Bab 12 - Memikirkan Elsa

...༻☆༺...

Setelah makan malam, Raffi langsung kembali ke kamar. Mematikan ponsel, lalu merebahkan diri ke kasur. Perlahan matanya memejam rapat.

Tok...

Tok..

Tok...

Suara ketukan berhasil membangunkan Raffi dari tidur. Dia menengok ke jam dinding terlebih dahulu. Waktu menunjukkan jam 02.00 dini hari.

"Raf! Ini gue Elsa..." seru sosok di depan jendela.

Raffi bangkit dari kasur dan segera membukakan jendela. Terlihatlah Elsa yang masih menggunakan pakaian seperti saat sore tadi. Kaos biasa dan celana jeans pendek sepangkal paha.

"Ngapain malam-malam gini lo masuk lewat jendela?" timpal Raffi tak percaya.

"Gue kangen aja. Nggak boleh?" Elsa melangkah semakin dekat. Perlahan dia memojokkan Raffi hingga telentang ke kasur.

"Jangan gila, El! Lo mau ngapain?" Raffi membulatkan mata dalam keadaan membeku. Elsa tampak duduk di atas badannya yang telentang.

"Mau ngabulin apa yang lo mau. Lo tadi pengen kan pas selesai nonton video Gamal?" ujar Elsa sembari melepas kaos baju atasannya. Kini tampilannya hanya mengenakan bra dan celana jeans pendek sepangkal paha.

"Dari mana lo tau?" sedari tadi mata Raffi terus terbelalak. Jantungnya berdebar. Apalagi saat menyaksikan penampilan Elsa yang hampir telanjang.

Elsa justru tersenyum. Kemudian membuka kancing piama yang dikenakan Raffi. Selanjutnya gadis itu memagut bibir Raffi.

Naluri alami Raffi sebagai lelaki bangkit. Dia tentu terbuai dengan cumbuan Elsa. Darah disekujur badannya berdesir hebat. Raffi merespon segala sentuhan Elsa.

Tok!

Tok!

Tok!

"Raffi! Kamu belum bangun? Ini sudah hampir jam setengah delapan pagi!" suara ketukan serta panggilan Heni terdengar. Raffi sontak membuka mata lebar-lebar.

Raffi merubah posisi menjadi duduk. Ia melihat jam telah menunjukkan 07.10 pagi. Menandakan Raffi sudah terlambat untuk pergi ke sekolah.

"Sial!" rutuk Raffi seraya beringsut ke ujung kasur. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat celana, selimut dan kasurnya basah.

"Arrrghhh! Kenapa harus sekarang sih!" keluh Raffi. Dia baru ingat kalau kedatangan Elsa ke kamarnya tadi malam hanyalah mimpi. Parahnya itu bukanlah mimpi biasa.

Raffi bergegas berlari masuk ke kamar mandi. Dia hanya ingin menyingkirkan korban hasratnya secepat mungkin. Tepat sebelum ibunya tahu.

"Raffi? Kamu udah bangun atau enggak? sepuluh menit lagi jam setengah delapan!" Heni kembali memperingatkan. Saat itulah Raffi tergesak-gesak turun dari tangga. Dia terlihat membawa selimut dan sprei kasur.

"Kenapa kamu bawa selimut?" Heni mengernyitkan dahi. Hal sama juga dilakukan oleh Irwan, yang kebetulan sibuk membaca berita melalui ponsel.

"Mau nyuci." Raffi menjawab sambil melingus melewati meja makan. Ia ingin cepat-cepat pergi ke belakang untuk mencuci.

"Tumben. Biasanya kamu nyuruh Mbok Asri yang nyuciin," tanggap Heni sambil menggelengkan kepala. Namun tidak untuk Irwan. Dia malah cekikikan menyaksikan tingkah putra semata wayangnya.

"Kenapa Mas tertawa? Nggak ada yang lucu kok," tegur Heni. Kemudian menggigit roti isi selai kacang.

