Geo menunduk saat merasakan hembusan nafas teratur di dada bidangnya. Ternyata Cara sudah tertidur dengan posisi masih memeluk dirinya. Akhir-akhir ini gadis itu sangat mudah tertidur jika dia berada di dekat Geo, apa lagi jika berada di pelukan laki-laki tampan itu.
Cup …. Geo mencium puncak kepala Cyra dengan penuh kasih sayang. 'Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi, Sayang,' batin Geo.
Geo mengambil ponselnya kemudian mengetikkan sebuah pesan kepada Alex dan Farel. Geo menyuruh dua laki-laki itu untuk terus menghandle jalannya acara pesta VT Group yang belum selesai. Tak sampai beberapa menit pesannya dibalas oleh dua laki-laki itu. Geo membuka jas yang sedang dipakainya kemudian menutupi tubuh Cara yang terlihat kedinginan. Setelahnya laki-laki itu mengangkat tubuh Cara dan membawa gadis kesayangannya itu pulang.
...*****...
Pyar …
Bunyi nyaring benda pecah mengejutkan Sasdia dan Jesy yang sedang duduk di atas sofa ruangan tamu. Torih baru saja membanting telepon genggamnya ke lantai menggunakan kekuatan yang sedang dikuasai oleh emosi. Torih menggeram marah, laki-laki paruh baya itu menoleh dan menatap tajam sang putri yang sedang menunduk takut.
"Hampir semua kolega bisnis menarik setengah saham yang mereka tanamkan di Gerisam Group, dengan begini jelas saja Gerisam Group hampir berada di ambang kebangkrutan. Ini semua karena ulahmu itu Jesy." Torih menatap tajam Jesy yang masih menunduk merasa takut melihat kemarahan Torih.
"Kau seharusnya tidak melakukan itu kepada Cara, kenapa tidak kau turuti saja kemauannya, hah!" bentak Torih.
Sasdia dan Jesy terlonjak mendengar bentakan Torih. "Jesy tidak salah, Mas," bela Sasdia.
"Ini memang salahnya, kalau saja dia tidak menampar Cara hal ini tidak akan terjadi," cecar Torih.
"Kanapa Papa menyalahkan aku? Aku hanya membela diri karena tidak terima ditindas. Seharusnya Papa marah kepada gadis murahan itu," keluh Jesy tidak terima.
"Kau malah menyalahkannya? Jelas-jelas ini semua karena kau yang tidak bersedia mengikuti perintahnya," geram Torih.
"Jelas saja aku tidak akan mau mengikuti perintahnya, aku bukan pelayannya." Jesy berdiri tidak terima disalahkan oleh Torih.
"Kau benar-benar, pokoknya setelah ini kau harus meminta maaf kepadanya. Aku tidak mau tahu, perusahaanku menjadi taruhan karena ulah bodohmu itu," hardik Torih.
"Tidak akan, aku tidak mau meminta maaf kepada wanita brengsek itu," tolak Jesy.
Plak …
"Mas!" bentak Sasdia. Torih baru saja menampar pipi Jesy, bahkan sampai membuat gadis itu tertoleh. Jesy meringis merasakan sakit di pipi kirinya. Setelahnya gadis itu menatap Torih dengan pandangan tidak percaya.
"Sayang." Sasdia memegang pipi Jesy lembut merasa khawatir.
"Papa menamparku?" tanya Jesy tidak percaya.
"Kau memang pantas mendapatkan itu, anggap saja itu adalah balasan dari Cara untukmu. Setelah ini ikut dengan ku untuk meminta maaf kepadanya," desis Torih.
"Aku lupa, ternyata wanita brengsek itu juga anakmu. Aku tidak akan pernah meminta maaf kepada wanita murahan itu." Jesy berlari dari sana dengan amarah yang tak terbendung.
"Jesy!" teriak Torih marah.
