"Aku sudah memindahkanmu ke Universitas Alfa, silakan kamu mulai dari sana," tutur Geo.
Cara tersenyum senang. "Aku sudah boleh memulainya?" tanya Cara antusias.
"Hemm," deham Geo.
"Terima kasih, Tuan," sahut Cara senang.
"Panggil aku Deo," ucap Deo datar.
Cara tersentak. "Ta-tapi …." Kalimat Cara terhenti saat melihat tatapan tajam dari Geo. Sepertinya laki-laki itu tidak menyukai panggilan itu.
"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu tuan lagi. Tapi jika hanya memanggil nama itu terdengar tidak sopan, kamu lebih tua dariku. Boleh aku memanggilmu … Kak Geo?" tanya Cara ragu.
"Hem," Geo kembali berdeham. Itu pertanda laki-laki itu tidak keberatan.
"Maaf Kak, tentang temanku apakah …."
"Aku juga sudah memindahkannya," potong Geo.
Cara melotot, setelahnya gadis itu tersenyum senang. Siera, manusia satu-satunya yang bersedia berteman dengannya saat itu. Cara juga mengetahui bahwa Siera selama tiga bulan ini mengkhawatirkannya, Siera juga terus berusaha mencarinya. Mengetahui itu hati Cara menghangat, keinginannya untuk berubah dan segera membalas dendam semakin kuat.
"Terima kasih Tu, eh … maksudku Kak Geo." Cara tersenyum canggung saat dirinya hampir kembali memanggil Geo dengan panggilan Tuan.
...*****...
Cara menatap gerbang tinggi Universitas Alfa dengan pandangan penuh arti, gadis itu masih berada di dalam mobil. Geo memang memberinya fasilitas yang begitu lengkap, gadis itu bahkan merasa sangat berhutang budi kepada Geo. Sebab sampai saat ini dirinya tidak tahu, apa keuntungan untuk Geo menolong dirinya sampai sejauh ini. "Mari kita mulai." Cara tersenyum miring.
Baru saja Cara keluar dari dalam mobil, gadis itu melihat seseorang yang begitu dirindukannya sedang berjalan santai dari arah parkiran yang berbeda. "Siera," gumam Cara senang.
"Siera!" Cara berteriak memanggil nama Siera yang ternyata juga baru saja sampai.
Teriakan Cara sukses mencuri perhatian para mahasiswa lainnya. Mereka terkejut saat melihat wajah cantik dan penampilan anggun dari Cara. Begitu pula dengan Siera yang mendengar namanya dipanggil. Tetapi saat melihat si pemanggil Siera mengernyit bingung. Sebab gadis itu tidak mengenali siapa yang sedang memanggilnya itu.
'Siapa?' batin Siera bingung.
Cara mendekat ke arah Siera menghiraukan pandangan kagum dari para kaum adam untuknya. Sedangkan Siera menoleh sekeliling, hanya dirinya yang terlihat bingung. Siera hanya tidak ingin terlalu percaya diri, sebab mana tahu ada orang lain bernama Siera, pikirnya.
"Hai." Cara tersenyum manis kepada Siera yang sedang menatapnya bingung.
"Kamu memanggilku?" tanya Siera bingung.
Cara tertawa melihat wajah bingung dari Siera. "Iya, ayo ikut dulu." Cara menarik tangan Siera.
"Hei, tapi aku tidak mengenalmu," protes Siera. Namun, Cara terus menarik tangan Siera. Dia akan menjelaskan semuanya kepada gadis itu.
...*****...
"Jes, aku dengar ada anak baru. Dia pindahan dari Universitas Bangsa," ucap Hesti memberitahu.
"Universitas Bangsa?" gumam Jesy. Entah kenapa mendengar nama Universitas Bangsa mengingatkan Jesy kepada saudara tirinya yang sudah menghilang selama tiga bulan ini.
"Terus urusannya denganku apa?" tanya Jesy santai.
"Kamu tidak dengar kampus sudah heboh dengan kedatangan anak baru itu? Dia cantik sekali Jes," papar Iren.
Jesy menoleh sambil menatap tajam kedua temannya. "Pasti masih di bawahku," remeh Jesy. Iren dan Hesti saling pandang bingung, mereka ragu ingin menjawab perkataan itu. Sebenarnya mereka ingin sekali menjawab bahwa anak baru itu sudah mengalahkan kecantikan dan ketenaran Jesy.
"Iya, aku juga melihatnya. Semua laki-laki seperti tunduk kepadanya, bahkan Jesy pun kalah jauh." Tiga sekawan itu mendengar percakapan sekumpulan mahasiswa yang baru saja melewati mereka. Wajah Jesy memerah mendengar perkataan itu, dia merasa tidak terima.