"Nggak terasa anak kita udah gede ya." Balasan Irwan sama sekali tidak menyambung teguran Heni. Dia sebenarnya tahu kalau Raffi mengalami mimpi basah. Sebagai seorang lelaki yang pernah muda, Irwan tentu mengerti.

"Emang kamu mau Raffi terus jadi bayi?" tukas Heni dengan raut wajah sinisnya. Irwan lantas hanya bisa menggeleng pelan.

Di seberang rumah Raffi, ada Elsa yang menunggu. Dia sudah rapi dengan seragam sekolah. Spesial untuk hari ini, Elsa menjepit rambutnya di sisi kanan. Ia bahkan memakai lipstik yang agak merah dari biasanya. Meskipun begitu, warnanya tidak terlalu mencolok.

Elsa menanti Raffi sambil sesekali menengok ke jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dia tidak berhenti menggerak-gerakkan kaki.

"Tumben Raffi lama. Jangan-jangan tuh anak dandan dulu," gerutu Elsa sambil mengamati jendela kamar Raffi yang dapat dilihat dari depan rumah. Dari belakangnya ada Vina yang baru keluar dari rumah.

Sejak kemarin Vina bersekolah menggunakan sepeda. Katanya dia mau sekalian berolahraga demi menurunkan berat badan.

"Kak Elsa, aku duluan ya. Kakak kalau mau bareng, di gudang ada satu sepeda lagi tuh." Vina berucap sambil menunjuk ke arah garasi.

Elsa lekas menggeleng. "Nggak, gue mau ikut Raffi aja," sahutnya. Vina otomatis berangkat lebih dahulu.

Akibat terlalu lama menunggu, Elsa akhirnya melangkah menuju rumah Raffi. Dia berhenti tepat di depan pintu, lalu menggerakkan tangan untuk menekan bel. Belum sempat Elsa melakukannya, Irwan mendadak membuka pintu.

"Eh, Elsa. Kamu cari Raffi?" tebak Irwan yang tampak mengenakan setelan jas rapi.

"Iya, Om. Raffi-nya udah siap kan?" jawab Elsa sembari melirik ke dalam rumah.

"Raffi! Ini Elsa cari kamu! Cepetan, kamu udah telat!" pekik Irwan. Kemudian segera pergi dengan mobil.

Raffi gelagapan ketika mendengar nama Elsa. Dia langsung meninggalkan mesin cuci yang sibuk berputar. Raffi menggigit roti buatan Heni. Dilanjutkan dengan meminum beberapa teguk susu. Selanjutnya, dia segera berpamitan untuk berangkat sekolah.

"Pelan-pelan, Raf! Ya ampun. Nggak biasanya kamu begini." Heni menyempatkan diri memukul salah satu bahu putranya. Raffi hanya bisa mengaduh sambil berlari ke pintu depan. Di sana dia bertemu Elsa.

Mata Raffi membulat sempurna. Tingkahnya seakan seperti melihat sesosok makhluk halus. Elsa benar-benar orang yang harus dihindarinya sekarang. Saat melihat Elsa, gambaran dalam mimpinya tadi malam langsung terlintas.

"Lo kenapa sih?" timpal Elsa. Dia merasa gusar terhadap sikap Raffi.

"Lo duduk di kursi belakang ya!" saran Raffi seraya mengenakan sepatu hitam.

"Hah? Nggak salah lo?" Elsa terperangah. Apa Raffi mencoba menghindarinya? Setahu Elsa, kemarin sahabatnya itu jelas juga bilang menyukainya.

'Mungkinkah Raffi berubah pikiran?' batin Elsa. Tangannya dengan cepat melepas penjepit berbentuk bunga dari rambutnya. Dia benar-benar kesal dengan sikap Raffi. 'Atau Raffi sengaja ngerjain gue?' Elsa kembali menduga dari hati.