"Kamu keterlaluan Mas, ini semua bukan salah Jesy. Seharusnya kamu marah kepada Cara, dia pasti sengaja melakukan ini kepada keluarga kita," sembur Sasdia tidak terima putrinya diperlakukan kasar.
"Kau tidak usah membelanya Sasa, ini semua terjadi karena kau selalu memanjakannya. Lihatlah, dia menjadi seperti itu," tuduh Torih.
"Kenapa kau malah menyalahkan aku? Kau lupa kalau kau juga selama ini memanjakannya?" bantah Sasdia.
"Diamlah! Apa pun caranya kau bawa Jesy kepadaku untuk meminta maaf kepada Cara, kau tidak ingin hidup susah bukan?" desis Torih.
Sasdia terdiam, pikirannya kacau. Dia tidak terima jika Jesy diperlakukan rendah oleh Cara. Tetapi di sisi lain, Sasdia juga tidak ingin hidup susah dengan harta yang serba kekurangan. Wanita itu sudah terbiasa hidup mewah dengan semua fasilitas lengkap. 'Aku tidak bisa membayangkan jika hidup melarat, sepertinya aku memang harus membujuk Jesy. Ini semua ulah Cara, si gadis brengsek itu,' umpat Sasdia di dalam hati.
...*****...
Cara membuka perlahan mata indahnya, dada bidang Reo adalah objek pertama yang dilihat gadis cantik itu. Dengan perlahan Cara mendongak dan tersenyum saat melihat wajah polos Geo saat tertidur yang akhir-akhir ini menjadi candunya. 'Aku tidak menyangka bisa mendapatkan hatimu Kak, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini,' batin Cara senang.
Cara memeluk erat tubuh polos Geo, laki-laki itu memang tidak pernah memakai atasan di saat tidur. Hal itu membuat Cara semakin ketagihan untuk memeluk tubuh kekar Geo, sebab gadis itu merasa begitu nyaman. "Cara," suara serak Geo mengalihkan perhatian Cara.
Cara mendongak dan melihat mata tajam Geo sudah terbuka. "Apa aku membangunkan Kakak?" tanya Cara.
"Kamu selalu membangunkan aku," sahut Geo.
"Benarkah? Aku minta maaf, tidurlah lagi." Cara mengusap rambut Geo lembut, membuat laki-laki itu memejamkan matanya menikmati sentuhan yang diberikan oleh Cara.
"Kamu membangunkan kegilaanku Cara." Suara serak nan rendah itu mampu membuat Cara merinding. Tatapan mata Geo membuat Cara terhanyut, Geo benar-benar mampu membuatnya melayang meski hanya dari tatapan mata hangatnya itu.
Cup …. Geo mengecup bibir merah Cara, gadis itu memejamkan matanya dengan wajah merona. Meski itu bukan pertama kalinya, tetapi Cara masih merasa begitu malu dan salah tingkah. Geo tidak pernah melakukan hal lebih kepadanya, hanya sejauh itu. Hal itu membuat Cara semakin jatuh kepada laki-laki datar itu, sebab sangat terlihat jika Geo begitu menghargai dan menjaga kehormatannya sebagai seorang gadis.
"Kak," panggil Cara lemah. Gadis itu salah tingkah sebab Geo masih saja menatapnya intens.
"Aku malu loh ini," gumam Cara. Geo terkekeh melihat wajah merah Cara yang sedang merasa malu dan salah tingkah.
"Kenapa malu? Bukankah sudah terbiasa?" tanya Geo.
"Memang sudah biasa, tapi aku belum terbiasa. Aku masih merasa malu." Cara membenamkan wajahnya di dada bidang Geo.
Geo kembali terkekeh, entah kenapa melihat wajah merah Cara saat salah tingkah seperti itu menjadi suatu kesenangan untuknya. "Ingin olahraga bersama?" usul Geo.
"Ayo, aku harus siap-siap dulu," balas Cara.
