak, kami hanya bertanya. Kami takut mungkin kamu sedang tidak enak badan." Seorang wanita lagi bersuara membuat yang lainnya tertawa.
Jesy menatap tajam mereka. "Apa maksudmu, hah? Apa kalian cemburu karena tidak dapat memakan bahkan sekedar menyentuh makanan ini? Jelas saja sebab makanan ini khusus untukku." Jesy tersenyum miring ke arah para karyawan itu.
"Kau yakin?" sahut seorang karyawan mengejek.
"Ini semua hidangan dari Cara untukku, kalian yang hanya karyawan rendahan jelas tidak akan bisa menikmati ini. Sudahlah, pergi saja kalian tidak usah menggangguku," usir Jesy angkuh.
"Huh … sudahlah, biarkan saja dia. Kita berbaik hati ke sini tapi responnya malah seperti ini. Mungkin dia memang sedang sakit," papar seorang wanita. Kalimat itu membuat karyawan lainnya kembali tertawa.
"Apa kau bilang? Jangan sembarangan kau bangsat, aku tahu kalian ke sini karena ingin mencari perhatianku supaya aku bersedia membagi makanan ini dengan kalian bukan?" tuduh Jesy sinis.
"What? Kami masih waras Nona, jadi silakan kau habiskan saja semuanya." Seorang perempuan menjawab sambil menatap Jesy tidak suka.
"Sudahlah, biarkan saja. Sepertinya dia memang tidak waras." Seorang wanita mengajak temannya untuk kembali ke meja yang berada di dekat sana.
Sedangkan Jesy sudah melotot marah saat menereka mengatainya tidak waras. "Kalian yang tidak waras, bilang saja kalau kalian iri melihatku bisa memakan hidangan mewah ini," cibir Jesy.
"Ya, ya … terserah Anda. Silakan dimakan, kami tidak akan mengganggu," sahut seorang karyawan.
Jesy mendengus kesal, tetapi setelahnya gadis itu kembali mengangkat makanan yang berada di dalam piring itu. Jesy melahap makanan itu kemudian mulai mengunyahnya. Namun, baru kunyahan pertama mata Jesy melotot dengan wajah memerah. Setelahnya gadis itu memuntahkan isi mulutnya.
Huwekk …. Suara muntahan Jesy menarik perhatian seluruh penghuni kantin. Bukannya membantu, para karyawan itu malah menertawakan Jesy tanpa merasa iba. Wajah Jesy sudah memerah, perutnya masih terasa begitu mual.
Huwek …. Kali ini Jesy bukan hanya memuntahkan isi mulutnya, tetapi dia juga memuntahkan isi perutnya. Para karyawan lainnya masih tertawa, bahkan ada di antara mereka yang sudah mengeluarkan air mata sebab terlalu semangat menertawai Jesy.
"Ada apa ini?" Suara Ratna mengalihkan perhatian para karyawan.
"Ini Bu Ratna, Nona ini keras ingin memakan pajangan perusahaan. Padahal kami sudah mengingatkannya, tetapi dia malah mengatai kami. Akhirnya begini," jelas seorang wanita.
Ratna menatap Jesy dengan wajah meringis. 'Ternyata dugaan Nona Cara benar, Jesy ini tidak mau mendengarkan perkataan orang lain. Benar-benar sombong,' batin Ratna tidak habis pikir.
"Kau memakan ini?" tanya Ratna kepada Jesy.
"Bukankah memang ini hidangan khusus untukku dari Cara?" Jesy menjawab dengan tubuh lemahnya setelah memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Astaga, apa kau tidak bisa membaca ini? Ini adalah salah satu hasil proyek perusahaan Jesy, kau lupa kalau BT Corp bergerak di bidang properti? Ini salah satu karya baru, ini hanya ornamen makanan yang terbuat dari lilin dan juga sabun," jelas Ratna.