"Ayo!" Raffi melangkah lebih dahulu masuk ke mobil. Di ikuti oleh Elsa seterusnya.

Elsa kukuh duduk di depan bersama Raffi. Dia beranggapan ucapan Raffi tadi hanyalah bahan candaan.

"Loh, kok duduk di sini? Kan tadi gue bilang lo duduk di belakang aja," cetus Raffi. Berusaha menjaga jarak dari posisi Elsa.

"Lo kenapa sih? Lo ngerasa jijik sama gue, setelah apa yang kita lakukan kemarin?!" Elsa menatap tak percaya. Dari semburat wajahnya, dia terlihat marah.

"Bukan gitu, El. Gue..." Raffi bingung bagaimana harus menjelaskan. Jika dia menjawab yang sejujurnya, maka Elsa mungkin akan jijik kepadanya. Tetapi andai tidak memberi alasan, Elsa pasti semakin marah. Parahnya Raffi sekarang tidak mempersiapkan alasan apapun. Baru kali ini Raffi merasa seperti orang bodoh.

"Kenapa?! Lo kalau nggak suka sama gue, nggak usah bohong." Elsa melipat kedua tangan di depan dada.

"Gue jelasin pas udah sampai sekolah ya. Sebentar lagi bel masuk bunyi nih!" ujar Raffi seraya mencoba menjalankan mobil. Namun Elsa dengan sigap mencegah.

"Jelasin sekarang!" tuntut Elsa. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Raffi. Saat itulah terlihat sesuatu yang mencuat dari celana Raffi. Bagian anggota tubuh cowok itu sepertinya berinsiatif memberi penjelasan kepada Elsa.

Elsa membelalakkan mata sejenak. Setelahnya dia tertawa geli mengetahui alasan kuat Raffi menghindar. Menurutnya Raffi sedang mengalami masa subur.

Raffi yang merasa malu, melepas paksa genggaman Elsa. Dia memejamkan rapat matanya karena merasa sangat malu. Raffi langsung menutupi juniornya dengan tas ransel. Rasanya dia ingin mengubur wajahnya ke dalam tanah.

"Ya ampun, Raf. Jangan bilang lo tadi malam mimpiin gue? Bwahahaha!" gelak tawa Elsa masih belum berhenti.

Terpopuler

Comments

Peach 🍑

Peach 🍑

Ah jadi kan. Sedih rasanya thorr 🤣🤣🤣

2022-03-21

4

penahitam (HIATUS)

penahitam (HIATUS)