"Ayo aku temani," ujar Geo.
Cara meregangkan pelukannya, setelahnya gadis itu turun dari kasur kingsize milik Geo. Saat gadis itu melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia berhenti membuat Geo mengernyit bingung. "Kenapa?" tanya Geo.
"Ini, aku kemarin masih memakai gaun. Kenapa sekarang sudah memakai piyama?" Cara mendongak menatap bingung ke arah Geo.
Geo tersenyum miring. "Aku menggantinya," balas Geo santai.
Cara melotot terkejut. "Yang benar saja Kak, jangan bercanda," lontar Cara tidak percaya.
"Aku tidak bercanda, Sayang," sahut Geo.
Cara menutupi dadanya dengan kedua tangannya sambil menjauh dari Geo, gadis itu menatap tajam laki-laki datar yang sedang mencoba menahan tawa. Geo malah memperlihatkan senyum miringnya membuat Cara melotot was-was. "Apa sih Kak, tidak lucu," kesal Cara.
"Siapa yang melucu, Baby?" bisik Geo. Laki-laki itu terus mendekat ke arah Cara yang masih saja berjalan mundur.
"Stop Kak, kenapa tiba-tiba Kak Ge jadi horor begini?" ringis Cara.
"Bukankah selama ini aku memang seperti ini?" tanya Geo santai. Namun, kaki laki-laki itu terus saja bergerak mendekat ke arah Cara yang terlihat was-was.
Tuk …. 'Sial,' batin Cara. Gadis itu terpojok, dia tidak dapat lagi menghindar dari Geo. Sebab di belakang gadis itu adalah tembok. Geo yang melihat itu tertawa di dalam hati, sungguh ekspresi was-was dari wajah Cara begitu lucu menurutnya.
Pats …. Geo mengungkung tubuh Cara, sedangkan gadis itu masih saja menutupi dadanya dengan kedua tangan. Hal itu menambah kesan lucu di mata Geo. "Kakak kerasukan ya?" tanya Cara polos.
'Astaga, gadis ini,' Geo membatin berusaha menahan tawanya. Geo menunduk dan menatap sejajar wajah Cara yang mulai memerah. 'Aku suka ini,' batin Geo terkekeh.
"Aku mau kamu," Suara rendah Geo mampu membuat Cara menelan ludahnya kasar. Bahkan buku kuduknya sudah berdiri merasa begitu merinding.
"Jangan seperti ini, Kak," lirih Cara dengan muka memanas.
Tiba-tiba Geo menarik pinggang Cara dan memeluknya hangat. "Takut ya?" Geo menatap Cara dengan satu alis terangkat sambil tersenyum nakal.
Mata Cara membola. "Kakak mengerjai aku?" tanya Cara.
Geo terkekeh, setelahnya laki-laki itu mencubit pipi Cara gemas. "Aku tidak akan merusakmu Baby, kamu tahu itu." Geo menatap Cara dengan pandangan lembut.
Cara terdiam, setelahnya gadis itu menghela napas lega. "Kakak hampir membuat aku jantungan," kesal Cara.
"Benarkah? Maaf, wajah takutmu lucu juga." Geo terkekeh mengejek membuat Cara melotot kesal. Setelahnya gadis itu mencubit perut keras milik kekasihnya itu.
Geo mengangkat tubuh Cara dan menggendong gadis itu seperti koala. Secara spontan Cara mengalungkan tangannya di leher Geo. "Jadi olahraga?" tanya Geo.
"Tentu saja, ayo kita … go!" teriak Cara senang. Geo terkekeh kecil, setelahnya laki-laki itu bergerak sambil membawa tubuh Cara yang masih bergelayut seperti koala di tubuhnya.
...*****...
"Rencanamu kemarin malam sangat berhasil Cara, hampir seluruh kolega bisnis Torih yang hadir kemarin malam menarik setengah saham yang tertanam di Gerisam Group," terang Alex sambil memuji.
