...༻☆༺...
Pupil mata Raffi membesar. Tanpa sengaja dia juga menelan salivanya sendiri. Bagaimana tidak? Video yang dilihatnya, memperlihatkan Zara berpakaian seksi layaknya wanita malam. Tingkat keparahannya tidak disitu saja, Zara terlihat bermesraan dengan lelaki paruh baya. Alias Om-om hidung belang. Pantas saja videonya sukses menghebohkan banyak orang.
"Astaga, gue nggak sanggup nonton sampai akhir." Raffi memilih mengakhiri video yang terputar.
"Dih! Sok-sokan. Padahal kalau nggak di hadapan gue pasti nontonnya sampai habis." Elsa menanggapi sambil tergelak kecil.
"Nggak juga, El. Gue tadi lihat Zara nangis loh. Gue nggak tega. Dia pasti punya alasan ngelakuin hal kayak begitu. Tapi gue penasaran, kira-kira siapa yang rekam videonya coba?" Raffi mengarahkan bola matanya ke atas. Berusaha memecahkan praduga.
"Udah... nggak perlu ikut campur urusan orang. Urus diri lo sendiri aja dulu. Nih lihat! Baju lo kenapa berantakan gini." Elsa berinisiatif memasukkan baju Raffi yang masih keluar dari celana. Dia ingin melihat sahabatnya tampil rapi seperti biasa.
"Gue lupa, El. Hehehe..." Raffi terkekeh malu. Dia segera menepis tangan Elsa yang sibuk memasukkan baju ke celananya. "Nggak usah! Gue bisa masukin sendiri. Nanti kena kepala burung lagi," ujarnya sembari menggeplak salah satu tangan Elsa.
"Burung? Lo kurung burung dalam celana?" Elsa bersikap seolah tidak mengerti. Dia bahkan sengaja memasang ekspresi polos. Elsa hanya berniat mengerjai Raffi.
"Iya. Burungnya besar loh." Raffi menjelaskan sambil cekikikan. Bukannya mengerjai, Elsa justru kena bumerang.
"Astaga, otak gue." Elsa menggeleng beberapa kali. Dia tidak mau membayangkan hal tidak senonoh dalam benaknya.
"Elaah! Salah sendiri mancing-mancing," ujar Raffi dengan mimik wajah mengejek. Elsa lantas membalas dengan pukulan ke lengan Raffi.
"Anak teladan kayak elo bisa juga ya ngomong gitu," komentar Elsa. Lalu membantu Raffi merapikan baju.
"Gue berani ngomong begini cuman sama elo." Raffi menempelkan jari telunjuk ke jidat Elsa.
"Lo masukinnya asal-asalan. Kurang rapi jadinya," ucap Elsa tak peduli dengan tindakan Raffi.
Kali ini Raffi membiarkan Elsa merapikan bajunya. Posisi Elsa menjadi lebih dekat. Aroma khas gadis tersebut menguar jelas. Raffi sangat tahu bau parfum kesukaan Elsa. Harum dan menenangkan.
"Yang penting masuk bukan?" tanggap Raffi yang agak terlambat.
"Apanya yang masuk?! Kalian ngapain berduaan di sini?!" suara sangar seorang perempuan terdengar jelas. Raffi dan Elsa sontak menoleh ke sumber suara. Mereka bisa menyaksikan Bu Lestari berjalan kian mendekat.
"Mampus kita!" ungkap Raffi sembari memejamkan rapat matanya. Ia paling enggan berurusan dengan guru BK. Bu Lestari memang sering keliling sekolah saat jam masuk kelas. Memastikan tidak ada anak didiknya yang berkeliaran di luar.
"Ikut Ibu!" titah Bu Lestari. Kemudian melenggang lebih dahulu.
Raffi bergegas mengejar Bu Lestari. Dia hendak memperbaiki kesalahpahaman. Raffi tentu tidak mau mendapatkan poin minus. Apalagi terkait berada di luar kelas saat jam pelajaran.
"Bu, ini baru beberapa menit bel masuk berbunyi. Aku sama Elsa cuman ngobrol aja. Beneran, Bu." Raffi berupaya meyakinkan Bu Lestari.
"Tetap aja kamu berada di keluar kelas saat jam masuk pelajaran. Ibu nggak bisa menoleransi ya," sahut Bu Lestari. Dia tetap melangkah maju. Membawa Raffi dan Elsa masuk ke ruang BK.
"Udah ah! Lagian poin keluar kelas nggak sebanyak poin bolos kok. Biasa aja kali, Raf. Lagian semua orang tahu kalau hubungan kita nggak lebih dari sahabat." Elsa memegangi pergelangan tangan Raffi.
"Elo yang biasa. Gue enggak!" balas Raffi. Memutar bola mata malas.
Di ruang BK, Raffi dan Elsa melihat ada Zara duduk sendirian. Mata mereka langsung bersibobrok. Bu Lestari lantas menyuruh Raffi dan Elsa untuk ikut duduk.