astaga... raffi masih kebawak gitu ya rasanya, 😂

2022-03-11

2

zelindra

zelindra

bhahaaahaaaa😅😅😅😅...... mimpi basah .. up up ... kurang klok cm satu oiiii.....🤗🤗

2022-03-10

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 - Katanya Belajar?
2 Bab 2 - Video Misterius
3 Bab 3 - Tim Basket Berseragam
4 Bab 4 - Tentang Zara
5 Bab 5 - Ke Ruang BK
6 Bab 6 - Membersihkan Toilet
7 Bab 7 - Membeli Pakaian Baru
8 Bab 8 - Sikap Berandal Gamal
9 Bab 9 - Kandidat Ketos Yang Mengejutkan
10 Bab 10 - Perasaan Elsa
11 Bab 11 - Sensasi Ciuman
12 Bab 12 - Memikirkan Elsa
13 Bab 13 - Terpaksa Membolos
14 Bab 14 - Tiba di Villa
15 Bab 15 - Berenang
16 Bab 16 - Jujur? atau Tantangan? [1]
17 Bab 17 - Jujur? atau Tantangan? [2]
18 Bab 18 - Ingin Pulang
19 Bab 19 - Meninggalkan Villa
20 Bab 20 - Ketahuan?
21 Bab 21 - Pernyataan Cinta
22 Bab 22 - Vanila Cake & Pangkuan
23 Bab 23 - Pacaran
24 Bab 24 - Acara Perkenalan Calon Ketos
25 Bab 25 - Pertengkaran
26 Bab 26 - Teka-Teki Kasus Zara
27 Bab 27 - Belakang Sekolah
28 Bab 28 - Terciduk
29 Bab 29 - Bully Itu Sederhana [Tapi Menyakitkan]
30 Bab 30 - Teman Makan Teman
31 Bab 31 - Strategi Gamal
32 Bab 32 - Pesan Misterius
33 Bab 33 - Cowok Tidak Pernah Peka
34 Bab 34 - Hampir Saja
35 Bab 35 - Pembicaraan Raffi & Gamal
36 Bab 36 - Zara Yang Sebenarnya
37 Bab 37 - Obrolan Santai
38 Bab 38 - Ketos Baru
39 Bab 39 - Perdebatan
40 Bab 40 - Kado Misterius
41 Bab 41 - Ulangan Akhir Semester
42 Bab 42 - Jadi Siapa Pengirim Suratnya?
43 Bab 43 - Cemburu
44 Bab 44 - Godaan Zara
45 Bab 45 - Cinta & Persahabatan
46 Bab 46 - Liburan [1]
47 Bab 47 - Liburan [2]
48 Bab 48 - Liburan [3]
49 Bab 49 - Liburan [4]
50 Bab 50 - Depresi Ringan
51 Bab 51 - Mencari Ketos
52 Bab 52 - Diskusi
53 Bab 53 - Rapat Osis
54 Bab 54 - Balikan
55 Bab 55 - Rumah Danu
56 Bab 56 - Kasih Sayang Orang Tua
57 Bab 57 - Perasaan Tak Terduga
58 Bab 58 - MOS [Masa Orientasi Siswa]
59 Bab 59 - Kejahilan
60 Bab 60 - Pasangan Baru
61 Bab 61 - Obsesi Remaja
62 Bab 62 - Pertama Kali
63 Bab 63 - Obrolan Elsa & Zara
64 Bab 64 - Keputusan Mengejutkan
65 Bab 65 - Pelarian Bersama
66 Bab 66 - Dunia Bebas Di Klub Malam
67 Bab 67 - Jebakan Gamal
68 Bab 68 - Seperti Di Neraka
69 Bab 69 - Menjaga Rahasia
70 Bab 70 - Nasib Gamal & Kawan-Kawan [+Bonus Visual]
71 Bab 71 - Sekolah Kembali
72 Bab 72 - Pertengkaran
73 Bab 73 - Karma Untuk Danu
74 Bab 74 - Ketahuan Pacaran
75 Bab 75 - Gamal Tak Pernah Berubah
76 Bab 76 - Kabar Tes Urin
77 Bab 77 - Semakin Banyak Yang Tahu
78 Bab 78 - Badboy Itu Keren?
79 Bab 79 - Bertemu Danu
80 Bab 80 - Ingin Membuat Roti Sobek
81 Bab 81 - Nonton Bareng
82 Bab 82 - Kencan Ala Remaja