Cara tersenyum puas. "Aku sudah menebak itu akan terjadi," tutur Cara.
"Aku ada sesuatu yang lebih menarik," sela Farel.
Mereka menoleh ke arah sumber suara. "Apa, Kak?" tanya Cara penasaran.
Farel menyodorkan tablet kesayangan yang selalu dibawa kemana-mana itu kepada Cara. Alex yang ikut penasaran mendekat ke arah Cara berniat ingin ikut melihat. "Alex," suara dingin Geo mengalihkan perhatian orang yang dipanggil.
Alex meringis saat melihat tatapan tajam milik Geo untuknya. "Ck! Pawangmu itu pencemburu sekali Cara," gerutu Alex kesal. Namun, laki-laki itu tetap saja menjauh dari Cara tidak ingin mendapat amukan dari sahabat yang berjiwa iblis itu.
Cara menoleh saat mendengar perkataan Alex. Setelahnya gadis itu terkekeh kecil saat melihat tatapan tajam Geo untuk Juan. Geo memang sangat pencemburu, tidak ada satu laki-laki pun yang boleh berdekatan dengan Cara, gadisnya. Termasuk Alex dan Farel yang sudah dianggap kakak oleh Cara.
Empat manusia itu memang sedang berada di ruangan Geo. Cara, Alex dan Farel sedang sibuk bercakap di sofa besar ruangan mewah itu. Sedangkan Geo duduk di kursi kekuasaannya, sibuk dengan pekerjaan.
Cara tersenyum puas saat melihat video dari tablet milik Farel. Dalam video berdurasi lima belas menit itu, terlihat pertengkaran dan ketegangan antara Torih, Sasdia dan Jesy. Bahkan Cara sempat terkejut saat melihat Torih menampar Jesy, hal itu membuat gadis itu mengingat perlakuan kasar Torih dahulu kepada dirinya. Cara tidak menyangka jika Jesy akan merasakan hal yang pernah dia rasakan dahulu.
Cara tersenyum miring merasa begitu senang melihat usaha balas dendamnya mulai melihatkan hasil. 'Sebentar lagi kalian akan merasakan berada di posisiku dahulu, lihat saja. Ini bahkan belum seberapa, aku tidak menyangka ternyata semudah itu untuk menghancurkan keluarga kalian yang begitu terlihat manis dahulunya' batin Cara.
"Setelah ini apa rencanamu?" tanya Alex.
"Aku akan lihat reaksi selanjutnya dari mereka, ada perlawan atau tidak," sahut Cara.
"Kenapa tidak langsung buat mereka bangkrut saja?" tanya Alex lagi.
"Kalau seperti itu tidak mengasyikkan Kak, aku suka bermain santai. Buat mereka tertekan terlebih dahulu, sengsara dan was-was dengan ketakutan jatuh miskin. Lihat saja, baru sampai di sini hubungan harmonis mereka sudah pecah. Hanya karena sebuah kekayaan, bukankah itu lebih menarik?" Cara tersenyum miring.
Alex menatap Cara dengan pandangan sedikit ngeri. 'Benar-benar seperti Geo, laki-laki dingin satu itu sungguh berhasil melahirkan jiwa lain di dalam sifat lembut Cara. Luar biasa,' batin Geo kagum.
...*****...
"Bagaimana? Kamu sudah membujuk Jesy?" tanya Torih.
"Dia masih tidak ingin membahas itu Mas, kamu keterlaluan kemarin sampai menamparnya. Jadinya dia benar-benar merajuk," ujar Sasdia.
"Ck! Anak itu terlalu kita manjakan selama ini, aku tidak ingin perusahaan yang susah payah aku bangun hancur begitu saja karena ulah bodohnya," geram Torih.
"Terus kita harus bagaimana Mas?" ucap Sasdia.