"Ayo kita cari anak baru itu, aku ingin lihat orang yang katanya lebih cantik dariku? Heh … aku tidak yakin." Jesy tersenyum remeh.
...*****...
"Pantas aku merasa tidak asing, tapi … aku senang kamu kembali. Bahkan dengan kondisi yang sangat baik seperti ini," ucap Siera senang. "Dan aku akan membantumu untuk membalas dendam," sambung Siera tegas.
"Kau anak baru itu?" Suara seseorang mengejutkan Cara dan Siera, dua sekawan itu menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiaran Jesy dengan dua temannya.
Cara tersenyum miring merasa waktu yang dia tunggu-tunggu selama ini sudah tiba. Sedangkan Jesy dan dua temannya sempat terpana melihat wajah cantik milik Cara. Ternyata kabar itu benar-benar tidak salah, pikir mereka. 'Brengsek. Dia benar-benar cantik, aku tidak bisa membiarkan ini semua. Akan aku buat dia tidak betah di sini.' Jesy membatin licik.
"Hai Jesy." Cara menyapa dengan senyum manisnya.
Jesy terkejut saat gadis itu menyapanya. 'Dia mengenalku? Oh … jelas saja, aku kan sangat terkenal di sini,' bangga Jesy membatin.
"Kau sok cantik sekali, tidak usah tebar pesona seakan ingin bersaing denganku. Jika kau masih ingin hidup tenang, maka ikuti kata-kataku," terang Jesy angkuh.
Cara tersenyum miring, sedangkan Siera sedari tadi sudah menatap tajam gadis yang sempat beradu mulut dengannya tiga bulan yang lalu. "Kau yang sok cantik babi," sela Siera remeh.
Jesy terkejut saat melihat seseorang yang dikenalinya, "Kau!" tunjuk Jesy marah.
"Kita bertemu lagi, apakah bisa kita melanjutkan perdebatan kala itu?" Siera tersenyum sinis.
Jesy tertawa remeh. "Apa kau sudah sadar, sehingga mengganti teman gembelmu itu," ejek Jesy.
"Apa yang kau maksud gembel itu aku?" Cara tiba-tiba bersuara di saat Siera hampir menyahut perkataan Jesy.
Jesy menoleh. "Kau merasa? Wajahmu memang tidak seperti gembel, tapi … kelakuanmu seperti lon**." Jesy tersenyum mengejek.
Cara tertawa keras membuat semua orang di sana menatapnya bingung. "Tau apa kau tentang aku? Saudara tiri," tekan Cara.
Deg …. Jesy terkesiap. 'Saudara tiri?' batin Jesy terkejut. "Apa maksudmu?" tanya Jesy bingung.
"Tidak usah pura-pura lupa," ejek Cara. "Oh iya … tolong kirimkan salamku kepada ayah, ah … maksudku Tuan Torih Gerisam yang terhormat itu." Cara menatap dingin Jesy yang mematung di tempat.
"Ka-kau?" Jesy bersuara terbata karena terkejut. Dua teman Jesy tidak kalah terkejut, bahkan mereka sudah menganga menatap wajah Cara tidak percaya.
"Iya, aku Lavia Cara. Senang bertemu lagi denganmu, saudara tiriku tersayang." Cara tersenyum miring sambil menatap Jesy dingin.
Jesy menelan ludahnya kasar, rasa terkejutnya sungguh membuat gadis itu seakan bisu seketika. Perubahan Cara yang begitu drastis membuat Jesy pangling, bukan hanya penampilan namun juga karakter dan sifatnya yang sukses membuat Jesy merinding. "Heh ternyata kau masih hidup? Aku pikir kau sudah mati, aku tidak menyangka ternyata kau benar-benar murahan. Menjual tubuh untuk perubahan besar seperti ini? Menjijikkan." Jesy tersenyum sinis.
"Kau …." Siera yang baru saja ingin bersuara dihentikan oleh gerakan tangan Cara.
"Yah, terserah kau ingin mengataiku seperti apa. Hanya saja satu hal yang perlu kau tahu. Aku bukan lagi Lavia Cara yang dulu, kau jelas tahu itu bukan? Aku kembali untuk kalian, untuk melakukan serangan balik yang bahkan di luar ekspektasi kalian. Jadi … beritahukan ini kepada Tuan dan Nyonya Gerisam, supaya kalian berhati-hati." Cara tersenyum manis, tetapi senyuman itu begitu terlihat menyeramkan di mata Jesy.
"Brengsek!" Jesy mengangkat tangannya bersiap untuk menampar Cara.
