"Kau sangat berani ternyata," desis Geo.
"Ma-maafkan saya Tuan, saya dijebak." Seorang laki-laki muda bersuara dengan badan bergetar ketakutan.
"Lalu kenapa kau minta maaf?" tanya Geo datar. Laki-laki muda itu terdiam tidak dapat menjawab, dia kehabisan alasan. Sebenarnya percuma jika dia mencari alasan, sebab Geo bukanlah laki-laki bodoh yang gampang dikibuli.
"Berani bermain di dalam perusahaan milikku, maka kau juga berani untuk bermain bersamaku," tekan Geo. "Kau ingin aku mengirimmu seperti apa?" sambung Geo.
"Me-mengirim ke mana, Tuan?" ucap laki-laki muda itu sudah berkeringat dingin.
"Apa lagi, ya mengirim ke nerakalah. Kau pikir ke mana? Ingin ke Paris untuk jalan-jalan?" ejek Alex. Laki-laki yang sedari tadi diam menyaksikan pertunjukan bersama Farel yang tetap sibuk dengan laptopnya dan juga Cara yang duduk diam karena tugasnya sudah selesai.
Napas laki-laki muda itu tercekat, perasaan buruk yang sedari tadi menghantui pikirannya terjawab sudah. Berurusan dengan Geo memang tidak akan pernah berakhir baik. Selama ini tidak ada satu orang pun yang berhasil selamat dari jeratan laki-laki sadis itu. Sedangkan Cara sudah mulai terbiasa dengan hal seperti ini. Geo sering kali mengajaknya memberantas pengkhianat atau pun musuh. Hal itu juga yang membuat karakter berani Cara semakin terbentuk.
"Jawab," desis Geo.
"To-tolong maafkan saya, Tuan." Laki-laki muda itu bersujud memohon pengampunan.
"Racun?" Laki-laki muda itu terkesiap mendengar penuturan singkat dari mulut Geo.
"Pisau?"
Glek …. Laki-laki muda itu menelan salivanya susah payah melihat wajah datar milik Geo. Perkataan laki-laki itu tidak pernah main-main, Geo akan melakukan apa yang dia katakan.
"Samurai?"
Deg …. Laki-laki muda itu melotot dengan keringat dingin sudah bercucuran dari tubuhnya. Ketakutannya bertambah saat Geo bergerak pelan ke arahnya. Bahkan Cara ikut tersentak saat Geo melontarkan kata samurai, hal itu sungguh mengerikan menurutnya.
Sungguh atmosfer yang diciptakan oleh Geo tidaklah main-main. Bahkan hanya dengan tatapannya saja mampu membuat orang lain terdiam tak mampu bersuara. "Atau kau suka linggis?" Geo berbisik tepat di telinga laki-laki muda itu.
Seketika bulu roma laki-laki muda itu meremang, aura Geo mampu menekan keberaniannya hingga titik terdalam. "Tetapi … sepertinya aku sudah lama tidak bermain silet," desis Geo santai.
Napas laki-laki muda itu memburu, merasa ketakutannya berada di puncak paling tinggi. Sekeras apa pun dia mencoba untuk membentuk keberaniannya, itu malah semakin menghadirkan ketakutan terbesar di dalam hatinya. Bahkan Cara ikut meringis membayangkan hal mengerikan yang akan segera dialami oleh laki-laki muda yang malang itu. Tatapan Geo bahkan mampu menusuk setiap potongan daging yang disodorkan. Geo memang sangat pandai membuat musuhnya tertekan oleh rasa takut, bahkan sebelum laki-laki itu menyentuh mereka.
...*****...
"Sa, aku ada kabar baik." Torih mendekat ke arah Sasdia yang sedang duduk santai di ruangan tamu.
"Apa, Mas?" tanya Sasdia penasaran.
"VT Group 'kan baru saja mengganti direktur utama, aku dapat undangan makan malam dari dia," ujar Torih senang.
"Benarkah?" sahut Sasdia antusias.
"Benar, aku tidak sabar. Semoga saja kita bisa mencuri perhatiannya, kalau kita mendapat dukungan darinya sudah dipastikan Gerisam Group semakin naik, dan hidup kita akan semakin jaya," tutur Torih mengkhayal.
Sasdia tersenyum dengan pandangan penuh binar. "Kalau begitu kita harus bersiap-siap, Mas. Kapan acaranya?" tanya Sasdia.
"Lusa," sahut Torih.
"Aku harus beli baju baru dengan Jesy, kita harus memperlihatkan keanggunan kepadanya, bukan?" Sasdia berbicara begitu semangat.
"Iya, pergilah … ini kartu kredit." Torih memberikan kartu kreditnya kepada Sasdia yang diterima dengan pandangan antusias oleh istrinya itu.
