...༻☆༺...
Raffi terpaksa ikut dengan Gamal ke villa. Hal serupa juga dilakukan Elsa. Gadis itu tidak akan memilih tinggal. Apalagi saat melihat Zara juga hadir bersama Gamal.
"Ra, maaf ya. Gue bukan mau nyinggung. Emang lo masih dibolehin sekolah sama guru?" tanya Elsa. Dia nekat bertanya karena menyaksikan Zara masih mengenakan seragam seperti biasa.
"Iya. Emangnya kenapa? Kepo banget deh." Zara membalas ketus.
"Gue cuman penasaran aja." Nada bicara Elsa melamah. Entah kenapa dia merasa terpojok.
"Lo mending pikirin diri sendiri, dari pada urus masalah orang. Oke?" Zara yang duduk di sebelah Elsa menoleh sejenak. Dia tersenyum sambil memainkan anak rambutnya dengan jari telunjuk.
"Kalian para cewek kenapa sih?" Tirta menatap Elsa dan Zara secara bergantian. Ia kebetulan duduk di paling belakang bersama Danu.
"Emangnya kita kenapa? Kami cuman ngobrol biasa kok!" tanggap Zara seraya mendorong kasar kepala Danu. Sebab mata cowok itu terus jelalatan ke arah buah dadanya.
"Sewot banget sih lo, Ra. Kalau sama Gamal aja baiknya nggak ketolongan," ujar Tirta yang tak terima kepalanya didorong.
"Lo sama Gamal pacaran, Ra?" tanya Elsa yang tiba-tiba penasaran. Terutama saat mendengar pernyataan Tirta tadi.
Gamal yang sibuk menyetir memasang telinga baik-baik. Dia memperhatikan ekspresi Elsa dari kaca spion yang ada di atas kepalanya.
Sementara Raffi sedari tadi hanya diam sambil melihat ke luar jendela. Dia tidak peduli dengan topik pembicaraan yang ada di mobil. Raffi hanya memikirkan perihal bolos pertamanya hari ini.
"Menurut lo?" sahut Zara seraya melirik Gamal.
"Mereka nggak pacaran, El. Cuman lakuin hubungan yang--"
"Dan!!" Gamal langsung menghentikan ucapan Danu. Dia tidak mau Elsa mengetahui hubungan ambigunya dengan Zara. Hal itu karena Gamal memang sudah lama tertarik kepada Elsa.
"Wah... Gamal. Lo udah rahasia-rahasiaan ya sekarang. Raf! Gamal kayaknya pacaran sama Zara deh!" Elsa menyimpulkan sendiri.
Baik Gamal maupun Zara, mereka sama-sama bingung untuk memberi penjelasan. Apalagi Zara, yang memilih menyerahkan segalanya hanya demi ingin sekolah kembali. Hubungannya dan Gamal sebatas rekan yang saling membayar jasa satu sama lain.
Seruan Elsa sama sekali tidak didengar Raffi. Cowok itu masih melamun menatap jejeran pohon pinggiran jalan. Apa yang dilakukan Raffi sekarang, dapat dijadikan Gamal agar bisa mengubah topik pembicaraan.
"Guys, kayaknya murid teladan sedang gelisah nih. Dia nggak denger omongan lo, El!" Gamal memberitahukan sambil menoleh ke belakang secara selintas. Lalu kembali fokus menyetir mobil.
Atensi semua orang sontak tertuju ke arah Raffi. Terutama Elsa dan Zara. Mereka kebetulan duduk di kursi kedua.
"Raffi!" Elsa menepuk pelan pundak Raffi. Perbuatannya sukses menyadarkan Raffi dari lamunan.
"Jangan melamun, nanti kesambet setan!" cetus Gamal. Dia cekikikan bersama teman-teman yang lain.
"Eh, maaf. Gue lagi pusing aja." Raffi tersenyum kecut. Dia benar-benar pusing memikirkan apa yang sedang di alaminya sekarang.
"Lo mikirin apa sih?" tanya Elsa. Sedikit mencondongkan kepala ke depan. Menghadap tepat ke arah Raffi.
"Dia pasti takut, El. Ini kan pertama kalinya Raffi bolos sekolah. Bener kan, Raf?" Zara mengungkapkan anggapannya.
Elsa justru cemberut dan membuang muka dari Zara. Dia kesal kenapa Zara bertingkah sok tahu. Padahal dirinya lebih mengenal Raffi dibanding gadis tersebut. Elsa baru mengangakan mulut karena hendak bicara. Namun gagal karena Raffi lebih dahulu bersuara.
"Lo bener, Ra. Pikiran gue nggak karuan dari tadi!" keluh Raffi. Kemudian mendengus kasar.
"Nanti pas sampai villa, gue jamin lo bakal lebih tenang. Bentar lagi kita sampai nih. Tapi sebelum nyampe sana, kita beli cemilan dulu ya!" ucap Gamal.
Ketika melihat sebuah mini market, Gamal menepikan mobilnya. Di sana dia dan yang lain segera membeli berbagai cemilan.
Raffi berjalan menyusuri dimana terdapat jejeran kulkas berisi minuman dingin. Dia hendak mencari minuman kesukaannya. Raffi merasa pikirannya akan membaik jika meminum minuman tersebut.