"Ibu mau tanya Raffi dahulu. Kamu sama Elsa ngapain berduaan di belakang sekolah? Ibu lihat kalian berdiri berdekatan loh. Nggak mungkin itu bukan apa-apa?" timpal Bu Lestari.
"Oke, kalau begitu aku akan ceritakan kejadian yang sebenarnya," ujar Raffi. Dia segera menjelaskan rentetan kejadian. Termasuk perihal menemukan Zara menangis sendirian. Raffi menjelaskan alasan dibalik pertemuannya dengan Elsa.
"Raffi nggak bohong, Bu. Dia menyuruh aku datang supaya bisa bantuin Zara. Itulah alasan dia terlambat masuk ke kelas. Raffi khawatir sama Zara yang nangis sendirian di gudang." Elsa ikut membantu Raffi meyakinkan Bu Lestari.
"Apa benar itu, Zara?" Bu Lestari menatap selidik ke arah Zara.
"Benar, Bu. Raffi memang mencoba membantuku. Tetapi waktu Elsa datang, aku langsung pergi dari wilayah belakang sekolah." Zara menerangkan.
Raffi dan Elsa mendengus lega bersamaan. Mereka setidaknya selamat dari kesalahpahaman berbuntut panjang.
"Oke, terus apa alasan kalian berdiri berhadapan tadi? Terus ngomongin masalah masuk-masukin segala lagi. Kalian bicarain apa? Ibu penasaran tahu," ucap Bu Lestari. Dia percaya Raffi tidak melakukan kesalahan. Sebab satpam sekolah baru saja mengirimkan rekaman CCTV. Dari video itu terbukti, kalau Raffi dan Elsa memang tidak melakukan apa-apa. Bu Lestari hanya bermaksud bercanda.
"Idih! Ibu mikir apa sih. Tadi itu Elsa cuman bantuin aku masukin baju ke celana. Biar rapi gitu loh, Bu." Raffi ikut merasa geli terhadap respon Bu Lestari. Sedangkan Elsa hanya bisa tersenyum tipis mendengar pembicaraan Raffi dan Bu Lestari. Raffi memang terkenal dekat dengan para guru. Termasuk Bu Lestari sendiri. Tidak heran dia sering mendapat candaan dari guru.
"Ya udah, Ibu percaya. Lain kali, jangan berduaan lagi di tempat sepi. Nanti bisa kena fitnah. Ini tadi aja kalian hampir bikin Ibu mikir yang tidak-tidak," tukas Bu Lestari. Dia, Raffi dan Elsa tertawa kecil bersama.
Satu-satunya orang yang memasang wajah datar hanyalah Zara. Dia sedari tadi menundukkan kepala. Memainkan jari-jemarinya tanpa alasan. Ada banyak masalah yang bergumul dalam kepalanya.
"Kita boleh kembali ke kelas kan, Bu?" tanya Raffi penuh harap.
"Bisa. Tapi kalian berdua tetap kena hukuman!" kata Bu Lestari.
"Hukumannya nggak berat kan, Bu?" Elsa melebarkan kedua kelopak matanya.
"Cuman bersihin toilet pas pulang..." perkataan Bu Lestari terpotong, ketika Pak Heri tiba-tiba datang.
Pak Heri tidak sendiri. Ada Gamal dalam cengkeraman tangannya. Sepertinya ritual membolos Gamal tidak berjalan lancar. Namun kemana gerangan Danu dan Tirta? Apa mereka tidak jadi ikut membolos?
"Nih, Bu. Ada yang terciduk membolos. Hampir mau nyogok satpam si Gamal ini!" jelas Pak Heri sambil memaksa Gamal masuk ke ruangan.
Raffi geleng-geleng kepala sembari mendecakkan lidah. Dia tidak terkejut dengan kemunculan Gamal. Temannya itu memang sudah menjadi tamu langganan ruang BK.
Gamal terkejut menyaksikan keberadaan Raffi di ruang BK. Dia sama sekali tidak mencemaskan dirinya sendiri. Melainkan penasaran dengan kesalahan yang diperbuat Raffi. Apalagi ada Elsa yang duduk disampingnya. Gamal berupaya menyimpulkan sendiri.
"Kalian ketahuan pacaran?" tebak Gamal dengan nada berbisik. Kemudian duduk ke kursi di dekat Raffi.
"Nggak, cuman salah paham. Tapi gue sama Elsa tetap dihukum karena keluar pas jam masuk kelas," terang Raffi. Selanjutnya, Gamal perlahan melirik ke arah Zara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Zatina
Hai Kak, jangan lupa mapir di karya aku juga ya, kalian bisa langsung klik profil aku, nanti akan muncul beberapa karya aku, thanks
2023-09-06
0
Rose_Ni
Kesendul kepala burung
Burungnya bangun
Pengen masuk sarang
Kabuurrr!!!😂
2022-04-17
1
Filia
Zaraaaaaaaaa
apa yang terjadi sama zara?
is she broken home? Pasti dia punya masalah pribadi yang berat
2022-03-30
0