"Jesy … ayo kita shoping." Sasdia berteriak antusias memanggil putrinya.
"Ayoo!" Terdengar suara teriakan Jesy menyahut dari kejauhan.
...*****...
Cara menatap pantulan tubuhnya di cermin besar kamar miliknya. Malam yang dia tunggu telah tiba, gadis itu akan segera bertemu secara langsung dengan Torih, Sasdia dan juga Jesy. "Aku sudah tidak sabar ingin memberi kejutan kepada mereka, aku yakin wajah mereka pasti akan begitu lucu nantinya," gumam Cara tidak sabar.
.
.
.
"Ini tempatnya, Mas? Mewah sekali," tutur Sasdia.
"Iya, jelas saja dia kan direktur utama VT Group," sahut Torih senang.
"Kalau begitu kita harus bisa membuatnya puas, Mas. Supaya nanti dia bersedia membantu kita," tutur Sasdia antusias.
"Tentu, posisi direktur utama di VT Group, jauh di atas kita sebagai pemilik Gerisam Group," jelas Torih.
"Benarkah Pa?" tanya Jesy.
"Benar, Sayang. Kamu pasti tahu bagaimana berkuasanya VT Group di negara kita. Bahkan sudah mengalir ke negara lain," papar Torih.
Jesy tersenyum senang. "Kalau begitu kita bisa semakin kaya, Pa," ujar Jesy.
"Tentu, Sayang," balas Sasdia.
"Kalau begitu aku bisa semakin menyombong kepada teman-teman." Jesy tersenyum angkuh.
"Kamu bisa melakukan apa saja nantinya," sela Torih.
Jesy tersenyum miring. "Aku akan membuat Cara berlutut dihadapanku," ucap Jesy dengan tatapan kebencian.
"Kalau perlu buat dia menjilat kaki kita, Sayang. Berani sekali dia mempermalukan putri mama ini," tambah Sasdia.
"Siapa yang akan menjilat kaki kalian?" Suara seseorang mengejutkan tiga makhluk itu. Saat melihat siapa orangnya, Torih dan Jesy melotot terkejut. Berbeda dengan Sasdia yang sempat tertegun melihat kecantikan Cara.
"Kau!" Jesy berdiri dengan raut penuh amarah.
"Hai … oh iya, maaf aku terlambat." Cara duduk dengan santai di kursi utama ruangan itu.
Torih dan Jesy menatap terkejut ke arah gadis itu. "Apa yang kau lakukan? Pergi kau dari sini, aku tidak ingin kehilangan calon partner kerjaku lagi," bentak Torih.
"Ada apa ini sebenarnya, dia siapa?" tanya Sasdia dengan raut bingung.
"Oh maaf, ternyata aku belum menyapa Anda, Nyonya Gerisam. Senang bertemu kembali dengan Anda, ibu tiriku." Cara tersenyum sinis ke arah Sasdia yang sudah menganga tidak percaya.
"Mas …."
"Dia gembel itu, Ma. Gembel yang sekarang berubah menjadi wanita murahan," geram Jesy.
Cara tertawa sehingga membuat mereka terkejut, setelahnya Cara tersenyum miring. "Ya, aku Lavia Cara. Anak tirimu, Nyonya," ujar Cara santai.
"Tidak mungkin," balas Sasdia tidak percaya.
"Sudah, sekarang kau pergi dari sini. Aku tidak mengajakmu ke sini, kau bisa membuat semuanya kacau. Pergi sialan!" murka Torih.
Cara terkekeh sinis. "Kau memang tidak mengajakku ke sini, karena aku yang mengajak kalian ke sini," papar Cara santai.
"Apa maksudmu? Tidak usah banyak omong, pergi kau dari sini," usir Torih.
"Lebih baik kau pergi ke klub saja, cari mangsa yang bersedia untuk memenuhi kebutuhanmu. Wanita murahan." Jesy tersenyum sinis.
"Boleh, kau mau ikut denganku?" Cara menatap Jesy sambil tersenyum miring.
"Permisi." Suara seorang karyawan hotel menghentikan perdebatan itu.
"Maaf, Nona. Semua menu sudah kami siapkan. Apakah bisa kami sediakan sekarang?" tanya karyawan hotel itu sopan kepada Cara.
Hal itu tentu saja membuat Torih, Sasdia dan Jesy terkejut. "Hei … kenapa kau berbicara kepadanya? Di sini kami yang diundang," protes Sasdia.
"Maaf, Nyonya. Beliau adalah nona Lavia Cara," terang karyawan hotel itu.
"Kami juga tahu namanya," sinis Jesy.
"Beliau direktur utama VT Group yang baru," sambung karyawan hotel memberitahu.