"Kamu terus bujuk Jesy, aku sedang berusaha mengembalikan ketimpangan di dalam perusahaan. Kalau perlu paksa dia, aku tahu kamu tidak ingin jatuh miskin bukan?" terang Torih.
"Aku benci sekali kepada anak gembel itu, berani sekali dia membuat kekacauan seperti ini," dengus Sasdia.
"Tidak usah membicarakan hal aneh-aneh tentang Cara, kalau kamu tidak ingin keadaan kita semakin rumit. Sedari awal sudah aku katakan, gadis itu sekarang benar-benar punya kuasa. Jadi … kita harus pintar, lakukan saja apa maunya," perintah Torih.
Sasdia mendengus kesal. "Sampai kapan akan seperti itu? Aku bingung kenapa dia bisa mendapatkan posisi sepenting itu? Sepertinya dia benar-benar menjual diri, bahkan wajahnya begitu cantik saat ini," ujar Sasdia penasaran.
"Aku katakan sudah Sasa, VT Group bukanlah perusahaan yang mudah dimasuki. Aku rasa tidak ada karyawan di sana yang masuk melalui penyogokan, karena Tuan Vetro sangatlah ketat. Aku juga bingung kenapa Cara bisa mendapat posisi penting itu, tetapi kita tidak perlu membahasnya. Kita urus saja masalah perusahaan yang hampir berada di ujung tanduk ini," tegas Torih.
...*****...
"Senang hari ini?" Geo mengusap rambut Cara lembut. Cara sedang berbaring di atas ranjang kingsize milik Geo dengan berbantalkan paha kekasihnya.
"Senang sekali," sahut Cara. Gadis itu mendongak guna menatap wajah tampan kekasihnya dari bawah.
"Terima kasih Kak, ini semua berkat bantuan Kak Ge." Cara tersenyum manis kepada Geo.
Geo membalas senyum Cara dengan senyum tipisnya. "Everything for you My Girl," tutur Geo.
Cara tersenyum senang. "Kalau saja waktu itu Kakak tidak menolongku, mungkin aku sudah … hmmp." Kalimat Cara terpotong karena dengan tiba-tiba Geo membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.
"Jangan dilanjutkan, aku tidak suka," peringat Geo. Cara tersenyum tipis dengan wajah merahnya, aksi Geo yang kadang tidak tertebak olehnya mampu membuat gadis itu jantungan.
Cara memeluk pinggang Geo dan membenamkan wajahnya di perut kekar laki-laki itu. "Mengantuk?" tanya Geo.
"Belum sih," suara Cara sedikit tidak jelas sebab teredam oleh perut Geo.
Tiba-tiba Cara menyingkap baju Geo dan memasukkan kepalanya ke dalam sana. "Baju ini menghambat saja," tutur Cara santai.
Gadis itu tidak sadar kalau aksinya itu membuat Geo menggeram tertahan, laki-laki itu sudah memejamkan matanya mencoba menahan sesuatu yang menjalar di dalam tubuhnya. 'Cara, kamu benar-benar mengujiku,' batin Geo frustasi.
Hembusan hangat dari napas Cara di perutnya membuat jantung Geo berdetak semakin cepat. Sesuatu yang sedari tadi dia tahan, terlepas sudah. 'Akhirnya dia bangun,' panik Geo.
"Kak, kenapa aku merasakan sesuatu yang keras?" tanya Cara polos.
"Oh sh**!" Geo berlari ke kamar mandi dengan wajah panasnya.
Sedangkan Cara menatap kepergian Geo dengan pandangan bingung. "Kak Ge kenapa?" gumam Cara bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 265 Episodes
Comments
anfi rucs
hahahha kasian sabar geo
2024-05-27
0
Stok Akun
Farel itu karfel yak bapaknya keno?
karfel ga sih namanya lupa gua😂
2023-10-01
2
Lutfiah Zakiyah
ya ampun cyra
2022-09-23
0