Belum sempat mengambil, Zara mendadak datang. Dia mengambilkan minuman isotonik dengan label biru.
"Ini kesukaan lo kan?" Zara langsung memberikan botol minuman yang di ambilnya kepada Raffi.
"Makasih ya, Ra." Raffi mengembangkan senyuman. Lalu membuka penutup botol minuman. Dia langsung menenggak beberapa teguk cairan isotonik.
Elsa yang berada tidak jauh, bisa menyaksikan Raffi dan Zara. Tanpa ba bi bu, dia berjalan sambil membawa beberapa cemilan dalam pelukan. Elsa tidak akan membiarkan Raffi berdekatan dengan cewek seperti Zara. Apalagi hubungannya dan Raffi sudah masuk ke tahap berpacaran sekarang.
"Raf, lo bisa bantuin gue nggak?" Elsa muncul dalam keadaan tangan yang dipenuhi cemilan kemasan.
"Astaga, El. Lo kenapa nggak pakai keranjang sih." Raffi langsung membantu Elsa. Hal yang sama juga dilakukan Zara. Selanjutnya, mereka melenggang ke meja kasir.
Setelah membeli banyak makanan dan minuman, Gamal langsung membawa teman-temannya ke villa. Dikarenakan lokasi villa sudah dekat, perjalanan mereka hanya memakan waktu tujuh menit.
...***...
Pemandangan rumah yang dikelilingi pohon rindang, menyambut penglihatan mata. Villa pribadi milik keluarga Gamal itu terlihat nyaman dan sejuk. Lokasinya sendiri berada tidak jauh dari pegunungan.
"Nggak terlalu jauh ya," komentar Raffi sembari sibuk melihat-lihat sekitar.
"Iya dong. Apalagi kalau nggak macet. Ayo turun! Biar kita bisa istirahat." Gamal yang telah memarkirkan mobil, keluar lebih dahulu. Ia mengajak teman-temannya memasuki villa. Mengenai kunci rumah, Gamal kebetulan selalu menyimpan duplikat kunci di laci dashboard mobil.
"Ngapain istirahat. Masih pagi gini kok," ungkap Raffi. Dia melenggang mengekori Gamal.
Ceklek...
Pintu terbuka pelan. Raffi dan yang lain sudah memasuki area villa. Tempatnya terbilang sangat besar untuk ukuran villa. Perabotan rumahnya pun bersih dan mewah.
"Elsa sama Zara bisa pakai baju yang ada di lemari kamar itu ya. Raffi, Danu dan Tirta ikut gue!" ujar Gamal mengarahkan. Dia membawa Raffi serta dua cowok lainnya masuk ke salah satu kamar. Mereka mengganti pakaian di sana.
"Raf, gue nggak nyangka bisa lihat lo gabung sama kita!" celetuk Danu.
"Bener, Dan!" Tirta menyahut sambil memasang pakaian atasan.
"Gue senang banget! Akhirnya sahabat terbaik gue udah lebih terbuka." Gamal tersenyum puas.
"Bilang aja kalian seneng liat gue langgar aturan. Iyakan?" timpal Raffi. Dia telah selesai mengenakan pakaian. Dilanjutkan dengan pose berkacak pinggang. Raffi menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Idih! Nggak gitu juga, Raf. Kami paham kok, kalau lo anak baik-baik. Tapi juga kasihan. Iyakan, Mal?" jawab Danu.
"Kasihan?" Raffi mengerutkan dahi.
Gamal perlahan merangkul pundak Raffi dan berkata, "Kami kadang kasihan sama lo yang terlalu kerja keras. Bahkan sampai lupa untuk refreshing. Lo harusnya juga mikirin mental, Raf."
"Gamal bener! Kadang kebaikan yang kita lakukan itu bikin tertekan nggak sih? Lo pasti ngerasa gitu kan, Raf?" Tirta menatap serius Raffi. Hal serupa juga dilakukan oleh Gamal dan Danu. Mereka penasaran terhadap jawaban Raffi.
Seolah merasa tertohok, Raffi terdiam seribu bahasa. Dia tidak mampu membantah. Memang terkadang Raffi ingin merasakan yang namanya bersenang-senang. Lepas dari segala aturan serta reputasi murid teladan. Namun perihal pandangan yang mana baik dan buruk telah melekat dalam dirinya. Sebagai lelaki yang sudah cukup dewasa, Raffi tahu mana hal tidak baik baginya.
"Gue ngerasa nggak enak aja." Raffi memberikan alasan asal.
"Nggak enak sama siapa? Bu Lestari? Nyokap? Atau... Reputasi lo?" pungkas Gamal. "Rasa nggak enak lo itu udah buktiin, kalau lo tertekan!" tambahnya dengan tatapan serius.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Mbakyu
Si Gamal pasti nggak bisa baca Maps kalo lagi berpergian nggak tau jalan,maka nya selalu menyesatkan😂😂
2022-03-28
2
penahitam (HIATUS)
itu bolos rasa holiday...😂😂
2022-03-13
2
zelindra
klok q ... gedek ma Gamal... haha .. pinter BNR tu lambe .. kayak setan ngasut manusia 😂😂😂 ... baguss certa nya BLH nmbh up gk sihhh😅😅😅😅
2022-03-12
5