"Apa?" Torih, Sasdia dan Jesy terkejut mendengar perkataan karyawan hotel itu.
"Tidak mungkin," sergah Torih tidak percaya.
"Tidak apa-apa, lima belas menit lagi kalian sediakan semuanya," sela Cara santai.
"Baik, Nona. Saya permisi," pamit karyawan hotel sopan.
"Kalian tidak ingin duduk?" tanya Cara santai.
"Apa maksud semua ini, kau mempermainkan kami?" Torih menatap tajam Cara.
Cara terkekeh, setelahnya gadis itu membalas tatapan tajam dari sang ayah. "Perlukah aku memberi bukti?" papar Cara.
Ting …. Suara notifikasi dari ponsel Torih mengalihkan perhatian mereka. "Silakan dicek dulu, Tuan Gerisam. Bukankah kalian menginginkan bukti?" Cara tersenyum manis ke arah Torih.
Torih mengambil ponselnya dengan gerakan ragu. Laki-laki itu membuka notifikasi yang berasal dari nomor resmi VT Group. Setelahnya laki-laki paruh baya itu melotot tidak percaya. Melihat ekpresi wajah Torih, membuat Sasdia dan Jesy ikut penasaran. Tidak kalah terkejut, Jesy dan Sasdia menganga sambil menatap Cara tidak percaya.
"Sudah percaya?" ejek Cara sinis.
"Bagaimana bisa?" ujar Torih masih merasa tidak percaya.
"Apakah kalian masih belum ingin duduk?" pungkas Cara santai.
Seakan terhipnotis, Torih, Sasdia dan Jesy duduk dengan gerakan kaku. Hal itu membuat Cara terkekeh sinis. "Sudah percaya dengan semua yang aku katakan?" Cara menatap tiga orang dihadapannya satu persatu.
"Aku kembali untuk kalian, seharusnya kalian merasa bangga, bukan? Aku kemarin sudah berbaik hati memberitahu kalian sebelum bergerak. Aku sudah memperingatkan kalian untuk bersiap-siap, sebab aku akan segera memulai permainan kita. Kalian pikir aku hanya sekedar omong kosong?" Cara tertawa remeh.
"Lebih baik kita membahas sesuatu untuk masa depan kalian, ayo kita mulai dari awal. Kamu boleh kembali ke rumah Cara," tutur Torih dengan suara dilembut-lembutkan.
Hal itu membuat Sasdia dan Jesy menatap protes ke arah Torih. Sedangkan Cara sudah tertawa sinis. "Terima kasih, tapi aku sudah tidak berminat. Aku sengaja ingin bertemu dengan kalian seperti ini, karena aku sudah sangat … merindukan kalian. Tidakkah kalian merindukanku? Menyuruhku melakukan apa saja seperti seorang pembantu, memperlakukan aku dengan kasar dan begitu kejam, tidakkah kalian rindu itu?" Cara menatap tajam Torih, Sasdia dan Jesy yang sudah terdiam kaku dihadapannya.
"Sepertinya kita tidak usah membahas kejadian yang sudah berlalu," sela Torih tidak tahu malu.
Cara mengepalkan tangannya menahan emosi. 'Semudah itu kau mengucapkan hal itu? Bahkan sampai bundaku meninggal kau masih saja mengumpatinya, laki-laki brengsek,' batin Cara marah. Sekuat tenaga Cara menahan emosinya, gadis itu ingin bermain santai.
"Tetapi aku selalu mengingatnya, bagaimana dong? Jujur saja aku merindukan semua itu, sebab itu aku ingin kita melanjutkannya. Namun, kali ini permainan kita akan sedikit berbeda, di mana bukan aku yang akan menjadi pemeran tertindas. Tetapi … kalian." Cara menatap sinis Torih, Sasdia dan Jesy yang sudah melotot dengan senyum miringnya.
"Kau!" sela Torih.
Cara mengangkat tangan kirinya seakan tidak mengizinkan Torih bersuara. "Di sini hanya aku yang berhak berbicara, Tuan Gerisam. Kalian hanya perlu mendengar dan mengikuti semua perkataanku, itu pun kalau kalian masih ingin hidup tenang." Cara kembali tersenyum miring, senyum yang terlihat menakutkan bagi mereka.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, ada tiga orang laki-laki yang sedang memperhatikan pertunjukan Cara sedari tadi. "Benar-benar mirip sekali denganmu Ge, senyumnya itu." Alex menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya.
Sedangkan Geo sudah tersenyum puas melihat karakter buatannya di dalam diri Cara. 'Aku suka,' batin Geo.
.
.
.
"Sombong sekali kau!" bentak Jesy.
Torih menatap tajam ke arah Jesy. "Diam Jes," tegas Torih.
