...༻☆༺...
Raffi baru memasuki kelas. Sebagai ketua kelas, dia harus menulis absensi. Lalu menyerahkan daftar absensi ke guru yang kena tugas piket.
"Raf, lo mau nyalon jadi ketua osis ya?" tanya Ratna. Ia adalah teman dekat Elsa. Tetapi justru satu kelas dengan Raffi.
"Nggak deh. Capek gue. Jadi ketua kelas capeknya udah minta ampun. Gue niat jadi anggota aja kayaknya," jelas Raffi sembari sibuk menulis nama-nama temannya yang tidak hadir hari ini.
"Ca elah... sok banget sih." Ratna menopang dagu dengan satu tangan. Dia salah satu orang yang juga mengagumi sosok Raffi.
"Lo aja yang daftar gih!" balas Raffi.
"Gue ikut, kalau lo juga ikut." Ratna mengarahkan jari telunjuk ke wajah Raffi. Sekarang Raffi hanya bisa memutar bola mata sambil tersenyum.
Semenjak awal masuk kelas, Gamal sudah berkumpul dengan dua orang teman lainnya. Dia yang melihat Raffi hendak beranjak ke tempat guru piket, bergegas mengekori.
"Tunggu, Raf!" Gamal berlari laju. Dia langsung melingkarkan tangan ke pundak Raffi.
"Pasti ada maunya nih," sindir Raffi. Tanpa menoleh ke arah Gamal. Dia berlagak sibuk dengan kertas yang dipegangnya.
"Iya dong. Gue mau minta izin pergi sama guru piket. Bantuin gue ya. Lo mau ikut nggak? Gue perginya pas selesai istirahat pertama," ujar Gamal. Dua alisnya terangkat dua kali.
"Gila! Lo pengen gue bantuin lo bolos? Enggak kali!" tolak Raffi seraya melepas rangkulan Gamal.
"Sekali ini aja, Raf. Gue janji ini yang terakhir." Gamal mengatupkan dua tangan menjadi satu. Melakukan pose memohon dengan raut wajah memelas.
"Begitu aja terus sampai tahun depan." Raffi tetap pada pendiriannya.
"Oke, kalau gitu. Lo mau apa? Gue bakal kasih apapun yang lo mau, asal bantuin gue kali ini ya?" Gamal sengaja memberikan tawaran yang menggoda.
"Oke, gue mau lo nggak bolos hari ini. Bisa nggak lo kasih permintaan gue itu?" timpal Raffi. Kemudian melingus pergi meninggalkan Gamal. Kini Gamal hanya bisa menggaruk kasar tengkuknya. Meskipun begitu, dia paham betul kalau sikap Raffi terhadapnya adalah sebagai bentuk kepedulian.
Dalam perjalanan menuju ruang guru, atensi Raffi teralih ke arah sekumpulan siswi di depan toilet. Mereka tampak sibuk melihat sesuatu dari ponsel.
"Astaga... nggak nyangka gue. Bukannya Zara orangnya pendiam ya? Kok dia bisa gini sih?"
"Miris gue lihatnya, sumpah."
"Guru-guru udah pada tahu belum ya?"
"Kayaknya enggak deh. Kalau tahu, pasti Zara udah dipanggil ke kantor buat di interogasi."
Raffi dapat mendengar jelas pembicaraan sekumpulan siswi tersebut. Dia mencoba tidak peduli dan melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di meja piket, guru yang bertugas menyapa Raffi dengan ramah. Kebetulan guru yang berjaga adalah Bu Salsa. Guru yang mengajar jam pelajaran pertama di kelas Raffi.
"Raf, jangan lupa bawa buku latihan kalian kemarin. Semuanya sudah Ibu nilai. Tinggal dibagikan saja sama semua temanmu," ujar Bu Salsa.
"Oke, Bu." Raffi mengangguk seraya meminta izin masuk ke ruang guru. Dia segera membawa tumpukan buku latihan miliknya dan teman sekelasnya.
Di kelas, Raffi langsung membagikan buku kepada teman-temannya. Jujur, seluruh teman-teman sekelasnya sebagian besar menyukai Raffi. Tidak hanya karena pandai berteman, tetapi juga karena tidak pelit jawaban.
"Mal, nih buku lo!" Raffi menyodorkan buku kepada Gamal. Akan tetapi Gamal tidak hirau sama sekali. Dia sepertinya sedang berpura-pura marah.
Raffi berseringai. Dia diam-diam memeriksa nilai yang didapatkan Gamal di buku latihan. Raffi memperhatikan baik-baik tulisan tangan Gamal yang terlihat seperti cacing penggal. Sudah jelek, asal-asalan lagi. Jelas Gamal bersekolah hanya untuk kewajiban. Belum lagi nilai-nilainya yang kebanyakan berada di bawah KKM.
"Ya ampun, Mal. Lo dapat 50. Bukannya gue kemarin kasih tau jawabannya ke elo ya?" ucap Raffi, keheranan.
