revisi -
#
"Yah, ada yang mau Rea bicarain," ucap Rea, yang membuat seluruh atensi semua orang beralih padanya.
"Bicarain apa, Re?" tanya Ayah Argi.
"Hem, itu. Rea jadi relawan dokter dan besok Rea berangkat," ucap Rea.
"Tumben kamu mau jadi relawan biasanya aja kamu nolak kalau ada kayak gitu?" tanya Kak Ray.
"Itu direktur rumah sakit yang daftarin soalnya katanya Rea gak pernah ikut jadi relawan makanya direktur masukin nama Rea, bukan hanya Rea kok. Tapi, Nina juga," ucap Rea.
"Kapan berangkatnya?" tanya Ayah Argi.
"Besok pagi, Yah. Jam 6 kata Qilla," ucap Rea.
Baru saja Rea akan menjawab tiba-tiba ponselnya bergetar dan menandakan pesan masuk, sebelum Ayah Argi berbicara dengan cepat Rea membuka ponselnya.
"Ralat, Yah. Ternyata besok jam 9," ucap Rea dan diangguki Ayah Argi.
"Gini, Re. Ayah gak pernah ngelarang kamu mau apapun selama itu baik, Ayah cuma mau bilang ke kamu kalau sekarang kamu itu udah punya suami, kamu udah bukan lagi Rea yang dulu. Kalau ada apa-apa kamu udah gak perlu ke Ayah lagi, sekarang kamu harus ke suami kamu, bagaimanapun suami kamu, orang pertama yang harus tahu semua kegiatan kamu itu adalah suami kamu. Ayah tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga kamu. Kamu paham maksud Ayah kan?" tanya Ayah Argi setelah penjelasan yang panjang lebar.
"Jadi, maksud Ayah Rea harus izin ke suami Rea Yah," ucap Rea dan diangguki Ayah Argi.
"Ayah akan selalu mengizinkan kamu asalkan suami kamu juga mengizinkan kamu," ucap Ayah Argi.
"Tapi, Rea ga punya nomor teleponnya suami Rea," ucap Rea.
"Astaga sayang! padahal kamu itu istrinya loh, tapi gimana bisa kamu gak punya nomor suami kamu. Sebentar Bunda punya nomor suami kamu," ucap Bunda Nara.
Setelah mendapat nomor suaminya dari Bunda Nara, Rea pun kembali ke kamarnya dan menatap ponselnya yang tertera nama suaminya, "Oh, jadi nama suami gue Alan, tapi kok gak ada fotonya sih," gumam Rea.
Mau tidak mau Rea harus menghubungi suaminya itu, Rea sedikit gugup karena ini pertama kalinya komunikasi antara ia dan suaminya. Rea memutuskan untuk mengirimkan pesan karena Rea memang tipe orang yang suka melakukan panggilan telepon ataupun video call dan setelah Rea memantapkan diri akhirnya ia pun mengirimkan pesan pada suaminya itu dan meminta izin.
*Alan*
^^^"Hai! Alan ini Rea, aku mau izin untuk jadi relawan apa boleh? soalnya rumah sakit memilih aku buat jadi relawan,"^^^
Rea menatap ponselnya, "Ini kata-kata gue terlalu alay gak sih, kok malah terlalu kaku banget," gumam Rea.
"Suami gue mana woy kok gak di bales jangankan dibales di baca aja gak," gumam Rea, yang kesal karena sudah lebih dari 15 menit ia mengirim pesan pada suaminya. Namun, tidak ada balasan bahkan pesannya masih belum dibaca oleh suaminya itu.
Karena mengantuk Rea pun sampai tertidur dan ia terbangun tengah malam tepatnya pukul 2 dini hari karena haus dan untung saja Rea sudah mengambil minum kemarin malam sebelum tidur. Setelah minum Rea tidak sengaja menatap ponselnya yang ada di kasur, Rea mengambil ponsel tersebut dan berniat untuk mematikannya. Namun, hal itu urung dilakukan Rea karena notifikasi dari layar ponsel tersebut.
*Alan*
"Oh iya Rea, aku izinkan, hati-hati jangan lupa jaga kesehatan. Kira-kira jam berapa kamu berangkat?"
Rea yang menatap tak percaya balasan dari Alan pun hanya menggelengkan kepalanya, "Ini suami gue jam segini baru bales, astaga gue udah ngantuk dia malah baru bales, dia ini tidur jam berapa sih. Tapi, kok dari cara balasannya kayaknya suami gue bukan tipe orang yang banyak omong deh," gumam Rea.