Plak … bruk …
Suara tamparan itu menggema sehingga sukses menarik perhatian mahasiswa yang berada di dekat sana. Cara menjadi pusat perhatian sebab gadis itu sudah terjatuh di tanah. "Cara!" Siera mendekati Cara dengan pekikan dari mulutnya.
"Kau, apa salahku? Ini bukan salahku jika kau merasa terasingkan oleh kehadiranku, aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku, tolong jangan sakiti aku." Cara terisak kecil.
Sedangkan Jesy dan dua temannya sudah menganga tidak percaya melihat itu. Tamparan Jesy tidak seberapa, tetapi Cara sengaja menjatuhkan dirinya untuk mendukung aksi sandiwaranya. "Kenapa kau melakukan itu kepada Cara?" bentak seorang mahasiswa kepada Jesy.
"Seharusnya kau terima wajahmu itu, tidak bersyukur sekali kau," tambah seorang laki-laki.
"Itu karena selama ini kau selalu merasa paling cantik kan?"
"Tidak ingin tersaingi, wanita sok cantik."
"Kau seharusnya bercermin, jelas lebih cantik Cara kemana-mana."
"Tahu, kau wanita sombong dan angkuh."
"Iya, aku juga tidak suka dengan sifat sombongnya itu selama ini. Sok cantik."
Nafas Jesy memburu, gadis itu menatap tajam Cara yang sudah tersenyum miring kepadanya. "Kau gadis sialan!" Jesy bergerak cepat menuju ke arah Cara. Namun, dengan cepat dihalangi oleh para mahasiswa lainnya.
"Apa kau sudah gila?"
"Aku tidak menyangka kau wanita yang seperti ini, aku menyesal pernah mengagumimu."
"Huu … wanita tidak tahu diri."
Pats … byur …
Lontaran kebencian terus keluar dari mulut para mahasiswa untuk Jesy, bahkan beberapa dari mereka mengguyur tubuh Jesy dengan minuman yang mereka bawa. Tubuh Jesy sudah basah kuyup oleh air dengan warna yang berbeda, sungguh keadaan Jesy sangat memprihatinkan. Bagaimana dengan Hesti dan Iren? Dua gadis itu sudah menghilang semenjak kedatangan para mahasiswa yang mengatai Jesy. Mereka memilih kabur karena tidak ingin ikut menjadi sasaran bully mahasiswa lainnya.
"Aaaa!" Jesy berteriak histeris, setelahnya wanita itu berlari dari kerumunan.
Cara menatap kepergian Jesy dengan pandangan datar. 'Itu adalah pembukaan, belum seberapa,' batin Cara.
...*****...
"Farel sudah merangkum semuanya, dan aku sudah kirimkan kepadanya," ucap Alex.
"Benarkah? Terima kasih kak." Cara tersenyum manis.
"Hal mudah," sahut Alex santai.
'Selamat menerima hadiah dariku … ayah.' Cara membatin sambil tersenyum puas.
.
.
.
"Brengsek!" Torih membanting sebuah amplop besar di tangannya.
"Ada apa, Mas?" tanya Sasdia.
"Ada seseorang yang mengetahui aksi korupsiku, dan dia berani menerorku. Sepertinya ada yang ingin bermain-main," desis Torih tajam.
Sasdia terdiam dengan wajah terkejut. "Siapa Mas? Kita aman kan?" tanya Sasdia panik.
"Kamu tenang saja, aku akan segera mencari tahu. Akan aku buat orang itu menyesal karena mencoba bermain-main denganku," geram Torih. 'Berani sekali dia menerorku,' sambung Torih di dalam hati.
Brak …. Suara pintu dibanting begitu keras mengejutkan sepasang suami istri itu. Mereka menoleh saat Jesy datang dengan keadaan yang memprihatinkan. "Kamu kenapa, Sayang?" Sasdia mendekat panik.
"Anak Papa itu membuat aku seperti ini," murka Jesy.
Torih dan Sasdia saling menatap bingung. "Apa maksud kamu, Jes?" tanya Torih bingung.
"Cara, wanita brengsek itu membuat aku dibully di kampus. Lihatlah, ini semua ulahnya," jerit Jesy.
"Cara? Kamu tidak salah orang 'kan, Sayang?" tanya Sasdia memastikan.
"Tidak Ma, itu memang dia. Gadis lon** itu membuat aku menjadi bahan bully-an satu kampus," sahut Jesy.
"Dia masih hidup?" tanya Torih tidak percaya.
"Dia bahkan pindah ke kampusku, dia mengatakan ingin membalas dendam kepada kita," terang Jesy.
Torih mengepalkan tanganya kuat. "Besok Papa urus, anak sialan itu benar-benar tidak tahu diri," desis Torih.