Jesy melotot, setelahnya gadis itu menatap meja itu kembali. Jesy meringis saat baru menangkap sebuah papan pemberitahuan di sana. 'Kenapa aku tidak melihatnya tadi? memalukan sekali,' batin Jesy malu.
"Lagi pula kenapa kau tidak mendengarkan mereka? Kau kan baru di sini, jadi seharusnya kau bertanya kepada yang sudah lama dan tahu hal tentang sekitar." Ratna menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sifat angkuh Jesy.
"Dia mengatakan kalau itu hidangan khusus dari Nona Cara untuknya," sela seorang karyawan.
"Dia pelayan baru Nona Cara, baru dua hari dengan ini. Dia mendapat hadiah dari Nona Cara, meja yang ini." Ratna menjelaskan sambil menunjuk satu meja di samping meja ornamen itu.
"Pelayan baru? Kenapa gayanya seperti itu, seakan seorang boss besar. Apa lagi tadi memanggil Nona Cara dengan nama saja." Seorang karyawan menatap sinis ke arah Jesy.
"Tahu, hanya pelayan tapi gaya sombong sekali. Jelas sekali kampungannya, masa tidak bisa membedakan makanan ornamen dengan makanan asli." Karyawan lain tertawa saat mendengar perkataan seorang wanita.
"Benar, kami malah berpikir kalau dia tadi tidak waras Bu Ratna. Kasihan sekali Nona Cara mendapatkan pelayan seperti dia," ejek sorang karyawan lagi. Jesy mengepalkan tangannya marah saat melihat dirinya menjadi bahan tertawaan seluruh karyawan VT Group.
'Mereka berani menertawakan aku?' batin Jesy marah.
"Sudahlah, Jesy ini hidangan yang disediakan oleh Nona Cara untukmu. Tolong suruh orang membersihkan ini." Ratna bersuara menatap Jesy, setelahnya wanita itu meminta tolong kepada salah satu karyawan.
"Baik Bu," balas karyawan itu.
...*****...
"Entah kenapa aku ingin pulang sekarang," ucap Cara.
Geo menatap gadis itu. "Kenapa, kamu sakit?" Geo menyentuh kening Cara guna mengukur suhu tubuhnya.
"Tidak, aku sedang malas saja rasanya," sahut Cara.
"Bukankah kamu sudah mendapatkan mainan untuk di kantor?" papar Geo.
"Iya sih, mungkin aku hanya sedang ingin bersama Kak Ge saja." Cara memeluk tubuh Geo dari samping.
"Kalau begitu ayo pulang, kita di mansion saja," ajak Geo.
"Tidak usah, aku tahu pekerjaan Kak Ge masih banyak. Pekerjaanku juga lumayan," jawab Cara.
"Aku tidak apa-apa, kita bisa nengerjakannya nanti di mansion," papar Geo.
Cara mendongak. "Coba Kak He menunduk dulu," ucap Cara.
Geo patuh, laki-laki itu menunduk mengikuti perkataan gadisnya. Cup …. Ternyata Cara mencium bibir Geo membuat laki-laki itu tersenyum nakal. "Ayo pulang saja," ajak Geo lagi.
Cara tertawa. "Tidak usah, cukup itu saja." Cara kembali duduk tegak sambil tertawa kecil.
Namun, tiba-tiba saja rasa gemas gadis itu hadir saat melihat wajah tampan Geo yang selalu terlihat datar itu. Cara kembali menyambar bibir Geo, tetapi kali ini gadis itu tidak mencium lembut melainkan menggigit gemas bibir bawah kekasihnya. Sehingga membuat Geo hampir berteriak. "Shh … tingkat nakal kamu semakin bertambah ya." Geo menatap Cara sambil meringis, bibir bawahnya sedikit terluka ulah gadis cantik yang sekarang sedang berada dipelukannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Merlinda Ani Inda
dasar udik. bodoh juga ternyata
2023-06-15
0
Wahzu Try Yonce
next
2022-04-26
0
Harisa Humania
jejak😊
2022-03-29
0