*Alan*
^^^"Sekitar jam 9,"^^^
"Kalau begitu hati-hati ya, aku sudahi dulu ya soalnya aku masih ada pekerjaan,"
"Kayaknya suami gue itu orang penting deh apa jangan-jangan suami gue itu presiden atau gak perdana menteri atau gak suami gue itu menteri lagi ya, enak nih gue bakal dapat duit banyak kalau suami gue jadi petinggi negara, masa sih Re, kayaknya sih gak mungkin deh, tapi ya bisa jadi sih kan gak ada yang tahukan gimana nasib orang," gumam Rea dan kembali tidur karena ia harus berangkat pagi hari.
.
Disisi lain Alan yang sudah tahu jika Rea akan menjadi relawan pun sedikit terkejut karena mendengar pesan dari Rea yang mengatakan jika ia akan berangkat jam 9, padahal menurut jadwal seharusnya ia berangkat jam 6. Ya, Alan sudah tahu karena tadi saat ia mendata siapa saja relawan yang akan datang agar ia dapat membagi kamp tidur mereka dan betapa terkejutnya Alan saat melihat nama istrinya.
Sebenarnya dalam hati Alan sendiri, ia sangat bahagia karena Rea meminta izin darinya, itu artinya Alan dihargai sebagai suami. Rea tidak memutuskan hal itu sendiri, meskipun pernikahan mereka bisa dibilang tidak sempurna.
"Nando," panggil Alan.
"Kenapa, Lan?" tanya Nando.
"Besok tim relawan dokter itu berangkat dari kota sebenarnya jam berapa?" tanya Alan.
"Bukannya gue udah bilang ya kalau mereka itu bakal berangkat jam 6, lo kan tahu sendiri perjalanan ke sini itu lumayan jauh," ucap Nando dan diangguki Alan.
"Berarti gak ada perubahan jadwal keberangkatan ya?" tanya Alan.
"Gak ada sih orang koordinatornya aja bilang jam 6 itu udah jam yang pas," ucap Nando.
"Oke, kalau gitu gue pergi dulu, lo lanjutin kerjaan lo," ucap Alan, lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dan menuju kamp militer.
"Sepertinya ada yang tidak beres," gumam Alan.
"Apanya yang gak beres?" tanya Alvin.
"Gak ada, oh iya lo udah bagi kamar buat para relawan kan?" tanya Alan.
"Tenang aja lo gak perlu khawatir, semuanya udah selesai kok, kalau emang ada tambahan tinggal kita tambahin yang kamp sebelah sana karena emang di sana kita sisain soalnya siapa tahu ada tambahan kan," ucap Alvin dan diangguki Alan.
"Tempat para warga gak ada masalah kan?" tanya Alan.
"Gak ada, semuanya aman kalau ada lo, Lan," ucap Ryan.
"Kapten Alan," panggil Albert.
"Ada apa?" tanya Alan.
Jika Albert sudah memanggil Alan menggunakan embel-embel kapten, itu artinya mereka kan bicara sebagai sesama kapten dan bukan sebagai sahabat, "Wilayah kami mengalami kerusakan yang cukup parah terutama di pemukiman warga, apa saya bisa meminta bantuan dari kapten Alan untuk mengirimkan beberapa tenaga medis ke wilayah kami," ucap Albert.
"Bukannya saya tidak mengizinkan atau bagaimana, tapi masalahnya kami di sini juga kekurangan tenaga medis. kamu sedang berusaha untuk menambah relawan jadi kami masih belum bisa jika harus membawa tenaga medis kami ke wilayah kapten Albert. Tapi, saya punya usulan bagaimana jika pasien dari wilayah kapten Albert yang di bawa ke wilayah kami hal itu juga agar tenaga medis kamu tidak kewalahan?" tanya Alan.
"Apa boleh?" tanya Albert.
"Tentu boleh, karena ada tenda yang kosong, jadi nanti biar mereka di taruh di sana, tapi kami hanya bisa beberapa pasien saja karena tim dokter kami juga kewalahan," ucap Alan dan diangguki Albert.
.
.
.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 258 Episodes
Comments
Jumadin Adin
pasti jm 9 ini akal2an bagas...hati2rea
2022-04-22
0
🅶🆄🅲🅲🅸♌ᶥⁱᵒⁿ⚔️⃠
pasti perubahan jadwal ulah nya Bagas
2022-04-21
0
Zyotita Jachika Tan
ternyata gue ada temennya , tenang rea kita 1 frekuensi 😅
2022-04-20
0