...*****...
Cara yang baru saja selesai dengan jadwal kuliahnya berjalan santai menuju parkiran mobil. Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang laki-laki paruh baya sedang celingukan seperti sedang mencari seseorang. Cara tersenyum miring kemudian mendekat ke arah laki-laki paruh baya itu. "Sudah kuduga," gumam Cara.
"Selamat siang … ayah," sapa Cara sambil menekan kata ayah di dalam kalimatnya.
Torih terkejut, laki-laki itu menatap Cara intens. Cara yang melihat itu terkekeh sinis. "Mencariku?" tanya Cara.
"Kau siapa?" tanya Torih.
"Anakmu, tetapi selama ini tidak pernah dianggap anak," sahut Cara santai. Sedangkan Torih masih mengernyit bingung tidak mengerti.
"Lavia Cara, masih ingat dengan nama itu?" sambung Cara.
Torih terkejut. "Kau … Cara?" tanya Torih ragu.
"Kenapa? Terkejut dengan perubahanku? Hah … aku memang secantik ini sebenarnya, sama seperti mendiang bundaku. Hanya saja, bundaku wanita malang yang tidak dianggap oleh suaminya, hanya karena berasal dari kelas rendahan. Bahkan laki-laki itu tidak menganggap putrinya sendiri, menyedihkan bukan?" papar Cara datar.
Torih terdiam, sama halnya dengan Jesy. Laki-laki itu terkejut melihat perubahan Cara, dari segi penampilan dan juga karakternya. "Aku yakin Tuan ke sini karena sudah mendapat laporan dari Jesy bukan? Baguslah, jadi aku tidak perlu menjelaskannya berkali-kali," lanjut Cara santai.
Torih menatap tajam Cara. "Laki-laki hidung belang mana yang kau goda, sampai membuatmu bisa seperti ini?" desis Torih.
Cara tertawa. "Terserahku, itu bukan urusan Anda, Tuan Gerisam. Anda cukup bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya, sebab aku … akan segera memulai permainan kita." Cara tersenyum miring.
Torih menatap Cara dengan amarah yang membuncah. "Kau sudah berani?" geram Torih.
"Aku bukan lagi Cara yang dulu, Tuan. Jadi bersiaplah … tolong sampaikan kepada putri kesayangan Anda itu, bahwa hal tadi hanyalah sapaan dariku setelah tiga bulan tidak bertemu." Cara tersenyum sinis.
"Permisi Tuan Gerisam." Cara berlalu dari sana meninggalkan Torih dengan amarahnya.
Sedangkan Geo yang selalu memantau aksi balas dendam Cara sudah tersenyum miring. Laki-laki itu tidak menyangka ternyata aksi Cara itu bisa membuatnya begitu tertarik. Geo merasa begitu puas dengan pertunjukan itu. "Semakin menarik," gumam Geo.
...*****...
"Kak Geo." Geo menoleh saat mendengar Cara memanggil namanya.
"Boleh aku minta sesuatu?" papar Cara.
"Apa?" tanya Geo.
"Kehidupan Gerisam Group ternyata begitu bertopang kepada VT Group, bisakah beri aku jabatan penting di perusahaanmu? Aku yakin kamu tahu bagaimana kemampuan bisnisku. Setidaknya hal ini bisa menjadi salah satu untukku membalas budimu selama ini," terang Cara.
Geo terdiam sejenak, apa yang dikatakan Cara memang benar. Laki-laki itu tahu betul bagaimana keahlian Cara di dalam dunia bisnis, otak cerdas gadis itu bisa dia manfaatkan untuk perusahaannya. "Direktur Utama," ujar Geo singkat.
Cara terkejut, setelahnya gadis itu tersenyum senang. Dengan jabatannya sebagai Direktur Utama, dia bisa menekan Torih ke depannya. "Dengan ini, aku ingin pertunjukan yang lebih menarik lagi," tutur Geo.
"Aku sudah punya rencana Kak, kamu tunggu saja." Cara tersenyum manis ke arah Geo.
Entah kenapa jika bersama Geo, Cara menjadi begitu hangat. Hati gadis itu merasa sangat nyaman jika berdekatan dengan Geo. Cara juga merasa aman jika Geo berada di sampingnya. "Pertunjukannya bahkan baru dimulai." Cara tersenyum miring.
Geo ikut tersenyum miring. "Bagus," balas Geo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
Xavier~
GW. suka gaya Lo Cara/Proud//Proud//Proud/
2024-07-05
0
NailaPutri
baca novel ini buat yg ke 2 kali nya 😍
2024-05-28
1
kutu kupret🐭🖤🐭
anjiiing
2024-02-20
0