Guys, author sudah bilang di sinopsis, kalau novel ini menguak sisi gelap dunia anak SMA yang tersembunyi. Setiap chapternya akan semakin gelap. Jadi yang nggak suka mending skip dari sekarang.
...༻☆༺...
Elsa terpaksa menyetujui Vina untuk bergabung. Mereka dan Raffi belajar di kamar Elsa. Duduk di lantai, dengan hanya menggunakan meja berukuran sedang.
Ketika Raffi memberikan penjelasan, Elsa dan Vina terdiam. Mereka sama-sama kagum kepada Raffi. Lelaki itu terlihat luar biasa menarik saat menjelaskan mengenai pelajaran. Terutama terkait rumus Matematika yang rumit.
"Lo kenapa bisa cepet banget sih nemu jawabannya? Gue butuh waktu berjam-jam tau!" ujar Elsa. Atensinya tidak teralihkan dari Raffi.
"Itu karena gue tahu tekniknya. Lo kalau tau, pasti juga cepet selesainya. Nah dengerin ya." Raffi memberitahukan teknik rahasianya. Elsa dan Vina mendengarkan baik-baik. Vina lekas mengerti, sementara Elsa tidak sama sekali.
"Oh gitu, mudah ternyata ya Kak!" seru Vina yang beringsut lebih dekat ke sisi Raffi.
"Gimana sih? Gue nggak ngerti." Elsa menatap Raffi dan Vina secara bergantian. Dia heran kenapa dua orang di depannya sangat berbeda darinya. Elsa memang tidak memiliki bakat besar di bidang akademik, tetapi jika masalah kreativitas dan praktek, dialah jagonya.
"Ya ampun, El. Udah berapa kali gue jelasin coba!" protes Raffi. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Vina, Elsa! Cepat ambil cemilan dan minumannya ke dapur!" Risna memanggil dari dapur. Menyebabkan Vina dan Elsa otomatis berdiri.
"Biar aku aja, Kak El. Kakak mending sekali lagi dengerin penjelasan Kak Raffi." Vina menyuruh Elsa kembali duduk. Alhasil Elsa duduk kembali. Dia justru senang bisa berduaan dengan Raffi.
"Sini lo! Kalau lo nggak ngerti lagi, gue ceburin lo ke empang yang ada depan komplek." Raffi memaksa Elsa untuk duduk di depannya. Dia menggeser meja agar bisa lebih leluasa menjelaskan.
Raffi baru menjelaskan setengah jalan, tetapi Elsa mendadak memegangi pergelangan tangannya. Gadis itu tampak memasang ekspresi serius.
"Raf, lo pernah ciuman di bibir?" Elsa bertanya sambil mencondongkan wajah lebih dekat.
"Nggak tuh. Kenapa?" Raffi mengerutkan dahi.
"Gue juga. Mau coba nggak?" tawar Elsa. Semakin bergerak lebih dekat.
"Idih! Sama lo gitu?" Raffi tercengang. Dia tidak tahu Elsa tiba-tiba bersikap begitu.
"Jadi lo selama ini nggak pernah nganggap gue sebagai cewek?" timpal Elsa.
"Eh, bukan gitu. Gue cuman--"
Cup!
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Elsa mendadak menempelkan mulut ke bibir Raffi. Sebuah ciuman singkat terjadi. Jantung Raffi rasanya mau meledak. Belum lagi sentuhan Elsa yang terasa seperti sengatan listrik.
Raffi dan Elsa saling bertukar pandang. Raffi yang sempat melayangkan tatapan kaget, perlahan menjadi tenang akibat melihat sorot mata Elsa. Kini gadis itu menempelkan jidatnya ke dahi Raffi. Jujur saja, Elsa sama gugupnya seperti Raffi. Bahkan mungkin lebih. Sebab dialah orang yang memulai lebih dulu.
Atensi Raffi tidak teralihkan dari bibir Elsa yang berwarna merah muda alami. Dia menenggak salivanya sendiri. Raffi seakan terdorong untuk menyentuh bibir Elsa sekali lagi. Debaran jantungnya memberikan sensasi yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. Tidak diragukan, Raffi sekarang yakin perasaannya terhadap Elsa bukanlah ketertarikan biasa.
Raffi dan Elsa sama-sama berniat untuk berciuman lagi. Tanpa sepatah kata atau penjelasan, bibir mereka kembali memadu dengan lembut. Lama-kelamaan Raffi merasakan candu, sampai dia berhasil membuat Elsa terdorong ke belakang. Elsa terpaksa berpegangan di kerah baju Raffi.
"Yakin lo nggak pernah ciuman?" Elsa berucap setelah melepas tautan bibirnya dari Raffi. Dia tidak menyangka Raffi akan lebih bersemangat darinya.
"Bukannya lo tau ya kalau satu-satunya cewek yang sering dekat sama gue itu cuman lo," balas Raffi.
"Bener juga." Elsa terkekeh.
Raffi kembali mendekat. Dia ingin memagut bibir Elsa lagi. Namun Elsa justru menghindar, karena dia hendak mengatakan sesuatu.
"Alasan gue begini, karena gue udah capek lihat lo dideketin banyak cewek. Gue su--"
"Gue suka sama lo!" Raffi sengaja memotong ucapan Elsa. Dia tidak membiarkan gadis tersebut mengungkapkan perasaan lebih dulu. Raffi tidak tahu kenapa kalimat itu keluar dari mulutnya begitu saja.