83 Bab 83 - Pulang Larut Malam
84 Bab 84 - Cewek Baru Super Populer
85 Bab 85 - Tim Basket Pilihan
86 Bab 86 - Latihan Basket
87 Bab 87 - Ketahuan! [Hinaan Untuk Zara]
88 Bab 88 - Rasa Sakit Mungkin Adalah Hukuman
89 Bab 89 - Permen Kiss
90 Bab 90 - Rahasia Elsa
91 Bab 91 - Kecewa
92 Bab 92 - Keputusan Gila
93 Bab 93 - Butuh Duit
94 Bab 94 - Seperti Anak Manja
95 Bab 95 - Teman Yang Mabuk
96 Bab 96 - Belum Kapok
97 Bab 97 - Membully Olive
98 Bab 98 - Berantem Di Toilet
99 Bab 99 - Pengaruh Orang Tua
100 Bab 100 - Jantung Kota Angkasa Jaya
101 Bab 101 - Perubahan Raffi
102 Bab 102 - Pelampiasan
103 Bab 103 - Guru Baru
104 Bab 104 - Ulat Kaki Seribu
105 Bab 105 - Cara Pak Ervan
106 Bab 106 - Paksaan Elsa
107 Bab 107 - Pingsan
108 Bab 108 - Siapa Lelaki Itu?
109 Bab 109 - Mengakui, Tetapi...
110 Bab 110 - Membuktikan
111 Bab 111 - Mencari Elsa
112 Bab 112 - Teori Efek Kupu-Kupu
113 Bab 113 - Kabut Perdamaian
114 Bab 114 - Overdosis
115 Bab 115 - Pengakuan Terdalam
116 Bab 116 - Nikah Muda
117 Bab 117 - Nasib Tirta
118 Bab 118 - Bagian Akhir
119 Bonus Chapter - Akhir Raffi & Elsa
120 Novel Teen Baru - Cinta Di Tengah Permusuhan
121 Novel Baru Gairah Cinta Zerin & Zidan
122 Novel Baru - Hantu Senja
123 Novel Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
124 NOVEL TEEN BARU
125 Novel Teen [Kisah Dua Asmara Di SMA]
126 Novel SISI GELAP Terbaru!
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Bab 1 - Katanya Belajar?
2
Bab 2 - Video Misterius
3
Bab 3 - Tim Basket Berseragam
4
Bab 4 - Tentang Zara
5
Bab 5 - Ke Ruang BK
6
Bab 6 - Membersihkan Toilet
7
Bab 7 - Membeli Pakaian Baru
8
Bab 8 - Sikap Berandal Gamal
9
Bab 9 - Kandidat Ketos Yang Mengejutkan
10
Bab 10 - Perasaan Elsa
11
Bab 11 - Sensasi Ciuman
12
Bab 12 - Memikirkan Elsa
13
Bab 13 - Terpaksa Membolos
14
Bab 14 - Tiba di Villa
15
Bab 15 - Berenang
16
Bab 16 - Jujur? atau Tantangan? [1]
17
Bab 17 - Jujur? atau Tantangan? [2]
18
Bab 18 - Ingin Pulang
19
Bab 19 - Meninggalkan Villa
20
Bab 20 - Ketahuan?
21
Bab 21 - Pernyataan Cinta
22
Bab 22 - Vanila Cake & Pangkuan
23
Bab 23 - Pacaran
24
Bab 24 - Acara Perkenalan Calon Ketos
25
Bab 25 - Pertengkaran
26
Bab 26 - Teka-Teki Kasus Zara
27
Bab 27 - Belakang Sekolah
28
Bab 28 - Terciduk
29
Bab 29 - Bully Itu Sederhana [Tapi Menyakitkan]
30
Bab 30 - Teman Makan Teman
31
Bab 31 - Strategi Gamal
32
Bab 32 - Pesan Misterius
33
Bab 33 - Cowok Tidak Pernah Peka
34
Bab 34 - Hampir Saja
35
Bab 35 - Pembicaraan Raffi & Gamal
36
Bab 36 - Zara Yang Sebenarnya
37
Bab 37 - Obrolan Santai
38
Bab 38 - Ketos Baru
39
Bab 39 - Perdebatan
40
Bab 40 - Kado Misterius
41