"Ta …." Jesy yang berniat membantah dihalangi oleh Sasdia, membuat Jesy mendengus kesal.
"Permainan kita belum dimulai, ini baru perkenalan. Tujuannya supaya kalian tidak terkejut, dan yang pasti supaya kalian bisa berhati-hati dan bersiap-siap," papar Cara lagi.
"Saya harap kalian bisa bekerja sama, Tuan Gerisam jelas tahu posisi saya di VT Group tidaklah main-main. Dengan satu tanda tangan dari saya, Gerisam Group bisa dengan mudah naik tingkat. Tetapi … hanya dengan satu tanda tangan saya pula, Gerisam Group bisa dengan mudah runtuh tak tersisa." Cara kembali tersenyum manis tetapi senyum itu mampu membuat Torih merinding dan kaku di tempat.
"Aku sudah memesankan kalian makanan, silakan ditunggu dan selamat menikmati. Maaf aku tidak bisa ikut makan bersama, karena seorang tuan tidak pantas untuk duduk bersama para gembelnya." Cara berdiri sambil menatap remeh Torih, Sasdia dan Jesy yang terkejut mendengar kalimat terakhir dari Cara. Tiga makhluk itu sudah mengepalkan tangan merasa tidak terima, tetapi mereka hanya bisa diam tidak berani menyahut.
"Oh iya, makanannya sudah saya bayar. Kalian hanya tinggal memakannya dengan lahap, saya baik bukan sebagai seorang tuan? Tidak seperti beberapa orang yang bahkan tidak pernah memberi gembelnya uang bahkan makanan." Setelahnya Cara berlalu begitu saja meninggalkan tiga manusia yang sempat terpaku oleh kalimat terakhir yang dilontarkan Cara. Jelas saja kalimat itu merupakan sindiran untuk mereka.
.
.
.
'Good girl,' batin Geo memuji aksi Cara. Entah kenapa melihat diri Cara dengan karakter baru, membuat Geo merasakan kejanggalan di dalam hatinya. Apalagi mereka yang setiap hari bertemu membuat Geo mulai terbiasa dengan kehadiran Cara.
...*****...
Mansion Vetro, 07.30 WIB
Cara berjalan santai menuju ruangan gym milik Geo. Pada jam ini gadis itu memang akan selalu mampir ke ruangan itu setidaknya lima belas menit. Sebab, semenjak tekadnya yang ingin berubah, gadis itu benar-benar konsisten dengan segalanya. Termasuk konsisten dalam menjaga bentuk tubuhnya.
"Astaga!" pekik Cara. Gadis itu terkejut saat melihat keberadaan Geo dengan dada telanjangnya. Geo terlihat sedang membersihkan keringat di tubuh atletisnya.
'Biasanya dia sudah selesai jam segini,' batin Cara gugup. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Namun, hal itu malah semakin membuat Cara terbayang lekuk tubuh Geo yang begitu terekspos di depan matanya. Lengan kekar dan otot perut yang bukan lagi six pack, melainkan eight pack.
'Peluk-able sekali, otot lengannya … perutnya, dada bidangnya. Ah … ya ampun pikiranku,' batin Cara menjerit.
Sedangkan Geo sudah menatap Cyra dengan kening berkerut, laki-laki itu berjalan santai ke arah Cara yang sudah menegang di tempat saat menyadari Geo mendekat ke arahnya. Cara menelan salivanya kasar saat laki-laki tampan itu berdiri tepat dihadapannya sambil menatapnya intens. "A-aku tidak tahu kalau Kakak masih di sini," ujar Cara terbata.
Geo masih diam sambil menatap Cara menghiraukan wajah gugup gadis itu. 'Kenapa dia masih menatapku seperti itu?' batin Cara salah tingkah.
"Bi-bisakah Kak Geo tidak menatapku seperti itu? Jantungku … tidak aman," cicit Cara melanjutkan. Geo menaikkan sebelah alisnya, setelahnya laki-laki datar itu tersenyum tipis dan berlalu begitu saja.
"Hah … ya ampun rasanya ingin copot." Cara menarik napasnya dalam sambil memegang dadanya gugup.
"Kenapa dia begitu sempurna?" Cara bergumam, tidak habis pikir membayangkan wajah tampan Geo yang begitu over dosis.
"Cepat selesai dan sarapan, aku tunggu di bawah." Suara berat Geo membuat Cara terlonjak.
"Apa perasaanku saja, sepertinya dia mulai memperhatikanku," gumam Cara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
AxCelL
waduh
2022-10-14
0
Ra Nia
visualnya mn thor
2022-07-22
0
ぼく の ばか。
jiwa jomblo meronta-ronta 😭😭
2022-05-08
1