"Jadi lo juga?" Elsa memastikan. Dia tidak bisa menyimpan senyuman bahagia. Raffi lantas membalas dengan anggukan.
"Gue nggak tahu kapan. Akhir-akhir ini gue risih kalau lihat lo deket sama cowok." Raffi memberikan penjelasan.
Elsa tersenyum, lalu mendorong pintu dengan satu kaki. Dalam sekejap pintu langsung tertutup rapat. Dia dan Raffi sama-sama cekikikan. Seolah tidak malu lagi, mereka kembali berciuman.
Di dapur, Vina baru saja selesai mencuci piring. Kemudian barulah dia pergi ke kamar Elsa sambil membawa nampan berisi minuman dan cemilan.
"Kak El, bisa bukain pintu nggak?" ucap Vina yang telah berdiri di depan pintu.
Raffi dan Elsa yang tengah asyik berciuman, reflek saling melepaskan. Keduanya segera menjaga jarak. Berpura-pura tidak ada apapun yang terjadi. Selanjutnya, barulah Elsa membukakan pintu untuk Vina.
"Kok pintunya ke tutup sih?" tanya Vina sembari meletakkan nampan ke atas meja.
"Tadi kaki gue nggak sengaja nyenggol pintu." Elsa memberikan alasan asal. Vina yang tidak lagi penasaran, hanya menganggukkan kepala.
Raffi dan Elsa saling tersenyum, setelah pandangan mereka sempat bersibobrok. Mereka kembali melanjutkan kegiatan belajar.
Dari kejauhan, Raffi dapat melihat ayahnya sudah datang. Dia bisa tahu, saat mengetahui mobil ayahnya terparkir di depan rumah. Raffi lantas memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Makasih ya, Kak Raffi..." ungkap Vina. Dia tersenyum malu, kemudian melangkah masuk ke kamar pribadinya.
Elsa memilih mengantar Raffi ke depan rumah. Keduanya tidak berhenti merekahkan senyuman girang.
"Nggak biasanya lo nganterin gue ke depan." Raffi melirik selintas ke arah Elsa.
Plak!
"Emang nggak boleh?" Elsa memukul pundak Raffi. Dia bingung harus menjawab apa. Sebab perasaannya sedang berada di titik tertinggi.
"Aaa! masih ya lo mukul gue kayak gitu," protes Raffi. Akan tetapi Elsa malah mengejek dengan menjulurkan lidahnya.
"Gue nggak mau ada yang berubah, meski hubungan kita sudah sepenuhnya berubah..." cetus Elsa. Ia dan Raffi sudah berada di depan pintu rumah. Mereka berdiri saling berhadapan.
"Gue juga maunya begitu," tanggap Raffi seraya melambaikan tangan. Sama seperti Elsa, dia juga kebingungan harus berkata apa. Mereka sepertinya butuh menenangkan jantung dalam beberapa waktu.
...***...
Raffi menghempaskan diri ke kasur. Dia memegangi bibirnya dengan satu tangan. Bayangan tentang ciuman tadi terlintas. Raffi tidak bisa berhenti memikirkan Elsa. Sahabat sekaligus gadis yang sukses membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Drrrt...
Drrrt...
Ponsel Raffi bergetar. Pesan masuk dari Gamal terlihat. Gamal mengirimkan sebuah video misterius. Akibat penasaran, Raffi segera membuka video tersebut.
Tampaklah Gamal, Tirta dan Danu tengah berdiri mengelilingi Zara. Mereka terlihat seperti di ruang VIP bercahaya redup. Terdengar juga suara debuh musik. Ada banyak botol miras serta rokok di meja. Raffi yakin mereka ada di klub.
Di menit terakhir, Gamal memperlihatkan dirinya berciuman panas dengan Zara. Sedangkan Tirta dan Danu justru menyoraki tindakan Gamal itu.
Pupil mata Raffi membesar saat melihat jelas tangan Gamal meraba setiap jengkal tubuh Zara. Entah kenapa Raffi kali ini tidak menghentikan video. Dia merasa penasaran.
Raffi menggaruk kasar kepala. Terutama ketika dia mendadak memikirkan Elsa. Pemikiran yang tidak-tidak bermunculan. Raffi segera menggeleng tegas. Dia tidak mau dirinya terjerumus ke arah yang salah. Tanpa pikir panjang, Raffi langsung menghapus video kiriman Gamal.
...'Gila lo, Mal! Ngapain lo kirim video ini ke gue!'...
Raffi mengirim pesan teks melalui ponsel. Tidak lama kemudian Gamal membalas.
...'Enak loh, Raf. Lo kalau udah cobain pasti mau lagi. Wkwkwk.'...
Begitulah bunyi pesan balasan dari Gamal. Menyebabkan Raffi memejamkan rapat matanya. Lagi-lagi sensasi ciumannya dengan Elsa tadi terlintas. Tanpa sadar Raffi mengigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa membantah pernyataan Gamal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Mpil Fatnur
ini thor bru pas cerita anak sma nya../Scream/
2023-11-10
0
penahitam (HIATUS)
Beuh thor, untung aku bacanya siang!
Kalau baca malem, jadi makin gelap ceritanya 😂😂😂
Lanjut thor 😘
2022-03-09
13
zelindra
manteppp Thor .. cerita mu emang beda 🤗🤗
2022-03-09
4