Bab 41 - Ulangan Akhir Semester
42
Bab 42 - Jadi Siapa Pengirim Suratnya?
43
Bab 43 - Cemburu
44
Bab 44 - Godaan Zara
45
Bab 45 - Cinta & Persahabatan
46
Bab 46 - Liburan [1]
47
Bab 47 - Liburan [2]
48
Bab 48 - Liburan [3]
49
Bab 49 - Liburan [4]
50
Bab 50 - Depresi Ringan
51
Bab 51 - Mencari Ketos
52
Bab 52 - Diskusi
53
Bab 53 - Rapat Osis
54
Bab 54 - Balikan
55
Bab 55 - Rumah Danu
56
Bab 56 - Kasih Sayang Orang Tua
57
Bab 57 - Perasaan Tak Terduga
58
Bab 58 - MOS [Masa Orientasi Siswa]
59
Bab 59 - Kejahilan
60
Bab 60 - Pasangan Baru
61
Bab 61 - Obsesi Remaja
62
Bab 62 - Pertama Kali
63
Bab 63 - Obrolan Elsa & Zara
64
Bab 64 - Keputusan Mengejutkan
65
Bab 65 - Pelarian Bersama
66
Bab 66 - Dunia Bebas Di Klub Malam
67
Bab 67 - Jebakan Gamal
68
Bab 68 - Seperti Di Neraka
69
Bab 69 - Menjaga Rahasia
70
Bab 70 - Nasib Gamal & Kawan-Kawan [+Bonus Visual]
71
Bab 71 - Sekolah Kembali
72
Bab 72 - Pertengkaran
73
Bab 73 - Karma Untuk Danu
74
Bab 74 - Ketahuan Pacaran
75
Bab 75 - Gamal Tak Pernah Berubah
76
Bab 76 - Kabar Tes Urin
77
Bab 77 - Semakin Banyak Yang Tahu
78
Bab 78 - Badboy Itu Keren?
79
Bab 79 - Bertemu Danu
80
Bab 80 - Ingin Membuat Roti Sobek
81
Bab 81 - Nonton Bareng
82
Bab 82 - Kencan Ala Remaja
83
Bab 83 - Pulang Larut Malam
84
Bab 84 - Cewek Baru Super Populer
85
Bab 85 - Tim Basket Pilihan
86
Bab 86 - Latihan Basket
87
Bab 87 - Ketahuan! [Hinaan Untuk Zara]
88
Bab 88 - Rasa Sakit Mungkin Adalah Hukuman
89
Bab 89 - Permen Kiss
90
Bab 90 - Rahasia Elsa
91
Bab 91 - Kecewa
92
Bab 92 - Keputusan Gila
93
Bab 93 - Butuh Duit
94
Bab 94 - Seperti Anak Manja
95
Bab 95 - Teman Yang Mabuk
96
Bab 96 - Belum Kapok
97
Bab 97 - Membully Olive
98
Bab 98 - Berantem Di Toilet
99
Bab 99 - Pengaruh Orang Tua
100
Bab 100 - Jantung Kota Angkasa Jaya
101
Bab 101 - Perubahan Raffi
102
Bab 102 - Pelampiasan
103
Bab 103 - Guru Baru
104
Bab 104 - Ulat Kaki Seribu
105
Bab 105 - Cara Pak Ervan
106
Bab 106 - Paksaan Elsa
107
Bab 107 - Pingsan
108
Bab 108 - Siapa Lelaki Itu?
109
Bab 109 - Mengakui, Tetapi...
110
Bab 110 - Membuktikan
111
Bab 111 - Mencari Elsa
112
Bab 112 - Teori Efek Kupu-Kupu
113
Bab 113 - Kabut Perdamaian
114
Bab 114 - Overdosis
115
Bab 115 - Pengakuan Terdalam
116
Bab 116 - Nikah Muda
117
Bab 117 - Nasib Tirta
118
Bab 118 - Bagian Akhir
119
Bonus Chapter - Akhir Raffi & Elsa
120
Novel Teen Baru - Cinta Di Tengah Permusuhan
121
Novel Baru Gairah Cinta Zerin & Zidan
122
Novel Baru - Hantu Senja
123
Novel Sisi Gelap Dunia Anak SMA 2
124
NOVEL TEEN BARU
125
Novel Teen [Kisah Dua Asmara Di SMA]
126
Novel SISI GELAP Terbaru!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!