"Udah ah, Raf. Lo tahu kan gue sekolah cuman karena dipaksa nyokap!" seru Gamal sambil merebut bukunya dari Raffi.
"Tapi nggak gitu juga kali." Raffi mendengus kasar seraya duduk ke kursi. Ia duduk bersebelahan dengan Gamal.
"Nggak usah lah lo pikirin hidup gue yang serampangan ini. Oh iya, lo udah lihat video tentang Zara belum?" Gamal tiba-tiba merubah topik pembicaraan.
"Video apaan?" Raffi mengernyitkan kening.
Gamal segera mengambil ponsel dari dalam tas. Belum sempat dia memperlihatkan kepada Raffi, Bu Salsa sudah keburu masuk ke dalam kelas. Alhasil Gamal menyimpan ponselnya terlebih dahulu.
"Lo belum lihat, Raf?" tanya Danu. Dia salah satu teman dekat Raffi dan Gamal. Duduk tepat di belakang Raffi.
"Enggak! Kalian ngomongin video apaan sih? Kepo gue jadinya," ujar Raffi. Bukan hanya dia yang sibuk bicara, namun juga teman-teman lainnya.
Bu Salsa mengamati seluruh murid di hadapannya. Padahal dia baru menyibukkan diri membuka buku pelajaran. Namun semua anak didiknya justru ribut seperti keadaan di pasar tradisional.
Bruk!
"Kalian bisa diam nggak?! Lihat Ibu ada di sini kan?" timpal Bu Salsa. Setelah memukul meja dengan keras. Semua murid otomatis terdiam. Memusatkan perhatian kepada Bu Salsa.
"Kalian pikir Ibu makhluk gaib apa? Kalau ada guru di kelas itu ya dihormati!" omel Bu Salsa. Kemudian menghela nafas panjang. Dia kembali tenang dan bersiap menerangkan materi ke depan kelas. Kebetulan Bu Salsa mengajar mata pelajaran Kimia.
Di tengah Bu Salsa sibuk menjelaskan materi, Gamal malah mengambil ponsel. Dia mengirimkan sesuatu kepada seseorang.
Ponsel Raffi sontak bergetar. Menandakan ada pesan baru masuk. Pesan tersebut tidak lain dari Gamal.
"Kalau sedang belajar, tolong matikan smartphone-nya!" tegur Bu Salsa kepada Gamal. Dia berhasil memergoki Gamal yang asyik memainkan ponsel dari balik meja. Raffi yang tadinya hendak mengambil ponsel, mengurungkan niatnya.
"Gamal! Serahkan handphone kamu sama Ibu!" Bu Salsa menghampiri Gamal dengan keadaan mata menyalang.
"Maaf, Bu..." Gamal tampak tenang saja. Dia malah cengengesan tidak karuan. Membuat pitam Bu Salsa kian membara.
"Cepat serahkan ponsel kamu!" desak Bu Salsa.
"Tapi saya punya informasi tentang murid di sekolah ini loh, Bu. Semua guru harus tahu ini." Bukannya menuruti perintah Bu Salsa, Gamal malah berceloteh.
"Mal! Serahin aja handphone lo, jangan bikin masalah deh. Nanti satu kelas yang kena batunya," bisik Tirta. Dia duduk di belakang Gamal. Salah satu orang yang masuk dalam lingkaran pertemanan Raffi.
Akibat sudah merasa geram, Bu Salsa merebut begitu saja ponsel Gamal. Lalu kembali berjalan ke depan kelas. Dia tidak lupa menyuruh Gamal untuk mengikutinya.
"Berdiri di sini sampai pelajaran selesai!" titah Bu Salsa. Menyebabkan Gamal seketika memohon ampun.
"Huuuuuu..."
"Ajal memang si Gamal, Bu."
"Jangan nangis ya, Mal. Nanti gue kasih permen deh. Hahaha."
Semua orang menyoraki Gamal yang harus menerima hukuman. Gamal hanya bisa mengarahkan bogem ke arah teman-temannya yang mengejek.
"Gue kebiri mulut lo nanti ya!" ancam Gamal. Perkataannya tentu membuat perhatian Bu Salsa kembali dicuri olehnya.
"Gamaaaaal!!!" panggil Bu Salsa. Berusaha memperingatkan. "Kamu aja yang aku urus setiap kali masuk ke kelas ini!" keluhnya sambil berkacak pinggang.
"Maaf, Bu. Khilaf, manusia tidak ada yang bisa lepas dari kesalahan," kata Gamal. Memasang mimik wajah sok polos.
"Bacot lo, Mal!" geram Danu. Kemudian dilanjutkan oleh sorakan dari Raffi dan Tirta.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
miss©©©lee
gemes bat
2023-01-08
0
Daylily
Yang sabar, Bu guru 🙌🏽
2022-11-05
0
Filia
Gamal adalah aku
cuma aku lebih pinter dikit
2022-03-30
1